Hate You, Love You

Hate You, Love You
Sepakat.



"kecuali... kecuali kamu bisa membayarku dengan harga tinggi, mungkin aku mau untuk melakukannya,"


Gio terkesiap saat mendengarnya. Tanpa sadar, Gio melangkahkan kakinya mundur. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu perempuan yang paling kejam," ucap Gio pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Apa yang Gio ucapkan membuat Amara tertampar. Tapi sebisa mungkin ia memperlihatkan wajahnya yang datar. "Terserah padamu ! Ambil tawaran ku, atau pergi dari kamar ku !" Desis Amara seraya memicingkan matanya sinis.


"Aku akan lakukan apapun untuk menyelamatkan anakku. Akan ku bayar berapa pun yang kamu mau !"


"Tiga ratus juta !" Tantang Amara.


"Deal !"


"Tiga ratus juta dalam satu bulan," potong Amara cepat, membuat Gio semakin terperanjat.


"What ? Apa kamu gila Ara ?" Gio berkerut alis tak percaya.


"Jangan panggil aku, Ara ! Kamu tak berhak memanggilku seperti itu,"


"Berhak ! Bahkan aku berhak atas dirimu, karena aku suami mu !" Sahut Gio seraya menunjuk wajah Amara. Nafas lelaki itu memburu dan pendek-pendek, menahan diri agar tak menyakiti Amara.


"Suami ? Apa kamu lupa jika aku sangat terpaksa menikah dengan mu, Gio ?" Teriak Amara, membuat Gio terdiam terpaku di tempatnya berdiri.


"Tak usah kamu ingatkan tentang hal itu," kata Gio terdengar dingin. Bibirnya bergetar saat mengatakan hal itu. "Karena aku tak pernah melupakannya barang sedetikpun." Gio pun tersenyum kecut karenanya.


"Baguslah jika kamu sadar," sahut Amara sambil membuang pandangannya ke arah lain. Hatinya terasa lain saat melihat ekspresi wajah Gio yang terlihat sedih juga kecewa.


"Baiklah tiga ratus juta perbulan," Gio menyetujui syarat yang Amara ajukan karena ia tak ingin lagi memperpanjang perdebatan yangmembuat hatinya semakin terluka dalam.


"Ya, dan hanya satu tahun lamanya. Sampai aku lulus kuliah S2. Karena setelah itu aku akan langsung pergi ke Boston menyusul tunanganku,"


Gio anggukan kepalanya, lagi-lagi menyetujui apa yang Amara inginkan. Ia tak ingin mendebat Amara, Gio takut perkataannya dapat menyakiti hati istrinya itu. Walaupun yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. "Akan ku berikan apapun yang kamu inginkan, asal susui Evan," kata Gio.


Tiba-tiba dada Amara berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Gugup dan takut, Amara rasakan secara bersamaan. Pada akhirnya Amara harus melakukan sesuatu yang sangat dihindarinya.


"Ayo ! Kasihan Evan."


Ucapan Gio menyadarkan Amara dari lamunannya. Ia pun tersentak saat kembali ke alam sadarnya. Menelan ludahnya dengan paksa, sebelum ia melangkahkan kakinya menuju kamar bayi Evan yang letaknya tepat di sebelah kamar Gio. Bahkan ada sebuah pintu penghubung di kamar bayi Evan dan Gio. Walaupun kamar mereka terpisah, tapi nyatanya Gio tidur di kamar anaknya itu setiap malam.


Amara tatapi gagang pintu kamar anaknya itu dengan perasaan yang kacau tak karuan. Lagi-lagi Amara menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah. Rasa takut kembali menghantuinya, hingga ia hanya berdiam diri saja.


Gio yang berada di belakangnya membuka pintu itu. Lalu terlihat lah seorang wanita tengah menimang-nimang bayi Evan yang tak mau berhenti menangis, ia adalah baby sitter yang Gio pekerjakan sebagai perawat anaknya.


"Evan tak mau berhenti menangis, Pak Gio," ucap wanita itu. Rasa cemas tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya yang sudah terlihat lelah.


"Berikan pada Amara, mungkin Evan ingin bersama ibunya. Eh maksud saya ingin digendong oleh Amara," sahut Gio.


Wanita yang menggendong bayi Evan pun berjalan mendekati Amara yang masih berdiri terpaku di ambang pintu.


"Amara," kata Gio. Menyadarkan istrinya itu dari pikirannya sendiri.


Bagaikan sebuah mantra yang penuh khasiat, bayi Evan yang tengah menangis histeris kini berangsur tenang saat Amara mendekapnya. Suster Rani yang merupakan baby sitter bayi Evan pun terpana di buatnya.


Bayi Evan tak langsung diam, ia menggerak-gerakkan bibirnya karena ingin menyusu. "Apa ibu mau menyusuinya ?" Tanya suster Rani pada Amara.


Amara mengangguk walaupun sebenarnya ia masih merasa sedikit ragu. Lihatlah... Belum apa-apa bayi Evan sudah membuat Amara kehilangan kata-kata.


"Jika begitu, sebaiknya sambil duduk saja biar gak pegal," ucap suster Rani lagi memberikan saran.


Lagi-lagi Amara hanya anggukan kepalanya. Ia tak lagi bisa mengeluarkan kata-kata ketus dari mulutnya. Yang Amara lakukan saat ini adalah menuruti saran sang baby sitter dengan duduk di sebuah kursi sofa single yang sangat nyaman. Diikuti oleh Gio di belakangnya.


Setelah Amara duduk, sang suster membantu Amara agar bisa menyusui bayinya dengan nyaman. Ia sandarkan tubuhnya di sofa dan bersiap untuk menyusui. Sungguh debaran jantung Amara kian kencang saja.


Amara membuka tiga kancing teratas piyamanya hingga kini terlihatlah dua gundukan daging yang menyembul seksi di balik kain berenda hitam.


Gio yang melihat itu menelan ludahnya sendiri karena terseok. Sebagai pria dewasa yang menaruh rasa pada Amara, tentu saja Gio terpengaruh karenanya.


Cepat-cepat Gio palingkan wajahnya saat Amara mulai mengeluarkan satu benda kenyal itu dari balik kain berenda yang ia kenakan. Gio membuang muka salah tingkah, wajahnya yang putih bersih kini berubah merah. Bahkan Gio rasakan desiran hangat di seluruh tubuhnya.


Sedangkan Amara, ia tak bisa berhenti menatapi wajah anaknya yang kini tengah meny*su padanya. Hisap*n yang bayi Evan berikan di dadanya membuat Amara merasakan getaran-getaran kecil hingga ke dalam hatinya.


Takjub, tak percaya, aneh, dan mendebarkan. Itulah yang tengah Amara rasakan saat ini.


"Ahh syukurlah bayi Evan sudah bisa tenang. Dekapan ibu adalah obat terbaik bagi anaknya," ucap sang baby sitter tapi Amara tak menanggapinya. Ia tak bisa lepaskan tatapan matanya dari wajah Evan yang kini memejamkan matanya dengan damai dan nyaman. Bahkan Amara tak sadar jika ada seorang laki-laki yang tengah salah tingkah.


"Beristirahatlah, biar saya yang akan menjaganya," titah Gio pada suster Rani.


Sang suster pun mengangguk dengan wajah yang lega. "Jika bapak memerlukan sesuatu tinggal panggil saya saja," ucapnya sebelum pergi.


"Ya tentu. Terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Gio seraya mengizinkan susternya itu untuk beristirahat. Meninggalkan Amara, Gio dan anak mereka.


Setelah kepergian sang suster, suasana menjadi hening. Amara masih menyusui bayi Evan dalam diam sedangkan Gio menyibukkan diri dengan menatap ke arah lain agar matanya tak tertuju pada dada* mulus Amara.


***


Amara terbangun saat seseorang menggoyangkan bahunya pelan. "Sudah aku transfer," ucap Gio seraya memperlihatkan layar ponselnya dan tertera angka tiga ratus juta rupiah.


Hari sudah terang, Gio juga sudah mengenakan pakaian kerjanya. Semalaman lelaki itu menemani Amara yang menyusui anak mereka untuk pertama kalinya. Gio ikut begadang padahal esok paginya ia harus kerja.


"Aku harus pergi kerja. Jika ada apa-apa hubungi saja, aku akan langsung pulang," ucap Gio dan Amara yang masih diserang rasa kantuk hanya mengangguk saja menanggapinya.


Gio pun pergi meninggalkan Amara, tapi ia hentikan langkahnya saat hampir tiba di pintu. Gio memutar tubuhnya kembali dan melihat pada Amara dengan tatapan mata yang sendu. Tak lagi berapi-api seperti semalam. "Amara, terimakasih banyak," ucap Gio sungguh-sungguh dan ia tersenyum lembut pada istrinya itu.


bersambung...


jangan lupa like dan komen ya...


sabar...