
Amara dan Gio keluar dari kamar mereka secara bersamaan. Setelah apa yang terjadi tadi malam, hubungan keduanya menjadi canggung padahal sebelumnya hubungan mereka sempat menjadi dekat.
"Selamat pagi," ucap Amara dan Gio hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Amara menarik nafas dalam, hatinya terasa begitu ngilu saat memikirkan Gio yang tak lama lagi akan bersama dengan Dea. Padahal Amara pun akan melakukan hal yang sama dengan Danis, tapi tetap saja dalam sudut hatinya yang paling dalam Amara merasa tak rela.
"Bu.. ada Non Dea," ucap Bik Marni sang ART membuat Amara sadar dari lamunannya. Ia pun beradu pandang dengan Gio, seolah saling bertanya dengan kedatangan Dea di hari yang masih pagi ini.
"Baiklah... Sebentar," sahut Amara. Ia pun berjalan mendahului Gio untuk menemui sepupunya itu.
Dea sudah berdiri di ruang tamu dengan membawa dua kantung plastik. "Hai Ara, aku sengaja datang untuk membuatkan kalian sarapan," ucap Dea dengan senyumnya yang cerah. Amara tahu mengapa Dea lakukan itu, pasti karena rasa bersalahnya.
"Ayo kita buat bersama !" ucap Dea lagi dan Amara pun tak bisa menolaknya. Tak mungkin ia mengusir sepupunya itu, walaupun sebenarnya Amara pun tak ingin bertemu sepupunya saat ini.
"Ayo," sahut Amara menyetujui. Mau tak mau ia mengiyakan ajakan sepupunya itu.
"Aku akan membuatkan nasi goreng pedas. Kamu suka kan Gio ?" Tanya Dea yang kini melihat pada Gio. Gadis itu tersenyum lebar padanya. Berusaha untuk mengambil hati Gio yang tengah marah.
"Gio mau kan ?" Tanya Dea lagi karena Gio hanya terdiam menatapnya.
"Aku juga datang untuk bicara dengan kalian," lanjut Dea kemudian. "Ku harap kita bisa sarapan bersama sambil membicarakan tentang yang tadi malam," ucap Dea. Senyuman di bibirnya pun surut. Berganti raut wajah sendu dan juga bersalah.
***
Ketiganya duduk bersama dalam satu meja. Canggung mereka rasakan satu sama lain. Dea duduk bersebelahan dengan Amara, sedangkan Gio di hadapan mereka.
Dea pun menceritakan tentang rencana perjodohan itu dan alasannya menerima. Dea katakan jika ia lakukan itu semata-mata demi Evan.
Apa yang Dea katakan membuat Amara dan Gio berpikiran jika Dea juga sebagai korban di sini. Hanya saja ia yang mengorbankan dirinya sendiri dengan sukarela. Membuat Amara dan juga Gio tak bisa menyalahkan apalagi marah pada gadis itu.
"Ku harap kamu tak marah padaku, Gio," ucap Dea dengan wajah memelas penuh rasa bersalah. Gio yang melihat itu pun menjadi merasa iba padanya. Gio anggukan kepalanya pelan, dan ia tersenyum tipis pada Dea.
Amara merasakan panas dalam hatinya. Ia tak rela mata Gio menatap pada sepupunya itu. Mati-matian Amara menahan diri untuk tak meluapkan rasa marahnya.
"Terimakasih atas pengertianmu," ucap Dea lagi. Wajahnya yang tadinya sendu kini berubah cerah hanya karena Gio mau mengerti tentang keadaannya.
Sedangkan Amara, melihat keduanya dengan hati yang semakin terbakar api cemburu. Sampai-sampai ia jatuhkan sendoknya tanpa disengaja hingga menimbulkan bunyi dentingan yang cukup nyaring "Maaf," sahut Amara karena merasa telah merusak momen Dea dan Gio.
"Dan kamu juga Amara... Semoga tak marah denganku. Ku harap hubungan kita tetap dekat seperti dulu," ucap Dea penuh mohon.
"Ten- tentu.. aku tak mungkin marah padamu," sahut Amara terbata. "terimakasih banyak karena mau berkorban untuk Evan,"
"aku sangat menyayangi Evan. akan aku lakukan apapun untuknya," sahut Dea, membuat Gio benar-benar tak bisa menolak rencana perjodohan itu.
***
Menjelang siang, Dea belum juga pulang. Gadis itu menghabiskan waktunya dengan Evan. Bermain bersama, bahkan Dea juga yang menyuapi Evan makan.
Sedangkan Amara, ia pergi ke dalam kamar dengan alasan ingin mengerjakan tugas. Padahal yang sebenarnya terjadi, Amara tak bisa berada di ruangan yang sama dengan Gio dan juga Dea. Hatinya terus menerus merasa ngilu jika melihat Gio berinteraksi dengan sepupunya itu.
Berdiam diri di dalam kamarnya pun tak banyak membantu karena pikiran Amara terus melayang pada Gio dan Dea yang sedang berada di luar. Tak tahan lagi, Amara pun memutuskan untuk pergi dari rumahnya.
"Mau ke mana ?" tanya Gio saat ia melihat Amara sudah terlihat rapi.
"Mmhhh.. aku.. aku mau pulang ke rumah Mama karena ada buku yang tertinggal di sana," jawab Amara beralasan. Padahal ia sendiri pun tak tahu akan pergi ke mana.
"Mumpung ada Dea yang bisa nemenin Evan, makanya aku pergi dulu," lanjut Amara, menguatkan alasannya untuk pergi.
"Kamu bisa temenin Evan kan, De ?" Tanya Amara saat Dea tolehkan kepala padanya.
"Ten- tentu.. tapi kenapa kamu pergi, Ara ?"
"Ada buku yang tertinggal di rumah Mama. Padahal bukunya mau aku pakai untuk mengerjakan tugas," jawab Amara pada Dea.
"Baiklah... Aku akan menjaga Evan sampai kamu pulang. Kalau kamu mau kemana Gio?" Tanya Dea saat ia melihat Gio pun berdiri dan mengambil dompetnya yang terletak di atas meja.
"Aku mau antar Amara dulu,"
"Jangan !!!" potong Amara cepat. Saat ini dirinya benar-benar ingin sendirian dan menenangkan diri.
"Kasian Dea harus jaga Evan sendirian," lanjut Amara lagi.
Gio pun melihat pada Dea. "Tak apa-apa, aku bisa sendiri kok," ucap Dea. Walaupun ia berkata seperti itu, tapi wajahnya terlihat memelas.
Amara juga bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Dea, dan ia paham bagaimana Gio menjadi bingung karena diantara dua pilihan. Tak ingin mempersulit keadaan, Amara pun memutuskan untuk segera pergi.
"Aku bisa sendiri kok. Lagian aku sudah pesan taksi online. Aku pergi ya," pamit Amara.
"Nanti pulangnya aku jemput," ucap Gio.
"Gak usah ! Aku bisa pulang sendiri,"
"Aku bilang, aku jemput Amara... Jadi tunggu aku !" Kata Gio lagi. Matanya menatap tajam, mengisyaratkan bahwa perkataannya tak bisa dibantah.
Mendengar hal itu, entah mengapa perasaan Amara menjadi tak karuan. Matanya hampir basah. Mati-matian Amara menekan perasaannya sendiri.
"Ba- baiklah terserah kamu saja."
"Tak mungkin aku membiarkan kamu pulang sore sendirian. Jadi tunggu aku ya?"
Bisa Dea lihat dengan jelas bagaimana Gio begitu mengkhawatirkan Amara. Bahkan lelaki itu mengantarkan Amara hingga istrinya itu menaiki mobil taksi online yang sudah dipesannya. Tanpa rasa malu, Gio meminta sang supir untuk berhati-hati dalam menjalankan kendaraannya. Dan mengatakan pada Amara agar segera menghubunginya begitu ia sampai di rumah ibunya.