Hate You, Love You

Hate You, Love You
Hate You Love You



Amara mengetuk pintu rumah orangtuanya berulang kali. Untuk menghindari Dea dan Gio, akhirnya Amara benar-benar datang ke sana. Tapi rumah itu begitu sepi seperti tak berpenghuni. Amara pun langkahkan kakinya menuju sisi rumah yang lain dan mengintip ke dalam rumah dari jendela yang tirai nya tersingkap sebagian.


Tak ada siapapun di sana, membuat suasana hati Amara kian kacau tak karuan. Amara membuka tas dan merogoh ke dalamnya. Mencari benda pipih miliknya yang berwarna putih itu. Setelah mendapatkannya, Amara mengusap layar dan mencari nomor kontak ibunya. Dengan tak sabaran, Amara menunggu panggilan itu terhubung.


"Halo... Assalamualaikum Ma, Mama di mana ?" Tanya Amara tanpa basa-basi.


Sang Mama yang menerima panggilan itu tentunya merasa terkejut karena nada suara Amara yang begitu mendesak. "Wa- waalaikumsalam Ara. Mama sedang di toko buku dengan adikmu. Kenapa ? Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya ibunya cemas.


"Ara di rumah Mama. Baru saja sampai. Papa ke mana ?" Tanya Amara yang sudah tak sabaran ingin masuk ke dalam rumah orangtuanya itu


"Papa sedang ada acara di kantornya. Kalau kamu mau, susul kami ke mall saja. Mama dan adikmu juga baru sampai-"


"Nggak usah ! Ara nunggu aja. Kunci di tempat biasa ?" Potong Amara.


"Hu'um iya di-"


"Oke, Ma. Ara masuk ya," potong Amara lagi dan ia pun memutuskan panggilan.


Cepat-cepat Amara mencari kunci rumah yang disembunyikan di bawah salah satu pot bunga yang ada di sana. Setelah mendapatkannya, Amara pun masuk ke dalam. Dan dengan tak sabaran, Amara naik ke dalam kamarnya.


Amara jatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi menelungkup. "Hiks.. hiks.. hiks..," isakan tangis Amara terdengar lirih. Setelah mati-matian menahan diri, akhirnya Amara bisa meluapkan perasaannya seorang diri.


Tak ada yang tahu jika dari semalam, dada Amara dipenuhi rasa sesak yang tak terkira. Perjodohan Gio dan Dea membuat Amara tersiksa. Bahkan ia tak bisa tidur semalaman hanya karena memikirkannya. Dan pagi ini, kedatangan Dea memperburuk suasana hatinya.


Sakit... itulah yang Amara rasakan dalam hatinya saat Gio harus dijodohkan dengan sepupunya Dea. "Aku.. aku.. aku..." lirih Amara dalam tangisnya. Perasaan Amara begitu tak karuan.


"Aku jatuh cinta padamu, Gio. Ya Tuhan... Aku jatuh cinta padamu..," lirihnya lagi dengan air matanya yang terus turun membasahi pipi dan juga ranjangnya. Pada akhirnya Amara sadar akan perasaannya sendiri dan itu sungguh-sungguh membuatnya tersiksa. Amara sadar, dirinya dan Gio tak mungkin bersatu.


Satu persatu bayangan tentang Gio melintas di dalam kepalanya. Gio tak pernah berkata buruk meskipun Amara selalu berbicara ketus dan kasar padanya. Gio tak pernah mengeluh jijik saat ia memijat tengkuk Amara di pagi hari. Gio hampir tak pernah lupa untuk memenuhi apapun yang Amara mau. Gio selalu sempatkan diri untuk mengantar jemput Amara ke kampus. Tatapan matanya selalu teduh dan menenangkan. Dan entah sejak kapan Amara tersesat di dalam tatapan mata lelaki itu.


"Gio... Gio... Gio...," Amara sadar dia sudah memiliki lelaki lain dalam hidupnya, dan lelaki itu tengah menunggu kedatangannya. Tapi Amara tak bisa mencegah perasaannya sendiri.


"Ya Tuhan... Aku jatuh cinta padamu, Gio... Aku menginginkan dirimu hanya untukku saja. Ya benar.. aku punya kekasih tapi aku tak bisa menahan diri... Aku jatuh cinta padamu," ucap Amara di dalam kesendiriannya. Amara lampiaskan perasaan cintanya itu dengan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Sesak Amara rasakan sendiri.


"Aku benci padamu, Gio ! aku benci karena kamu tak bisa melihat perasaanku. Benci kamu yang yang terlalu baik, hingga banyak wanita menginginkanmu. Benci kamu yang selalu menatapku teduh. Benci kamu yang telah membuatku jatuh cinta. Aku benci karena mencintaimu... Aargghhh... Tolonglah aku yaa Tuhan..," erang Amara dengan meremas kain spreinya sekuat tenaga, melampiaskan rasa sakitnya yang tak terkira.


Amara merasakan benci dan juga cinta pada Gio secara bersamaan.


Setelah puas mengungkapkan apa yang dirasakannya meski itu sendirian, Amara merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia merasa beban perasaannya banyak berkurang. Air bening masih jatuh dari kedua matanya, walau kini Amara tak lagi berkata-kata.


Ponsel Amara berdering dan tertera nama Danis di sana. Amara hanya menatap nanar layar ponselnya itu tanpa berniat untuk mengangkat nya. Padahal biasanya di akhir pekan seperti ini, Amara dan Danis banyak menghabiskan waktu mereka untuk saling bertukar kabar dan cerita. Tapi untuk saat ini Amara sedang tak ingin berbicara dengan lelaki yang masih menjadi tunangannya itu. Amara ingin sendirian...


***


Sesampainya di rumah, Mama Amara memanggil nama anaknya berulang kali tapi tak ada sahutan sama sekali. Dengan langkah tergesa mama Amara masuk ke dalam kamar Amara. Ia tersenyum lega saat melihat Amara tidur meringkuk sambil memeluk guling nya.


Mama Amara meraba dahi, dan tersenyum waktu mendapati suhu Amara normal. Ia amati wajah Amara yang tertidur lelap. Wajah Amara yang sembab membuat mamanya itu tahu jika Amara habis menangis.


"Mmmhh..," gumam Amara sambil merubah posisinya tapi ia tak terusik dengan kehadiran ibunya itu. Amara masih asik menyelami alam mimpi. Maklum tadi malam, Amara tak bisa tidur sama sekali.


"Tidurlah lagi... Nanti Mama akan membangunkanmu." Mama Amara pun berdiri dan berjalan menuju pintu. Membiarkan Amara untuk tidur di atas ranjangnya.


***


Tepat pukul 4 sore sebuah mobil hitam berhenti tepat di rumah Amara. Seorang lelaki jangkung keluar dari mobil itu dan berjalan menuju pagar lalu membukanya. Ia mengetuk pintu rumah Amara dan berharap seseorang segera membuka kan pintu itu untuknya.


"Loh Gio ?" Apa yang Gio harapkan, terkabul juga. Mama Amara membuka kan pintu itu untuknya.


"Assalamualaikum Ma," ucap Gio sembari mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Waalaikumsalam... Mana Evan ?"


"Gio sendirian, Ma. Mau jemput Amara. Amara nya mana ?" Tanya Gio langsung, ia melihat ke arah dalam mencari keberadaan istrinya itu.


"Amara lagi tidur di kamarnya," jawab mama Amara.


Gio pun mengangguk paham, "Gio boleh lihat Amara di kamarnya gak, Ma ?" tanya Gio.


"Tentu Gio, ayo masuk ! mau kopi ?"


"tak usah Ma. Gio ke kamar Amara ya," ucap Gio lagi seraya langsung berjalan menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua di mana kamar Amara berada.


Takut-takut Gio melangkahkan kakinya. Dulu Amara sering mengusirnya jika ia masuk ke sana. Tapi kali ini rasa rindunya tak terbendungkan lagi padahal ia dan Amara baru beberapa jam saja terpisah.


Pintu kamar Amara tak tertutup sempurna. Memudahkan Gio untuk membukanya. Hati Gio menghangat saat ia lihat Amara tengah tertidur pulas di atas ranjangnya.


Pelan namun pasti Gio langkahkan kakinya masuk dan ia tatapi wajah cantik Amara yang tengah memejamkan mata.


"Mmh Gio..," gumam Amara dalam tidurnya. Membuat Gio tercengang untuk beberapa saat. Dada Gio berdebar kencang, ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Gio.."


Tak tahan lagi, Gio pun beranikan diri untuk membelai lembut rambut istrinya itu dengan penuh perasaan cinta. "Ya Sayang... Aku di sini..."