
Setelah puas makan es krim, keduanya melanjutkan dengan menonton film. Amara yang tengah hamil besar duduk menunggu di kursi. Sedangkan Gio berdiri mengantri tiket. Beberapa kali lelaki itu menolehkan wajahnya dan melihat pada Amara hanya untuk memastikan istrinya itu baik-baik saja.
Amara akan bertanya "apa ?" Dari kejauhan pada Gio yang melihat padanya. Dan suaminya itu akan menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Gio tak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin menatap Amara saja.
Amara rasakan gelenyar aneh dalam hatinya dan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Oleh karena itu, Amara tundukkan kepala, menghindari tatapan mata Gio yang mulai mempengaruhinya. Ia berpura-pura fokus pada layar ponselnya, padahal layanan datanya sengaja Amara non aktifkan karena ia tak mau seorangpun menghubunginya ketika bersama Gio. Terutama Danis sang tunangan. Amara takut tak bisa memberikan alasan yang tepat. Akhir-akhir ini Danis terlihat semakin curiga padanya.
Tiba-tiba saja Gio duduk di sebelah Amara, membuatnya tersadar dari lamunan. Wangi popcorn yang berbalut butter membuat Amara hampir saja meneteskan air liurnya. Amara tak mengerti mengapa ia begitu bernafsu untuk makan padahal biasanya tak seperti itu. Mati-matian Amara menahan diri untuk tak memintanya karena Gio pasti akan terkejut karena belum lama Amara juga menghabiskan banyak es krim.
Keduanya membisu, Amara masih sibuk dengan ponselnya sedangkan Gio cukup merasa senang karena bisa duduk berduaan. Bolosnya Gio hari ini terbayarkan dengan sangat baik.
Di dalam bioskop pun Gio lebih sering mencuri pandang pada istrinya itu daripada mengikuti film yang sedang ditayangkan. Sedangkan Amara sibuk pada film dan juga popcorn yang tadi Gio beli. Entah mengapa rasanya begitu nikmat, berbeda dari yang Amara beli sebelumnya. Hanya hari ini semua makanan terasa nikmat di mulut Amara.
"Mau kemana lagi ?" Tanya Gio setelah mereka keluar dari bioskop.
"Masih sore sih, tapi kalau mau pulang ayo saja," jawab Amara.
Gio tersenyum dan ia merasa paham jika Amara masih ingin menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan itu dan Gio memanfaatkannya untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. "Bagaimana jika kita jalan-jalan ke food court ? Sambil nyari buat makan malam ?" Tawar Gio.
Susah payah Amara menahan diri untuk tak tersenyum senang. Sungguh Gio memahami apa yang dirinya inginkan. Dengan gayanya yang sok dingin Amara menyetujuinya. "Boleh," jawabnya singkat padahal dalam hatinya Amara merasa senang dengan hebatnya.
Keduanya tiba di rumah saat hari sudah gelap. Saking kelelahannya Amara, ia tidur pulas di samping Gio. Di sepanjang perjalanan, Gio memuaskan diri untuk menatap istrinya itu. "Mumpung lagi nggak galak," batin Gio dalam hatinya dan ia tertawa saat memikirkan itu.
Gio berlari kecil ke rumahnya, meminta pelayan untuk membuka pintu dan menyiapkan kamar Amara. Lalu ia kembali ke mobilnya dan menggendong Amara seperti pengantin baru.
Walaupun Amara tengah hamil besar, tapi tubuhnya terasa ringan di dalam gendongan Gio. "Se- kurus ini kamu, Ara ?" Gio membatin. "Pasti kamu benar-benar menderita karena aku," lanjut Gio, dan ia benar-benar merasa bersalah karenanya.
***
Waktu terus berlalu, hubungan Amara dengan Gio setingkat lebih baik. Amara bisa diajak bicara dalam nada suara yang normal. Tak lagi bicara ketus dan culas pada Gio.
"Aku bawakan bakso dan mie ayam. Mau yang mana ?" Tanya Gio. Setiap pulang kerja Gio selalu membawa makanan ke rumah. Dengan begitu ada alasan bagi mereka untuk bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama yaitu dengan makan bersama. Dan beruntungnya bagi Gio, Amara mau menerimanya.
"Aku mau bakso !" Jawab Amara cepat. Akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat karena Gio selalu membawakannya makanan setiap lelaki itu pulang kerja.
"Oke," jawab Gio menyetujui. Ia pun meminta pelayannya untuk menyiapkan makanan itu. Dan tak lupa Gio membeli dalam porsi lebih untuk pelayannya.
Setelah tersaji di atas meja, pikiran Amara berubah. "Aku mau mie ayam," ucapnya memelas pada Gio, bertepatan dengan Gio yang akan memasukkannya ke dalam mulut.
"Beneran ?" Tanya Gio memastikan, dan Amara mengangguk pelan.
Dengan sangat sukarela, Gio menukar makanan mereka. "Apa sih yang nggak buat kamu," batin Gio dalam hatinya.
"Terimakasih banyak, Gio !" Ucap Amara sambil tersenyum lebar, membuat Gio langsung merasa kenyang tanpa harus makan. Senyum yang akan Gio bayangkan malam ini sebelum ia tidur.
Danis masih sering menghubungi Amara, dan Gio merasa semakin cemburu saja. Setelah hubungannya dengan Amara membaik, perasaan cintanya pun kian dalam pada istrinya itu. Ingin rasanya Gio meminta pada Amara untuk berhenti berhubungan dengan kekasihnya dan membina rumah tangga dengan sebenar-benarnya dengannya.
***
Amara tengah menonton TV sambil membaca diktat kuliah saat Gio datang dan duduk di sebelahnya. Ya, bahkan Amara sudah bisa menerima keberadaan Gio di dekatnya.
"Aahhh," pekik Amara terkaget. Tendangan di dalam perutnya begitu kuat hingga ia megaduh.
"Kenapa ?" Tanya Gio cemas.
"Bayinya menendang !" Jawab Amara.
Gio tatapi perut istrinya itu dan melihat pergerakan di sana. Dada Gio berdebar kencang hanya karena melihat itu semua. "A- Amara... Bolehkah aku menyentuhnya ?" Tanya Gio takut-takut.
Takut Amara menjadi marah dan menolaknya. Tapi, tanpa Gio sangka Amara memberinya izin. "Bo- boleh," jawab Amara tergagap, membuat Gio menatap istrinya itu tak percaya.
"A- aku gak akan lama," janji Gio, lalu ia bangun dan berlutut di hadapan Amara. Keduanya menelan saliva masing-masing yang terasa kelat. Sama-sama berdebar tak karuan. Pandangan mata keduanya bertemu saat Gio meletakkan telapak tangannya yang besar di atas perut buncit Amara.
Mata Gio memburam, saat ia rasakan getaran-getaran kecil di telapak tangannya. "Ya Tuhan..," gumam Gio yang tak bisa menyembunyikan rasa haru bahagianya. Ia tundukkan kepala dan berbisik pada perut Amara. "Ini Papa, Sayang. Baik-baiklah di dalam sana dan sehat terus ya, Nak," ucap Gio, membuat tubuh Amara meremang.
"Dan jangan bikin susah Mama mu ya," lanjut Gio. bahkan tanpa malu, ia menyeka air matanya. Gio tengadahkan kepalanya dan mendapati Amara tengah menatapnya.
Pandangan mata keduanya saling terkunci untuk beberapa saat. Tak tahan lagi, Gio pun dekatkan wajahnya dan begitu pun Amara yang sedikit tundukkan kepala. Jarak keduanya kian terkikis, hingga hembusan nafas hangat bisa Gio dan Amara rasakan di wajah mereka masing-masing.
Bibir keduanya hampir saja bersentuhan, namun dering ponsel Amara yang nyaring membuat keduanya kembali ke alam sadar mereka.
"Ha- halo Danis Sayang...," Amara segera menjauhkan wajahnya dari Gio dan secepatnya menerima panggilan itu.
Sedangkan Gio bangkit dari berlututnya dengan dada bergemuruh. Perasaannya begitu campur aduk antara terkejut juga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dan rasa cemburu yang tak bisa ia bendung lagi.
Gio berdiri dan berjalan menjauhi Amara yang berbicara pada Danis dengan bibir bergetar. Amara pun merasakan pergulatan batin yang hebat. Perasaannya begitu campur aduk, ia tak percaya dengan apa yang hampir saja terjadi dan ia pun merasa bersalah pada Danis.
"A- aku mau ke kamar," ucap Amara pada Gio yang berdiri tak begitu jauh darinya. Saat ini Danis sudah mengakhiri panggilannya.
Gio tak menyahutinya, ia tetap berdiri dengan raut wajahnya yang terlihat sendu. Merasa tak ditanggapi, Amara pun segera bangkit dari tempat duduknya dan kemudian berjalan menuju kamarnya.
Namun langkah kakinya terhenti saat Gio mengeluarkan kata-kata. "Bisakah kamu tak menerima panggilan itu di hadapanku ?" Tanya Gio dengan begitu jelasnya, membuat Amara terdiam terpaku di tempatnya berdiri. Rupanya lelaki itu tak bisa lagi menahan diri.
"Silahkan saling berhubungan karena aku tahu akulah yang bersalah di sini. Tapi... Bisakah kamu lakukan semua di belakangku saja ? Agar aku tak usah melihat dan mendengarnya ?" Lanjut Gio tanpa bisa menyembunyikan patah hatinya.
To be continued
Terimakasih yang masih setia baca.
Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote ya.