Hate You, Love You

Hate You, Love You
Mabuk Kepayang



"kam- kamarin?" Amara bertanya dengan kedua matanya yang membola sempurna. Ia sungguh terkejut dengan ucapan Gio.


"Gi- Gio, aku bercanda !" rengek Amara sembari berusaha melepaskan cekalan tangan Gio di lengannya.


"Gak ada kata 'bercanda' jika menyangkut tentang hal itu," sahut Gio. Ia terus membawa Amara menuju kamar mereka.


"Ta- tapi kamu harus bekerja, Gio. Kamu sudah bolos cukup lama," ucap Amara. Saat ini Gio sudah berhasil membawanya ke dalam kamar. Bahkan suaminya pitu sudah memutar kunci pintu.


"Sepertinya tak apa jika aku tambah satu hari lagi," sahut Gio sembari membuka jas dan melepas dasi yang digunakannya. Bahkan dengan lincah jarinya membuka kancing kemejanya satu persatu. Sedangkan Amara hanya bisa menelan ludah saat melihat itu semua.


Kini Gio sudah bertelanjang dada. Guratan otot-ototnya terlihat jelas dan liat, membuat Amara kembali menelan ludah. Gio menggiring Amara menuju ranjang mereka.


Amara tak bisa melawan, pesona Gio terlalu luar biasa dan Amara tergila-gila padanya. "Bolehkah aku menengoknya secara langsung ?" tanya Gio seraya mengelus perut besar Amara.


"Tentu Papa Gio, kami akan dengan senang hati menerimamu." Jawaban Amara, membuat bibir Gio melengkungkan senyumnya. Ia tundukkan kepala dan meraih bibir Amara dengan bibirnya.


Amara balas ciuman Gio dengan sama inginnya. Bahkan Amara membantu tangan Gio untuk melepaskan kain yang masih menutupi tubuhnya. Amara menyerahkan dirinya pada Gio dengan suka cita. Tak hanya tubuhnya saja tapi seluruh hati dan cintanya.


"Aku mencintaimu, Gio. Sangat cinta kamu," lirih Amara tepat di telinga Gio.


Gair*h Gio semakin meninggi hanya karena kata-kata cinta yang Amara bisikkan padanya. "Aku semakin gila karenamu, Amara," ucap Gio dengan suaranya yang sudah terdengar serak. Mata hitamnya meredup sayu, menatap Amara penuh puja. Tak lama, suara-suara khas percintaan terdengar memenuhi kamar itu.


***


Amara sedang sibuk di dapur saat Gio bangun. Setelah kegiatan panas yang luar biasa di pagi hari tadi, Gio pun tidur. Sedangkan Amara hanya istirahat sebentar. Ia ingin mendekatkan dirinya pada Evan.


Seperti saat ini Amara dan Evan tengah sibuk membuat puding roti cokelat. Amara biarkan Evan bermain-main dengan bahan makanannya. Bocah lelaki itu tertawa-tawa senang dan Amara pun sama.


"Kalian bersenang-senang tanpa mengajak aku," ucap Gio. "Mama punya Papa," tambah Gio sembari mencium gemas pipi Amara. Ada nada cemburu dalam ucapannya.


"Ya ampun Gio. Kamu tak mungkin cemburu kan?" tanya Amara.


"Mmhhh sedikit... aku ingin kamu pun mengajak aku."


"Bagaimana aku mengajakmu ? Kamu tertidur karena kelelahan," ucap Amara.


"Mmhhh emangnya aku kelelahan karena apa?" goda Gio membuat kedua pipi Amara menjadi bersemu merah.


"Aku bertanya padamu, Sayang. Apa yang telah membuatku lelah?" goda Gio lagi.


"Aku tak ingin menjawab pertanyaanmu, Gio," sahut Amara sembari mencubit gemas pinggang suaminya itu. Dan Gio berikan sebuah kecupan gemas lagi di pipi Amara.


"Kita belum menemui orang tuamu, Amara. Sebaiknya kita segera datang ke sana."


"A-aku takut. Bagaimana reaksi mereka akan kehamilan aku?"


"Seperti halnya orangtuaku, aku yakin mereka juga akan bahagia. Mereka pasti senang Evan punya adik," jawbab Gio.


"Mereka pasti bertanya ayah-"


"Aku akan katakan pada orangtuamu bahwa akulah ayah dari bayi yang dikandungmu. Aku akan mengatakannya sebelum mereka bertanya. Aku akan jelaskan semua," potong Gio.


"Aku juga akan katakan pada mereka bahwa bayi yang dikandungmu dalam keadaan sehat dan kuat. Karena tadi pagi aku baru saja menjenguknya."


"Gio !" Pekik Amara sembari memelototkan matanya, dan Gio terbahak-bahak melihatnya.


Evan pun ikut tertawa menyaksikan kedua orangtuanya saling bercanda. Amara sungguh merasa bahagia karenanya.


***


Amara terus mendekatkan diri pada Evan. Walaupun Evan terkadang masih menolaknya tapi Amara tetap bersabar. Sebisa mungkin Amara yang mengurusi semua keperluan Evan.


Dan hari ini Amara merasa bahagia dengan hebatnya. Kedua orangtuanya menerima kepulangan Amara dengan senang hati. Awalnya mereka terkejut akan kehamilan Amara dan merasa kecewa karena Amara merahasiakannya.


Seperti janjinya, Gio yang menjelaskan semua pada orangtua Amara. Bagaimana cinta datang pada keduanya di waktu yang kurang tepat. Tapi nyatanya cinta yang Amara dan Gio miliki sangat besar. Hingga keduanya masih bertahan dengan cinta mereka padahal terpisahkan oleh jarak dan waktu.


"Kamu bahagia?" tanya Gio pada Amara. Saat ini keduanya tengah mengobrol di dalam kamar Amara yang berada di rumah orangtuanya Amara. Rencananya Amara, Gio dan Evan akan menginap di sana. Bahkan Evan sudah terlelap di tengah-tengah ranjang.


"Sangat," jawab Amara tanpa ragu.


"Syukurlah... karena itulah yang paling utama bagiku,' sahut Gio dengan tatapan matanya yang lembut dan penuh cinta.


Dada Amara menghangat karena dipenuhi oleh banyak cinta dari Gio. Seandainya waktu harus berhenti saat itu juga maka Amara akan rela. Tak ada yang Amara inginkan selain cinta Gio.


"Dan kamulah yang membuat aku bahagia," ucap Amara. Ia balas tatapan mata Gio sama lembutnya.


"Tapi ada sesuatu yang masih mengganjal," lanjut Amara. Matanya meredup sayu saat mengatakan itu.


"Kenapa Sayang ? Katakan apa yang menjadi beban pikiranmu?" tanya Gio cemas.


"Mmhh... bagaimanapun kamu dan Dea hampir menikah, dan dia adalah sepupuku. A- aku ingin menyelesaikan semuanya," jawab Amara.


"Tapi percayalah... aku tak pernah mencintai Dea. Aku hanya mencintaimu seorang, Amara. Perlu kamu tahu, aku merasa sangat tersiksa saat bersamanya. Karena bayangan wajahmu lah yang aku lihat jika sedang bersama Dea," jelas Gio tanpa diminta.


"Ya Gio, aku percaya... tapi aku tetap harus bertemu dengan Dea dan berbicara."


"Jika itu membuatmu merasa lebih baik, maka aku akan mendukungmu. Kapan kamu akan bicara dengannya ?" tanya Gio.


"Setelah masalah kedekatan aku dengan Evan selesai. Aku ingin menyelesaikan semuanya satu persatu sampai tuntas."


Gio mengangguk menyetujui. "Aku akan selalu berada di sampingmu, Ara. Katakan padaku jika kamu membutuhkan sesuatu," ucap Gio.


"Ya Gio... kamu lah orang pertama yang akan aku datangi jika aku membutuhkan sesuatu," sahut Amara.


Hening untuk beberapa saat, keduanya saling bersitatap dengan penuh rasa cinta. "Dan aku akan selalu membutuhkanmu, Gio," ucap Amara, mengutarakan perasaannya. Ia belai lembut pipi Gio dengan jemarinya.


Mendengar hal itu Gio pun melengkungkan senyuman. Perasaannya melambung tinggi di awan. "Aku suka dengan caramu mencintai aku," sahut Gio.


Dulu... Amara sangat judes dan ketus. Hingga Gio kesusahan mendekatinya. Tapi kini, sikap Amara sangat berbeda. Begitu lembut dan penuh cinta. Bahkan ia tak malu-malu menyampaikan perasaannya. Membuat Gio mabuk kepayang karena sikap manisnya.