Hate You, Love You

Hate You, Love You
Rencana Selanjutnya



"Hai, selamat datang," ucap Dea dengan senyumnya yang lebar. Membuat Amara tercengang, sungguh ia terkejut luar biasa karena melihat kehadiran sepupunya di sana.


"Sini, Ganteng ! Aunty Dea kangen banget sama Evan." Dea mengambil alih Evan dari pangkuan Amara. Gadis itu tak sadar jika Amara sedikit terganggu dengan kehadirannya di situ. Terbukti dari Amara yang tak menyapanya sama sekali.


"Amara, ayo masuk," ajak Gio. Tak seperti Amara, Gio tak terkejut dengan kehadiran Dea di sana karena ibunya memang mengundang gadis itu untuk datang.


"Ah ya ! Maaf," sahut Amara yang masih dalam gelombang keterkejutannya. Ia pun melangkahkan kakinya masuk. Walau sebenarnya Amara sedikit enggan. Entah mengapa perasaannya menjadi tak karuan. Kehadiran Dea adalah salah satu penyebabnya.


"Amara... Cantik sekali kamu, Sayang," mama Gio datang menghampirinya dan mencium kedua pipi Amara secara bergantian.


"Te- terimakasih, Mm.. Ma..," jawab Amara dengan sedikit terbata. Terkadang Amara masih merasa gugup bila harus berhadapan dengan ibu mertuanya itu. Padahal beliau adalah seseorang yang baik hati. Mungkin karena caranya menikah dengan Gio melalui jalan yang tak wajar membuat Amara merasa ada sedikit jarak di antara mereka.


Tak lama para tamu pun mulai berdatangan. Yang dikatakan sebagai malam keluarga, ternyata dihadiri cukup banyak orang. Bahkan Ibu Gio menyewa jasa pelayanan dan catering seperti waktu lalu.


Semua yang datang langsung menyapa pada Gio dan memberikan kata-kata selamat mereka. Gio dikelilingi banyak orang yang memuji kerja kerasnya. Sedangkan Amara berdiri sendirian dan melihat bagaimana lelaki itu bersinar.


"Ini anakmu Gio ? Punya anak dan isteri yang cantik kenapa di sembunyikan?" Tiba-tiba salah satu kerabat Gio berbicara seperti itu saat ia bertemu dengan Dea yang sedang menggendong Evan. Maklum pernikahan Gio dulu begitu tertutup membuat beberapa orang kerabat tak tahu siapa isteri Gio.


Hampir semua mata tertuju pada Dea yang sedang menggendong Evan. Gadis itu tersenyum serba salah menanggapinya. Sedangkan Amara mati-matian menahan diri untuk tak berteriak dan mengatakan bahwa Evan adalah anaknya. Ada rasa tak rela yang begitu besar dalam hati Amara saat Dea disangka sebagai ibu kandung Evan.


Gio yang sadar telah meninggalkan Amara langsung melihat pada istrinya itu. Ia pun berjalan mendekatinya. "Sebenarnya-"


"Ayo-ayo jangan berdiri saja, makanan pembuka nya sudah tersedia loh. Ayo dinikmati !" Mama Gio memotong ucapan anaknya itu, hingga Gio tak bisa menyelesaikan kalimatnya.


Amara tundukkan kepala, ia merasa Mama Gio tak mau mengakuinya sebagai menantu. Dan itu sangat menyakitkan bagi Amara.


Amara pun tak paham dengan apa yang ia rasakan saat ini. Bukankah bagus jika tak ada seorangpun yang tahu bahwa ia adalah isteri Gio ? Dengan begitu dirinya bisa pergi dengan mudah.


Semua tamu menuruti perkataan mama Gio. Mereka berjalan ke taman belakang yang telah disulap menjadi tempat makan yang nyaman dan indah. Seperti pesta kebun dengan hanyak lampu-lampu yang menghiasi setiap sudutnya. Di sana juga terdapat berbagai macam makanan yang sudah disajikan.


"Amara..," lirih Gio. Ia tahu jika suasana hati Amara telah berubah. Terlihat dari Amara yang tundukkan kepala dengan kedua tangannya yang saling meremas satu sama lain.


"Ma !" Gio ingin protes tapi sang mama lebih cepat berbicara. "Kita akan bicarakan hal ini, Gio. Dan percayalah... Apa yang Mama Papa lakukan adalah demi kebaikan antara kamu dan Amara," ucapnya.


"Apa maksud Mama ?" Tanya Gio sambil berkerut alis tak paham.


"Nanti kita bicarakan Gio. Mama harap kalian tak pulang dulu setelah acara makan malam ini berakhir," ucap Mama Gio lagi.


Amara tak berkomentar, ia hanya diam saja. Dan tak hanya di situ saja kejutan yang Amara dapatkan. Tak lama setelah itu, datanglah kedua orangtua Dea yang merupakan Om dan Tante Amara juga. Di susul oleh orangtua Amara sendiri. Semuanya berkumpul di acara itu.


Makan malam keluarga itu berlangsung meriah, semuanya larut dalam tawa dan canda penuh rasa bahagia. Hanya Amara yang tak menikmati semua itu. Walaupun suasananya begitu ramai, tapi ia merasa sendirian. Amara sibuk dengan pikirannya sendiri.


Apalagi saat Papa Gio berbicara di depan banyak orang dan mengungkapkan rasa bangganya pada sang anak yang telah berhasil mencapai kesuksesan. Tak hanya Gio saja yang mendapatkan pujian, tapi Dea juga. Keduanya diundang untuk berdiri di depan menemani Papa Gio yang sedang memberikan sambutannya.


Semua bertepuk tangan, hanya Amara saja yang tak begitu bersemangat untuk melakukan itu. "Dea hebat ya, Ara," bisik ibu Amara di telinganya.


"Mama dengar, Dea akan segera diangkat menjadi pegawai tetap walaupun kuliahnya belum selesai," lanjutnya lagi. "Mama harap kamu pun mendapatkan pekerjaan yang baik di Boston nanti."


Amara menarik nafasnya dalam-dalam. Ia berusaha untuk menenangkan diri. Amara hanya anggukkan kepalanya dalam menanggapi ucapan ibunya itu. Ia tak sanggup untuk berkata-kata karena Amara yakin dirinya akan menangis saat ia membuka mulutnya. Tapi Amara pun tak akan bisa menjelaskan alasannya menangis pada semua orang. Yang Amara tahu, hatinya tak baik-baik saja.


Walaupun Amara bersikap seolah biasa-biasa saja, tapi Gio tahu jika istrinya itu dalam keadaan tak baik. Amara selalu menghindari tatapan mata Gio saat pandangan mereka bertemu. Dan itu terjadi sepanjang mereka melaksanakan makan malam.


Pukul setengah sepuluh malam, acara makan malam pun selesai dilaksanakan. Evan sudah tidur dan ditunggui oleh susternya di kamar tamu. Evan tak ditempatkan di kamar Gio, karena Mama Gio khawatir rasa trauma Amara akan kembali menghantui menantunya itu.


Hampir semua tamu telah pulang kecuali Amara, Dea dan orangtua mereka. Perasaan Amara yang sejak tadi sudah kacau tak karuan semakin tak enak saja. Amara yakin jika malam ini akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi.


Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Gio, Amara, Dea dan para orangtua mereka. Amara sudah ingin menghilang dari tempat itu karena ia sudah menebak-nebak dalam hati apa yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah berbasa-basi, akhirnya Mama Gio bicara pada intinya. "Saya rasa, semuanya sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan kita malam ini. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya... Semua ini adalah demi kebaikan,Evan,"


Deg ! Amara merasa jantungnya diremas dengan kuat saat Mama Gio berkata seperti itu.


"Maksud Mama apa ?" potong Gio.


"Kita semua sudah tahu jika pernikahanmu dengan Amara tak berjalan dengan baik. Bahkan Amara akan segera pergi untuk menyusul tunangannya begitu ia menyelesaikan kuliahnya. Dan kali ini tak ada seorangpun yang berhak untuk menghalangi kebahagiaan Amara," ucap Mama Gio seraya menatap lembut pada Amara.


Amara tundukkan kepalanya, ia sembunyikan air matanya yang tiba-tiba saja jatuh membasahi pipinya. Ia tak bisa mengelak dari ucapan Mama Gio, karena itu benar adanya. Bahkan kedua orangtuanya pun tak berkomentar tentang hal itu.


"Terimakasih banyak atas segala pengorbanan yang telah kamu lakukan, Amara. Terimakasih karena sudah mau mengurus Evan walaupun kami tahu kehadirannya pernah tak diinginkan."


Ucapan Mama Gio membuat air mata Amara jauh lebih deras lagi. Dan untuk kedua kalinya Amara tak bisa menyangkal perkataan mertuanya itu karena semua memang benar adanya.


"Untuk membalas semua kebaikanmu... Kami akan memudahkan segala jalanmu menuju Boston," lanjut Mama Gio lagi. Bukankah seharusnya Amara merasa senang dengan bantuan itu ? Tapi yang ia rasakan adalah sebaliknya. Amara merasa sakit hati dengan itu semua.


"Tapi kepergianmu bukan berarti putuslah hubunganmu dengan Evan. Kamu bisa bertemu dengannya kapan saja karena kamu lah ibu kandungnya." Kali ini Papa Gio yang berbicara.


"Pa..," ucap Gio memelas.


"Jangan potong pembicaraan Papa, Gio !! Percayalah apa yang kami lakukan adalah untuk kebaikan bersama," ucap Papa Gio.


"Setelah Amara pergi, tak mungkin Evan menjadi sendiri. Ia butuh ibu pengganti," lanjut Papa Gio dan itu membuat hati Amara lebih sakit lagi. Ia sudah bisa menebak lanjutan dari kalimat bapak mertuanya itu.


"Setelah kami berembuk dan memikirkan semua ini dengan dalam. Kami memutuskan untuk menjodohkan Gio dengan Dea," jelas Mama Gio.


"Ma ? Apa maksudnya ? Kalian berembuk tapi aku tak pernah diajak bicara sama sekali !" Protes Gio.


"Apa yang kami lakukan adalah demi kebaikanmu dan Evan !!" Kata Papa Gio dengan suara meninggi.


"Dea adalah seorang gadis yang baik hati dan dia sangat sayang dengan Evan bagai anaknya sendiri. Kita bisa lihat bagaimana interaksi Dea dan Evan malam ini. Dan Dea juga adalah sepupu dari Amara, secara tak langsung darahnya juga mengalir di dalam diri Evan," lanjutnya lagi.


"Tapi Pa !" Gio masih ingin protes karena bukan itu yang dirinya inginkan.


"Sadar lah Gio ! Dalam waktu 3 bulan, Amara akan segera pergi menemui tunangannya. Berhentilah menjadi perusak kebahagiaan Amara !!! Dan bersyukurlah karena Dea mau dijodohkan denganmu ! Dea mau menerima kamu dan Evan apa adanya."


Gio terdiam, apa yang papanya ucapkan bagai sebuah tamparan di pipinya. "Berhentilah menjadi perusak kebahagiaan Amara!!"


Gio pun melihat pada Amara yang sedari tadi tundukkan kepala. Ingin rasanya Gio mengatakan bahwa ia sangat mencintai istrinya itu tapi kata-kata sang ayah membuat Gio menutup mulutnya.


"Dan semuanya telah setuju dengan rencana ini. Kedua orangtua Amara dan Dea pun sangat mendukungnya. Jadi ku harap, kamu pun setuju Gio."


bersambung ♥️