
"Halo mbak ajeng," makin cantik aja sapa karin begitu pintu terbuka.
Saat ini karin tengah berkunjung kerumah ayu. Kebetulan yang membuka pintu adalah ajeng.
"Astaga karin." heboh ajeng langsung memeluk karin dan cupika-cupiki, "Tumben main-main kesini lagi,"
"Iya mbak maaf, soalnya banyak tugas yang harus dikerjain, makanya baru bisa datang kemari." bohongnya, padahal dua hari ini dia tidak masuk kuliah karna diskors.
"Ayok, masuk dulu rin."
"Iya mbak."
"Kamu mau minum apa rin."
"Gak perlu repot mbak, karin kesini mau ketemu ayu kok. Ayu adakan mbak."
"Ayu mah selalu ada dirumah 24 jam dirumah, mana pernah dia keluar-keluar gitu. kalau mbak gak paksa dia gak akan mau keluar."
"Ayu pasti ada dikamarnya ya mbak."
"Iya, kamu samperin ayu gieh sana."
"Iya udah deh mbak, kalau gitu karin nemuin ayu dulu oke."
Begitu sampai didepan pintu kamar ayu. Karin langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ayu yang tengah fokus membaca mengalihkan perhatiannya. Begitu melihat karin yang datang dia tersenyum senang dan berlari memeluk karin.
"Rin, astaga aku kangen banget."
"Aku juga kangen yu." karin balas memeluk ayu erat. Dua gadis tersebut berpelukan melepas rindu.
"Apa yang kamu kerjakan selama dua hari gak masuk."
"Yang pastinya shoping, nyalon,pokoknya memanjakan diri dan happy-happy deh." pantas saja karin terlihat fres.
"Ayok masuk dulu rin."
"Selama gue gak masuk, gak ada yang ganggu lokan."
"Akh, gak kok."
"Bagus deh."
"Oh ya yu, lo nginep dirumah gue ya, ya, malam inikan malam minggu."
"Aku mau sieh rin, tapi mas arya gak bakalan ngizinin."
"Tenang aja, gue akan berusaha supaya mas arya membiarkan lo nginep dirumah gue."
"Caranya,"
"Ada aja," sok misterius.
********
Dibantu oleh ajeng, karin akhirnya berhasil meyakinkan arya untuk membawa ayu nginep bersamanya.
Alasannya adalah, "Ngerjain tugas."
Arya gak percaya, pasalnya ini adalah malam minggu, kenapa mereka kerajinan banget ngerjain tugas malam minggu, namun ditambah bumbu lainnya akhirnya arya membiarkan adiknya untuk pergi nginep dirumah karin, dengan syarat besok pagi-pagi karin mengembalikan ayu.
Bukan tanpa alasan karin ngotot ngajak ayu nginep didirumahnya. Kalau kalian ingin tau, ini adalah karna adit. Iya adit yang meneror karin terus-terusan untuk membantunya menjalankan rencananya supaya dia bisa keluar dengan ayu malam minggu ini. Karin jelas tidak mau membantu adit, namun karna terus-terusan diteror akhirnya dia mau juga.
Sampai saat ini dia belum memberitahu ayu tentang rencana ini.
*******
Malamnya dirumah karin, ayu tengah tidur-tiduran sementara karin masih berada dikamar mandi. Ayu mendapat telpon dari adit.
"Mas adit," sapa ayu begitu dia menempelkan ponsel ditelinganya.
"Ayy, kamu lagi apa."
"Aku lagi duduk mas."
"Kamu lagi dimana," pura-pura nanya padahal dia tau ayu dimana.
"Rumah karin, gak tau kenapa karin maksa banget minta aku nginep dirumahnya."
Dalam hati adit berkata, "Iyalah, itu karna aku neror dia, ternyata karin berhasil membawa sik ayy."
"Ini malam minggu ayy."
"Iya mas, aku tau."
"Maksud aku, kamu gak keluar malam mingguan gitu sama pacar kamu."
"Eh, itu, ayu gak punya pacar mas."
Adit bersorak gembira dalam hati.
"Ayy," gugup.
"Kenapa mas,"
"Kamu mau gak keluar dengan aku."
"Keluar, maksudnya mas,"
"Keluar kencan, gimana ayy."
"Mmm, gimana yah mas, gak enak sama karin."
Karin keluar dari kamar mandi, karna mendengar kalimat ayu yang terakhir dia berkata, "Keluar aja yu, kenapa mesti gak enak sama aku."
"Emang gak apa-apa rin."
"Gaklah,"
Ayu tersenyum senang, dia memberitahu adit, "Iya deh mas, aku mau keluar dengan mas adit."
"Yess." tanpa sadar adit mengekpresikan kebahagiaannya.
"Mas, kenapa."
"Gak kenapa-napa kok ayy, " jawabnya malu, "Oke kalau giti, aku akan jemput setengah jam lagi."
*********
"Duh yang berbunga-bunga, diajak kencan sama adit."
Ayu bersemu merah mendengar godaan karin.
"Yu,"
"Hmmm,"
"Aku ingin jujur sama kamu, tapi janji ya kamu jangan marah."
"Ngaku apa rin."
"Janji dulu kamu jangan marah."
"Iya deh, aku gak akan marah."
"Begini lho yu, sebenarnya adit neror aku gitu buat ngajak kamu nginep dirumah aku, katanya biar dia bisa ngajak kamu keluar, soalnya kalau didatang kerumah kamu pasti tidak bakalan diizinin sama mas arya." cerita karin "Kamu jangan marah ya yu."
"Kirain apaan, aku gak marah kok rin, santai aja kali."
"Syukur deh, oke kalau gitu saatnya sekarang gue harus mempermak lo habis-habisan, biar adit pangling lihat lo."
"Gak usah rin, aku kayak biasa aja, lagian cuma keluar doank kok."
"Mana bisa begitu, lo harus tampil cantik dan sempurna. Lo harus mau gue make over, jangan bilang tidak."
Karna dipaksa akhirnya ayu mengizinkan karin mengmake over wajahnya.
30 menit kemudian adit datang seperti yang dijanjikan.
Jantung ayu terasa berdebar, padahal sebelumnya dia sudah sangat sering bertemu dengan adit.
"Hai rin," sapa adit begitu karin membuka pintu.
"Hai dit," karin sudah tidak gagap lagi berhadapan dengan adit, "Busett, nieh cowok ganteng amet, tapi sayang badung, gak cocok sama ayu yang polos." batin karin.
"Haloo karin, berhenti ngelihat gue, jadi saltingkan gue."
"Sorry, habisnya lo ganteng banget sieh, bikin gak bisa kedip." jujurnya.
"Lo orang yang 999 yang bilang begitu"
"Ih, apaan sieh lo, dasar narsis."
Mata karin beralih pada buket bunga yang ada ditangan adit."Ganteng banget sieh dia, tapi kok bawa bunga warna-warni gitu, ngiketnya pakai karet gelang lagi, gak modal banget."
"Rin, ay.."
"Oh iya, lupa." salfok sama bunga yang dibawa adit, "Masuk dulu yuk, gue manggil ayu dulu."
Adit mengikuti dari belakang, karin mempersilahkan adit duduk sementara dia manggil ayu dikamarnya.
Saat adit sendirian, papa karin nyamperin dan mengintrogasi adit, difikirnya adit pacarnya karin anaknya.
"Ekhemm," biasa orang tua dimulai dengan deheman sebelum mengintrigasi.
Karna sudah pengalaman berkunjung kerumah mantan-mantan pacarnya terdahulu. Adit familiar dengan suara deheman seperti itu, makanya adit langsung berdiri begitu mendengar suara deheman tersebut dan memutar tububnya untuk melihat pemilik suara itu.
"Malam om." sapa adit sopan.
"Malam, sudah lama nak...."
"Adit om, nama saya adit."
Papa karin duduk, adit juga "Sudah lama nak adit." tanya papanya karin.
" Baru kok om."
"Malam minggu ya, rencananya mau kemana."
"Belum tau om."
"Lho kok bisa belum tau, "
"Iya om, masih difikirin, siapa tau pas dijalan dapat ide mau kemana."
Disaat mengintrogasi adit begitu, karin dan ayu datang menghampiri, karna adit duduk membelakangi arah kedatangan mereka, jadinya dia tidak tau kedatangan ayu dan karin.
"Ayu sudah siap dit." karin memberitahu.
Adit langsung bangun dari duduknya dan memutar badannya, dia melihat ayu tersenyum padanya, senyum yang sangat manis.
"Lho," papa karin heran, "Kamu nyari ayu toh, tak kira nyarinya anak om."
"Papa nieh malu-maluin aja, makanya nanya dulu lain kali."
Ayu dan adit terkekeh.
Adit menyerahkan bunga yang dibawanya, yang diambil oleh ayu dengan malu dan mengucapkan, "Makasih mas."
Sebelum membawa ayu pergi, karin memberi pesan pada adit, "Adit, tolong jaga ayu baik-baik ya, soalnya kalau ayu-kenapa, mas arya pasti ngengantung gue,"
"Gue pasti akan menjaga ayu, tidak akan gue biarin seekor nyamuk sekalipun mengganggu ayu, bahkan gue akan menjaga ayu dengan nyawa gue,"
Siapa saja dibegituin pasti akan senyum mendengarnya, ayupun begitu, senyum-senyum, untungnya sinar lampu di teras
rumah karin remang-remang jadi adit tidak bisa melihat senyum ayu, kalau adit melihat ayu senyum karna digombalin, ayu pasti malu berat.
"Cewek mana yang tidak melelah mendengar kata-kata manis adit, harapan gue, adit tidak mainin ayu. Kasihan ayu kalau cuma dijadiin mainan seperti mantan-mantan adit sebelumnya." karin membatin.
"Kedua, patuhi peraturan lalu lintas, lo jangan ngebut-ngebut, apalagi udara malam gak baik untuk kesehatan."
"Beres, apa ada lagi."
"Udah sieh itu doank. Eh tunggu, satu lagi, pulangin ayu utuh seperti lo membawanya pergi."
"Siap,"
Setelah itu karin ikut melepas kepergian ayu dan adit sampai luar.
"Iri gue sumpah, nasib yah jomblo begini." lirihnya nelangsa, " Mas sakti, kapan kau buka hatimu untukku,"
*********
Di atas motor, "Kalau takut jatuh pegangan aja." suruh adit.
"Udah kok." jawab ayu.
"Maksud aku, pegangannya dipinggang bukan dipundak."
"Disini aja mas, lebih nyaman."
Namun adit dengan sebelah tangannya meraih pergelangan tangan ayu melingkarkannya dipinggangnya, dia melakukan hal yang sama dengan tangan ayu yang satunya.
"Beginikan lebih baik,"
Wajah ayu bersemu merah.
"Mas,"
"Hmmm,"
"Kita mau kemana sieh."
"Kesuatu tempat yang pastinya seru, kamu pasti suka."
Dalam perjalanan, ayu melihat pergelaran pasar malam, sehingga dia menyuruh adit untuk menghentikan motornya.
"Mas, berhenti."
"Kenapa ayy."
Jari telunjuknnya memberitahu adit.
"Pasar malam, kamu ingin kesana."
Ayu mengangguk, "Boleh ya mas."
"Boleh donk,"
Adit mengarahkan motornya menuju pasar malam dan menghentikan motornya diparkiran. Tempat itu ramai, ya ramailah namanya juga pasar malam.
"Pasar malam mas." ayu terlihat antusias.
Melihat kegembiraan diwajah ayu, adit ikut seneng.
"Kamu suka."
Ayu mengangguk, "Terakhir kali kepasar malam waktu ayu smp, pas mama-papa masih ada, dan setelah itu gak pernah lagi."
"Maaf yah ayy, kamu jadi ingat sama..."
"Gak apa-apa kok mas."
"Yuk," ajak adit menggenggam telapak tangan ayu.
Ayu reflek menarik tangannya karna kaget dengan perlakuan adit.
"Sorry ayy, aku hanya gak ingin kamu hilang, soalnya disini ramai banget."
Adit membuka telapak tangannya berharap ayu menyambutnya dan menggenggamnya. Kali ini tanpa ragu-ragu ayu menggenggamnya, mereka berdua saling bertukar senyum dan berjalan memasuki area pasar malam.
Genggaman tangan adit terasa begitu sangat hangat, entahlah sekarang disaat berdekatan dengan adit, apalagi dengan kontak fisik begini jantungnya sering berdebar dan dia merasa bahagia bersama adit.
*******