I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Menjauhi Adit



Begitu sampai dikamarnya, ayu langsung menangis dengan menelungkupkan tubuhnya ditempat tidur. Ajeng yang mengantar ayu kekamarnya berusaha menenangkan ayu.


"Sudah ayu, jangan difikirkan kata-kata masmu itu, kamu tau sendirikan dia memang seperti itu orangnya." mengelus rambut ayu.


"Ayu sudah gede mbak, ayu juga ingin pergi keluar seperti temen-temen ayu yang lainnya, ayu bisa jaga diri."


"Iya, mbak sangat mengerti, mbak seneng kamu punya teman dan bergaul, tapi masmu juga bener, tidak seharusnya kamu berbohong dengan mengatakan akan pergi mengerjakan tugas."


"Emang kalau ayu jujur, ayu bakalan diizinin pergi mbak, gak kan."


Ajeng tidak menimpali karna dia tau kalimat ayu bener adanya.


Ayu bangun dan mengeluarkan keluh kesahnya, "Kenapa mas arya begitu kejam dengan ayu mbak, mas arya selalu membatasi pergaulan ayu, mas arya juga tidak memperbolehkan ayu melakukan apapun yang ayu suka, ayu bosan mbak dikekang terus." rintih ayu.


Akhirnya semua yang dipendamnya rapat-rapat selama bertahun-tahun keluar juga.


Ajeng hanya bisa memeluk adik iparnya, tidak ada kata yang bisa diucapkannya selain kata, "Kamu yang sabar ya, yang harus kamu tahu, mas arya melakukan semua itu demi kebaikanmu."


Ayu tidak membantah, dia begitu sangat lelah baik fisik dan juga perasaannya.


"Sudah jangan nangis lagi." ajeng menghapus air mata ayu, "Lebih baik kamu istirahat sekarang, tenangkan diri kamu." lirih ajeng.


Ayu kembali membaringkan tubuhnya dengan menaikkan selimut sampai batas lehernya, meskipun sudah mematikan lampu, tapi sedetikpun dia tidak bisa memejamkan mata, fikirannya menerawang memikirkan adit.


*********


Karna suasana hatinya tengah buruk, adit melajukan motornya menuju kosan arkan sahabatnya. Karna sudah menganggap kosan arkan sebagai rumah sendiri, tanpa segan dia langsung membuka pintu yang tidak terkunci, tiga orang yang ada didalam kosan yaitu arkan, andra dan zidan terlonjak kaget, pasalnya mereka tengah pada khusuk banget nonton film dewasa.


"Anjirr ya dit, kebiasaan banget datang-datang gak permisi." damprat andra.


"Iya, bikin kaget orang aja lo, padahalkan lagi seru-serunya ini." timbrung zidan.


Biasanya adit akan meledek temen-temennya habis-habisan jika dia memergoki mereka tengah pada nonton film dewasa, tapi kali ini dia mengabaikan protes yang keluar dari bibir temen-temennya, yang dia lakukan malah adalah meraih ponselnya dan menghubungi nomer ayu.


Terdengar bisik-bisik antara arkan, andra dan zidan.


"Kenapa sieh tuh anak, wajahnya lecek." ungkap zidan.


Jawab andra, "Hanya adit dan allah yang tahu."


Arkan langsung menoyor kepala andra, "Sialan lo."


"Bisa diem gak lo." bentak adit melihat tiga temennya itu berisik, karna saat ini dia tengah menunggu panggilannya terjawab.


Tiga orang tersebut langsung kicep karna dibentak adit.


"Yang punya kosan siapa, yang dimarahin siapa." batin arkan.


Begitu panggilannya diangkat, adit langsung berkata, "Ayy, kamu baik....."


Adit tidak sempet menyelsaikan pertanyaan karna mendengar suara bentakan arya yang kini tengah menyita ponsel milik ayu.


"Saya sudah bilang sama kamu, jangan ganggu adik saya lagi, kenapa kamu bebal sekali diberitahu."


"Maafkan saya mas, tapi saya tidak akan menuruti keinginan mas."


"Berani kamu melawan saya."


"Saya tidak pernah bermaksud sedikitpun melawan mas, saya hanya ingin memperjuangkan cinta saya, apa itu salah."


"Beneran adit yang ngomong itu, kesambet jin apaan dia." bisik zidan, dia juga kebetulan bakalan nginep dikos arkan dengan andra.


"Kayaknya tuh anak, bener-bener berubah sekarang, semenjak dia pacaran dengan ayu." bisik andra juga berbisik.


"Hebat banget tuh cewek bisa buat sik adit tobat."


"Sssttttt." arkan menempelkan jari telunjuknya dibibir berharapa temen-temennya pada diem.


"Tapi saya tidak suka kamu mendekati adik saya." terdengar sahutan arya.


"Tapi kenapa mas."


"Kenapa kamu bilang, lihat dirimu, berandalan, suka berantem, gak punya masa depan, kamu fikir saya akan rela melihat adik perempuan saya satu-satunya bersama dengan dengan laki-laki seperti kamu."


"Saya tidak membantah apa yang mas katakan tentang saya, karna itu memang fakta, tapi setiap orang bisa berubah mas, dan saya berjanji, saya akan membuktikan kalau saya pantas buat ayu dan akan membahagiakannya, saya akan membuktikan kata-kata saya." ucap adit sungguh-sungguh.


"Kamu fikir omong kosong yang kamu ucapkan akan membuat saya luluh, sekali berandal selamanya berandal." tandas arya dan mematikan sambungan.


Adit menghela nafas berat, dia sudah tau sebelumnya, perjuangan dalam mendapatkan ayu tidak mudah, tapi dia tidak akan menyerah.


Temen-temen adit langsung menyerbu adit, dan mengacak-ngacak rambutnya.


"Gak gue sangka, akhirnya masa itu datang juga, lo akhirnya jatuh cinta beneran." lirih arkan.


"Ailahhh, udah dewasa ternyata sik plaboy ini."


"Beneran udah siap lo lepas status keplayboyan lo."


"Heh, kampret, jangan acak-acak rambut gue, lo belum lihat tangan melayang hah."


"Tatutttt." ujar mereka bertiga pada sok imut dan mentertawakan adit.


"Udah ah, gue capek." adit menghempaskan tubuhnya ditempat tidur arkan, "Satu lagi, kecilin volume leptop lo ar, kalau mau leptop lo masih menyala." mengancam.


"Yang punya kosan siapa, yang main perintah siapa." keluh arkan.


Terpaksa deh mereka ngungsi dikamar sebelah.


********


ĺ"Pulang kuliah, kamu harus langsung pulang, jangan keluyuran kemana-mana." tegas arman pada ayu ketika mereka tengah sarapan bersama.


Dalam hati ayu menjawab, "Lagian juga selama ini emang ayu pernah keluyuran, walaupun pergipun ayu sering minta izin."


"Dan yang paling penting, kalau kamu masih menganggap mas sebagai keluargamu, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki bernama adit, mengerti kamu ayu."


Hanya raganya yang berada disana, tapi fikirannya entah berada dimana, sehingga peringatan arya tidak ada satupun yang mampu diserapnya.


"Ayu, kamu denger mas bilang apa." seru arman karna melihat tidak ada respon sedikitpun dari ayu.


"Mas," ajeng memegang tangan suaminya, "Ayu paham kok, mas gak perlu ngegas gitu."


"Pak rahmat, tolong tunggu ayu sampai dia pulang agar tidak bisa keluyuran kemana-mana." pesan arman pada sopir ayu.


"Baik tuan."


Pak rahmat kemudian membukan pintu untuk ayu dan mulai menjalankan mobil.


"Saya tunggu disini ya neng ayu." ujar pak rahmat begitu tiba dikampus.


Ayu hanya tersenyum tipis sebagai jawaban sebelum membuka pintu mobil.


"Makasih pak." meskipun tengah galau, tapi ayu tetap tidak melupakan sopan santun.


"Sama-sama neng."


Ayu berjalan dengan langkah gontai menuju kelasnya, dia berjalan sambil melamun.


Tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik dari belakang dan ternyata yang menariknya adalah adit.


"Ayy." adit langsung memeluk ayu, "Syukurlah, aku masih bisa bertemu kamu lagi." adit melepaskan pelukannya lalu dia meletakkan telapak tangannya dipipi ayu, "Apa kamu baik-baik saja." tanyaya.


Bukannya menjawab pertanyaan adit, yang Ayu lakukan malah memandang wajah adit sepuas-puasnya, seolah-olah itu adalah pertemuan terakhirnya dengan adit, "Mas arya, aku mencintainya, sangat mencintainya, kenapa mas begitu tega menyuruh ayu menjauhi laki-laki yang ayu cintai, apa ayu salah jatuh cinta." kata-kata yang hanya diungkapkan dalam hati.


Ayu meraih tangan adit yang memegang pipinya dan menurunkannya, "Mas, mulai saat ini, jangan pernah deketin ayu lagi." setelah mengucapkan kalimat tersebut ayu berbalik berniat untuk pergi, namun adit dengan cepat meraih kembali pergelangan tangan ayu sehingga tubuh ayu kembali berputar menghadapnya, "Apa maksud kamu ayy, jelasin, apa ini karna mas arya."


"Setelah ayu fikir, ayu tidak bisa bersama dengan mas lagi, aku tidak mau membahayakan hidupku bersama dengan mas adit karna mas punya banyak musuh, jadi mas adit, jika mas sadar, jauhi ayu." ketika ayu mengatakan hal itu, dia tidak berani menatap mata adit, mata yang pasti akan bisa membaca kebohongannya.


"Lihat aku ayy, tatap mataku." adit tidak pernah mau melepas tangan ayu, "Apa ini bener karna keinginanmu sendiri, atau ini karna mas arya, tatap aku ayy, jangan menunduk begitu."


Dengan menguatkan hatinya, ayu menatap mata adit, "Iya mas, ini keinginanku sendiri bukan karna mas arya." bohong ayu sambil melepaskan tangan adit yang memegang pergelangan tangannya dan berbalik pergi.


Dari tadi, ayu bener-bener berusaha menahan air matanya, tapi kini, air matanya tidak bisa ditahan lagi, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Ayu berlari begitu sudah jauh dari pandangan adit, dia berlari menuju toilet, untungnya toilet pada waktu itu sepi sehingga dia dengan sepuasnya bisa menangis disana.


*********


Dikelas, karin sumpah gelisah, duduknya tidak tenang seperti cacing kepanasan, matanya sebentar-bentar melihat kearah luar, iyalah, khawatir dia, pasalnya ayu belum juga datang, sedangkan pak zaki sebentar lagi datang, kalau dia terlambat bisa-bisa dia tidak lulus dimata kuliah pak zaki. Karin berulangkali menghubungi nomer ayu, tapi nomer ayu tidak aktif.


"Selamat pagi." terdengar suara pak zaki menyapa mahasiswanya.


"Pagi pak." jawab para mahasiswa serentak.


"Sik ayu nieh kemana sieh dia, alamat bakalan dibantai dia, gak biasanya dia telat."


Ketika pak zaki mulai mengabsen terdengar suara pintu diketuk.


"Tok..tok..tok."


"Masuk." perintah pak zaki.


Dibalik pintu itu ternyata adalah ayu dengan mata sembab dan wajah lecek.


Awalnya, temen-temen kelas ayu khawatir melihat ayu yang terlambat, tapi melihat wajah ayu, mereka pada berharap ayu bakalan mendapatkan keringanan supaya tidak dihukum oleh pak zaki.


"Maaf pak saya terlambat."


Pak zaki tidak pernah menolerir keterlambatan, tapi melihat wajah ayu yang seperti itu, dia jadi tidak tega untuk mendamprat, sebagai gantinya dia berkata, "Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu pulang saja."


Ayu memang sakit sieh, tapi sakit hati bukan sakit fisik, ayu menjawab, "Tidak apa-apa pak, saya sanggup kok."


"Baiklah kalau begitu, duduklah."


"Makasih pak."


"Ternyata, masih punya rasa kemanusiaan juga dia." ucap karin dalam hati.


************