Hate You, Love You

Hate You, Love You
Akhirnya Mengetahui



Di kota Boston, seorang lelaki dengan antusiasnya berjalan menuju sebuah lorong yang cukup sepi. Setelah berhari-hari merasa diabaikan oleh gadis pujaannya, saat ini si gadis mau menerima panggilannya.


Lelaki itu, Danis. Ia berpamitan pada teman-temannya untuk melakukan panggilan itu. Dari wajahnya yang berseri-seri, semua teman Danis tahu dengan siapa dirinya akan berbicara. Bahkan Danis mencari tempat yang sepi agar bisa berbicara dengan leluasa.


Namun...


"Loh Mama ?" Binar bahagia dan senyuman lebar itu berangsur menghilang dari wajah tampan Danis. Saat yang terdengar bukanlah suara gadis yang dicintainya tapi suara seorang wanita yang merupakan ibu dari tunangannya itu.


"A- apa ?" Jakun Danis bergerak naik turun pertanda lelaki itu tengah menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Bahkan ia harus membenarkan letak kacamatanya, karena rasa gugup bercampur takut yang tengah dirasakannya saat ini. Dibalik telepon, ibu Amara mengatakan jika ada sesuatu yang harus Danis ketahui.


'Dug'


Tak mampu untuk berbicara lagi, benda pipih itu terlepas begitu saja dari genggaman tangan Danis, dan menghantam permukaan lantai dengan kerasnya. Hingga memental beberapa kali.


Sedangkan Danis, ia merasa tubuhnya lemas dan bagai tak bertulang. Hingga Danis harus sandarkan punggungnya ke dinding agar ia bertahan dan tak meluruh ke atas lantai.


Bibirnya terbuka, nafasnya memburu dan air bening mulai menggenang di kedua pelupuk matanya. Danis sangat syok dengan berita yang baru saja di dengarnya.


Ingin Danis tak percaya dengan apa yang ibu Amara katakan padanya, tapi ia pun sadar jika tak mungkin calon mertuanya itu berbohong. "A- ma- ra ba- ru sa- ja me- la- hir kan se- orang ba- yi laki-laki," ucap Danis pelan dan terbata-bata. Ia berbicara sendirian di lorong sebuah pusat perbelanjaan di mana Danis dan teman-temannya tengah menikmati makan malam bersama.


"Ya Tuhan... Amara ku baru saja melahirkan seorang anak !" Tak tahan lagi, Danis pun luruhkan tubuhnya di atas lantai. Ia tenggelam kan kepalanya di antara dua lututnya, dan menangis hebat di sana.


Dadanya terasa sesak dan hatinya begitu perih bagaikan teriris sembilu. Pundak Danis bergerak naik turun, pertanda ia tengah menumpahkan air matanya.


"A- ma- ra..," erang Danis di antara isakkan tangisnya.


"Ya Tuhan... Amara ku... Kenapa Kau lakukan itu pada Amara ku..," Danis masih tak bisa menerima kenyataan yang baru saja ia dengar. Ia rasakan langit runtuh seketika dan menghancurkan dunianya. Lelaki itu menjambak rambutnya dengan frustasi berulang kali.


"Katakan ini semua tidak benar ! Ya Tuhan... Katakan semua ini tidak benar !!! Amara ku... Amara ku...," Lirihnya pilu.


Ada seorang gadis yang sedari tadi melihat ke arah Danis pergi. Beberapa kali matanya selalu mencuri pandang pada tempat tersebut, berharap melihat kembalinya Danis dari tempat itu.


Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Karina malah melihat Danis pergi ke arah yang berlawanan. Lelaki itu tak kembali ke meja mereka, dan Karina bisa melihat wajah Danis yang merah dari kejauhan. Ia yakin lelaki itu tak baik-baik saja.


"Danis !!" Secara refleks, Karina berdiri dan memanggil nama Danis dengan kerasnya hingga banyak pasang mata melihat ke arahnya.


"Kenapa, Rin ? Danis ke mana ?" Tanya salah satu temannya yang ikut makan malam bersama.


"Aku gak tahu, aku cek dulu ya !" Jawab Karina sembari mengerak-gerakkan kursinya ke belakang hingga ia bisa bergerak pergi. Dengan setengah berlari, Karina berusaha untuk menyusul langkah Danis.


Karina berhenti sesaat, karena melihat benda pipih berwarna hitam yang ia yakini milik Danis, tergeletak begitu saja di atas lantai. Lalu, Karina pun menghampiri benda pipih itu dan meraihnya.


"Ini kan punya Danis. Dia kenapa sih ?" Tanya Karina pelan


Setelah itu, ia kembali berjalan tergesa, mengikuti langkah Danis yang kini sudah cukup jauh jaraknya. Danis sudah berhasil keluar dari gedung pusat perbelanjaan itu.


Danis berdiri di trotoar, ia tak menyebrang padahal tanda lalu lintas bagi pejalan kaki untuk menyebrang tengah menyala. Tapi, lelaki itu malah berdiri memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.


Karina merasa ada sesuatu yang janggal, ia mempunyai firasat jika Danis akan mencelakai dirinya sendiri. Ia pun segera berlari menuju lelaki itu.


Dan benar saja dugaan Karina, ia melihat Danis akan melintasi jalan raya padahal mobil-mobil yang tadinya berhenti kini mulai melaju jalan.


"Danis !!! Apa yang kamu lakukan !!!!" Sekuat tenaga Karina menarik kain jas Danis hingga lelaki itu terjungkal ke belakang dan tak berhasil menabrak kan dirinya sendiri ke mobil yang melintas.


"You ! F*cking *sshole !!!" Maki pengemudi mobil pada Danis yang kini jatuh menimpa Karina di pinggir jalan.


"Lepaskan aku, Karina ! Biarkan aku mati !!" Ucapnya nelangsa.