I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Pertempuran di Kantin



Adit berjalan dengan pedenya menuju ruang musik masih dengan stempel bibir ayu yang tercetak jelas dipipinya. Dia memang sering menjadi pusat perhatian karna wajahnya ataupun kelakuannya, tapi kali ini dia menjadi pusat perhatian karna bekas lipstik dipipinya.


Terjadi bisik-bisik tetangga dikalangan para mahasiswi.


"Eh, disosor siapa tuh sik adit, anjir stempel dosanya dipamer-pamerin," komen salah satu mahasiswi yang melihat adit.


Yang lain menyahut, "Pakai nanya lagi lo, yah disosor pacarnyalah, emang kaya lo jomblo, jarang diblai."


"Yang mau sama gue itu banyak, gue aja yang gak mau,"


"Elahh sok banget sieh lo, gak laku aja sombongnya kemana-mana,"


Yang lain melerai karna melihat forum gosip yang baru dibuka itu berpotensi menimbulkan pertumpahan darah, "Eh, udah donk, kenapa lo yang pada malah berantem sieh, fokus donk sama topik gosip kita."


"Ngomong-ngomong pacarnya adit siapa, bukannya dia udah putus sama angel itu,"


Pembicaraan itu kembali ketopik utama.


"Setau gue sieh, pacarnya adit anak jurusan HI,"


"Yang itu bukan, yang kalau jalan suka nunduk seperti orang cari uang koin itu,"


"Ayu namanya,"


" Denger-denger sieh masih dalam tahap pedekate, belum jadian,"


"Lha, siapa yang sosor kalau belum jadian begitu,"


"Allahua'lam, hanya allah dan adit yang tau."


"Ih, kampret lu,"


*******


Emang pada dasarnya gak punya malu, adit cuek aja tuh berjalan dengan tidak mempedulikan mahasiswi yang membicarakannya, dia bahkan mengulas senyum pada setiap mahasiswa lainnya yang berpapasan dengannya meskipun dia gak kenal.


Adit sampai diruang musik, dan menemukan beberapa teman-temannya tengah memainkan alat musik, dan mereka langsung berhenti begitu adit memasuki ruangan, respon teman-temannya begitu melihat bekas lipstik dipipinya adalah.


"Anjritt, gue tau lo cowok playboy dan brengsek, tapi baru kali ini gue lihat lo memamerkan kemesuman lo" andra meledek.


Adit mendepak kepala andra "Gue gak kayak lo, dasar otak mesum,"


"Lo suka banget nyiksa gue dit, kalau gue geger otak gimana,"


Adit mengabaikan rengekan andra, temannya yang satu itu emang gitu orangnya lebay.


Marko bertanya, "Bekas siap tuh dit, sampai gak mau dihapus,"


"Jangan bilang itu bekas bibir cewek taruhan itu,"


Sabagai jawaban adit malah tersenyum, adit melirik arkan, "Kan, siap-siap aja lo ngerjain tugas gue selama satu semester."


Arkan hanya mendengus dalam hati dia bener-bener berharap adit gagal memenangkan taruhan yang telah mereka sepakati.


******


"Yu, sik daki itu anjir, buru percepat langkah lo, kalau dia duluan masuk daripada kita bisa gawat jadinya," beritahu karin pada ayu, karna kebetulan dosen mereka itu berjalan dari arah berlawanan dengan mereka.


Mereka berdua mempercepat langkah mereka untuk sampai kekelas, pak zaki juga begitu, dia ingin sampai lebih dulu ketimbang dua mahasiswinya itu.


Syukurnya ayu dan karin sampai lebih dulu, mereka menarik nafas lega sebelum duduk dibangku yang masih tersisa.


"Untung kita sampai lebih dulu, kalau gak entah mampu atau gak nieh kuping kita dengar orasinya dia," gumam karin yang hanya bisa didengar oleh ayu.


Disepanjang jam pelajaran, ayu senyum-senyum sendiri mengingat insiden ditangga barusan, itu ciuman pertamanya, tapi entah kenapa dia mengikhlaskannya untuk adit.


Karin yang dari ekor matanya melihat ayu senyum-senyum begitu, khawatir kalau nanti pak zaki melihatnya, oleh karena itu dia menulis disebuah kertas dan menyodorkannya didepan ayu, bunyinya tulisannya adalah.


Heh, senyum-senyumnya dipending dulu kenapa, bisa gawat kalau sik daki itu lihat, difikirnya nanti lo senyumin dia lagi, trus lo disangkanya naksir dia ntar.


Demi membaca peringatan karin, ayu langsung menghapus senyum dari bibirnya, dia malu sendiri karna ketahuan senyum-senyum gak jelas seperti orang gila.


"fokus ayu, fokus, kamu dikuliahin biar dapat ilmu dan menjadi orang yang sukses nantinya, bukan untuk mikirin cowok," peringatnya pada diri sendiri.


Begitu kelas berakhir.


"Rahayu lestari." panggil pak zaki.


"Saya pak." ayu was-was, fikirnya dalam hati, "Kenapa pak zaki manggil aku, perasaan aku gak ngelakuin kesalahan apapun , masak iya senyum-senyum dianggap sebagai kesalahan,"


"Temui saya diruangan saya."


"Eh, " ingin bertanya kenapa, tapi gak mungkin, akhirnya ayu menjawab dengan berat hati, "Baik pak."


"Mau ngapain sik daki manggil lo yu, jangan bilang karna lo senyum-senyum barusan."


"Aku juga fikirnya begitu" balas ayu khawatir. "Temenin yuk rin."


"Gak ah, gue punya penyakit baru, yaitu alergi sik daki, deket dalam radius satu meter dari dia bisa bikin kulit gue gatal-gatal."


"Aku aduin ke pak zaki lho rin,"


"Eh, jangan donk, lo gila,"


"Makanya temenin ayok,"


"Duh, gimana yah yu, gue bener-bener malas lihat wajah sik daki itu, lagian juga gue lapar banget nieh, mending gue nunggu dikantin aja, oke."


" Ya deh kalau gitu," ucap ayu menyerah membujuk karin.


Diluar ruangan pak zaki, ayu dengan takut mengetuk pintu.


Tok, tok,


Terdengar sahutan dari dalam, "Masuk,"


Ayu menarik gagang pintu dan memasuki ruangan.


"Makasih pak,"


Pak zaki mengeluarkan ponsel milik ayu dari laci mejanya, dan menyodorkannya ke ayu.


Ayu berbinar melihat ponselnya, dia ternyata kangen dengan ponselnya setelah beberapa hari tidak bertemu.


" Sejak menyita ponselmu, saya tidak bisa istirahat dengan tenang," jadi curhat pak zaki.


Ayu gak tau dan gak mau tau kenapa ponselnya bisa menyebabkan istirahat pak zaki terganggu yang dia peduliin adalah yang penting ponselnya sudah kembali ketangannya.


Pak zaki melanjutkan "Tiap menit ada saja yang menelpon kamu, setau saya kamu gadis lugu, tidak seperti temanmu sik karin, tapi ternyata kamu banyak pacar,"


"Eh, saya gak punya pacar pak," membela diri, emang gak punya pacarkan dia.


"Punya juga gak apa-apa, gak usah malu."


"Terserah deh kalau gak percaya," batin ayu.


"Baiklah rahayu, sekarang kamu bisa mengambil ponsel kamu,"


Ayu bertanya tidak percaya, "Yang benar pak, makasih pak."


"Hmm, dan ingat jangan ulangi lagi kelakuan kamu,"


"Iya pak, tidak akan, makasih," ujarnya, sebagai bentuk rasa terimakasihnya, ayu mencium punggung tangan pak zaki sebelum keluar.


Setelah mendapatkan ponselnya kembali ayu bergegas menyusul karin kekantin.


*******


Ayu melihat karin melambaikan tangan untuk memberitahu keberadaanya, menggunakan bahasa isyarat ayu mengatakan kalau dia akan memesan makanan terlebih duhulu sebelum kesana, dan diangguki oleh karin.


Ayu membawa nampan berisi makanan dan minuman yang dipesannya menuju kursi yang sudah di pilih oleh karin untuknya. Dalam perjalanan menuju karin, sebuah kaki menjegalnya membuat ayu jatuh dan kuah soto yang dibawanya mengenai pakaiannya.


"awwhhh," rintihnya kepanasan, suara pecahan gelas dan mangkuk yang terjatuh menimbulkan suara berisik sehingga semua pengghuni kantin menoleh ingin tahu apa yang tengah terjadi.


Ayu buru-buru membersihkan pecahan mangkuk dan gelas, sebuah betis putih bersih memakai highils mahal berdiri tepat didepannya, ayu mendongak untuk melihat pemilik kaki tersbut. Matanya beradu denga sapasang mata indah namun terlihat galak tersenyum sinis kepadanya, wanita itu tidak lain adalah angel mantan kekasih adit.


"Ayu, astaga," Karin bergegas mendekati ayu.


"Sakit ya, kasihan banget deh lo" ejek angel menyilangkan tanganya memandang ayu dengan penuh kebencian.


"Angel," lirih ayu.


"Apa lo lihat-lihat, bersihin tuh kekacaun yang lo bikin," angel menendeng serpihan mangkuk yang pecah kedepan ayu.


Mereka langsung menjadi pusat perhatian, sekarang semua mata fokus memperhatikan akan apa yang terjadi selanjutnya antara ayu dan karin.


Dengan tangannya ayu memungut serpihan gelas dan mangkuk yang masih berceceran.


"Awwhhh," desisnya ketika pecahan itu membuat jarinya terluka.


Angel tertawa jahat "Sakit yang lo alami tidak sebanding dengan apa yang gue alami,"


"Maksud kamu apa, aku gak ngerti,"


Angel menjambak rambut ayu ,"Heh, wanita sialan, jangan pura-pura lugu lo,"


"Heh, apa yang lo lakukan ke sahabat gue." bentak karin begitu dia sampai ditkp, "Lepasin gak tangan lo dari rambut ayu,"


"Dia pantas mendapatkannya, lo gak perlu membela wanita berhati iblis ini," sambil mengatakan kalimat itu, angel makin kenceng menarik rambut ayu. Ayu meringis menahan sakit.


"Lo tuh yang berhati iblis, nama lo angel, cuihh." karin meludah "bener-bener tidak sesuai dengan nama lo, ganti aja nama lo dengan nama iblis laknatullah," tandas karin galak.


"Apa lo bilang, berani lo ngata-ngatai gue," angel melepas jambakan tangannya dari rambut ayu dan beralih memberi tamparan keras diwajah karin.


"Karin," pekik ayu menutup bibirnya dengan kedua tangan karna kaget.


"Emang benar-benar iblis laknat lo" karin langsung menjambak rambut angel tanpa ampun.


Angel maraung kesakitan, dia tidak tinggal diam membalas perlakuan karin.


Suasana kantin berubah gaduh, dua wanita yang tengah terbakar emosi itu sama-sama kuat dan juara dalam bidang jambak-menjambak.


"Rin, udah, jangan ribut." ayu berusaha melerai.


Sementara yang lainnya cuma jadi penonton, kalau cuma penonton sieh masih bisa dimaklumi tapi ini malah menyemangati kayak orang kejuaraan tinju saja.


"Eh, ini baru seru," salah satu yang menonton memberi komen.


"Ayok terus, jambakin rambutnya, plintir kakiny," yang nonton malah lebih heboh dalam memberi intruksi.


"Gue yakin ini bakalan viral, cuy," ada yang sibuk memvidiokan


"Bantuin pisahin donk," ayu minta tolong.


"Elah, gak asyik lo, seru begini ngapain dipisahin,"


"Duh, gimana donk ini,"


Sekarang dua orang itu sudah guling-guling dilantai.


Disaat genting seperti ponsel ayu berdering, tertera nama adit dilayar.


" Adit," serunya begitu sambungan terhubung.


Mendengar suara ayu yang panik adit langsung bertanya "Kenapa ayy, lo gak apa-apakan"


"Dit, tolong bisa datang kekantin gak,"


"Ada apa ayy," adit belum menyelsaikan pertanyaanya ayu udah main memutuskan sambungan. tanpa ba bi bu adit langsung berlari sekenceng yang dia bisa, dia khawatir ada hal buruk yang menimpa ayu.


********