Hate You, Love You

Hate You, Love You
Bersiap Pergi



Amara tundukkan kepalanya saat ia mendapati Gio tengah menatapnya melalui pantulan cermin. Ini bukan kali pertama Amara memergoki Gio melakukan itu.


Gio sering melihatnya saat amara bercermin. Lelaki itu mencuri kesempatan agar dapat melihat wajah istrinya. Karen biasanya Amara selalu menghindari untuk bersititatap dengannya. Sering Amara berbicara dengan memalingkan wajahnya. Padahal Gio sangat suka menatapnya lama-lama.


Gio yang tertangkap basah tengah menatap Amara pun palingkan wajahnya dengan salah tingkah. Pipinya yang putih bersemu merah, ia malu karena ketahuan memperhatikan istrinya itu.


"Ehem," Gio berdehem menetralkan debaran jantungnya yang menjadi cepat dengan tiba-tiba. "kamu udah selesai dandannya ?" Tanya Gio memecah kecanggungan.


Amara pun mengangkat kembali wajahnya dan berpura-pura merapikan rambutnya yang panjang. "Sudah," jawab Amara sembari melihat ke arah cermin untuk terakhir kalinya.


Hari ini adalah hari Sabtu sore, rencananya mereka akan datang berkunjung ke rumah orangtua Gio dan mencoba untuk bermalam di sana.


Baru kali ini Gio melihat Amara mengenakan dress. Biasanya istrinya itu selalu mengenakan sweater hoodie yang berukuran besar untuk menyembunyikan kehamilannya.


Tapi kini, dengan dress yang panjangnya hanya sebatas lutut, perutnya sedikit menonjol. Memperlihatkan kehamilannya.


Mata Gio berbinar saat melihatnya. Ingin sekali ia mengusap lembut perut Amara tapi ia tak punya nyali untuk melakukan itu semua. Bisa berdekatan dengan Amara seperti ini pun sudah sesuatu yang luar biasa.


"Ayo, kita pergi sekarang," ajak Gio.


Amara mengangguk pelan, menyetujui. Ia segera menyambar tas selempang kecil miliknya yang berisikan dompet juga ponselnya. "Kenapa masih berdiri di situ ?" Tanya Amara pada Gio yang masih diam terpaku di bingkai pintu. Pandangan mata Gio tak sekalipun lepas dari Amara.


"Aku menunggumu," jawab Gio canggung.


"Aku bisa jalan sendiri, kamu gak usah menunggu ku seperti ini," sahut Amara ketus, seperti biasanya.


"Baiklah," Gio mengangguk pelan. Lalu ia putar tubuhnya untuk pergi meninggalkan kamar Amara.


Amara tatapi punggung kokoh Gio yang bergerak menjauh. Ia pun menghela nafasnya. Dalam hati, Amara sadar jika dirinya selalu menyakiti Gio. Tapi ia pun tak bisa mencegahnya. Ia lakukan itu secara spontan.


"Iya,Bu," jawab Gio membenarkan.


"Oooh tunggu sebentar, Gio," ucap Ibu Amara sembari pergi ke arah dapur. Dan kembali dengan waktu yang tak lama. Di tangannya, ibu Amara membawa sesuatu yang berbentuk kotak dan menyerahkannya pada Gio.


"Buat Mama kamu, Gio. Tadi Mama sengaja buatkan bolu pisang. Katanya beliau sangat menyukainya,"


Gio menyambut kotak itu dengan senyuman lebar. "Terimakasih Ma, Mama Gio pasti suka," jawab Gio. Sungguh ia merasa senang karena ibu mertuanya itu sangat baik padanya dan juga sofa keluarganya.


Ibu Amara pun tersenyum lega saat mendengarnya. "Ayo segera pergi !nanti keburu macet. Hati-hati ya... Tolong jaga Amara," ucap Ibu Amara tanpa bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


"Mama jangan khawatir, aku akan menjaga Amara dengan baik,"


"Iya, Mama jangan khawatir. Aku ada Gio yang selalu menjagaku," sahut Amara sembari tersenyum manis pada ibunya juga pada Gio.


Ia melakukan sandiwara seperti yang selama ini amara lakukan di hadapan semua orang-orang.


Gio pun anggukkan kepala, menyetujui ucapan istrinya itu. "Ya udah, kita pergi dulu ya, Ma," Gio dan Amara pun berpamitan dengan mencium tangan ayah dan ibunya Amara.


"Hati-hati di jalan, Gio," ucap Amara seraya melepaskan keduanya di bingkai pintu. Sedangkan Amara dan Gio sudah akan memasuki mobil mereka.


"Iya, Pa," sahut Gio dan ia pun masuk ke dalam mobilnya setelah lebih dulu membukakan pintu untuk Amara dan memastikan Amara sudah duduk nyaman di kursi penumpang.


Gio pun meletakkan kotak kue itu di bangku belakang. "Udah pakai sabuk pengaman?" Tanya Gio pada Amara.


"Sudah ! Aku tuh bukan anak kecil yang selalu harus kamu ingatkan, Gio !" Jawab Amara tak seramah tadi saat ada orangtuanya.