
Amara berdiri mematung, tanpa ia sadari air bening jatuh dari kedua matanya. Amara merasa sangat sedih karena penolakan Evan.
Gio yang tadinya fokus menenangkan Evan kini beralih pada Amara. Gio tersentak ketika melihat Amara berdiri sambil menangis. "Sayang... Evan hanya terkejut. Ia belum terbiasa lagi dengan kehadiran kamu. Beri Evan waktu," kata Gio berusaha untuk memberikan pengertian pada Amara.
Amara hanya mengangguk pelan sembari mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Tanpa Gio ketahui, Amara menyalahkan dirinya sendiri atas sikap Evan.
Amara merutuki dirinya sendiri sebagai ibu yang tak baik karena telah meninggalkan anaknya itu. "Bukan salah Evan ! Tapi salahmu sendiri, Ara ! Kamu yang jahat meninggalkannya. Sungguh kamu seorang ibu yang paling buruk di dunia !" batin Amara dalam hati.
"Pa.. pa..," Evan eratkan pelukannya seolah tak ingin ingin dilepaskan.
"Ya Sayang... Papa di sini, Mama juga ada. Dan adek Evan pun ada, sebentar lagi Evan mau jadi kakak," ucap Gio seraya memberikan ciuman di wajah Evan.
Takut-takut Evan mengintip pada Amara. Namun hanya sebentar saja, karena setelahnya ia segera menyembunyikan dirinya dalam dekapan Gio.
Perasaan Amara begitu campur aduk saat mata jernih Evan menatapnya meskipun itu hanya sekejap saja. Pandangan mata polos itu mengalirkan energi luar biasa pada Amara. Ia bertekad untuk merebut kembali cinta Evan.
"Apa yang Evan sukai ? Aku akan membuatkannya sarapan," tanya Amara.
"Evan sangat suka es krim, seperti kamu," jawab Gio sambil tersenyum.
"Es klim," Evan bergumam pelan.
"Hu'um... Evan sama kaya mama suka es krim, tapi tentunya gak boleh mam es krim karena masih pagi," sahut Gio.
Amara terenyuh melihat bagaimana interaksi Gio dengan Evan. Begitu lembut dan penuh kasih sayang. Amara merasa beruntung karena bisa kembali pada lelaki itu.
"Evan suka makanan berkuah seperti sup," jawab Gio lagi.
"Baik ! Aku akan membuatkannya. Tunggu sebentar ! Dan aku juga akan menyiapkan sarapan untukmu, Gio." Dengan penuh semangat Amara bergegas pergi.
Amara kembali ke kamar Gio, tak ada lagi rasa takut pada dirinya. Amara membersihkan diri sekedarnya, hanya agar merasa lebih segar. Setelah itu, Amara membuka lemari Gio dan menyiapkan pakaian untuk suaminya itu bekerja. Ini adalah pertama kalinya Amara melakukan itu, membuatnya senyum-senyum sendiri.
Masih dengan semangat menggebu, Amara pergi ke dapur. Ia mengatakan bahwa ingin menyiapkan sarapan untuk Evan dan juga Gio. Atau bahkan untuk kedua mertuanya.
Pelayan yang tadinya ragu karena tugas mereka akan diambil alih, akhirnya menyetujui karena Mama Gio pun mendukung apa yang akan Amara lakukan.
Perut buncit Amara tak menjadi penghalang, ia mengolah beberapa jenis bahan makanan untuk sarapan. Amara membuat sup ayam untuk Evan dan nasi goreng untuk Gio beserta kedua orangtuanya.
Sedangkan Gio, ia segera pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap kerja. Mata Gio membola tak percaya ketika melihat setelan jasnya untuk bekerja sudah Amara siapkan. Lengkap dengan pakaian dalam dan lainnya.
Gio senyum-senyum sendiri, hangat ia rasakan dalam dadanya. Gio merasa bahagia dengan hebatnya karena ini pertama kalinya Amara menyiapkan segala sesuatu untuknya.
***
Amara tengah meletakkan nasi goreng di atas meja makan saat Gio datang. Pandangan mata keduanya bertemu dan saling terkunci untuk beberapa saat. Lalu senyum terbit di bibir Gio juga Amara.
Amara merasa senang karena Gio mengenakan jas pilihannya, sedangkan Gio merasa senang dengan apa yang Amara lakukan padanya.
"Ya," jawab Gio sembari mendudukkan tubuhnya di kursi. Aura bahagia terlihat dari wajahnya yang tampan.
Tak lama orangtua Gio pun datang dan bergabung untuk sarapan bersama. Evan duduk di kursi khusus bayi miliknya. Ia duduk di antara Evan dan juga ibu mertuanya. Sedangkan Amara duduk tepat di sebelah Gio. Ia melayani Gio di meja makan.
"Terimakasih, Sayang," ucap Gio, hingga semburat merah muncul di kedua pipi Amara. Ia tak menyangka jika Gio akan memanggilnya dengan kata sayang, padahal di sana ada kedua orangtuanya.
Mama Gio tersenyum simpul, ia pun ikut merasakan bahagia karena Gio dan Amara.
Kebahagiaan Amara tak berhenti sampai di sana. Evan makan dengan lahap, anak lelakinya itu sangat menyukai sop yang dimasak oleh Amara.
"Nanti siang Mama buatkan puding susu coklat ya," ucap Amara penuh semangat.
"Aku juga mau !" potong Gio.
"Ya untuk kamu juga," sahut Amara.
Setelah selesai sarapan, Amara mengantarkan Gio hingga ke pintu. Satu hal yang Amara belum pernah lakukan sebelumnya. Ia mencium punggung tangan Gio, sebelum suaminya itu pergi.
Lagi-lagi jantung Gio dalam keadaan tak aman. Detaknya terlalu kencang karena sikap manis Amara padanya.
Tapi tak sampai di sana Amara membuat jantung Gio harus bekerja ekstra. Ia jinjitkan kakinya agar bisa meraih bibir suaminya itu dan mengecupnya lembut. "Selamat bekerja, Sayang. Aku akan sangat merindukanmu," ucap Amara dengan tatapan matanya yang dalam dan penuh rasa cinta. Ia juga mengatakannya secara gamblang tanpa rasa malu.
"Ya Tuhan, Ara... lama-lama aku bisa diabetes karena sikapmu yang manis ini," desah Gio. Matanya menatap sayu pada Amara.
"Jangan bosan dengan kata-kata cinta ku, Gio. Aku ingin mencintaimu dengan ugal-ugalan, tak lagi sembunyi-sembunyi seperti dulu," sahut Amara, dan itu membuat Gio tertawa.
"Jangan gemes-gemes banget, Amara. Aku karungin baru tahu rasa," gemas Gio pada istrinya itu. Ya Tuhan... perasaan Gio tengah melambung tinggi di awan.
"Jangan karungin, tapi kamarin," ucap Amara sambil menggigit bibir bawahnya. Ia pun tak menyangka bisa mengeluarkan kalimat nakal itu dari mulutnya. Ini kali pertama Amara berkata seperti itu pada lelaki.
Gio yang mendengar itu sontak membolakan mata. Bukannya pergi, Gio malah kembali masuk ke dalam rumahnya. Bahkan ia membuka kancing jasnya.
"Gio apa yang kamu lakukan ?" tanya Amara terheran karena kini Gio menggandeng tangannya.
"Hari ini aku gak jadi masuk kerja."
"Ke- kenapa ?" tanya Amara cemas.
"Ada yang minta aku kamarin," jawab Gio seraya membawa Amara menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Bahkan Gio tak menghiraukan perkataan sang mama yang bertanya kenapa ia kembali lagi.
To be continued ♥️