Hate You, Love You

Hate You, Love You
Bagian Yang Tak Bisa Kumiliki



"Tapi... Bisakah kamu lakukan semua di belakangku saja ? Agar aku tak usah melihat dan mendengarnya ?" Pertanyaan Gio membuat Amara tersentak. Ia sungguh tak menyangka Gio akan berkata seperti itu.


"Ke- kenapa aku harus melakukan itu ?" Tanya Amara tanpa memutar tubuhnya, ia tak sanggup untuk melihat pada Gio.


"Karena..," ucap Gio sedikit ragu. Lalu hening untuk beberapa saat.


"Karena hatiku terasa sakit saat kamu lakukan itu semua," jawab Gio pada akhirnya.


"Sakit ?" Tanya Amara tak paham.


"Hu'um... Hatiku terasa sesak juga ngilu saat kamu berhubungan dengan tunanganmu,"


"Apa maksudmu dengan sakit Gio ?" Tanya Amara sambil tertawa, padahal ia merasakan tak karuan dalam hatinya.


"Aku tak rela, Amara. Hatiku inginnya kamu denganku saja," jawab Gio terdengar lirih dan pilu.


"Apa kamu sudah gila, Gio ? Apa kamu pikir pernikahan ini adalah sebenarnya ? Kamu tahu kan jika aku akan pergi begitu bayimu ini lahir,"


"Apa tak ada sedikit saja celah untuk aku masuk ke hatimu, Amara ?"


Hening...


Amara menarik nafas dalam, sambil mengeluarkan air mata di matanya yang terpejam. "Katakan padaku, Gio. Apakah kamu akan membiarkan seseorang yang telah menghancurkan hidupmu untuk masuk ke dalam hati ?" Amara balik bertanya.


Gio terdiam, jawaban Amara cukup membuatnya menjadi bungkam. Ia pun tersenyum kecut saat menyadari tak ada sedikit pun celah baginya untuk masuk ke dalam hati istrinya. "Se- benci itukah kamu padaku, Amara ?"


"Apakah harus ku jawab lagi ?" Lagi-lagi Amara balik bertanya.


"Tak usah...," Jawab Gio. "Aku sudah mengerti. Sebaiknya kamu lupakan apa yang aku katakan tadi," jawab Gio yang berusaha untuk tetap tenang dengan suaranya yang bergetar.


"Baguslah," sahut Amara. Lalu ia berjalan meninggalkan Gio seorang diri tanpa melihatnya sekali saja. Karena memang Amara tak mampu untuk melakukannya.


***


"Hiks..hiks..hiks... Kenapa kamu membuat semuanya menjadi begitu sulit untukku, Gio ?" Lirih Amara di balik pintu kamarnya. "Kenapa kamu tak jahat saja sekalian agar aku bisa benar-benar membencimu !! Bahkan aku tak berani untuk melihat wajahmu saat mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu !" Lanjut Amara frustasi.


Amara pun merasakan sakit dalam hatinya karena apa yang keluar dari mulutnya tadi, sangat bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Aku tak bisa denganmu Gio !! ada seseorang yang sudah aku bohongi terlalu lama. Dan aku akan semakin merasa bersalah padanya jika aku memilih dirimu," Amara luruhkan tubuhnya di atas lantai.


Sedangkan pada Gio, Amara pun mulai merasakan nyaman jika berada di dekatnya. Segala sikap lembut Gio selalu membuat Amara ingin berada di dekatnya. Bahkan Amara merasa tak senang saat Dea mendekati Gio. Ada rasa cemburu yang lancang datang.


"Salahmu sendiri, Ara ! Seharusnya kamu tetap pada rencanamu untuk selalu menjaga jarak dan membenci Gio !" Amara menyalahkan dirinya sendiri yang telah membiarkan dirinya menjadi dekat dengan suaminya itu.


"Seharusnya aku membencimu, Gio ! Seharusnya aku benci kamu...,"


***


Gio berdiri seorang diri di kamarnya yang ia biarkan gelap. Matanya menatap kosong ke luar jendela yang tak tertutup tirai. Saat ini perasaannya begitu hancur karena perkataan Amara tadi.


Gio patah hati.


"Kamu akan menjadi bagian paling menyedihkan dari hidupku,. Amara. Kamu adalah bagian dari diriku yang tidak akan pernah menjadi milikku" ucap Gio lirih. Kepalanya dipenuhi dengan kenangan tentang Amara yang bersikap manis akhir-akhir ini.


"Kamu juga akan menjadi bagian hidup aku yang paling membahagiakan sekaligus yang paling menyedihkan. Dan aku akan menjadi seorang lelaki yang paling kesepian tanpa cintamu," lanjut Gio masih dengan suaranya yang lirih. Berpikir jika dirinya tak akan jatuh cinta lagi pada wanita manapun selain Amara.


Gio tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri yang ternyata begitu mencintai Amara dengan dalam. Tadinya Gio hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dibuatnya. Tapi nyatanya rasa bersalah Gio berubah menjadi sebuah rasa cinta pada Amara.


"Seandainya saja kamu tahu, Amara... Aku sudah memikirkanmu sebelum kita bertemu. Dan saat aku pertama kali melihatmu, aku langsung merasakan getaran dalam hatiku. Seiring berjalannya waktu, aku jatuh cinta padamu," lirih Gio seraya memikirkan rentetan kejadian antara dirinya dengan Amara.


"Aahhhhhh, kenapa jadi begini?" Ucap Gio penuh sesal. Seharusnya ia tahu diri jika Amara tak akan pernah mencintainya.


"Kamu adalah bagian hidupku yang tak akan pernah bisa aku miliki, Amara. Aarrrgghh....," Gio mengerang, menahan rasa sakitnya yang kian menyiksa. Ia tengadahkan kepalan agar air bening tak turun dari kedua matanya. Sungguh ia merasakan ngilu dalam hatinya.


Malam kian larut, Gio pun baringkan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam tapi kesadarannya tetap berada di sana. Bahkan ia bisa mendengarkan suara detik jam yang terus berganti.


Mati-matian Gio berusaha untuk mengenyahkan bayangan Amara dari kepalanya. Tapi wajah cantik dan tatapan mata sayu nya selalu saja menghantui. Bahkan Gio tak bisa merasakan benci karena penolakan yang Amara berikan padanya.


'tok tok' mata Gio terbuka saat ia mendengar suara ketukan di pintu.


"Gio... Gio perutku sakit sekali...," Terdengar ucapan lirih dari balik pintu membuat Gio dengan spontan bangkit.


"Amara !!!" Ucap Gio panik dan segera berlari menuju pintu untuk membukanya.


To be continued


Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa