
Ayu berlari disepanjang koridor rumah sakit, harapannya begitu dia sampai kondisi Adit telah membaik, selama dalam perjalanan dari kafe ke rumah sakit dia terus merafalkan doa, berharap kondisi Adit baik-baik saja.
"Yu, pelan-pelan." teriak Karin berusaha mengejar Ayu dibelakang.
Ayu tidak menggubris Karin, dia terus berlari dan berlari, dia baru berhenti ketika melihat semua anggota keluar Adit diluar sebuah ruang operasi, wajah-wajah itu terlihat tegang menunggu hasil dari dokter yang tengah menangani Adit didalam. Suara langkah Ayu membuat mereka menoleh, mata Alya dan Anggi sembab karna terus menangis, sedangkan Arman dan Adi raut wajah mereka kentara sekali menyiratkan kekhawatiran, selain mereka, Arkan dan Andra berada juga disana, mereka juga terlihat khawatir.
"Ayu." tegur Arman menyongsong kedatangan Ayu, "Kenapa kamu kesini." sebuah pertanyaan yang wajar karna menurut Arman adiknya dan Ayu bukanlah dua orang yang akrab meskipun sebentar lagi mereka akan berstatus sebagai kakak dan adik ipar.
Tidak menjawab pertanyaan Arman, Ayu malah bertanya tentang kondisi Adit, "Mas, gimana keadaan mas Adit."
"Dia masih dalam penanganan dokter, Adit mengalami kecelakaan yang cukup parah, kami hanya bisa berdoa supaya dia selamat." kalimat Arman penuh harap.
Ayu menekap bibirnya, Ayu terisak, air matanya semakin deras mengalir, Arman yang salah paham mengira Ayu menangisi keadaan calon adik iparnya, meraih tubuh Ayu dan merengkuhnya, "Sssttt." mengelus kepala Ayu, "Adit akan baik-baik saja, jangan khawatir."
Sedangkan Arkan dan Andra yang mengetahui hubungan Ayu dan Adit saling berpandangan penuh arti.
Karin datang dengan nafas ngos-ngosan, capek banget dia, Karin gak perlu bertanya bagaimana keadaan Adit, karna wajah-wajah disana sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bagaimana kondisi Adit saat ini, bahwa keadaan Adit dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Suasana disana hening dan mencekam, tidak ada yang berusaha membuka obrolan, bahkan Alya dan Anggi yang biasanya ngoceh tanpa henti dari bibirnya hanya terdengar isakan, dan pastiny masing-masing dari mereka berharap, dokter keluar membawa berita baik. Gak lama pintu ruang operasi terbuka, Alya dan Anggi langsung menyerbu dokter tersebut dengan pertanyaan.
"Bagaimana keadaan putra saya dok, dia baik-baik saja kan." tentu saja itu pertanyaan dari seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan kondisi putranya.
"Iya dokter, abang saya gak kenapa-napakan, dia akan keluar dan ngeledek Anggi seperti biasakan."
Pertanyaan Ayu dan semua yang lainnya terwakili oleh pertanyaan dua perempuan yang menyayangi Adit, mereka menunggu dokter itu memberi jawaban.
Dua wanita itu sudah siap menumpahkan air mata jika jawaban yang diberikan oleh sang dokter tidak sesuai dengan harapannya.
Dokter tersebut memandang semua orang disana sebelum menggeleng pasrah, semuanya mengambil kesimpulan bahwa gelengan sang dokter menandakan bahwa Adit telah tiada, sehingga Alya dan Anggi menjerit histeris.
"Adittt, putraku." menangis histeris, Adi langsung merengkuh istrinya, dia juga begitu terpukul, tapi dia harus kuat.
"Yang sabar ma."
"Bang Adit, huhu."
Sedangkan Ayu langsung pingsan, Arman yang berada disamping Ayu dengan sigap menahan tubuh Ayu supaya tidak membentur lantai.
"Astaga Ayu." panik Karin melihat sahabatnya itu terkulai tak berdaya.
"Ayu, bangun Yu." Arman menepuk-nepuk pipi Ayu, Arman tidak menyangka reaksi Ayu akan seperti ini.
"Mas tolong bawa Ayu, biar diperiksa dokter."
Arman mengangguk dan mengangkat tubuh Ayu.
***********
Keluarga Ayu langsung datang kerumah sakit begitu dia mendapat kabar dari Karin kalau Ayu pingsan, wajah mereka sudah pasti khawatir.
"Apa yang terjadi dengan Ayu Rin." itu pertanyaan Ajeng.
Dokter yang memeriksa Ayu keluar, wajahnya diliputi senyum, keluarga Ayu menduga ini adalah sebuah pertanda baik, hanya Ajeng yang terlihat khawatir.
"Dokter, apa yang terjadi dengan adik saya." cecar Arya.
Sebelum menjawab pertanyaan Arya, Dokter itu kembali tersenyum, "Anda tidak perlu khawatir, adik anda baik-baik saja, hanya saja jangan biarkan dia terlalu lelah karna itu bisa berakibat buruk bagi calon bayi yang dikandungnya."
Ini seperti petir disiang bolong, kecuali Ajeng, semua yang berada disana bener-bener mendapat sebuah kejutan.
"Hamil dok." tanya Arya tidak mempercayai pendengarannya.
"Iya, diawal-awal kehamilan seperti ini rentan terjadi keguguran jika sang ibu kelelahan atau stress, jadi saya berharap anda membatasi aktifitasnya dan lebih banyak istirahat." Dokter itu menganggap Sakti yang juga ikut kerumah sakit adalah suami Ayu, "Untuk menguatkan kandungannya, saya akan berikan resep vitamin." ujar dokter tersebut tidak memperhatikan wajah-wajah kaget tersebut.
"Kalau begitu saya tinggal dulu, anda bisa menemui pasien didalam."
Sebelum pergi sik dokter tersenyum lagi, dia gak tahu kalau berita yang disampaikannya merupakan berita buruk buat keluarga Ayu.
Jangan ditanya bagaimana raut wajah Arya, merah padam, dia langsung masuk menemui Ayu, yang lain langsung mengekori dibelakang Arya sambil meneba-nebak apa yang akan dilakukan Arya terhadap Ayu.
"Mas." sapa Ayu dengan suara lemah, tubuhnya terbaring dibankar rumah sakit dengan tangan berada diatas perutnya, dia berusaha bangun begitu melihat kedatangan keluarganya.
Arya langsung melayangkan tamparan keras dipipi adiknya, Ayu memegang pipinya yang ditampar Arya, rasa perih menjalar dipipinya, diluar keinginannya air matanya merembas dari sudut matanya.
Tidak habis keterkejutan Karin atas berita kehamilan Ayu, kini dia terkejut lagi karna tidak menyangka kalau kemarahan Arya bisa sampai menggunakan fisik.
Arya kembali mengangkat tangannya untuk menampar pipi Ayu yang satunya, namun sebelum hal itu terjadi, Sakti lebih dulu menahan Arya.
"Jangan mas."
"Dasar adik tidak tahu diuntung, tega-teganya kamu melakukan ini pada kakak." suara teriakan Arya bergaung dikamar tersebut, bahkan mungkin terdengar sampai kamar sebelah.
Ayu terisak, "Ini balasanmu pada kami hah, dengan mencoreng nama besar keluarga." Arya mengeluarkan amarahnya.
"Mas, cukup, saat ini kondisi Ayu dalam keadaan tidak baik, jangan membentaknya terus." ujar Ajeng berusaha meredam kemarahan suaminya, dia juga sangat kecewa dengan Ayu, gadis lugu dan polos yang telah dibesarkannya, meskipun begitu, Ayu tetap manusia biasa yang tidak luput dari yang namanya kesalahan.
"Kenapa kamu membela dia."
"Bukan begitu mas, aku hanya..."
"Sudahlah, ini salahmu Ajeng yang tidak bisa mendidik Ayu dengan bener." Arya malah berbalik menyahkan Ajeng, Ajeng terdiam membenarkan kata-kata suaminya.
"Ini perbuatan bajingan itukan."
Ayu hanya menjawab dengan isakan, "Kamu bener-bener anak setan." Arya meradang, "Mau ditaruh muka kita."
Tapi semuanya sudah terlanjurkan, mereka terpaksa harus membatalkan pernikahan yang telah direncanakan tersebut.
**********