
Amara memang terlihat ceria, tapi hati Danis berkata lain. Ada sesuatu yang mengganjal tentang gadis yang dicintainya itu. Telah berlalu lebih dari setengah tahun sejak Danis meninggalkan Amara. Tapi walaupun keduanya terpisahkan oleh jarak dan waktu, cinta yang Danis rasakan tak pernah berkurang pada Amara. Yang terjadi malah sebaliknya. Perasaan Danis semakin kuat pada tunangannya itu. Amara lah yang menjadi alasan Danis bersemangat mengejar impiannya. Hanya demi Amara lah, Danis bekerja keras.
Setelah melakukan panggilan video itu, rasa rindu Danis kian menjadi-jadi. Ia tak berkonsentrasi bekerja karena wajah cantik Amara selalu terbayang di kepalanya. Bahkan sekarang saja Danis sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Padahal saat ini ia tengah menikmati makan siang bersama teman-teman Indonesia nya yang lain. Dan ada Karina di sana yang terus memperhatikan sikap diam Danis.
"Is everything ok?" (Apa semua baik-baik saja ?) Tanya Karina cemas. Gadis itu memang sangat lembut dan penuh perhatian.
Danis tersentak dari lamunannya dan tersenyum samar pada Karina. "Yeah.. aku baik-baik saja," jawab Danis.
"Benarkah ? Kamu terlihat tak bersemangat hari ini," lanjut Karina.
"Mmmhhh.. sebenarnya...," Danis menjeda ucapannya. Ia merasa sedikit ragu untuk bercerita.
"I knew it ! ( Aku sudah mengetahuinya ! ) Aku tahu jika kamu sedang tak baik-baik saja," ucap Karina sambil mengepalkan tangannya. Ia merasa senang karena tebakkannya benar. Dan apa yang Karina lakukan membuat Danis tertawa karenanya.
"Jadi apa yang terjadi ? Masalah pekerjaan ? Apa ada yang bisa aku bantu ?" Tanya Karina beruntun.
Danis menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan soal pekerjaan," jawab Danis.
"Oh," ucap Karina sambil tersenyum tipis. Ia tegakkan tubuhnya karena perasaannya menjadi tak menentu secara tiba-tiba. Karina sudah bisa menebak apa yang sebenarnya sedang Danis pikirkan.
Dan benar saja dugaannya, Danis pun menceritakan tentang Amara yang pindah rumah. Padahal Danis merasa Amara tak perlu lakukan hal itu karena jarak rumah dan kampusnya tak begitu jauh.
Karina mendengarkan dengan seksama, tak sekalipun ia memotong ucapan lelaki itu. Karina biarkan Danis bercerita hingga akhir.
"Bolehkah aku memberikan pendapat ?" Tanya Karina hati-hati.
Danis anggukkan kepalanya, "ya tentu saja," jawabnya.
"Ku rasa... Tunanganmu itu mungkin sedang belajar untuk hidup mandiri. Hingga ia akan terbiasa hidup terpisah dengan keluarganya. Dengan begitu, Amara tak akan merasa kesulitan saat ia datang ke sini nanti. Ia tak akan selalu merindukan rumahnya. Mungkin seperti itu," jelas Karina. Ia berusaha untuk memberikan pikiran positif pada Danis, walaupun sebenarnya ia merasa ngilu tepat di ulu hati.
Ingin rasanya Karina memberikan masukan negatif agar Danis bisa sedikit melupakan tunangannya. Tapi Karina bukanlah gadis jahat seperti itu. Jadi ia simpan rapat-rapat perasaannya sendiri yang telah lancang tumbuh sejak pertama kali ia bertemu Danis untuk pertama kalinya.
Wajah Danis yang sedari tadi terlihat muram, kini berangsur ceria. Danis merasa apa yang Karina ucapkan ada benarnya. "Thanks Karin, kamu emang teman yang sangat baik," puji Danis.
"Woi kalian asik ngobrol berdua aja !" Sindir salah satu teman mereka.
"Hahahah, habis kalian bahas pertandingan bola melulu. Aku kan gak ngerti !" Sahut Karina beralasan.
"Jadi aku bahas soal makanan aja sama Danis. Iya kan, Dan ?" Tanya Karina sambil tertawa.
"Hu'um," jawab Danis membenarkan.
"Ah sorry... Ayo kita bahas tentang rencana piknik akhir pekan ini," ucap orang itu lagi
"Ayo !! Gimana kalau kita pergi hiking saja ?" Tanya Karina penuh semangat. Dan gadis itu tak sadar jika Danis tengah memperhatikannya.
Danis tersenyum tipis saat melihat Karina berbicara. Ia bersyukur dalam hatinya karena mendapatkan seorang teman yang selalu memberikan pengaruh positif padanya. Karina begitu nyaman untuk diajak bercerita. Gadis itu tak pernah menghakimi ataupun berpikiran buruk. Ia selalu mendukung Danis dalam keadaan apapun. "Aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu. Amara juga pasti akan sangat menyukai mu," batin Danis dalam hatinya.
***
Sedangkan di Indonesia waktu telah menunjukkan pukul satu malam. Ya, Jakarta dan Boston memiliki perbedaan waktu sebanyak 12 jam. Dan waktu di Indonesia berjalan lebih cepat dari kota yang ada di benua Amerika itu.
Amara baringkan tubuhnya di ranjang baru dan kamar baru. Kini ia tidur sendirian. Amara pikir tidur sendiri akan membuatnya nyaman dan leluasa tapi nyatanya hingga pukul 1 pagi, dirinya masih belum bisa memejamkan mata.
Entah karena kelelahan ataupun karena ia belum terbiasa di tempat baru itu. Inilah kali pertama Amara tinggal di sebuah tempat yang bukan rumah orangtuanya.
Amara putar tubuhnya dan menatap ke arah pintu. Ia ingin sekali pergi keluar dan mengetuk kamar Gio. Amara ingin bertanya apakah lelaki itu tak bisa tidur seperti dirinya ?
Tapi sayangnya Amara tak bisa lakukan itu semua. Sikap Gio berubah setelah acara berbenah tadi. Ia tak banyak bicara, dan wajahnya pun terlihat ditekuk. Sepertinya Gio sedang dalam suasana hati yang tidak baik. "Pasti karena Gio kecapean," gumam Amara pelan. Ia mencari alasan sendiri karena perubahan sikap Gio padanya.
Tak lama, ponselnya bergetar dan Amara segera meraihnya. Di layarnya terdapat nama Danis dan emoji bergambar kamera, menandakan tunangannya itu mengirimkan sebuah foto.
Amara cepat-cepat membukanya. Ia tak sabaran untuk melihat foto yang dikirimkan kekasihnya itu. Senyum Amara hilang saat melihat gambar Danis tak sendirian. Ada seorang gadis yang tersenyum ke arah kamera sambil memperlihatkan jarinya yang menunjukkan angka dua.
Amara tahu tentang gadis itu karena Danis beberapa kali bercerita tentangnya. Danis mengatakan jika Karina sangat banyak membantunya. "Semangat tinggal di rumah baru, salam dari Karina. Kita lagi makan siang rame-rame," tulis Danis di caption foto itu. Dan tak lama, Danis pun mengirimkan foto-foto lainnya yang menunjukkan jika di meja itu ada banyak orang yang sedang makan siang bersama.
"Oke have fun ya, Sayang. Aku mau tidur dulu," balas Amara. Lalu ia mengirimkan fotonya yang tengah berbalut selimut.
***
"Hoek.. Hoek..," Amara berusaha untuk mengeluarkan isi perutnya di dalam toilet yang ada di kamarnya. Usia kandungannya sudah menginjak 7 bulan tapi ia masih saja sering merasakan mual di pagi hari.
Asalnya Amara merasa terheran, tapi kemudian ia ingat apa yang Ibu Gio katakan padanya beberapa waktu lalu. "Mama dulu masih sering merasa mual-mual padahal perut sudah sangat besar," Amara berpikir jika bayi yang dikandungnya benar-benar mirip Gio saat suaminya itu masih dalam kandungan ibunya.
"Sungguh merepotkan," gumam Amara pelan. Ia ingin bangkit dan mengambil tisu tapi perut mualnya memaksa Amara untuk tetap berjongkok menghadap toilet.
"Mual lagi ?" Tanya Gio yang tiba-tiba datang dengan sekotak tisu. Lelaki itu sudah terlihat tampan dengan setelan baju kerjanya. Ia menggulung kain kemejanya hingga lengan dan ikut berjongkok di sebelah Amara. Gio memijat lembut tengkuk Amara dan melap bibir basah istrinya itu tanpa rasa jijik sama sekali.
"Apa sudah merasa baikan ?" Tanya Gio cemas.
Amara anggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban.
"Ayo aku bantu berdiri," ucap Gio seraya menahan lengan Amara agar tak terjatuh. Dan ia pun menekan tombol flush di toilet.
Gio memapah Amara untuk kembali ke kamarnya. Ia dudukkan istrinya itu di tepian ranjang, lalu Gio memberikan Amara segelas air hangat. "Minumlah," titah Gio, dan Amara pun menurutinya.
"Sudah lebih baik ?" Tanya Gio penuh perhatian.
"I- iya, terimakasih," jawab Amara terbata-bata.
"Syukurlah, ayo kita sarapan. Aku sudah membelikanmu roti. Nanti siang aku akan meminta Bi Marni ( asisten rumah tangga ibunya) untuk belanja dan mengisi kulkas kita yang kosong,"
Amara tak menanggapinya, ia sibuk mengamati Gio yang kini berubah seperti Gio yang biasanya. Penuh perhatian dan tak ketus lagi seperti kemarin.
"Amara ?" Tanya Gio terheran karena Amara terus menatapnya. Membuat dada Gio berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Ah.. nggak apa-apa," sahut Amara singkat.
"Gio, jika Bi Marni ke sini, lalu bagaimana dengan ibumu ?" Tanya Amara, mengingat Bik Marni adalah orang kepercayaan mertuanya itu.
"Bi Marni hanya membantu belanja saja. Nanti ada yang akan membantumu di rumah ini, tapi bukan dia," jawab Gio.
"Ooh baiklah..."
"Sudahlah, jangan pikirkan hal itu. Ayo segera bersiap dan sarapan," ajak Gio dan Amara pun menyetujuinya.
***
"Aku jemput jam 5 sore ya," ucap Gio pada Amara yang baru saja turun dari mobilnya. Dan masih seperti dulu, Gio menurunkan Amara cukup jaih dari gerbang kampusnya. Amara masih tak ingin seorang pun tahu tentang hubungannya dengan Gio.
"Iya," jawab Amara dan cepat-cepat Amara tinggalkan mobil Gio sebelum ada yang melihatnya.
Setibanya di gerbang kampus, pundak Amara dirangkul oleh seseorang yang ternyata adalah sepupunya, Dea.
"Ya ampun, De ! Bikin kaget aja !" Ucap Amara seraya menepuk-nepuk dadanya yang kini berdebar kencang.
"Dasar nenek-nenek!" Cibir Dea.
"Eh gimana Gio ? Masih marah ?" Tanya Dea penasaran.
"Nggak, udah balik biasa lagi,"
"Mmm Ara, aku rasa Gio marah karena cemburu padamu. Aku kok jadi kasihan ya sama Gio ? dia orangnya baik banget," ucap Dea dengan wajahnya yang berubah sendu dan Amara sangat tak menyukainya. Amara tak suka jika sepupunya itu peduli pada lelaki yang telah berbuat jahat padanya.
"Cemburu ? Ada-ada saja ! Tak mungkin lah, De. Dia itu cuma nitip benihnya doang di aku. Gak ada perasaan apapun di antara kita. Kalau kamu ngerasa kasihan sama dia, ambil saja !"
To be continued
Jangan lupa tinggalkan jejaak yaaa.