I LOVE U AYY

I LOVE U AYY
Mungkin ini yang namanya jodoh



Minggu pagi buat orang yang hidup normal dan biasa bangun pagi, hari minggu tidaklah terlalu spesial, tapi buat orang yang menganut sistem hidup seperti kelelawar seperti Adit, yaitu keluyuran malam hari dan tidur siang, hari minggu tidak ubahnya laksana surga buatnya. Dia bebas tidur sampai jam


berapapun dia mau, apalagi semalam dia pulang jam 3 pagi. Ketika dirinya masih dalam buaian mimpi, gedoran dahsyat dari pintu kamarnya membuatnya terlonjak dari mimpi indahnya.


“Sialan, kaget gue.” dia mengumpat, di fikirnya gempa bumi.


Dukk,


Dukkk,


Gedoran tersebut disertai suara yang bisa bersaing dengan toa masjid.


“Abangggggg....” itu suara Anggi ternyata.


Adit yang nyawanya belum terkumpul kembali menjatuhkan tubuhnya lagi, terganggu sieh memang dia karna teriakan bar-bar adiknya itu, tapi Adit yakin kalau gak digubris Anggi pasti akan capek sendiri dan pasti akan pergi. Namun sialnya, karna dia tidak mengunci pintu kamarnya sehingga Anggi menerebos masuk mengganggu Adit yang memperbaiki posisi tidurnya.


“Abangggggg.” merengek deh tuh Anggi.


Adit menyumpal telingannya dengan bantal, baginya suara adiknya gak ubahnya seperti suara radio rusak saat ini.


“Abangggg, ihhhh.” anggi menarik selimut kakaknya dan menarik bantal yang digunakan Adit menyumpal telinganya.


“Abanggggg, tolongin Anggi bang.” memelas.


Adit jelas saja jengkel tingkat langit ketujuh karna gangguan sang adik.


“Apa sieh lo, ganggu orang aja, sana lo jauh-jauh dari gue.” usir Adit, namun Anggi tidak menggubris, dia malah makin heboh merengek.


“Banggg, anterin Anggi kesekolah yah plissssss.”


“Ini hari minggu adikku tersayang, masak iya lo mulai pikun, ternyata mama tidak


memperhatikan gizi mata lo dengan baik.” sempet-sempetnya Adit meledek Anggi.


“Anggi tau abang ini hari minggu, Anggikan bukannya mau sekolah dan belajat, Anggi ada tambahan ekstrakulikuler tari pagi ini.”


“Hari minggu tuh buat orang istirahat total, kerajianan amet lo, temen-temen lo dan pelatih tari lo itu, kalau ada penghargaan buat orang terajin didunia, gue yakin seratus persen lo dan sekolah lo bakalan dapat penghargaannya.”


“Banyak bacotnya sik abang, tinggal nganterin aja apa susahnya sieh bang,”


“Lo kan tuan putri dirumah ini, suruh sopir lo sono nganterin."


“Pak sopian kan lagi sakit udah satu minggu."


“Suruh abang tersayang lo sono.” yang maksud adalah Arman.


“Gak enak abang ganggu istirahat bang Arman."


"Lhaaa, sama Arman lo gak enak, terus lo kenapa enak ganggu tidur gue."


"Karna bang Armankan capek kerja dari senin sampai sabtu, lha bang Adit, kerjanya cuma keluyuran doank.”


Meskipun ini fakta, tapi kesel banget Adit kalau diungkit masalah keluyuran, dia membeo, “Lo fikir gue Cuma kluyuran doank, gue sibuk kerja juga.”


“Sbuk kerja ngerayu cewek maksud abang."


"Bocil, ngejawab aja."


"Abanggg, ayokk ntar Anggi, nanti Anggi traktir deh.”


“Bocil kayak lo bisa traktir apa, palingan cuma es teh doank."


“Abang jahat, kalau mama dan papa pulang Anggi aduin.” kebetulan mama dan papa mereka tengah berada diluar kota menjenguk keluarga disana. Anggi menghentakkan kakinya dan keluar, sedangkan Adit kembali memperbaiki posisi tidurnya.


“Abang gak berguna." omelnya dengan bibir dimajukan.


Anggi menelungkupkan wajahnya dimeja makan saking keselnya.


************


Arman masuk kedapur dan langsung menuju kulkas, dia baru pulang joging, sisa-sisa keringat masih merembas dari dahinya. Adit mengeluarkan sebotol air dari kulkas dan meneguknya, matanya terarah pada sosok adiknya yang menelungkupkan wajahnya di atas meja, dia menghampiri Anggi lalu menanyakan apa yang terjadi dengan sang adik.


“Kamu kenapa sayang" Arman mengelus puncak kepala Anggi.


“Eh, kaget aku." Anggi mendongak dan melihat Arman yang tersenyum padanya, "Abang kok tiba-tiba nongol.”


Arman terkekeh, "Abang bukannya tiba-tiba nongol, kamu saja sibuk sendiri sampai tidak mengetahui kedatangan abang."


”Abang habis joging ya."


Arman mengangguk, "Kirain Anggi abang masih tidur."


“Emang abang kayak abangmu yang pemalas itu, jam segini masih saja tidur.” maksudnya Adit.


“Iya juga ya, abang kan rajin bangun pagi dan olahraga."


Arman duduk disamping Anggi, dia mengelap sisa keringatnya dengan handuk kecil yang menggantung dilehernya.


"Abangggg,” kembali Anggi merengek manja.


“Pasti ada maunya.” tebak Arman.


“Hehehe, abang paling mengerti Anggi deh, abangg anterin Anggi kesekolah ya.”


"Lho, ini kan minggu, masih sekolah juga hari minggu.”


“Bukan abang, Anggi ada latihan tari.”


“Kenapa latihannya hari minggu.”


“Ini kesepakatan Anggi dan temen-temen, dan pelatihnya juga setuju karna kalau hari biasa itu waktunya sedikit."


“Hebat ya, adik abang tidak pemalas, hari dimana orang harusnya istirahat masih saja menggunakan waktunya untuk hal positif."


“Anggikan nyontoh abang."


“Abang maukan anterin Anggi, ya bang ya, ya." tangannya dikatupkan didepan dada memohon dengan mata kucingnya yang membuat siapapun pasti luluh.


Tanpa melakukan hal itupun Arman akan menuruti keinginan adik tersayangnya.


"Iya, apa sieh yang gak buat adik abang yang cantik ini."


"Yesss, abang emang kakak ter thebest didunia, sayang abang, mmmuahh." Anggi mengecup pipi Arman saking senengnya.


"Ntar Anggi kenalin deh sama pelatih tari anggi, itu lho bang yang Anggi bilang waktu itu, masih muda, dan gak malu-maluin sieh kalau diajak kepesta, pinter banget lagi narinya, baik dan ramah pula.” jadi promosi.


Arman hanya menggeleng, ternyata adiknya masih kukuh berniat menjodohkannya. “Abang mending siap-siap gieh sana, sepuluh menit oke abang, gak perlu mandi juga abang tersayangku masih terlihat cakep"


"Bisa aja kalau ada maunya"


********


30 menit kemudian mobil Arman sudah terparkir diparkiran sekolah. Anggi masih antusias berniat memperkenalkan sik abang dan sik pelatih tarinya.


“Ayookk, abang turun.” ajak anggi berusaha menarik Arman keluar dari mobil.


Karna tau adiknya akan melancarkan aksi nhcomblangin dirinya dan pelatih Anggi, Arman melancarkan aksi bohongnya, “Oh ya, Abang lupa, ada yang abang perlu urus, lewat hp sieh memang, mending abang disini aja ntar abang nyusul. "


"Yahhh abang gak asyik banget sieh." kecewa Anggi tapi sedetik kemudian dia berkata, “Tapi janji yah abang bakalan nyusul.”


“Iya.” diiyain aja oleh Arman untuk membuat adiknya senang.


"Ya udah, Anggi tinggal dulu kalau gitu, dadah abang."


"Punya adik dan mama hobinya ngejodohin.” desahnya begitu Anggi sudah keluar dari mobilnya.


*********


Satu jam berlalu, Arman mulai bosan, dia berfikir untuk keluar hanya sekedar jalan-jalan melihat kondisi sekolah adiknya. Dia berjalan sampai kakinya berhenti didepan pintu sebuah ruangan yang dijadikan oleh adiknya dan teman-temannya untuk latihan tari.


Karna pintu terbuka lebar dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi didalam.


Matanya terkunci pada sosok yang dikenalnya.


“Ayu.” gumamnya karna dia menangkap sosok ayu yang dengaan anggun


melenggak lenggokan tubuhnya mengikuti irama musik tradisonal, Ayu tengah memberikan contoh bagi anak didiknya.


Arman terpana sehingga dia tidak berkedip melihat Ayu yang masih dengan anggun menari mengikuti irama musik. Bukan hanya Arman saja sieh yang terpana, semua yang ada diruangan juga terpana melihat sang tutor mempragakan keahliannya. Dan ketika musik berhenti bersamaan dengan gerakan yang dipragakan Ayu, Arman reflek bertepuk tangan dan itu membuat seisi ruangan termasuk Ayu mengarahkan mata mereka kearah sumber suara dan sekaligus menyadarkan anak-anak yang ada didalam turut bertepuk tangan sebagai sebuah apresiasi.


Ayu yang melihat Arman ada disekolah tempat dia mengajar tari sama tidak menyangkanya dengan Arman ketika melihat Arman berada disana, Ayu heran, perasaan dia selalu bertemu dengan Arman ditempat yang tidak terduga.


“Mas Arman.” lirihnya.


“Abangnggggg,” teriak Anggi berlari menyongsong sang kakak dan kemudian mengaitkan tagannya dilengan Arman.


“Lama amet sieh bang, ditungguin dari tadi juga."


"Maaf, urusannya baru selesai soalnya." ujarnya berbohong.


"Ayok Anggi kenalin sama mbak Ayu pelatih tari disekolah Anggi." Anggi menarik kakaknya menghampiri Ayu.


“Ini lho bang pelatih tari yang Anggi mau jodohin sama abang, cantikkan bang, mbak Ayu selain cantik dan manis juga baik hati dan ramah tamah lagi orangnya." ceplas-ceplos tanpa saringan sik Anggi. Ayukan jadi malu gitu apalagi banyak anak didiknya disana yang mendengar.


Anggi yang gak sadar membuat


orang malu bukannya berhenti nyerocos malah makin heboh.


“Mbak Auu, cowok cakep ini abang tersayangku, kalau mbak Ayu mau nikah sama abangku, dijamin gak rugi deh, bang Arman ini cowok plus-plus, udah ganteng, sholeh, berbakti sama orang tua lagi, dan sayang sama Anggi pastinya, dan yang paling penting mbak, mas Arman pewaris tahta kerajaan bisnis keluarga, pokoknya cowok idaman dunia akhirat deh.” udah kelihatan bakatnya sik Anggi dimasa depan yaitu jadi sales.


Arman sieh seneng dipuji, tapi gak berlebihan juga kali, jadi malukan dia mendengar adiknya yang terlalu berlebihan memujinya didepan Ayu.


“Nggi, kok lo kok kayak sales sieh.” sahut temennya yang dari tadi jadi penonton.


“Diem lo, balik gieh sana, udah selesai jugakan.”


Kalimat Anggi menyadarkan Ayu karna belum membubarkan kegiatannya karna kedatangan Arman yang tidak terduga, tambah tidak terduga lagi Arman ternyata adalah kakaknya Anggi, gadis remaja ceria yang selalu mempromosikan kakaknya pada Ayu. ternyata kakaknya adalah Arman toh.


“Sebentar yah mas."


“Silahkan Yu.”


Anggi yang merasa heran bergantian memandang Ayu dan Arman, “Lho, kok kayaknya mereka saling kenal” dalam hati bertanya.


Ayu menghadap pada anak didiknya dan memberikan intruksi, “Baiklah adik-adik, untuk latihan hari ini kita cukupkan, jangan lupa tetap latihan dirumah, sekarang kalian boleh pulang dan hati-hati dijalan.” pesan Ayu.


“Baik kak.” koor anak-anak itu patuh dan membubarkan diri.


“Jadi kamu pelatih tari disekolah adikku." Arman bersuara.


"Iya"


"Gak sangka ya kita ketemu disini, ini mungkin yang dinamakan dengan jodoh."


Anggi nyerobot "Betul itu bang, ini pertanda abang dan mbak Ayu jodoh."


"Amien." diaminkan oleh Arman.


"Ce, cie, cie" goda Anggi.


"Bisa aja mas Arman bercandanya, jadi digodainkan sama Anggi" respon Ayu malu, "Aku gak nyangka mas, ternyata mas Arman kakaknya Anggi."


“Tungu dulu, tunggu deh.” Anggi mengintrupsi “Mbak dan bang Arman, saling kenal."


Dua orang tersebut mengangguk dan tersenyum. “Astaga naga, bener kata Guru bahasa indonesia Anggi ternyata dunia bener sebesar daun kelor."


Arman dan Ayu terkekeh mendengar kalimat Anggi.


*********