Hate You, Love You

Hate You, Love You
Selanjutnya



Telah berlalu satu bulan lamanya, dan Amara sudah terbiasa menyusui anaknya. Walaupun masih dengan embel-embel uang yang Gio kirimkan. Dan lelaki itu benar-benar menepatinya.


Tak heran jika Gio bekerja lebih keras dari sebelumnya. Ia begitu sibuk. Tapi walaupun begitu, sebisa mungkin Gio pulang tepat waktu. Karena bagian malam adalah bagiannya untuk menjaga Evan.


Seperti sekarang ini, penampilan Gio begitu kacau. Jam masih menunjukkan pukul satu siang. Tapi, Gio sudah menggulung kain lengan kemejanya hingga siku. Dasi sudah terlepas dari kerah nya. Bahkan ia membuka dua kancing bagian atas kemejanya itu. Rambut Gio juga sudah terlihat lebih panjang.


Beberapa bulan ini, sungguh Gio tak memperhatikan dirinya. Ia hanya bekerja keras agar dapat memenuhi syarat yang Amara berikan. Maklum saja, sang ayah belum menempatkan Gio di tempatnya lagi yang semula. Ia masih harus berjuang, akibat perbuatan jahatnya yang fatal pada Amara.


Tapi Gio tak pernah patah semangat, setidaknya rasa patah hatinya yang dulu karena dikhianati sang kekasih kini teralihkan pada anaknya Evan dan juga... Amara...


Ya Amara...


Walaupun istrinya itu sangat dingin dan ketus, tapi nyatanya Gio tak bisa berhenti untuk menaruh hati padanya. Bahagia Gio adalah saat melihat Amara dan anaknya bersama. Gio akan membayar berapapun itu, ia akan bekerja keras asal bisa terus melihat keduanya.


"Gio, kamu belum makan ?" Tanya Dea yang tanpa Gio sadari sudah masuk ke dalam ruangannya. Sepupu Amara itu masih bekerja di perusahaan Gio, karena kinerjanya yang memang baik. Dan kini pun mereka berteman dengan akrab.. Bahkan Dea beberapa kali datang ke rumah Amara untuk melihat keadaan Evan.


"Oh hai, belum... Memang sudah jam berapa ?" Tanya Gio seraya melirik jam tangannya. "Oh jam satu lebih... Waktu cepat sekali berlalu," desah Gio sembari menghela nafasnya yang dalam.


"Kebetulan aku bawain nasi Padang, mau ?"


Bukannya menjawab pertanyaan Dea, Gio malah merogoh sakunya dan mengambil benda pipih yang berada di dalamnya. Ia menggulir layar dan mencari nama Amara. "Sudah makan siang ? Jangan lupa minum vitamin dan minum susunya. Masih di kampus?" tulis Gio di aplikasi pesan singkatnya.


Mata Gio terus tertuju pada layar, menunggu tanda centang dua itu berubah menjadi biru. Dan apa yang Gio harapkan terjadi. Tanda itu berubah warna.


"Gio ?" tanya Dea, tapi Gio masih fokus menatap layar ponselnya karena nama Amara tengah mengetik balasan di sana.


"Aku udah makan. Ini udah di rumah. Evan lagi mimi," balas Amara singkat.


Gio tersenyum, hanya dengan begitu saja Gio merasakan bahagia. Padahal Amara tak balik bertanya tentangnya.


"Gio, kamu mau makan nasi Padang gak ?" Tanya Dea lagi.


"Mmh." Baru saja Gio akan menjawabnya pertanyaan Dea, tapi lagi-lagi perhatiannya teralihkan karena nama Amara kembali mengetikkan sesuatu di sana.


"Kamu juga jangan lupa makan, Gio," balas Amara, membuat Gio melengkungkan senyumnya. Mata lelah lelaki itu kini lebih hidup dari sebelumnya.


"Gio ?"


"Bentar," jawab Gio pada Dea, tanpa melihat ke arah gadis yang sedari tadi bertanya padanya.


Gio mengetikkan sesuatu tapi kemudian ia menghapusnya lagi. Ia mencari kata-kata yang tepat untuk istrinya itu. Padahal itu hanyalah sebuah pesan singkat biasa.


"Ini baru mau makan siang. Terimakasih atas perhatianmu :) ," balas Gio. Dan ia tak bisa menyurutkan senyuman dari bibirnya.


Pesan itu terkirim dan juga terbaca. Tapi, Amara tak lagi memberikan balasan. Walaupun begitu, Gio tak berkecil hati. Perhatian sederhana Amara tadi, cukup membuat hari Gio jauh lebih baik. Rasa lelahnya di hari ini amat sangat terobati.


"Ya udah, kalau gak mau ! Aku pergi saja," ucap Dea yang merasa kesal karena Gio tak juga menanggapinya.


"Ah sorry !" sahut Gio sembari memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam sakunya. Lalu barulah ia melihat pada Dea.


"Oke aku mau ! Sini kita makan bareng," ajak Gio. Dan mati-matian Dea menahan rasa senangnya agar tidak terlihat kentara.


"Hu'um... Sekretaris Om kamu sakit kemarin. Jadi, aku yang menggantikan beliau untuk menemani rapat dan menghandle semua keperluannya,"


Gio manggut-manggut paham. "Bisa-bisa kamu ditawari jadi pekerja tetap di sini, Dea. Om Johan memuji kinerja mu yang baik,"


"Oh ya ?" tanya Dea Antusias. Matanya berbinar bahagia saat mengatakan hal itu.


"Hu'um... Apa kamu ada rencana lain setelah lulus kuliah ?" Bukan tanpa alasan Gio bertanya seperti itu. Ia ingat Amara yang telah merajut mimpinya sejak lama. Mimpi yang tak ada dirinya sama sekali di dalamnya.


"Tak ada.. aku tak ada rencana apapun setelah lulus. Aku hanya ingin mendapatkan pekerjaan tetap,"


"Semoga saja kamu bisa bekerja di sini, Dea," ucap Gio yang memang mengakui jika Dea sangat berkompeten untuk bekerja di perusahaannya. Sedangkan Dea, ia merasa senang dengan perasaan yang lain.


***


Amara duduk di sebuah sofa dengan bayi Evan di pangkuannya. Bayi tampan itu menyusu dengan lahap, karena beberapa jam lalu Amara tinggalkan untuk kuliah.


Amara masih memperhatikan layar ponselnya, menatap balasan pesan yang Gio berikan. Lelaki itu sangat perhatian dan lembut, walaupun Amara sering berbicara ketus padanya.


Tapi sebulan terakhir ini hubungannya dengan Gio semakin membaik. Semua itu terjadi karena keduanya saling bekerjasama dalam menjaga bayi Evan.


Dan tentang Danis, lelaki itu belum juga menghubunginya. Itu terjadi setelah Amara melahirkan Evan. Amara sendiri tak punya keberanian untuk menghubungi lebih dulu. Ia sadar jika kini dirinya tak bisa terus-terusan menyembunyikan tentang yang sebenarnya terjadi.


Amara menghela nafas dalam dan meletakkan ponselnya di atas meja yang letaknya tak jauh darinya.


Benda pipih itu bergetar padahal Amara baru saja meletakkannya. Ia pun segera mengambilnya kembali dan mengira jika Gio kembali mengirimkan pesan.


Mata Amara membola saat melihat nama Danis tertera di layar pop up ponselnya. Tubuhnya tiba-tiba gemetar saat membaca sebagian pesan dari lelaki itu. "Amara, sudah lama kita tak berbicara dan aku sudah tahu segalanya tentangmu."


To be continued


bismillah...


Novel ini saya lanjutkan karena sesuai arahan editor yang sudah memeriksa dugaan plagiat yang beberapa waktu lalu dituduhkan beberapa akun pada saya.


Setelah melakukan pemeriksaan, editor tidak menemukan adanya plagiat dalam novel ini.




Dan ingat ya alur Novel ini sudah dibuat hingga tamat sebelum tuduhan plagiat marak. silakan cek dipengumuman. Dan bagi para reader yang sudah lama mengikuti novel saya, pastinya tahu jika saya selalu mengikuti outline yang saya buat.


I don't care if you hate me.. Im still gonna shine anyway...


Rasa bencimu itu adalah masalahmu sendiri.


tapi ingat yaaa apa yang kamu lakukan akan kembali padamu juga 😊