
Amara benar-benar menghabiskan mie goreng yang Gio buat. Habis tak bersisa sedikitpun dan Gio menjadi senang karenanya. Beberapa kali Gio tersenyum tipis hanya karena melihat Amara makan banyak.
"Aku kekenyangan," des*h Amara terdengar manja. Dan lagi-lagi itu membuat Gio tersenyum senang karenanya.
"Kamu suka ? Kalau iya nanti aku masakin lagi. Lain kali aku tambahin kepiting deh," kata Gio.
"Mmmh lumayan," jawab Amara. Ia terlalu malu untuk mengakui jika mie goreng buatan suaminya itu adalah yang terbaik yang pernah ia rasakan selama ini. Gio pasti akan menjadi besar kepala karenanya.
Gio pandangi wajah Amara sembari mengul*m senyumnya. Membuat Amara menjadi salah tingkah karenanya. "Apa ?" tanya Amara. Ia rasakan panas di kedua pipinya saat Gio menatapnya hangat dan juga lembut seperti ini.
"Mmmhh lumayan tapi kok habis sih ?" goda Gio sambil menahan tawanya.
Amara tak menjawab, yang ia lakukan adalah mendelikkan matanya pada Gio. Membuat Gio tertawa karenanya. "Iya, iya... Enak.. aku suka banget. Puas ?" tanya Amara sembari mencebikkan bibirnya karena kesal.
"Bukan puas... Tapi suka," jawab Gio. "Suka karena kamu menyukai masakan aku. Nanti aku buatin lagi, mau ya ?" tanya Gio. Wajahnya yang ceria dan tatapan matanya yang lembut membuat Amara salah tingkah dibuatnya.
Amara mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban. Bahkan ia tak sanggup untuk mengatakan "iya" karena Amara yakin bibirnya akan gemetar saat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
"Baiklah... Malam Minggu nanti, aku masakin lagi," janji Gio.
Lagi-lagi Amara mengangguk pelan. Mata lembut Gio bagai menghipnotisnya hingga ia tak mampu untuk berkata-kata.
Yang keduanya lakukan hanya saling bertukar pandang tanpa berbicara. Amara menelan ludahnya paksa saat wajah Gio mendekat dengan perlahan. Amara tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya karena pandangan mata lembut Gio kini berubah sayu penuh damba.
"Booooommm !!!"
Tiba-tiba suara ledakan di TV membuat keduanya tersentak. Baik Gio maupun Amara sama-sama terkejut, hingga membuat Gio kembali menjauh dari Amara. Suasana pun menjadi canggung diantara mereka berdua.
"Kayanya jahatnya yang baju merah itu deh," ucap Gio. Ia berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja berubah karena momen hampir berciuman tadi.
"Ehem," Amara berdehem. Menetralkan suaranya yang terdengar serak. "Se- sepertinya sih iya," timpal Amara terbata.
"Kirain aku dia itu salah satu agen juga loh," sahut Gio. Sungguh ia ingin menghilangkan suasana canggung dengan Amara. Gio takut Amara menjadi pergi karena apa yang akan dilakukannya tadi.
"A- aku juga mikirnya begitu," masih Amara menjawabnya dengan terbata. Lalu Gio pun mengungkapkan pendapatnya lagi. Hingga suasana kikuk yang sempat tercipta pun hilang dengan sendirinya.
Film terus berlangsung dan Gio benar-benar menikmatinya. Ia terus fokus pada layar sampai ia rasakan berat di lengannya dengan tiba-tiba. Gio pun tolehkan kepala dan mendapati Amara sudah jatuh tertidur di sampingnya. Kepala istrinya itu bersandar padanya.
Waktu yang tersisa dari film itu masih 45 menit lagi. Walaupun Gio terus menontonnya tapi sungguh ia tak lagi berkonsentrasi dengan apa yang dilihatnya. Apalagi Amara dengan tak sadar menjatuhkan diri dan kini tertidur di pangkuan Gio. Membuat lelaki itu semakin kehilangan fokusnya.
"Kenapa cepat banget selesainya ?" keluh Gio saat film yang ditontonnya selesai juga. Mau tak mau Gio harus memindahkan Amara ke kamar. Taka ada alasan lagi untuk menahannya di sana.
Pelan-pelan Gio bergerak, ia tak mau membangunkan istrinya itu. Gio amati wajah Amara untuk beberapa saat sebelum ia memangkunya ke dalam kamar. "Sayang banget sama kamu," ucap Gio dalam hati. Lelaki itu tersenyum menatap wajah Amara yang tertidur lelap. Dadanya menghangat dan dipenuhi rasa cinta yang kian membuncah. Sampai-sampai Gio lupa jika Amara akan segera meninggalkannya.
"Seandainya aku menciummu tadi, apakah kamu akan menolaknya?" batin Gio dalam hati. Ia membayangkan bagaimana wajah mereka tadi sempat saling mendekat.
"Mmhhh," gumam Amara sembari sedikit menggeliatkan tubuhnya.
"Sstttt... Tidurlah Sayang..,"/ ucap Gio seraya menggendong Amara seperti pengantin dan membawa isterinya itu ke dalam kamar.
Amara setengah tersadar saat ia rasakan tubuhnya melayang di udara. Ingin Amara membuka mata, namun dekapan dan harum tubuh Gio membuatnya nyaman hingga matanya terasa begitu berat untuk terbuka.
Gio mendorong pintu kamar Amara dengan pundaknya. Ia melangkah masuk dan dengan perlahan meletakkan tubuh Amara di atas ranjang. Lalu Gio selimuti tubuh Amara hingga pundak.
"Selamat tidur dan mimpi indah," ucap Gio lembut sembari menatap wajah Amara dengan penuh rasa cinta. Ingin ia membelai lembut Amara, tapi Gio tak mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu. Yang Gio lakukan adalah berdiri dan menjauh pergi. Ia mematikan lampu kamar Amara sebelum benar-benar meninggalkannya.
***
Amara terbangun dengan kehangatan selimut di tubuhnya. Sungguh ia tertidur dengan nyenyak semalaman. Rasa nyaman yang membuatnya seperti itu.
Amara terkejut saat ia terbangun di dalam kamarnya. Seingatnya, tadi malam ia dan Gio menonton film bersama di ruang tengah. Tapi mengapa pagi ini dirinya sudah berada di dalam kamar.
"jadi semalam bukan mimpi ?" tanya Amara pada dirinya sendiri. Ia teringat saat tubuhnya melayang di udara dan dekapan hangat lengan Gio membuatnya merasa nyaman luar biasa. Kedua pipi Amara terasa panas saat membayangkannya.
Amara juga merasakan gelenyar aneh di dalam hatinya. Ia sadar jika Gio memang seorang lelaki yang baik. Buktinya semalam, Gio tak mengambil kesempatan saat Amara tertidur lelap. Lelaki itu tak melampiaskan nafs*nya seperti dulu saat ia mabuk karena minuman beralkohol.
"Amara, sudah bangun ? Ayo sarapan bersama. Evan juga nanyain kamu terus dari tadi," ucap seseorang dari balik pintu dan ia tahu itu siapa.
Itu adalah Gio yang sedari tadi berada di dalam kepalanya. "Ya Tuhan... Bagaimana aku harus mengahadapi Gio sekarang ?" gumam Amara pelan. Perasaannya menjadi tak karuan hanya karena akan bertemu suaminya itu.
bersambung ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa...