Hate You, Love You

Hate You, Love You
Selanjutnya



Waktu bagai berlari, berlalu cepat sekali. Tapi tidak bagi Amara yang masih belum bisa menerima keberadaan Gio sebagai suaminya. Amara masih berusaha memperjuangkan mimpi-mimpinya. Walaupun Gio bersikap baik dan penuh perhatian, tapi semuanya belum bisa meruntuhkan benteng pertahanan Amara yang kokoh dan tinggi.


Setelah 5 bulan bersama, Gio tak sekalipun meminta haknya sebagai suami. Yang lelaki itu lakukan adalah memberikan Amara perhatian dan ikut serta dalam menjaga kehamilannya. Setiap paginya Gio selalu menemani Amara saat istrinya itu sedang merasakan mual. Meksipun Amara selalu melarangnya tapi Gio tetap berada di sampingnya. Ia buang jauh-jauh segala rasa jijiknya.


Amara masih mengikuti kegiatan kuliah. Ia tak mau kehamilannya menjadi penghalang bagi mimpinya yang sudah lama Amara bangun bersama tunangannya Danis.


Dan hubungannya dengan Danis masih berjalan hingga kini. Lelaki itu masih belum tahu tentang pernikahan dan juga kehamilan Amara yang sudah memasuki bulan ke 7 itu.


Tubuh Amara yang kurus membuat kehamilannya tak terlihat. Apalagi Amara selalu mengenakan sweater ukuran besar yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Amara juga mempunyai jadwal tersendiri untuk berkomunikasi dengan Danis. Membuat lelaki itu tak menaruh curiga padanya.


Mengenai getaran yang Gio rasakan pada istrinya, lelaki itu simpan sendiri dalam hatinya. Gio selalu menghindar dan berusaha untuk pura-pura buta juga tuli saat Amara berhubungan dengan Danis.


Ia akan keluar dari kamar dan menghilang jika Amara tengah berkomunikasi dengan tunangannya itu. Dan sialnya bagi Gio, perasaan itu tak mau pergi walaupun Amara secara terang-terangan tak menerima kehadirannya.


Keduanya masih tidur di atas yang ranjang yang sama, tapi beberapa hari terakhir ini Amara lebih suka tidur di kursi belajar dengan kepala menelungkup di atas meja. Itu semua karena suatu pagi Amara terbangun dengan tangan Gio yang melingkar di atas perutnya. Ia sungguh-sungguh tak ingin bersentuhan dengan suaminya itu, membuat Amara panik dan memilih untuk tidur dengan cara seperti itu.


"Kali ini biar aku yang tidur di atas sofa," ucap Gio sembari membuka kancing kemejanya. Ia baru saja pulang dari kantor.


"Kenapa kamu suka sekali jika aku dimarahi oleh Mama ?" Tanya Amara sengit. Tadi pagi Amara ditegur oleh ibunya, karena ibunya itu mendapati Gio tertidur di atas sofa yang ada di ruang TV mereka. Padahal Gio sudah beralasan jika dirinya tertidur dengan tak sengaja saat menonton TV tapi ini bukanlah yang pertama kali baginya hingga membuat ibu Amara curiga.


Di hadapan keluarga Amara, Gio selalu bersandiwara seolah pernikahannya baik-baik saja. Tak ada yang tahu jika keduanya berada di kamar mereka, maka akan menjadi dua orang yang selalu berselisih paham.


"Aku tak mau kamu tidur di kursi lagi, tak baik untuk bayi kita" jawab Gio yang kini bertelanjang dada. Tubuhnya yang kekar tak berlebihan itu terlihat liat. Dan selama itu terjadi Amara memalingkan muka. Ia tak mau melihat pada suaminya itu.


"Bayimu," ralat Amara. Dan Gio hanya bisa menghela nafasnya saat mendengar itu.


"Walaupun perutmu tak begitu membesar tapi sepertinya kita tak mungkin untuk tidur satu ranjang karena bagaimanapun juga kamu perlu ruang yang cukup luas untuk tidur,"


Amara yang tengah duduk di kursi belajarnya sama sekali tak melihat pada suaminya itu. Ia menyibukkan diri dengan tugas kuliahnya.


"Bagaimana jika kita pindah saja ? Rumah orangtuaku lebih dekat jaraknya dengan kampusmu. Dengan begitu aku lebih mudah untuk mengantar jemputmu,"


"Aku tak pernah memintamu untuk melakukan itu," potong Amara.


"Melakukan apa ?" Gio berkerut alis tak paham. Saat ini ia telah berganti baju dengan kaos polos berwarna hitam.


"Mengantar jemputku ! Sudah aku katakan berulangkali, kamu tak usah lakukan itu. Aku tak mau merepotkan mu," jawab Amara.


"Sudah ku bilang, itu tak merepotkan ku sama sekali ! Aku hanya ingin menjaga kalian berdua," sahut Gio menimpali.


"Aku tak akan pernah mencelakai anakmu lagi, Gio. Jadi, kamu tak usah berlebihan dalam menjaganya," ucap Amara sambil terus fokus pada buku kuliahnya.


Gio dudukan tubuhnya di tepian ranjang seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Apapun yang ia lakukan pada Amara, perhatian apapun yang Gio berikan pada istrinya itu, membuat Amara berpikir jika yang Gio lakukan hanya untuk bayi yang tengah dikandungnya. Padahal Gio juga melakukannya karena Amara, karena Gio mempunyai perasaan yang 'lebih' pada istrinya itu.


"Entahlah...," Sahut Amara. Ia angkat wajahnya dan menatap kosong tembok kamar di hadapannya. Apa yang harus Amara katakan pada Danis jika kekasihnya itu melihat Amara tinggal di sebuah rumah mewah.


"Di dalam kamarku ada sebuah sofa besar dan aku bisa tidur di atasnya. Jadi tak akan ketahuan jika kita tak tidur bersama,"


"Tapi apa yang harus ku katakan pada Danis jika ia melihat aku tinggal di sebuah rumah mewah ?"


Gio menghela nafas saat mendengar nama itu diucapkan oleh istrinya. Ngilu Gio rasakan tepat di ulu hati. "Kamu bisa beralasan menginap di rumah teman atau apa. Kalian tidak melakukan panggilan video setiap malam kan ?" jawab Gio yang hapal tentang jadwal komunikasi istrinya itu.


"Hu'um," Amara mengangguk membenarkan tanpa melihat ke arah suaminya itu.


"Tak usah langsung pindah, bagaimana jika coba untuk menginap saja. Ibuku pasti senang karena kita tak pernah datang ke sana ?" Bujuk Gio. Dan yang ia katakan benar adanya. Semenjak menikah, tak sekalipun Amara datang ke rumah mertuanya. Tapi itu tak membuat kedua orangtua Gio protes. Ibunya dengan berbesar hati menerima semua, bahkan ia sering datang untuk melihat keadaan Amara yang sedang mengandung cucunya.


"Entahlah.. aku takut...," Jawab Amara ragu.


"Aku tak akan menyakitimu, Amara. Setelah 5 bulan bersama apakah aku pernah melakukan itu padamu ?" Tanya Gio.


"Tak mungkin aku menyakitimu, Amara. Tak bisakah kamu lihat jika aku sayang padamu ?" Tanya Gio dalam hatinya dan ia menatap nanar tubuh Amara yang duduk membelakanginya.


Amara menggeleng pelan, karena yang Gio katakan benar adanya. Lelaki itu tak pernah berlaku kasar atau memaksa meminta haknya. Hanya saja hati Amara telah dipenuhi oleh Danis seorang hingga tak ada celah sedikitpun untuk Gio masuk ke dalam hatinya.


"Jadi... Mau ya kita coba datang ke rumah orangtuaku ?" Tanya Gio meyakinkan.


Amara tak menjawab, ia terdiam di tempat duduknya.


"Amara ?"


"Iya-iya !! kamu banyak bertanya membuat ku pusing !!" Jawabnya ketus. Tak lama ponsel Amara berbunyi. Gio melihat pada jam, dan waktu menunjukkan pukul 7 malam tepat. Waktunya bagi Amara bertukar kabar dengan tunangannya.


Gio pun bangkit dan memilih pergi dari kamar itu. Padahal Gio sudah tahu jika Amara hampir setiap malam selalu berkomunikasi dengan tunangannya. Tapi masih saja Gio merasa kecewa juga lara.


"Salah lu sendiri yang menaruh hati padanya, Gio !udah jelas-jelas Amara berulang kali bilang bahwa dia benci lo !" Batin Gio dalam hati. Masih saja ia menyalahkan dirinya sendiri atas perasaan cinta yang lancang hadir dalam hatinya.


Sedangkan Amara, ia sungguh merasakan cemas dengan hebatnya. Amara takut jika dirinya harus kembali ke rumah terkutuk itu.


Itulah alasan Amara tak pernah mau berkunjung ke rumah mertuanya. Amara takut kenangan buruk yang ia coba lupakan akan menghantuinya lagi.


to be continued


jangan lupa like dan komen ya