I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Kabur



Sudah satu minggu lebih Ayu dikurung dirumah, dia tidak diizinkan keluar sama sekali, bahkan kuliahpun dia tidak diizinkan oleh Arya, Arya takut kalau Ayu diizinkan kuliah dia akan menemui Adit atau bahkan sebaliknya. Bahkan Karin sekalipun beberapa kali datang untuk menemui Ayu hanya untuk mengetahui kabar Ayu, tapi Karin tidak pernah diizinkan bertemu dengan Ayu secara langsung.


Jangan ditanya deh bagaimana bosannya Ayu hanya berada dirumah, tanpa ponsel lagi, Ayu memang anak rumahan, tapi semenjak berteman dengan Karin dia sering keluar hanya untuk sekedar jalan-jalan merefres fikiran.


Saat ini, Ayu tengah berbaring terlentang, pandangan matanya kosong menghadap langit-langit kamarnya, dia sudah lelah menangis, matanya sembab karna selama satu minggu ini dia lebih banyak menangis, meskipun begitu Arya sedikitpun tidak luluh melihat keadaan adiknya.


Terdengar ketukan dari balik pintu kamarnya, "Non Ayu, makan malam." ternyata itu bi Asih.


"Ayu gak lapar bi."


Sebagai salah satu aksi protesnya terhadap perlakuan Arya kepadanya, selama satu minggu ini Ayu jarang sekali makan.


"Tapi non Ayu harus turun kata den Arya."


"Bilang sama mas Arya bi kalau Ayu gak enak badan, gak bisa turun dari tempat tidur." berbohong.


Ayu tidak terdengar sahutan, mungkin bi Asih kembali kebawah melaporkan apa yang dikatakan olehnya.


Namun gak lama kemudian pintu kamarnya didorong dari luar, kali ini yang datang adalah Ajeng, Ajeng menghampiri Ayu dan duduk dipiggir tempat tidur, Ajeng berusaha membujuk Ayu, "Yu, turun yuk, makan."


"Malas mbak ketemu sama suami mbak yang diktator itu."


"Kok ngomong gitu Yu, gitu-gitu dia mas mu lho."


"Mas yang memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan perasaan adiknya." tandas Ayu.


"Yu, masmu melakukan semua inikan untuk kebaikan kamu juga."


"Kebaikan yang seperti apa mbak, sifat mas Arya menyakiti Ayu, kebebasan Ayu dikekang, apa itu yang namanya kebaikan."


Ajeng menghela nafas, dia masih berusaha untuk membujuk Ayu, karna kalau sampai Arya yang datang sendiri nyamperin Ayu, bisa panjang urusannya.


"Percayalah Yu, tidak ada seorang kakak yang ingin menyakiti adiknya, semua ini dilakukan supaya kamu paham kalau laki-laki seperti Adit tidak baik untuk kamu."


"Terus, laki-laki seperti apa yang baik buat Ayu mbak, laki-laki seperti mas Arya gitu, Ayu heran, kenapa mbak bisa tahan dengan laki-laki seperti mas Arya."


Bukannya tersinggung dengan kata-kata Ayu, Ajeng malah terkekeh, "Cintalah yang membuat mbak bisa bertahan Yu, meskipun mas mu itu dingin, cuek dan diktator, tapi dia pria yang bertanggung jawab dan sayang sama keluarga."


"Tapi dia gak sayang sama Ayu mbak, buktinya dia ngurung Ayu dan tidak mengizinkan Ayu masuk kuliah."


"Mas Arya melakukan hal ini dengan alasan yang kuat Yu."


"Biar Ayu gak bisa ketemu dengan mas Aditkan." kejar Ayu.


Ajeng mengangkat bahu, " Mendingan kita kebawah sekarang, kamu ingin mas mu sendiri yang datang kemari."


"Ayu malas mbak."


"Ya udah, mas Arya sendiri yang akan datang menjemput kamu kemari." ancam Ajeng.


Mendengar hal tersebut, dengan sangat terpaksa Ayu turun mengikuti Ajeng.


Dimeja makan, disana sudah ada Arya, Putri, dan Sakti. Ayu gak tau kapan kakaknya yang satu itu datang, sedangkan Bhima dan istrinya sudah pulang tiga hari yang lalu.


Ayu duduk dikursi yang tersisa, baik Arya ataupun Sakti terus menatapnya, tapi Ayu tidak peduli, ketika tangannya terulur untuk mengambil nasi, Arya menegur, "Ayu, mas ingin bicara."


Ayu yang tangannya sudah setengah jalan kembali menarik tangannya, "Mas sudah menjodohkan kamu dengan seseorang." tanpa basa-basi Arya langsung pada intinya.


Meskipun Ayu sudah tau dari Sakti bahwa dirinya akan dijodohkan, tapi ketika hal tersebut didengar secara langsung dari Arya, mau tidak mau membuat Ayu terkejut juga.


"Ayu tidak mau dijodohkan mas."


"Kenapa kamu sekarang jadi pembangkang seperti ini setelah bergaul dengan berandal itu Ayu, kamu sering membantah dan melawan mas, sesuatu hal yang tidak pernah kamu lakukan sebelumnya."


"Ini bukan karna mas Adit, tapi Ayu hanya tidak ingin menikah mas untuk saat ini, Ayu masih muda dan masih kuliah, Ayu ingin mengejar cita-cita Ayu." jawab Ayu berapi-api.


Suasana yang awalnya tenang, kini memanas karna perdebatan kakak adik tersebut.


"Itu tidak jadi masalah, kamu bisa menikah sambil kuliah."


"Ini begitu cepat mas, Ayu gak siap, lagipula, Ayu tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak Ayu cintai."


Arman menggebrak meja, membuat meja makan itu bergetar, semua orang yang ada disana kaget, lebih-lebih putri yang masih kecil, Ajeng buru-buru membawa anaknya pergi menjauh tidak ingin anaknya melihat adegan yang tidak seharusnya dilihat oleh anak kecil.


Ayu berdiri dan berkata, "Mas egois." Ayu kemudian berlari meninggalkan meja makan tanpa sempat menyentuh makanan sedikitpun.


"Mas tidak mau tahu Sakti, bilang sama Arman untuk mempercepat acara lamaran."


"Baik mas."


*********


Dikamarnya, Ayu kembali menangis, dia memukul-mukul bantal menganggap bantal itu adalah Arya kakaknya, "Kenapa mas Arya begitu jahat." lirihnya sesenggukan.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas difikirannya, "Iya, aku harus kabur, mas Arya harus tau kalau dia tidak bisa seenaknya memaksakan kehendaknya." lirihnya.


Ayu mulai memasukkan beberapa barang yang diperlukan diransel hitamnya, Ayu membawa beberapa potong pakaian, buku-buku kuliahnya, dan dompet, entah kemana tujuannya, tapi yang penting dia harus keluar terlebih dahulu dari rumah setelah seisi rumah tertidur.


Jam sudah menunjukkan angka 12.30, "Ini saatnya, semuanya pasti sudah pada tidur." ujarnya.


Ayu keluar dari kamarnya dan berjalan sambil berjingkat-jingkat supaya suara kakinya tidak terdengar. Suasana rumah itu gelap gulita, tapi karna Ayu sudah hafal dengan kondisi rumahnya, sehingga dia bisa berjalan ditengah kegelapan tanpa menyenggol apapun.


Begitu sudah berada diluar, Ayu bisa bernafas lega, sebelum bener-bener keluar dari halaman rumahnya, Ayu kembali memandangi bangunan berlantai


dua tersebut dan bergumam, "Maafkan Ayu mas Arya."


********


Sudah beberapa malam ini Adit selalu menyambangi rumah Ayu, meskipun tidak bisa melihat Ayu, tapi hanya dengan melihat rumah yang ditinggali oleh orang yang dicintainya sedikit tidaknya bisa mengobati rindunya yang selama satu minggu ini tidak pernah bertemu.


Adit sering meneror Karin hanya untuk mendapatkan informasi tentang Ayu, tapi jawaban Karin selalu sama yaitu, "Gue juga gak tau Adit, stop teror gue." itulah jawaban yang didapatkannya dari Karin.


Disaat fokus-fokusnya menatap rumah didepannya, pandangan mata Adit teralih pada gerbang yang terdorong dari dalam, Adit menajamkan penglihatannya untuk melihat siapa yang membuka gerbang ditengah malam seperti ini, fikir Adit, jangan-jangan itu maling lagi, tapi begitu melihat siapa yang keluar dari balik gerbang, rasa bahagia sekaligus terkejut secara bersamaan dirasakannya. Bahagia karna pada akhirnya bisa melihat gadis yang dia cintai, terkejut karna dari gelagatnya, Ayu seperti orang yang ingin kabur, terlihat dari tas ransel yang ada dipunggungnya dan matanya yang melihat kiri-kanan dengan waspada.


Adit yang berada diseberang jalan langsung menghampiri Ayu, "Ayy." tegurnya.


Sama seperti Adit, bahagia sekaligus terkejut melihat Adit yang kini ada didepan matanya, Ayu langsung menubruk tubuh kokoh Adit dan menangis didada Adit.


"Mas Adit, hiks, hiks."


Adit balas memeluk Ayu, menyalurkan rasa kangennya setelah satu minggu lebih mereka tidak pernah bertemu.


"Hei," Adit mendorong bahu Ayu pelan, Adit ingin melihat wajah Ayu, "Kenapa nangis."


Ayu menggeleng, Adit menangkup wajah Ayu, dengan menggunakan ibu jarinya Adit menghapus air mata Ayu, "Jangan nangis lagi oke, jelek tau." canda Adit.


Ayu memukul lengan Adit, "Ihh, mas Adit."


Adit terkekeh, "Bercanda sayang, sini peluk lagi, aku kangen banget sama pacar aku." Adit merentangkan tangannya, Ayu langsung memeluk Adit.


"Mas, kita harus pergi dari sini sekarang." ucap Ayu melepas pelukannya.


"Pergi, kita maksudnya." Adit menunjuk dirinya dan Ayu.


"Iya mas, sebelum ketahuan sama mas Arya."


Ternyata bener dugaan Adit kalau Ayu ingin kabur, "Tapi yu..."


"Ayok mas, ntar keburu mas Arya bangun." Ayu menarik Adit tidak sabaran menuju motor Adit yang terparkir.


"Oke, oke, tapi lepasin dulu Ayy."


Ayu melepaskan tangannya dari tangan Adit, sebelum memenuhi keinginan Ayu, Adit mengajukan pertanyaan untuk memastikan, "Kamu ingin kabur Ayy."


Ayu memberi anggukan.


"Kenapa Ayy."


"Ceritanya panjang mas, mending kita pergi dulu dari sini, nanti Ayu ceritakan."


"Baiklah." sebelum beranjak menuju motornya, sebagai seorang laki-laki sejati Adit mengambil alih tas yang berada dipunggung Ayu mengambil alih beban yang dipikul Ayu.


**********