I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Dunia Selebar Daun Kelor



Keluarga Dirgantara saat tengah berada disebuah restoran mewah yang memang dipilih untuk membicarakan tentang perjodohan Arman. Dari sejak berangkat dari rumah senyum Arman tidak pernah meninggalkan bibirnya, hal tersebut tidak luput dari pandangan Anggi yang lantas memberi komentar seperti ini kepada sang abang,


"Kami tahu bang, saat ini abang tengah bahagia dan berbunga-bunga, tapi kalau senyum terus begitu ntar dikira abang gila lagi."


Arman yang mendapat komentar seperti langsung mengkondisikan raut wajahnya.


Walaupun bukan dia yang dikomentarin, Adit yang membalas kalimat Anggi, "Tuhkan, kerjaan lo sejak zaman orok sampai sekarang komentarin orang melulu, biarin lah bang Arman senyum, itukan mendefinisikan kalau dia lagi bahagia."


"Gak suka banget deh sama bang Adit, nyambung mulu kayak XL."


"Biarin aja."


"Sudah, sudah." sang mama yang paling antusias dalam hal ini menengahi, "Kalian ini, kalau berada dalam satu ruangan kerjaannya berantem melulu, pusing mama."


"Bang Adit sieh ma nyambung mulu."


"Dihh, kok lo nyalahin gue."


"Nah tuhkan, mulai lagi kalian, kalau keluarga besan melihat kalian seperti ini bisa malu kita."


Anggi menggerakkan bibirnya untuk protes, tapi didahului oleh mamanya yang belum kelar ngomelnya, "Untuk saat ini dan selama acara makan malam, tutup dulu bibir kalian, gunakan untuk membicarakan hal yang bermanfaat, bisa kan." tekan Alya.


"Gue yakin kalau mama mendaftar sebagai calon lurah, pasti gak bakalan gue pilih meskipun mama sendiri." lirih Adit.


"Emang kenapa." pertanyaan Anggi.


"Sebagai ibu rumah tangga saja hak berbicara kita dibungkam, apalagi kalau jadi lurah."


"Adit kamu ini, ihh." sang mama memukul lengan anaknya karna ledekan barusan, "Suka banget bikin mama darah tinggi."


"Ma, sudah ma ngomel-ngomelnya." Adi sik kepala keluarga menengahi, "Gak enak nanti kalau dilihat sama calon besan kita."


Alya mengelus dadanya supaya lebih bisa mengontrol emosinya gara-gara ulah kedua anaknya yang selalu berdebat masalah hal yang tidak penting.


Sedangkan Arman malah tertawa menjadikan hal tersebut sebagai hiburan.


**********


Keluarga Ayu memasuki area restoran dan langsung disambut oleh pelayan.


"Maaf, dengan keluarga pak Arya." bertanya ramah dan sopan dengan bibir tersenyum lebar, pelayan direstoran tersebut memang dituntut bersikap ramah dan murah senyum.


"Iya benar."


"Mari ikuti saya pak."


Arya beserta keluarganya mengikuti kemana sik pelayan membawa mereka, mereka dibawa kearea VIP yang dikhususkan untuk acara-acara penting, contohnya seperti membicarakan acara perjodohan yang mungkin bisa dibilang penting.


Begitu mereka tiba, Alya dan Anggi langsung menyongsong kedatangan keluarga Ayu, mereka salaman pada anggota laki-laki dan memberikan pelukan dan cupika-cupiki pada Ajeng dan Ayu.


"Tante, Anggi." desah Ayu.


"Iya sayang, ini tante, tante kangen banget sama kamu." Alya kembali memeluk Ayu.


"Ma." Anggi merengek, "Giliran Anggi yang peluk mbak Ayu, masak mama terus yang memonopoli mbak Ayu, Anggikan juga kangen dengan calon kakak ipar Anggi."


"Kakak ipar, maksudnya apa, jangan bilang laki-laki yang dijodohkan dengan aku adalah mas Arman." bertanya dalam hati.


"Iya, iya kamu ini gak sabaran banget." balas Alya atas rengekan putrinya.


" Mbak Ayu." Anggi memeluk Ayu, " Anggi kangen tahu, kenapa mbak gak pernah main kerumah lagi, dan mbak juga mengundurkan diri jadi pelatih tari disekolah Anggi, kenapa mbak." Anggi menuntut jawaban.


"Mbak sibuk Nggi, banyak tugas." bohongnya.


"Masak sieh, salah satu abangku juga kuliah, sibuk juga sieh dia, tapi sibuk kluyuran."


"Anak ini, senang sekali menjelek-jelekkan abangnya."


"Bukannya menjelekkan ma, hanya membeberkan fakta saja."


"Anggi, jangan menjelek-jelekkan abangmu didepan calon kakak iparmu." ujar Alya tegas.


"Iya ma, maaf."


Ayu melarikan pandangan matanya kearah Ajeng yang berada disampingnya untuk meminta penjelasan tentang apa yang ada difikirannya, seolah bisa membaca fikiran Ayu, Ajeng mengangguk untuk membenarkan dugaan Ayu.


"Ternyata mas Arya menjodohkan aku dengan mas Arman." ujarnya pasrah menerima keadaan.


"Ya Tuhan, mama baru menyadari ternyata Kamu makin cantik saja." puji Alya kembali ke Ayu.


"Iya ma, mbak Ayu tambah cantik dan semok." Anggi juga memuji.


"Eh, eh, ingat apa yang saya bilang, jangan panggil tante."


Ayu tersenyum bersalah, "Maaf tante, Ayu lupa, maksud Ayu, Ayu lupa ma."


"Nah, kan jadi enak kedengerannya kalau Ayu panggilnya mama."


"Mbak Ayu, mas Arman pasti ngiler kalau lihat mbak secantik ini, lihat mbak dia sampai gak berkedip lihatin mbak." Anggi menunjuk ke arah Arman yang dari tadi menyaksikan intraksi antara mamanya dan Ayu.


"Kamu bisa saja Nggi."


"Lho kok jadi berdiri gini sieh ngobrolnya, Ayok duduk." Alya menuntun Ayu.


"Anggi kamu pindah duduk sana, biar Ayu yang berada didekat Arman." perinta Alya.


"Siap buk bos."


Sambil menikmati hidangan makan malam yang terhidang dimeja, banyak hal yang mereka obrolkan sebelum membicarakan pembicaraan inti. salah satu pembicaraannya adalah seperti dibawah ini.


"Kami punya 3 anak."


"Oh ya." respon Ajeng mendengar cerita Alya.


"Iya, dua laki-laki dan satu perempuan." Alya memberitahu.


Arya bertanya, "Yang satunya mana."


"Nah itu dia, anak kami yang satunya." Adi menunjuk kearah Adit yang baru dari datang dari toilet.


Semua pasang mata termasuk Ayu mengarahkan matanya pada seorang laki-laki yang ditunjuk oleh Adi. Keluarga Ayu, lebih-lebih Ayu Sudah pasti kaget begitu mengetahui ternyata anak kedua keluarga bagaskoro ternyata adalah Adit.


"Mas Adit." lidah Ayu terasa kelu, "Mas Adit adiknya mas Arman, gak mungkin." ujar Ayu dalam hati dengan rasa tidak percaya.


"Itu beneran adik lo Man." itu pertanyaan Sakti yang ditujukan pada Arman.


"Iya, dia adik gue." Arman mengkonfirmasi.


Wajah Ayu langsung pucat pasi mengetahui hal tersebut, kepalanya berdenyut hebat.


Sementara itu, Adit langsung menghentikan langkahnya begitu melihat Ayu dan keluarganya duduk bersama keluarganya.


Adit bener-bener berharap kalau apa yang difikirkannya tidak terjadi, "Bukan Ayukan, bukan Ayu guekan yang akan dijodohkan dengan bang Arman." ucapnya berulang-ulang dalam hati.


Dengan menguatkan tekad Adit kembali berjalan dan ikut bergabung kembali dengan keluarganya.


"Maaf lama." ujarnya sembari duduk.


Arya memandang Adit tajam, dia bener-bener tidak pernah menyangka ternyata Adit adalah anak dari aditama bagaskoro juga.


"Nah, perkenalkan ini anak kami, namanya Raditia bagaskoro." Adi memperkenalkan putranya.


Adit hanya menyunggingkan senyum kaku, sebenarnya tidak perlu diperkenalkan karna dia sudah sangat mengenal keluarga Ayu. Begitu juga dengan keluarga Ayu yang hanya memberikan senyum singkat sebagai sebuah kesopanan.


Adit duduk berhadapan dengan Ayu yang hanya menundukkan wajahnya, Adit tidak bisa mendefinisikan bagaimana rindunya dia sama gadis yang ada didepannya saat ini. Sehingga begitu duduk yang dia lakukan adalah memandang Ayu dengan intens seolah-seolah besok dia tidak bisa melihat wajah Ayu lagi.


"Bang, jangan mandangin calon kakak ipar dengan pandangan mupeng donk, inget bang dia punya bang Arman." bisik Anggi yang tempat duduknya didekat Adit.


Belum sempat Adit bertanya apa maksud adiknya itu, papanya memperjelas keingintahuannya.


"Nah Adit, perkenalkan, gadis cantik yang duduk didepanmu adalah calon kakak iparmu, namanya adalah Rahayu Lestari." Adi memperkenalkan dengan santai tanpa mengetahui efek dari kata-katanya bagi Adit.


Adit seperti tersambar petir disiang bolong mendengar informasi tersebut, seketika tubuhnya lemas, ekspresinya campuran antara kaget dan tidak percaya, didunia yang seluas ini, bisa-bisanya Tuhan membuatnya jatuh cinta dengan wanita yang sama dengan kakaknya, Adit bener-bener tidak menyangka kalau laki-laki yang bakalan dijodohkan dengan Ayu adalah Arman kakaknya sendiri.


"Hoek, hoek." Ayu menutup mulutnya.


Semua yang ada disana mengalihkan perhatiannya ke arah Ayu dengan rasa khawatir, "Kamu kenapa nak." Alya bertanya khawatir.


"Gak apa-apa ma, hanya masuk angin saja."


"Ayu ke toilet dulu." pamit Ayu.


"Mbak temenin yah." Ajeng menawarkan jasa.


Ayu menggeleng, "Gak usah mbak, mbak disini saja." Ayu berlalu sembari memegang perutnya yang terasa bergolak


**********


"