
"Tapi aku iya !" Kata Amara sembari langsung pergi. Meninggalkan Gio yang terdiam membisu di tempatnya terduduk saat ini.
Kata-kata yang Amara ucapkan bagai pisau belati yang menusuk hati Gio. Terasa nyeri dan juga perih. Gio tahu Amara menikahinya dengan penuh paksaan. Jadi, benar apa yang ibunya katakan kemarin. Gio harus perbanyak stok sabar.
Gio pun berdiri, berjalan keluar dari kamarnya. ia menuruni tangga untuk menuju dapur rumah Amara. Tak sulit untuk menemukannya karena rumah Amara yang sederhana itu tak seluas rumah miliknya. Gio pikir secangkir kopi bisa membuatnya tetap waras untuk saat ini.
Gio berdiri di ambang pintu. Terlihat bingung untuk melanjutkan langkah karena ibu mertuanya berada di sana. Untuk meminta tolong dibuatkan, Gio merasa sungkan. Dan memberanikan diri untuk membuatnya sendiri, Gio merasa lancang. Pada akhirnya ia hanya berdiri di bingkai pintu tanpa melakukan apa-apa.
Merasa diperhatikan, ibu Amara pun tolehkan kepalanya. "Loh Gio ? Mau air hangat lagi ?" Tanya sang ibu mertua karena tadi Gio juga sudah datang ke dapur itu meminta minum untuk Amara.
Gio menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Dengan sungkan Gio berucap pelan. "Jika ibu tak keberatan, Saya ingin secangkir kopi," kata Gio sopan. Gio memang lelaki yang berperangai baik, patah hati lah yang membuatnya berubah dan ia sangat menyesal karena telah tersesat karenanya.
Ibu Amara tersenyum pada menantunya itu. "Tentu saja, Gio. Ayo duduk !" Titahnya tak kalah ramah. "Jangan panggil Ibu, sekarang kamu adalah anak di rumah ini. Panggil saja Mama," ucapnya lagi seraya meletakkan teko yang berisikan air di atas kompor.
Gio menarik kedua sudut bibirnya, ia merasakan hangat di dadanya. Walaupun Amara selalu menolaknya, tapi Gio sangat bersyukur karena keluarga Amara mau menerimanya dengan lapang dada. Padahal di sini Gio lah yang bersalah.
Tak lama, teko yang berada di atas kompor pun mengeluarkan bunyinya. Pertanda air di dalamnya sudah matang sempurna. "Gulanya berapa sendok teh, Gio ?" Tanya ibu mertuanya itu.
"Satu sendok teh saja," jawab Gio.
"Apa gak kurang manis ?" Tanya ibu mertuanya lagi. Ia sedikit ragu dengan permintaan menantunya itu.
"Iya Bu.. eh Ma, sengaja," jawab Gio canggung. Gio memang memerlukan secangkir kopi yang rasanya agak pahit agar kepalanya tetap waras dan kuat menghadapi keras hatinya sang istri.
"Oh baiklah..," dan beberapa detik kemudian secangkir kopi panas pun tersaji untuk Gio.
Gio tak langsung meminumnya, ia membiarkan kopi itu menjadi hangat dengan sendirinya. Meksipun Gio berusaha untuk melupakan kata-kata Amara tadi, tapi nyatanya hal itu menghantuinya. Ada perih tak kasat mata yang sedang Gio rasakan saat ini.
"Amara masih mual-mual ?" Tanya ibu mertuanya itu. Memecah keheningan di antara keduanya. Anggota keluarga yang lain masih berada di dalam kamar mereka karena hari memang masih sangat pagi.
"Mmm tidak," jawab Gio.
"Sedang apa dia sekarang ?"
"Sepertinya sedang mandi," jawab Gio lagi.
Setelah itu suasana menjadi hening kembali, karena kini ibu Amara mulai sibuk membuat sarapan. Sedangkan Gio pun mulai menikmati kopi yang kini sudah menjadi hangat.
Bagaikan sebuah obat, kopi yang rasanya tak manis itu membuat Gio lebih hidup. Setelah beberapa teguk air kopi membasahi kerongkongannya. Gio pun berpamitan pergi kembali ke dalam kamarnya. Gio memutuskan untuk pergi bekerja saja daripada berdiam diri di rumah sedangkan Amara pergi kuliah.
"Iya sayang... Maafin aku... Seharian kemarin aku sangat sibuk karena ternyata melakukan riset di perusahaan itu sangat menyita waktu juga tenaga,"
".....,"
"Iya.. aku janji tak akan lakukan itu lagi... Aku janji tak akan mematikan ponselku lagi,"
"...."
"Aku juga sangat mencintaimu,"
Membisu, dan juga tak mampu untuk beranjak pergi. Itulah yang Gio lakukan saat ini di ambang pintu. Tubuhnya mematung saat mendapati istrinya itu tengah berbicara dengan tunangannya melalui sambungan telepon.
Lagi-lagi Gio menahan diri untuk tak protes,. karena ia sadar dirinya lah yang menjadi orang ketiga di antara Amara dan tunangannya.
Amara tolehkan kepalanya dan melihat pada Gio. Walaupun ia tahu ada Gio di sana, tapi Amara tak menutup panggilan teleponnya bersama Danis. Ia tetap berbicara pada tunangannya itu seolah-olah Gio tak ada di sana.
Masih dengan membisu, Gio pun melangkahkan kakinya memasuki kamar di mana Amara berada. Ia pun segera berlalu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gio putarkan knop shower dengan maksimal agar airnya turun dengan deras hingga ia tak bisa lagi mendengar istrinya yang sedang berbicara dengan lelaki lain.
Ngilu juga nyeri, Gio rasakan dalam hatinya. Walaupun ia telah berdiri di bawah guyuran air dingin, agar kepalanya tetap waras dan sadar. Namun nyatanya rasa cemburu datang dengan lancang.
"Hah... Hah...," Deru nafas Gio memburu. Ia pejamkan matanya sembari memukuli dinding kamar mandi. Berusaha untuk melampiaskan rasa marahnya.
Padahal Gio tahu jika Amara tak sedikitpun menyukainya. Bahkan istrinya itu sangat membencinya. Tapi perasaan Gio malah semakin tumbuh. Rasa cemburu bisa Gio rasakan dengan begitu jelasnya.
***
Gio keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk terlilit di pinggang, dan sudah tak mendapati Amara di sana. Gio menebak-nebak jika Amara pasti segera pergi karena tak ingin Gio temani.
Tepat seperti dugaan Gio, Amara sudah pergi. Ibunya mengatakan jika anak gadisnya itu buru-buru pergi karena takut kesiangan. Gio pun segera pergi, berusaha menyusul istrinya itu hingga ia pun melewatkan sarapannya.
***
Amara berdiri di depan halte bis dengan perasaan cemas. Berharap bis yang akan membawanya pergi segera datang. Ia takut Gio, menemukannya lebih dulu. Sungguh Amara tak mau jadi bahan pembicaraan orang-orang. Sudah cukup gerah Amara mendengar perkataan orang yang tak benar tentang dirinya.
Apa yang Amara takutkan terjadi juga. Sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di depannya. Kaca pintu mobil itu terbuka dan terlihatlah Gio yang duduk di belakang kemudi.
"Naik !" Titah Gio tanpa basa-basi.
Amara menggeleng pelan. "Aku bisa pergi sendiri," tolak Amara.
"Naik ! Aku yang akan mengantarmu !" Lanjut Gio tak ingin dibantah.
Mobil Gio yang berhenti di sana menghalangi bis yang akan menepi. Bunyi klakson pun terdengar, mengisyaratkan agar Gio segera pergi. "Aku tak akan pergi sebelum kamu naik," ancamnya pada sang istri.
Amara memutar bola matanya malas, dengan sangat terpaksa ia pun membuka pintu mobil Gio dan masuk ke dalamnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Gio pun langsung tancap gas. Meninggalkan jalanan yang menjadi tersendat karena ulahnya.
Hening...
Amara membuang pandangannya ke luar jendela, sedangkan Gio fokus pada jalanan. Itulah yang terjadi di sepanjang perjalanan. Hingga keduanya hampir tiba di tempat yang di tuju.
Gio menghentikan laju mobilnya dengan jarak yag cukup jauh dari gerbang kampus Amara. Ia lakukan itu agar tak ada seorangpun yang melihat kedatangan Amara dengannya.
Amara turun dari mobil suaminya itu tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tak mengucapkan kata terima kasih, apalagi berpamitan.
Gio tak langsung pergi, ia pastikan istrinya itu benar-benar masuk ke dalam kampusnya. Setelah itu Gio pun pergi menuju kantor tempatnya bekerja hanya dengan mengenakan kemeja hitam dan celana Chino berwarna coklat moca. Sungguh berbeda dari hari-hari biasanya yang selalu mengenakan setelan jas resmi.
Setibanya di kantor, sang paman melihat Gio dengan terheran. Seharusnya keponakannya itu masih menikmati cuti. "Istriku sedang banyak tugas kuliah jadi ia tak bisa bolos dan aku juga tak mungkin berdiam diri di rumah mertua sendirian," ucap Gio mendahului pertanyaan pamannya.
"Lagian kerjaanku lagi banyak," lanjut Gio beralasan.
Sang paman pun tersenyum maklum. "Oke baiklah. Selamat bekerja !" Ucapnya sembari menepuk-nepuk pelan bahu Gio.
Gio pun membalas senyuman pamannya itu sembari mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ia memang harus menenggelamkan diri dalam pekerjaan agar tak terlalu memikirkan Amara sang istri dan rasa cemburunya yang semakin menjadi-jadi.
***
Pukul 5 sore, Gio sudah menunggu Amara di tempat tadi pagi ia menurunkannya. Walaupun Amara menolak diantar jemput olehnya tapi Gio tak bisa membiarkan Amara sendirian. Bahkan ia telah membelikan istrinya itu es susu coklat yang Gio pikir tak bahaya untuk anak yang dikandungnya.
Amara berjalan dengan kepala tertunduk dan sebuah tudung menutupi kepalanya. Langkahnya terhenti saat melihat mobil yang sangat dikenalnya berhenti di depan sana. Ia pun berdecak kesal sembari memutar bola matanya malas. "Dia lagi !" Gerutu Amara.
Malas-malas Amara berjalan dan melihat ke sekelilingnya, memastikan tak ada seorangpun yang melihatnya. Lalu Amara mengetuk kaca jendela mobil suaminya.
Gio mengulum senyumnya dan membuka kunci pintu mobilnya. Susah payah Gio berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja saat Amara masuk ke dalam mobilnya. padahal Gio merasa senang luar biasa.
"Buat kamu," ucap Gio sembari memberikan satu gelas plastik es susu coklat yang tadi ia beli.
"Nggak mau !" Tolak Amara mentah-mentah.
Gio pun menyalakan mesin mobilnya dan mulai beranjak pergi dari tempat itu. Satu tangan pada setirnya, dan satu tangan lainnya memegang gelas es susu itu. "Ya udah kalau gak mau, buat aku aja," ucap Gio sembari menyedot isinya hingga terdengar bunyinya.
"Padahal enak banget ini !!" Lanjut Gio.
Amara melihatnya sambil menelan ludah. Tiba-tiba saja ia tergoda dengan es susu coklat yang tengah Gio nikmati. Perutnya berdenyut ingin ikut menikmati. Tanpa banyak bicara, Amara merebut gelas plastik itu dari tangan Gio dan menyedot isinya dengan tak sabaran. Dan benar apa yang Gio katakan, rasanya sangat nikmat hingga es coklat itu tandas dalam waktu singkat.
Mati-matian Gio menahan diri untuk tak mengacak puncak kepala Amara karena merasa gemas. Dalam hati, Gio terkekeh geli, "kita baru saja melakukan ciuman tak langsung, istriku. Kita minum dengan sedotan yang sama," batin Gio. Dan ia senyum-senyum sendiri karenanya.
to be continued
mumpung Senin vote yuuuu
jangan lupa like dan komen ya
terimakasih.