
Disaat suasana canggung seperti itu, Ajeng muncul masih lengkap dengan clemek.
“Lho, ada tamu rupanya." Ajeng berubah heboh begitu mengetahui siapa tamu tersebut, "Astaga, kamu Arman kan, anaknya pak Adi.”
“Iya mbak, saya Arman, saya nganterin Ayu”
Ajeng melarikan matanya ke arah Ayu dengan penuh arti, dia mengulas senyum dan kemudian kembali ke Arman. “Nganterin Ayu, kok bisa, kalian ketemu dimana emangnya."
“Tadi saya ada urusan dikampusnya Ayu dan kebetulan ketemu Ayu disana dan sekalian saja saya anterin mbak.”
“Makasih ya Arman, untung ada kamu, duh jadi ngrepotin.”
“Ngak ngerepotin kok mbak.”
Ajeng melihat putri yang gelandotan manja dalam gendongan Arman. “Putri, astaga anak ini, ayok turun, kamukan berat, ntar om Arman capek lagi.”
Bukannya menuruti perintah bundanya, Putri malah makin erat mengalungkan tangannya dileher Arman “Gak mau, Putli suka digendong om ganteng, om ganteng harumm, gak kayak bunda bau.”
Ayu dan Arman cekikikan mendengar Putri meledak bundanya, Ajeng jelas jengkel, “Anak ini, ayok turun.”
“Gak mau.” Putri kukuh gak mau turun dari gendongan Arman.
“Gak apa-apa mbak, lagian Putri gak berat kok.”
“Lamu memang laki-laki yang baik Arman." puji Ajeng, “Yu, kalau cari calon suami yang kayak Arman donk, udah ganteng, kaya, baik hati lagi, Putri aja sampai lengket tuh sama dia.”
Respon Arman “Ah, mbak bisa aja mujinya bikin kepala saya besar aja.”
Sementara Ayu jelas malu mendengar kata-kata kakaknya iparnya tersebut “Apaan sieh mbak."
Putri yang memiliki jiwa yang polos ikut ambil bagian dalam pembicaraan orang dewasa tersebut, “Bunda, om ganteng bilang dia mau lho jadi pacalnya aunty Ayu.”
“Oh ya, benarkah itu.” mata Ajeng berbinar, dia jadi punya ide untuk membuat Ayu dan Arman dekat.
“Putrii." tegur Ayu, “Jangan lemes, aunty gak suka.”
aaf aunty.” polos Putri takut.
“Yu jangan dimarahin Putrinya, jadi takutkan dia.” tegur Arman.
“Maaf mas.”
“Minta maafnya sama Putri donk, kok sama aku.”
Ayu mengangguk, “Putri sayang, maukan maafin aunty.”
“Putli bakalan maafin aunty kalau aunty mau jadi pacalnya om ganteng.”
Arman tersenyum malu mendengar ocehan bocah polos yang kini masih dalam gendongannya. Ajeng terkekeh melihat kelakuan putrinya, sepertinya mereka memiliki misi yang sama untuk
menyatukan Ayu dan Arman. Ayu dibuat malu oleh ocehan keponakannya, untungnya Ajeng meminta Putri untuk bermain dengan pengasuhnya, dan kali ini Putri menuruti perintah bundanya.
“Om ganteng, mau gak main barbie sama Putli, ntar Putli kenalin lho sama barbie Putli."
“Bolehkah.”
"Boleh donk om."
“Putri main sendiri saja, gak usah ajak om Arman” tegur Ayu.
“Gak pa-pa kok Yu.”
Putri dengan antusias mengajak Arman pergi menuju ruang khusus tempat biasanya dia selalu bermain boneka.
“Bener-bener laki-laki idaman ya Yu.” komen Ajeng begitu Arman dan Putri sudah menghilang dari pandangan.
“Hmmmm.”
“Kalau dilihat-lihat, kalian cocok lho." goda Ajeng.
“Mbakk, apaan sieh, udah deh jangan bikin Ayu malu.”
Bukannya berhenti, Ajeng malah makin getol menggoda Ayu, “Laki-laki yang seperti Arman itu langka lho Yu, sebelum keburu diembat orang, mending star dari sekarang Yu.”
“Apa sieh mbak pakai star –staran segala, emang lomba marathon.”
Hidung Ayu mencium sesuatu yang gosong, “Mbak lagi masak apa, kok kayak bau gosong.”
“Astaga, kue bikinan mbak.” Ajeng berlari kedapur, dan ternayata kue bikinannya gosong, ini sudah ketiga kalinya kue bikinannya gagal.
"Yah, gosong." lirih Ajeng frustasi.
*********
Awalnya Adit tidak berniat pulang cepat, tapi karna ingin mengintrogasi Arman makanya dia melajukan motornya menuju rumahnya. Dia menaruh kue yang dikasih Ayu dikulkas dan menempelkan tulisan yang berbunyi “Tidak boleh dimakan” dibagian depan taperwearnya.
“Bang Arman, Bang.” teriak Adit.
“Iyaa tuan.”
“Gue manggilnya bang Arman, bukan Surtinah.”
“Riska tuan, Riska.” Surtinah mengingatkan.
“Terserahlah, mau nama lo Riska kek, onta kek, gak peduli gue, yang gue peduli sekarang, di mana bang Arman.”
“Tuan muda 1 belum pulang tuan.”
“Kemana”
“Yang pastinya kedepan lah tuan gak mungkin kebelakangkan.”
“Resek lo ya.”
“Hihihi."
“Mama, mana mama.”
“Yyonya ada dibelakang tu...”
Adit langsung tancap gas sebelum Surtinah menyelsaikan kalimatnya, Adit menemukan mamanya ditaman belakang tengah merawat mawar-mawar kesayangannya.
“Mama”
“Astagafiruullah Adit, anak ini, bisa tidak kamu tidak bikin orang tua kaget.” mamanya ngomel.
Adit malah terkekeh mendengar omelan mamanya, tangannya mencomot anggur yang berada dimeja.
“Ini bunga yang mama tanam enam bulan yang lalu itukan ma.”
“Hmmm.”
“Wah, udah besar yah ma, tumbuh subur lagi, ternyata mama lebih pinter rawat bunga daripada anak.”
“Mama pinter rawat dua-duanya.”
“Iya deh, mamakan mama terbaik didunia.”
“Baru tau kamu.”
“Ma”
“Kalau kamu minta uang jajan, mama gak bakalan ngasih.”
“Terus, biasanya kalau kamu muji-muji begitu pasti ada maunya.”
Adit tidak menghiraukan kata-kata mamanya, dia langsung pada niat awalnya mendatangi mamanya, “Ma, mama tau gak kalau bang Arman punya pacar.”
“Oh, pacar, hah, abangmu punya pacar, siapa.” benerkan heboh.
“Slow donk ma, mama ini kayak mendengar bang Arman buntingan anak orang saja."
“Kasih tau mama siapa pacar abangmu itu.”
“Mana Adit tau ma."
“Lha.”
“Adit cuma lihat bang Arman jemput cewek dikampus Adit tadi, siapa lagi coba kalau bukan pacarnya bang Arman”
“Berita besar ini, kalau abangmu pulang, mama bakalan paksa dia bawa gadis itu kemari, dan langsung mama nikahkan mereka.” kelihatan ngebet banget kayaknya mau gendong cucu.
“Kamu juga.” mamanya memukul lengan Adit
“Sakit ma, kok Adit dipukul.”
“Jangan asyik kluyuran saja, rajin kuliah dan belajar agar kamu seperti masmu cepat wisuda dan menikah.”
“Yang menikah bang arman aja ma, jangan bawa-bawa Adit, lagian Adit kan rencananya nikahnya masih lama.”
********
Adit melihat punggung adiknya duduk disofa sambil nonton tv masih lengkap dengan seragam sekolahnya, sepertinya Anggi baru pulang sekolah, niatnya ingin menjaili adiknya, tapi diurungkan karna melihat taperwear berisi kue bikinan Ayu tinggal setengah berada ditangan Anggi.
“Kue itu.” tunjuknya.
“Bang adit mau, enak banget lho, tumben banget sik Surtinah bikin kuenya enak banget."
Adit merebut sisa kue itu dengan paksa.
"Pelan-pelan bang, bar-bar banget sieh."
“Kenapa lo makan.”
“Ada racunnya ya, gimana ini bang, Anggi gak mau mati, Anggi masih muda belum kawin.” Anggi jadi panik.
“Bukan toloL, itu kue gue, pemberian dari seseorang, lo gak lihat tulisannya gak boleh dimakan.”
Anggi kembali tenang, dia fikir tuh kue dikasih racun tikus, “Oh Anggi fikir, aman deh hidup gue.”
“Jangan merasa gak bersalah gitu, gimana nieh kue gue.”
“Gak giaman-gimana bang, lagian tuh kue buat dimakankan, ya kali buat pajangan,
mubazirkan.”
“Dasar bocah.”
“Udahlah bang, daripada marah-marah biarin Anggi habisin tuh kue.”
“Enak saja, udah ngambil tanpa permisi sekarang kamu mau menghabiskannya.” Karna udah dimakan ,Adit terpaksa menghabiskan sisanya, bener kata adiknya, kue itu bener-bener enak.
“Dikasih siapa bang, besok minta lagi donk, Anggi gak bisa move on dengan rasanya.”
“Gak bisa move on, gak bisa move on, lo fikir cowok apa.”
“Sori bang, lagian kue seenak itu menggoda iman banget, bang, bagi lagi donk.”
“Gak”
“Ihhh, pelit.”
"Emang gue fikirin."
**********
Lagi-lagi Adit bela-belain tidak pergi kluyuran malam ini karna dia juga ingin ikut menyidang kakaknya menanyakan tentang siapa gadis yang dijemput oleh sang kakak dikampsunya tadi siang. Dimeja makan sudah tersedia berbagi jenis masakan.
“Ma, mama ngundang seseorang makan malam ya.” Anggi bertanya, heran dia karna makan malam ini tidak seperti biasanya.
Ditanya begitu sang mama tersenyum misterius “Tidak.”
“Terus kenapa makan malam sebanyak ini, papa kan juga tidak ada.”
“Ini untuk merayakan kakakmu yang punya pacar.”
“Hah, bang Arman punya pacar, wah bentar lagi nikah donk ma, cantik gak ma pacarnya bang Arman.”
“Mama juga gak tau, tuh tanyakan abang Aditmu,ndia yang ngasih info ini ke mama.”
“Jangan tanya gue, gue lagi malas ngomong sama lo.” tandas Adit, rupanya dia masih kesel sama sang adik gara-gara Anggi memakan kuenya.
“Gak rugi juga, ntar aku tanya langsung aja sama bang Arman.”
Gak lama kemudian Arman datang menghampiri meja makan, dia juga sama herannya seperti Anggi melihat banyaknya makanan yang terhidang dimeja makan.
“Siapa yang mama undang makan malam ma.”
Bukannya menjawab, sang mama malah heboh menarik putranya, “Duduk dulu
sayang, duduk.” Arman jelas makin heran dibuatnya. Ditambah lagi sang mama langsung mengambilkan nasi dan lauk pauk yang ditaruh dipiringnya.
“Gak nunggu tamu mama dulu nieh.”
Gak dijawab lagi, mamanya malah bertanya “Kapan.”
“Kapan apanya ma.”
“Kapan dikenalin calon mantu mama.”
Arman yang tengah meneguk air putih menyeburkan kembali air yang sudah berada dimulutnya, untungnya tuh air tidak mengenai makanan, kalau iya siapa yang mau makan.
“Iya bang, Anggi juga ingin tau siapa calon kakak ipar Anggi.”
Makin gak ngertikan Arman, Arman melirik Adit meminta penjelasan, Adit memberitahu, “Gue ngasih tau mama, kalau gue lihat lo jemput cewek dikampus gue, itu pacar lo kan.”
Arman membelalak, dia baru mengerti banyaknya makanan yang terhidang hanya untuk merayakan hal yang belum pasti.
“Jadi besok bisa dibawakan man.” harap mamanya.
Arman tidak tau bagaimana cara menjelaskannya, dia memang menyukai Ayu, tapikan dia dan Ayu tidak pacaran. Arman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum bodoh.
“Belum resmi ma, Arman lagi berusaha meluluhkan hatinya." akhirnya kalimat tersebut yang bisa dikeluarkan.
“Wah, payah lo jadi cowok, kalau gak keburu di tembak ntar lo disalip orang lain lagi.” komen Adit.
“Husshhhh,” desis sang mama, meskpipun agak kecewa, tapi dia berusaha menguatkan putranya, dia meraih tangan Arman, “Itu awal yang baik, kamu harus berusaha
meluluhkan hati perempuan itu."
“Pasti ma.”
*******