
Cukup lama Gio pandangi layar ponsel Amara. Sudah terbayangkan dalam kepalanya apa saja yang ingin ia katakan pada Danis. "Jangan hubungi istriku lagi !" Ucap Gio dalam hatinya. Ia pejamkan matanya saat memikirkan itu semua. Berharap yang ia katakan nyata adanya.
Tapi itu semua hanya ada dalam khayalan Gio saja. Pada kenyataannya panggilan telepon dari Danis berhenti dengan sendirinya, dan Gio pun meletakkannya kembali di atas nakas.
Gio menghela nafas dalam dan meraup wajahnya frustasi. Rasa cintanya yang tak terbalaskan ini sungguh membuat Gio tersiksa. Setelah itu Gio tak merasakan ngantuk lagi padahal ia baru beberapa menit saja tertidur sebelum panggilan telepon dari Danis membangunkannya.
Malas-malas Gio bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju sisi ranjang yang lain agar bisa melihat wajah Amara yang tidur membelakanginya. Gio tersenyum saat ia bisa menatap wajah cantik Amara yang terlelap dalam tidurnya.
"Ya Tuhan... Bagaimana bisa aku jatuh cinta padamu yang begitu membenci aku ?" Tanya Gio pada dirinya sendiri.
"Seandainya aku bisa mengatur hatiku untuk tak jatuh cinta padamu, tentunya semua tak akan sesulit ini. Maafkan aku Amara..," ucap Gio dalam hatinya.
Gio menghela nafas dalam, ia membutuhkan secangkir kopi untuk membuatnya tetap waras. Gio pun menitipkan Amara sementara waktu pada perawat yang bertugas. Lalu ia pergi ke cafetaria rumah sakit.
***
Nafas Amara memburu dan pendek-pendek. Nafasnya menderu terengah-engah. Amara baru saja mendapatkan sebuah mimpi buruk. Mimpi dimana Danis mengetahui semua tentang kehamilannya dan lelaki itu menuduh Amara sebagai perempuan tak setia. Yanglebih memalukannya lagi, Danis menunjuk wajah Amara dan menyebutnya perempuan tak punya harga diri karena bisa jatuh cinta pada lelaki yang telah menodainya.
"Gio," ucap Amara pelan. Perasaannya begitu kacau setelah mimpi itu datang menghampirinya. Perut Amara bergejolak ingin mengeluarkan isinya. Ia menatap sekeliling dan tak ada kehadiran sang suami di sana.
"Gio... Gio mana ?" Amara beringsut takut. Ia tak suka sendirian apalagi di rumah sakit seperti ini.
"Ara udah bangun ?" Tiba-tiba ibunya muncul dari balik pintu. "Kamu tidur cukup lama. Mama sampai khawatir,"
"Gio mana ?" Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Amara malah menanyakan ketidakhadiran suaminya itu.
"Sekarang sudah pukul setengah 9 pagi, Gio telah berangkat ke kantor untuk bekerja. Ada sesuatu pekerjaan yang tak bisa Gio tinggalkan. Tadi, suamimu yang menelpon Mama. Bahkan mengirimkan orang untuk menjemput,"
"Oh...," Sahut Amara. Wajahnya terlihat kecewa saat mengetahui Gio tak ada.
"Kenapa ?" Tanya sang ibu cemas.
"Gak apa-apa, Ma. Ara hanya merasa sedikit mual,"
"Ayo Mama bantu ke toilet,"
Amara mengangguk pelan, dengan bantuan ibunya dan seorang perawat ia pergi ke kamar mandi. Tapi entahlah, Amara merasa tak senyaman jika Gio yang berada di sampingnya. Lelaki itu selalu bisa membuat Amara merasa lebih baik di setiap paginya.
Setelah mimpi itu, suasana hati Amara begitu kacau. Pikirannya dipenuhi tentang Danis dan juga Gio. Perasaannya mulai gamang di antara ke dua pria tersebut. Tak bisa dipungkiri, ternyata Amara mulai membutuhkan kehadiran Gio tapi ia masih belum pasti dengan perasaannya sendiri karena masih adanya Danis dalam hatinya.
***
Tepat jam makan siang Gio datang untuk melihat keadaan istrinya itu. Pandangan matanya bertemu dengan Amara dan terkunci untuk beberapa saat. Namun Amara segera memalingkan wajahnya ketika ia sadar jika Gio tak sendirian. Di belakangnya ada Dea sang sepupu.
"Ara ! Bagaimana keadaanmu ? Tadi Gio cerita katanya semalam kamu sakit perut ya ?" Tanya Dea cemas.
Bukannya menjawab pertanyaan sepupunya itu, tapi Amara lebih fokus pada kalimat "tadi Gio cerita". Rasanya kata-kata itu tak enak di dengar oleh telinga Amara.
"Ara ?" Tanya Dea lagi karena Amara tak juga menjawabnya.
"Di kantor Gio. Eh sorry aku belum cerita, aku kan magang di kantor suamimu," jawab Dea, dan itu membuat Amara terkejut hebat tapi mati-matian Amara bersikap biasa-biasa saja.
"Oh ya selamat," ucap Amara.
"Iya... setelah melakukan riset beberapa waktu lalu. Aku melamar untuk magang di sana dan ternyata Gio menerimanya,"
"Paman aku yang terima," ralat Gio.
"Oh iya pamannya," sahut Dea kikuk. "Emangnya Gio gak cerita ?" Tanya Dea.
Amara pun melihat pada Gio yang tengah menatapnya. "Gio gak cerita apa-apa," jawab Amara.
Gio merasa Amara menjadi sinis padanya, tapi Gio juga tak begitu yakin karena tak mungkin jika Amara merasakan cemburu padanya.
"Aku belum sempat cerita karena..,"
"Gak masalah kok ! Kamu tak harus bercerita apapun padaku," potong Amara cepat.
"Loh Gio, Dea ? Kalian baru datang ?" Tanya ibu Amara yang baru saja datang dari arah luar.
"Iya Tan," Dea pun menyambut kedatangan mama Amara yang merupakan adik kandung ibunya itu.
"Kalian udah makan ?" Tanya ibu Amara lagi.
"Belum," jawab Dea.
"Ooh kalau begitu ayo makan dulu ! Di seberang rumah sakit ini ada warung nasi Padang yang enak," kata ibu Amara.
"Oh ya ?" Tanya Dea antusias. "Ayo kita makan, Gio !" Dea begitu penuh semangat.
"Kamu duluan aja,De. Aku mau nemenin Amara makan siang dulu," jawab Gio seraya terus mengarahkan kedua matanya pada Amara.
Amara tahu jika Gio terus menatapnya, tapi ia tak mau membalasnya. "Aku belum lapar, sebaiknya kalian pergi saja berdua. Aku ingin istirahat dulu sebentar," potong Amara seraya memutar tubuhnya hingga kini ia terbaring membelakangi semuanya.
"Tuh kan Amara nya juga mau tidur. Ayo kita makan !" Ajak Dea tak sabaran.
"Iya Gio, ayo makan dulu. Kamu jangan khawatir, Amara kan ada Mama ini," sahut ibu Amara mendukung perkataan keponakannya itu. Dan Dea semakin senang saja karenanya.
"Tapi..," Gio masih enggan pergi. Walaupun tak mungkin bagi Gio jika Amara merasa tak senang dengan keberadaan dirinya dan Dea.
Sedangkan Amara pun sibuk dengan pikirannya sendiri. "Sudah ku bilang jangan libatkan hati pada Gio. kamu harus membencinya seperti dulu ! Ya Amara, kamu harus membencinya !" Ucap Amara pada dirinya sendiri.
To be continued
Jangan lupa vote yaaa