
"aku berhak tahu tentang apa ?" tanya Gio tiba-tiba. Membuat jantung Amara hampir saja melompat dari tempatnya. Ia takut Gio mendengarkan apa yang tadi dirinya bicarakan dengan Dea.
Takut-takut Amara memutar tubuhnya, menghadap pada Gio yang berdiri di belakangnya. Dea pun terlihat pucat, ia tak tahu jika Gio akan tiba-tiba hadir di antara mereka. "Mmhh itu," ucap Amara gelagapan. Lidahnya menjadi kelu. Kata-kata yang ingin Amara ucapkan, tercekat di tenggorokan.
Begitu juga Dea, gadis itu pun merasa kesulitannya untuk berbicara. "Mmmhh itu... A- Amara.. ma- mau ikut les..," jawab Dea sama gugupnya.
Mendengar jawaban Dea, Amara pun tolehkan kepala pada sepupunya itu. Ia berkerut alis, bertanya apa maksud ucapan Dea. Les ? Les apa yang akan diikutinya ? Amara kebingungan harus menjawab apa jika Gio bertanya lebih jauh lagi.
"Les apa ?" tanya Gio, tepat seperti dugaan Amara sebelumnya.
"Mmmh i- itu," Amara masih saja kesulitan menjawab pertanyaan Gio. Padahal biasanya Amara selalu bisa membuat kalimat-kalimat yang diucapkan dengan ketus dari bibirnya.
"Mmhhh... Les mengemudi," lagi-lagi Dea yang menjawab. "Tugas Amara kian bertambah banyak, dan di- dia harus bisa pergi dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya untuk mencari bahan tugas. Amara akan ikut les mengemudi, dan ku rasa kamu berhak tahu, Gio" lanjut Dea beralasan.
"Aku bisa mengantarmu, kemanapun kamu mau," sahut Gio cepat, seraya melihat pada Amara. Sedari tadi mata Gio tak sekalipun teralihkan dari istrinya itu, walaupun Dea berbicara dengannya.
"What ?" Amara bergumam pelan. Ia melihat tak percaya pada lelaki itu.
"Ya, aku bisa mengantarmu kemanapun dan kapanpun. jika kamu mau," ucap Gio lagi meyakinkan istrinya itu.
"Tapi.. kamu kan harus bekerja," potong Amara.
"Mmhh maksudku, aku bisa membawa serta pekerjaanku. Jadi... Kita bisa mengerjakan tugas secara bersamaan di perpustakaan. Karena sekarang ini bukanlah hal yang mudah untuk mencari supir pribadi yang bisa dipercaya, seperti sopirnga Mama," sahut Gio menimpali. Ya, selama ini, Gio selalu meminta pertolongan supir pribadi sang Mama jika dirinya tak bisa mengantarkan Amara.
"Ngh.. tak usah Gio, aku tak ingin merepotkanmu,"
"Aku sama sekali tak merasa direpotkan. Lagian Dea bisa membantu beberapa pekerjaanku di kantor. iya kan, De ?" potong Gio. Masih dengan matanya yang hanya tertuju pada Amara, padahal ia baru saja menyebutkan nama Dea.
Dea yang melihat dan juga mendengar itu hanya bisa terdiam terpaku di tempatnya berdiri. 'Les mengemudi' yang tadi Dea sebutkan hanyalah sebagai pengalih perhatian. Tapi nyatanya Gio menanggapinya dengan sangat serius. Lelaki itu terlihat begitu mengkhawatirkan Amara hingga ia berani untuk mengorbankan waktu dan juga tenaganya hanya untuk membantu Amara.
"Bu- bukannya aku tak setuju kamu ikut les itu. Hanya saja, les mengemudi membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk sementara, aku bisa mengantar kemanapun kamu mau," ucap Gio lagi. Ia berusaha meyakinkan Amara jika dirinya bisa diandalkan.
"Atau aku bisa mengajari mu untuk mengemudi, jadi kamu bisa melakukannya kapan saja," lanjut Gio. Ia tak ingin di cap sebagai suami yang membatasi kegiatan istrinya. Walaupun hubungan suami-istri di antara mereka tak seperti orang kebanyakan. Keduanya tidur terpisah dan sama sekali tak pernah bermesraan. Kehadiran Evan di antara mereka pun, murni karena kesalahan yang Gio lakukan.
Perhatian yang Gio berikan cukup membuat Dea sadar jika lelaki itu memang sangat mencintai Amara. Tapi sayang, sepupunya itu tetap pada pendiriannya. Yaitu mengejar mimpinya dengan pria lain. Dea yang telah jatuh hati pada Gio merasa semakin kasihan pada lelaki itu. Ia pun berharap Gio mau membuka hati pada gadis lain. Dan Dea berharap gadis itu adalah dirinya.
"Jadi gimana, Amara ?" Pertanyaan Gio membuyarkan lamunan Dea. Ia pun menatap pada Amara, menanti jawaban dari sepupunya itu.
"Tak usah Gio, aku gak pa-pa. Aku masih bisa pakai kendaraan umum jika kamu tak ada. Sekarang banyak layanan taksi online, kamu tak usah khawatir," jawab Amara.
Gio mengangguk paham. Ia memaksakan diri untuk tersenyum di wajahnya yang kecewa. Padahal ini bukanlah penolakan Amara yang pertama kalinya, tapi tetap saja Gio merasa sedih setiap istrinya itu menolaknya.
"Oh ok, jika kamu butuh aku tinggal bilang saja," timpal Gio seraya mengambil sebuah apel dari dalam kulkas. Lalu ia berlalu pergi, meninggalkan Amara juga Dea.
"Ara... Sepertinya Gio benar-benar menyukaimu. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia ingin bisa terlibat dalam urusan mu,"
"Jadi.. Gio berhak tahu yang sebenarnya, Ara. Agar dia siap dengan kepergianmu,"
Amara anggukan kepala, membenarkan ucapan Dea. "Hu'um.. aku akan bicara padanya nanti," sahut Amara menyetujui.
***
Hari pun terus berlalu, Amara disibukkan dengan tugasnya yang kian bertumpuk. Amara bekerja keras agar kuliahnya selesai lebih cepat. Ia ingin masalahnya juga segera usai. Jika tak ada aral melintang, perkuliahan Amara akan selesai bertepatan dengan ulangtahun anaknya yang ke satu, yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.
Amara mengetuk pintu rumah orangtuanya. Hari ini ia pulang ke rumah karena ada satu buku kuliahnya yang tertinggal. Kedatangan Amara cukup membuat Ibunya terkejut. Amara datang sendirian, tanpa memberi kabar lebih dulu. Sehingga ibunya berpikiran buruk.
"Loh Ara ? Kok sendiri ?" Tanya sang ibu. Karena biasanya ada Gio yang selalu mengantarnya.
"Iya Ma, langsung dari kampus. Ada buku Ara yang ketinggalan, Ara gak akan lama kok," Amara segera menerobos masuk setelah dirinya bersalaman dengan sang ibu. Kamar, adalah tujuan Amara saat ini.
Ibu Amara gelengkan kepalanya, ia sangat tahu watak anaknya itu. Amara adalah pekerja keras. Ia selalu mengerjakannya tugasnya dengan serius. Tak heran jika Amara mendapatkan beasiswa karenanya.
Saat Amara berada di dalam kamarnya, ibu Amara pergi ke dapur. Ia menyiapkan segelas teh manis dingin dan juga memotong kue brownis yang tadi pagi dibuatnya. Lalu ibu Amara membawanya di atas nampan. Ia mengantarkan itu semua ke dalam kamar Amara.
"Ara ?" Tanya sang ibu karena kamar Amara yang kosong melompong, tak ada Amara di dalamnya.
"Ara ?" Tanya sang ibu lagi.
"Ara di kamar mandi, Ma !" Sahut Amara.
Ibu Amara pun meletakkan nampannya di atas meja, lalu ia duduk di tepian ranjang. Menunggu Amara yang masih berada di dalam kamar mandi. Ibunya yang merasa rindu itu ingin mengobrol sebentar dengan anaknya. Padahal kemarin pun mereka baru bertemu, ibu Amara datang berkunjung untuk melihat keadaan Evan.
Tapi ternyata Amara cukup lama berada di dalam kamar mandi. Ponsel Amara yang tergeletak di atas kasur berbunyi. Ada sebuah pesan masuk di sana.
Posisi ponselnya yang sedang berada dalam aplikasi pesan membuat sang ibu bisa membaca isinya. Wanita paruh baya itu terkejut luar biasa saat ia tahu dengan siapa Amara berkirim pesan mesra.
Pandangan mata Amara beradu dengan ibunya saat gadis itu keluar dari kamar mandi. Tanpa ibunya beritahu pun, Amara sudah tahu jika ibunya itu membaca pesannya bersama Danis.
"Ara ?" Tanya sang ibu, meminta penjelasan dengan apa yang Amara lakukan. Ibunya itu selalu menasihati Amara agar mau berlapang dada menerima suratan takdirnya, dan ia juga meminta Amara untuk mau menerima kehadiran Evan. Dan selama itu terjadi, Amara selalu mengangguk patuh tapi kini ia tahu yang sebenarnya.
"Biar Amara jelaskan semuanya, Ma,"
Sang ibu anggukan kepala, dan meminta Amara untuk duduk di sebelahnya.
"Maafin Ara... Tapi Ara sudah putuskan untuk menyusul Danis ke sana. Ara gak bisa ninggalin Danis, Ma" ucap Amara mengawali penjelasannya.
to be continued ♥️