Hate You, Love You

Hate You, Love You
Punya Cara



Sudah dua Minggu ini Amara tinggal di rumah. Tak pergi kuliah ataupun mengerjakan kegiatan lainnya. Ia tengah dalam proses penyembuhan jiwa dan raganya. Mencoba berdamai dengan diri sendiri walaupun sangatlah sulit.


Setiap harinya Amara selalu ditemani ibu ataupun adiknya. Kadang Dea sang sepupu juga datang untuk melihat keadaannya. Hanya orang-orang terdekat Amara yang mengetahui keadaan sebenarnya gadis itu.


Bukan tanpa alasan Amara tak dibiarkan sendiri. Setelah kejadian waktu lalu Amara masih berusaha untuk melukai dirinya dengan meminum obat terlambat datang bulan. Membuat gadis itu muntah-muntah hebat dan dilarikan ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya. Tapi bayi itu bertahan dalam kandungannya. Tetap bertahan tak tergoyahkan. Ia tumbuh kuat tanpa hambatan.


Amara melakukan hal nekad tersebut karena masih menolak untuk menikah dengan Gio. Ia tak mau menikah dengan lelaki yang sangat dibencinya itu. Bahkan sejauh ini Amara masih belum memberi tahu Danis tentang kejadian yang menimpanya. Sampai-sampai Amara bersujud di kaki kedua orangtuanya, meminta agar mereka tak mengatakan apa-apa pada Danis tentang dirinya.


Cinta Amara pada Danis terlalu besar dan dalam hingga ia terus-terusan menyangkal keadaan yang sebenarnya. Dan hanya Danis lah yang membuat Amara tetap bersemangat untuk melanjutkan hidup. Membuat orang tua Amara tak bisa memaksa anak gadisnya itu untuk melepaskan Danis.


Sedangkan Gio, ia akan datang dua kali dalam seminggu. Membawakan Amara susu hamil dan makanan yang bergizi. Bahkan ia menitipkan sejumlah uang yang jumlahnya cukup besar untuk keperluan Amara. Ia tetap lakukan itu walaupun Amara tak pernah mau bertemu dengannya.


Susu hamil dan buah-buahan serta makanan bergizi lainnya yang Gio kirimkan hampir tak pernah Amara sentuh. Sungguh ia merasa benci segala sesuatu tentang Gio. Kuliahnya terhambat dan cintanya bersama Danis terkatung-katung di tengah badai yang tak kunjung reda karena lelaki itu.


Tapi waktu terus berlalu dengan cepatnya dan usia kehamilan Amara pun terus bertambah. Walaupun perut Amara tak terlihat membesar karena tubuhnya yang kurus. Tetapi nyatanya janin yang dikandungnya itu tumbuh dengan sehat dan kuat di dalam sana.


"Ara... Sampai kapan mau seperti ini ? Mama tahu jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi ini sudah takdirmu," ucap sang ibu pelan seraya menggenggam tangan anak gadisnya itu.


Amara yang saat ini tengah duduk di atas sofa sembari membaca diktat kuliahnya menundukkan kepala. Melihat pada perutnya yang datar namun ia tahu jika ada kehidupan di dalamnya.


"Seperti yang kamu tahu, kemarin siang, Gio dan ibunya kembali datang dan menanyakan keadaanmu,"


Tubuh Amara menegang dan ia menarik nafas dalam saat mendengarnya.


"Akhir pekan ini mereka akan datang untuk melamar mu secara resmi. Mama dan Papa pikir ini adalah jalan yang terbaik bagi kalian berdua. Gio memang bersalah tapi Mama rasa dia seorang pemuda yang baik. Gio mau bertanggungjawab atas kesalahan yang dibuatnya. Hal yang sangat sulit ditemukan pada lelaki zaman sekarang,"


Amara tundukkan kepala dan apa yang ibunya ucapkan itu adalah benar adanya. Gio tak sekalipun lari dan menyerah walaupun Amara memperlakukannya dengan tak baik. Lelaki itu terus datang dan memperlihatkan itikad baiknya.


"Tapi Ara tak mencintai Gio, Ma. Ara sangat membencinya. Ara benci Gio yang telah menghancurkan masa depanku," jawab Amara lirih.


"Mama tahu, tapi jika kamu mau melihat Gio dari sisi yang baiknya mungkin pikiranmu akan berubah. Dan seiring berjalannya waktu mungkin kamu akan menyukainya,"


Amara tersenyum kecut mendengarnya. Rasa bencinya terlalu besar hingga sisi positif Gio tak terlihat sama sekali di matanya.


"Sayang...," Ibu Amara membelai lembut rambut panjang anak gadisnya itu.


"Usia kehamilanmu semakin bertambah, kasihanilah dia yang tak berdosa itu. Mama harap kamu mau menurunkan egomu dan mau menerima lamaran Gio. Ini untuk kebaikanmu juga,"


"Entahlah Ma.. Apa Ara tak boleh mengandung tanpa menikah dengannya ?" tanya Amara takut-takut.


" Apa kamu tak kasihan pada bayimu jika tak mempunyai ayah ?"


Amara mengusap pipinya yang basah. Wajah Danis sang tunangan yang sedang tersenyum terbayang di kepalanya.


"Aku akan menerima pinangan Gio tapi Danis tak boleh tahu tentang ini semua,"


"Sampai kapan Ara ? Apa kamu tak kasihan sama Danis ?"


"Sampai aku siap melepasnya, Ma....," Jawab Amara sembari bercucuran air mata.


"Kamu tahu kan jika pernikahanmu dengan Gio bukanlah suatu permainan ? Pernikahan kalian bukan sebuah kontrak kerjasama yang menyatakan kamu akan pergi begitu melahirkan. Tidak seperti itu, Ara ! Kalian akan membina rumah tangga dalam artian yang sebenarnya,"


"Tapi bagaimana jika aku tetap tak bisa jatuh cinta padanya Ma ? Bagaimana jika Ara tak bisa menerima Gio ?" Tanya Amara sambil terisak-isak.


Amara terdiam, berpikir untuk beberapa saat.


"Dan satu lagi... Danis berhak tahu tentang hal yang sebenarnya," lanjut sang ibu mengingatkan.


Hati Amara terasa remuk redam saat mendengar perkataan ibunya itu. Sanggupkah ia bertahan tanpa cinta Danis dalam hidupnya? Ia dan Danis sudah merancang mimpi bersama dan sangat sulit bagi Amara untuk melepaskan mimpi itu.


"Ara...,"


Amara anggukan kepala walaupun sebenarnya ia sangat enggan. "Iya, tapi tidak sekarang, Ara akan memberi tahu Danis jika hati Ara sudah siap," jawab Amara.


"Mengenai lamaran Gio ?" Tanya sang ibu memastikan.


Amara menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Kedua telapak tangannya yang basah akan keringat saling meremas satu sama lain karena rasa gugup yang menyelimuti dirinya.


Amara pun melihat pada perutnya sebelum ia menjawab pertanyaan ibunya itu. "baiklah, Ara akan menerima lamaran Gio," jawab Amara dengan menahan tangisnya.


Pada akhirnya Amara memutuskan sesuatu yang sangat bertentangan dengan keinginannya. Ia akan menerima lamaran dari seorang lelaki yang sangat dibencinya itu.


***


Ini adalah acara lamaran yang paling tidak membahagiakan di dunia. Hampir di sepanjang acara Amara terus tundukkan kepala. Tak sekalipun ia melihat pada Gio yang terlihat tampan dengan balutan jas mahalnya.


Tak seperti Amara, wajah Gio lebih banyak melukiskan senyuman. Lelaki itu merasa senang karena bisa menebus kesalahannya. Walaupun Gio tahu jika Amara selalu menghindari tatapan matanya tapi ia senang karena gadis itu memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua. Dan Gio berjanji untuk belajar mencintai Amara apapun yang terjadi.


"Terimakasih sudah mau menerima lamaranku," ucap Gio saat mereka duduk berdua di teras belakang rumah Amara.


"Acaranya akan dilangsungkan Minggu depan," ucap Gio lagi karena Amara hanya berdiam diri sambil menjaga jarak darinya.


"Ada satu hal yang harus kamu ketahui Gio," ucap Amara sembari tundukkan kepalanya.


"Apa itu ? Apa yang kamu inginkan sebagai mas kawin ? Aku akan memberikan apapun yang kamu mau,"


"Bukan tentang hal itu !" Jawab Amara seraya mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap Gio.


"Aku tak akan meminta apapun padamu. Aku akan menerima apapun yang kamu berikan,"


"Lalu apa ?" Tanya Gio penuh selidik.


"Aku... Aku masih mencintai lelaki lain dan akan selalu mencintanya. Ku harap kamu bisa menerima kenyataan itu...,"


"Tapi Amara...,"


"Kita akan tetap menikah, tapi kamu harus tahu yang sebenarnya. Aku tak ingin membohongimu,"


"Aku akan belajar mencintaimu. Dan ku harap kamu pun begitu," ucap Gio pelan.


Amara menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu tak akan pernah terjadi, Gio. Percayalah..," sahut Amara menimpali.


Amara sudah mempunyai cara agar tak jatuh cinta pada Gio dan juga anaknya hingga ia tak merasa berat ketika nanti harus meninggalkan keduanya.