
"Karena... Setelah bertemu denganmu... Aku tak pernah memikirkannya lagi,"
"A- apa ?" Amara bergumam pelan tapi Gio masih bisa mendengarnya dengan jelas. Mata Amara membola saat mengatakannya dan itu membuat Gio menjadi salah tingkah.
"Mmmhhh... Mak- maksudku... Mmh a- apa yang terjadi pada kita adalah murni kesalahan aku. Jadi aku... Fokuskan pikiranku untuk mencari jalan keluar dari masalah yang telah aku lakukan. Hingga aku tak memikirkan dia lagi," jelas Gio.
Keterkejutan terlihat jelas di wajah Amara. Gio tak ingin membuat istrinya itu menjadi ketakutan. Gio khawatir perasaan cintanya pada Amara akan membuat istrinya itu menjauhinya. Gio sadar bukan dirinya lah yang Amara inginkan.
"A- aku mengerti," sahut Amara sambil tersenyum tipis. Untuk sesaat ia berpikir jika Gio mempunyai perasaan lain padanya sejak dulu. Tapi yang dikatakan oleh lelaki itu memang masuk akal. Gio adalah seseorang yang penuh tanggung jawab.
"Tentu saja ia memikirkanmu karena rasa tanggung jawabnya yang besar," ucap Amara pada dirinya sendiri dalam hati.
Tak lama pintu lift pun terbuka. Ketiganya telah sampai di lantai yang diinginkan. Amara langkahkan kakinya keluar dan ia terpukau dengan mewahnya tempat makan mereka malam ini.
Ini adalah kali pertama Amara mendatangi tempat semewah itu. Yang datang pastilah orang-orang penting dan berduit. Terlihat dari pakaian dan juga aksesoris yang mereka kenakan. Tempatnya pun tak begitu penuh, karena bagi mereka kenyamanan adalah nomor satu. Alunan musik jazz lembut semakin menyempurnakan suasana malam itu.
"Ayo," ajak Gio karena Amara masih berdiri terdiam terpaku di tempatnya.
"Ah ya..," sahut Amara sambil anggukan kepala. Ia pun mengikuti langkah Gio.
"Giovanni Abraham," ucap Gio pada seorang pelayan yang mengenakan setelan jas rapi. Lelaki itu tersenyum pada Gio dan mengajak Gio serta Amara untuk mengikutinya.
Amara langkahkan kakinya semakin dalam ke restoran itu. Ia masih saja terpukau dengan suasana yang tercipta di sana. Dan Amara semakin terpesona lagi saat mengetahui tempatnya makan malam ini berada di kawasan VIP dengan pemandangan kota di malam hari yang yang indah. Lokasinya yang sedikit jauh dari meja lain membuat ia dan Gio serta Evan bisa menikmati makan malam tanpa gangguan.
"Kamu menyukainya ?" Tanya Gio takut-takut. Untuk Amara, Gio ingin memberikan yang terbaik dan tak mengecewakan.
"I- iya, aku suka. Di sini sangat indah, Gio," jawab Amara.
Gio bernafas lega. "Syukurlah jika kamu menyukainya, Amara." ucapnya sambil tersenyum lembut pada istrinya itu.
"Bisa titip Evan sebentar, aku ingin pergi ke toilet dulu,"
"Tentu... Sini sayang. Amara pun meraih Evan dalam pangkuannya.
"Terimakasih," ucap Gio dan ia pun melenggang pergi.
"Ini kursi khusus bayinya, Nyonya. Kursi ini di design khusus hingga akan terasa nyaman juga aman ketika diduduki." Seorang pelayan datang dengan membawakan kursi khusus bayi.
"Terimakasih," sahut Amara dan ia pun di bantu oleh pelayan itu, mendudukkan Evan di kursinya.
Evan pun tak rewel sama sekali, bayi 9 bulan itu duduk manis di kursinya. Seolah-olah sangat mendukung kencan mama dan papanya di malam ini.
Amara membuka tasnya karena ingat akan sesuatu. Ia mencari benda pipih miliknya di dalam tas itu. Setelah mendapatkannya, Amara cepat-cepat mematikan dayanya. Malam ini Amara tak ingin diganggu oleh siapapun. Termasuk... Danis...
Amara menarik nafas dalam. Tiba-tiba saja dadanya berdebar kencang. Ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri yang ingin menikmati waktu bersama Gio saja. Bukankah seharusnya Amara tak merasakan hal itu ?
"Ada apa ?" Tanya Gio yang mendadak muncul dan duduk di hadapan Amara. Ia bertanya seperti itu karena melihat wajah Amara yang menegang dengan ponsel di tangannya.
"Hah ? Oh tidak !" Cepat-cepat Amara memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
"Syukurlah jika begitu. Mau pesan sekarang ?" Tanya Gio dan Amara pun anggukan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban.
Keduanya memesan menu istimewa di restoran itu. Sambil menunggu pesanannya datang, Amara dan Gio mengobrol ringan seputar pekerjaan dan juga kegiatan kuliah Amara. Selain itu juga keduanya menggoda Evan, anak mereka. Ketiganya terlihat bagai keluarga kecil bahagia.
Amara terlihat beberapa kali mengusap lengan. Apa yang Amara lakukan tak pernah luput dari perhatian Gio. "Apa kamu kedinginan?" Tanya Gio.
"Hmmm... Tempat ini lebih dingin dari rumah kita," jawab Amara.
"Mau pakai jas ku ?" Tanya Gio. Sebenarnya Gio bisa saja langsung membuka jas dan mengenakannya pada Amara. Tapi Gio begitu menjaga perasaan Amara. Ia tak mau menjadi lelaki agresif yang akan akan membuat Amara takut.
"Bolehkah ? Tapi kamu akan kedinginan," jawab Amara.
Gio yang mendengar itu tersenyum lebar. "tentu saja boleh," jawabnya sembari membuka kancing jas itu. Lalu Gio berdiri dan mendekati Amara untuk menyampirkan jasnya itu di bahu Amara.
"Kamu jangan khawatir, aku orangnya sangat kuat," lanjut Gio seraya mengangkat lengannya bak binaragawan. Amara yang melihat itu tertawa dibuatnya.
Lalu Amara segera tundukkan kepalanya, pipinya terasa panas saat ia ingat bagaimana Gio bertelanjang dada. Otot-otot yang menghiasi tubuh Gio terlihat liat. Tentunya lelaki itu sering berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuhnya.
Dan tak hanya itu yang membuat pipi Amara bersemu merah. Wangi parfum maskulin milik Gio, menyeruak dan memanjakan indra penciumannya. Amara merasa dipeluk secara tak langsung oleh suaminya itu. Memikirkan hal itu membuat tubuh Amara meremang dengan tiba-tiba. "Ya Tuhan... Apa yang kamu pikirkan, Amara ? Berhentilah berpikir yang tidak-tidak !!" Kesal Amara dalam hati.
Tak lama pesanan mereka pun datang, dan keduanya pun menikmati makan malam mereka.
***
Semua terasa begitu menyenangkan. Makanan yang enak, suasana yang nyaman dan obrolan yang tak ada hentinya. Membuat Amara dan Gio benar-benar menikmati makan malam mereka.
Evan pun tak rewel sama sekali. Ia sibuk berceloteh dan bermain. Membuat kedua orangtuanya merasa begitu gemas padanya.
Tak terasa sudah dua jam mereka berada di sana. Bahkan Evan sudah tertidur di pangkuan Gio. Hari makin larut, dan ketiganya harus segera pulang. Walaupun sebenarnya Gio dan Amara masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi.
"Mmhh.. nanti mau kan kalau aku ajak makan malam lagi?" Tanya Gio takut-takut.
"Ten- tentu saja," jawab Amara seraya anggukan kepala.
Gio terdiam sejenak, seolah tengah memikirkan sesuatu. "Mmhhh... Bagaimana jika aku hanya mengajakmu saja ? Maksudku, kita hanya pergi berdua saja ke tempat ini,"
"Iya, aku mau," jawab Amara tanpa memerlukan waktu untuk berpikir dahulu.
Gio terkejut mendengar jawaban yang Amara berika. Begitu pun Amara, ia tak mengerti mengapa menyetujui ajakan Gio begitu saja.
to be continued ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak ya