
"Gadis yang tadi bicara denganmu itu cantik," kata Amara sembari tolehkan kepalanya ke arah belakang, melihat pada gadis yang tadi bicara dengan Gio.
"So ?" Gio balik bertanya dengan nada tak acuh.
"Apa kamu tak menyukai ? Kenapa bilang sudah menikah?" Amara malah balik bertanya.
"Aku ini memang sudah menikah, tak mungkin lagi mengaku sebagai bujangan," jawab Gio dan itu membuat Amara terdiam. Dirinya merasa tertampar dengan kenyataan bahwa ia menyembunyikan pernikahannya dari Danis dan juga semua orang.
Gio yang peka akan reaksi diam Amara meralat ucapannya. "Ah maaf... Aku tak bermaksud seperti itu. Status kita sangat mudah jauh berbeda. Bila aku jadi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan menyembunyikannya karena ada hati yang harus kita jaga," jelas Gio, tapi Amara masih diam tak berkata-kata.
"Eh, makan es krim yuk ! Tuh di sana !" Cepat-cepat Gio alihkan perhatian Amara ke sesuatu yang sangat disukainya. Beruntung bagi Gio, tak jauh darinya ada sebuah kedai es krim gelato.
Amara yang sedari tadi menjadi diam, kini tolehkan kepalanya ke arah telunjuk Gio dan ia tersenyum lebar saat melihat kedai es krim itu. Hormon kehamilannya membuat Amara hampir saja meneteskan air liurnya karena melihat banyak gambar es krim di sana.
"Ayo ! Aku ingin tiga rasa sekaligus !" Sahut Amara sembari menelan air liurnya sendiri. Ia sudah lupa tentang pembicaraannya tadi dengan Gio.
"4 atau 5 pun boleh ! Aku yang traktir !" Gio pun tak kalah semangatnya. Keduanya pun berjalan beringin menuju tempat yang Gio tunjuk tadi.
"Huuuffft, terimakasih Tuhan...." Gio bernafas dengan lega saat tiba di tempat es krim itu. Bersyukur dalam hatinya karena Amara tak marah karena ucapannya tadi. Saat ini Gio berdiri mengantri sedangkan Amara duduk manis di salah satu kursi sambil membaca buku novel yang tadi dibelinya.
Setelah menunggu beberapa lama datanglah Gio dengan satu mangkuk besar berisikan es krim dengan 5 rasa yang berbeda. Membuat mata Amara membola dan bibirnya melengkungkan senyuman.
"Coklat, matcha, cookies and cream, mint, vanila," ucap Gio menerangkan semua rasa yang ada di dalam mangkuk itu. "Topingnya coklat dan kacang," lanjut Gio lagi.
Amara tersenyum dan mengerak-gerakkan kepalanya secara tak sadar karena saking senangnya. Dan Gio menatap gemas pada istrinya itu. "Heran deh Gio, kamu bisa hapal semua rasa yang aku suka," ucap Amara sembari menyendok kan satu suapan besar es krim ke dalam mulutnya.
Gio tersenyum saat mendengar itu. "Bagaimana aku tak hapal, Amara. Seandainya kamu bisa menyelami hati dan pikiranku, maka hanya akan ada namamu saja di sana," batin Gio dalam hatinya. Ia terus-menerus mencuri kesempatan agar bisa menatapi wajah cantik Amara sepuasnya. Dan kali ini wajah cantik itu tak menunjukkan rasa marahnya.
"Kamu gak beli, Gio ?" Tanya Amara dengan mulut penuhnya. Membuat Gio tertawa dan mengambil selembar tisu untuk melap bibir Amara yang belepotan es krim.
"Maaf," ucap Amara pelan. Ia merasa tak enak karena Gio selalu saja melakukan itu, melap bibirnya dalam keadaan apapun. Kadang Amara berpikir apa Gio tak merasa jijik ? Apalagi jika saat Amara sedang muntah-muntah di pagi hari.
"Aku maafin kalau aku boleh nyobain es krimnya," sahut Gio sambil mati-matian menenangkan diri agar tak lepas kendali saat bertingkah ataupun berucap kata. Dengan Amara, Gio harus serba hati-hati.
"Oke," ucap Amara sembari mendorong mangkuk es krimnya pada Gio. Membiarkan lelaki itu mencoba es krim miliknya.
Gio tersenyum walaupun sebenarnya ia merasa sedikit kecewa karena sedari tadi Gio membayangkan Amara akan menyuapinya. Tapi sepertinya khayalan Gio terlalu tinggi.
"Jangan terlalu banyak !" Pekik Amara saat Gio menyendokkan es krim ke dalam mulutnya, membuat lelaki itu menghentikan pergerakan tangannya itu.
"Eh ! Boleh kok ! Makan yang banyak, Gio !" Lanjut Amara salah tingkah.
Ternyata Amara tak sadar saat mengatakan hal itu. Kalimat larangan yang pertama diucapkannya secara spontan, keluar dari bibirnya begitu saja. Hingga kini ia merasa malu. Gio pasti berpikir jika dirinya ini adalah seorang gadis yang sangat pelit.
'Deg !' jantung Amara terasa diremas. Sejak kapan ia peduli tentang pikiran Gio tentangnya ?
"Bener nih boleh ?" Tanya Gio meyakinkan. Dan Amara pun menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Sambil tersenyum jahil Gio menyendok besar, dan memasukkan ke dalam mulut. Selama itu terjadi Amara terus memperhatikannya hingga membuat Gio ingin tertawa. Istrinya ini terlalu menggemaskan.
Namun pada kenyataannya, Gio hanya menggigit sedikit ujungnya saja. Lalu ia mengarahkan sendok itu pada mulut Amara, ia ingin menyuapi istrinya itu. Bak gayung bersambut, Amara membuka mulutnya dan menerima suapan itu dengan senang hati. Ia tersenyum lebar karena senang, "udah ya," ucap Amara sembari menarik kembali mangkuk es krimnya dari hadapan Gio.
Gio terdiam membisu di tempat duduknya. Ia menatap dalam pada Amara yang saat ini kembali sibuk dengan es krimnya. "Sadarkah sayang ? Ini kedua kalinya kita berciuman tak langsung," batin Gio dalam hati. Lalu, kini matanya mengarah pada bibir mungil Amara yang berwarna merah muda. Sumpah demi apapun, Gio sangat ingin menciumnya dengan langsung. Tak usah pakai perantara apapun lagi dan ia akan sangat bersabar menanti momen itu terjadi.
To be continued
Thanks for reading
Jangan lupa tinggalkan jejak dan vote yaaa