
"Aku akan datang untukmu. Jadi tunggu aku...," Amara membacanya berulang kali, sebelum ia mengirimkan pesan itu. Amara pun mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan. Air bening yang jatuh tak terbendung lagi di pelupuk matanya.
Padahal inilah yang Amara inginkan. Setiap saat Amara selalu berharap agar Danis mau memaafkan dan tetap mau menerima dirinya apa adanya. Lalu meneruskan pertunangan mereka.
Tapi...
Ketika semua yang dirinya inginkan terwujud, Amara merasa tak lagi yakin. Ia gemetar takut dan juga meragu. Apakah benar Danis mau berbesar hati menerimanya ? Lalu bagaimana jika itu benar, apa yang harus ia katakan pada keluarganya dan juga... Gio...
Amara gelengkan kepalanya, ia lakukan itu untuk mengusir bayangan wajah Gio yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
"Tegaskan hatimu, Ara!" ucapnya pada diri sendiri.
Amara masih belum juga mengirimkan pesan yang ia tulis. Namun, pesan singkat dari Danis telah lebih dulu sampai di ponselnya. "Ara, kamu masih mau menyusulku kan ? Ku mohon datanglah padaku... Aku akan menunggumu selama apapun itu,"
Membaca pesan itu membuat Amara kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Masalah yang hadapi ia dan Danis hadapi sangatlah berat, rasanya tak cukup jika diselesaikan hanya melalui sebuah pesan singkat saja. Tapi, untuk melakukan panggilan telepon dan berbicara langsung pun Amara tak sanggup untuk melakukannya.
Danis begitu menuntut sebuah jawaban. Lelaki itu tak bersalah, tapi malah ia yang memohon Amara untuk tak meninggalkannya. Maka, semakin besarlah rasa bersalah Amara pada lelaki itu.
Amara menarik nafas dalam sembari memejamkan mata. Berharap dalam hatinya apa yang ia pilih memanglah yang terbaik. Dengan tangannya yang gemetar, Amara pun mengirimkan balasan. "Ya aku akan tetap datang padamu, jadi tunggu aku,"
Beberapa detik kemudian, setelah pesan yang Amara kirimkan telah dibaca oleh Danis. Ponsel yang Amara genggam itu bergetar. Terdapat nama Danis my fiancé' tertera di layarnya. Lelaki itu segera melakukan panggilan telepon setelah ia membaca pesan dari Amara.
Takut-takut Amara menekan tombol hijau bergambar gagang telepon di layarnya. "Ha- halo..," kata Amara dengan suaranya yang serak. Lalu tumpah lah air matanya kemudian. Amara meluruhkan tubuhnya di atas lantai dengan kepala tertunduk dan ponsel di telinganya.
Setelah sekian lamanya Amara menutupi semua, pada akhirnya ia membicarakan hal itu pada Danis tunangannya.
***
Gio tiba di rumah saat hari sudah gelap. Target pekerjaannya kian bertambah karena Gio harus memenuhi kewajibannya pada Amara. Ia gerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri sebagai cara melepas penat sebelum Gio turun dari mobilnya.
Gio tersenyum saat melihat ke bangku di sebelahnya. Di sana ada dua paper bag yang diperuntukkan bagi Amara dan juga bayi mereka, Evan.
Untuk Amara, Gio membawakan beberapa potong kue 'cheesecake blueberry kesukaan istrinya itu. Sedangkan untuk Evan, Gio membeli sebuah topi rajut yang bertuliskan nama Evan. Topi itu sudah Gio pesan sebelumnya. Adanya Evan dan Amara memberikan warna baru dalam hidup Gio. Bahkan lelaki itu sudah melupakan rasa sakit hatinya karena ditinggalkan sang kekasih yang berkhianat.
Gio meraih dua paper bag itu, lalu membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Lampu-lampu di rumah Gio sudah menyala dan ia tersenyum melihatnya. Membayangkan dua orang yang sangat Gio cintai berada di dalam rumah p.
Ya...
Seiring waktu dan kebersamaan mereka, rasa cinta Gio pun tumbuh kian besar pada Amara. Walaupun Gio tahu jika dirinya, hingga saat ini belum bisa memasuki hati sang istri.
***
Amara tengah duduk bersandar di sofa yang berada di ruang TV. Matanya tiba-tiba basah karena tangan mungil Evan menggenggam jemarinya begitu saja.
Bayi mungil itu sedang menyusu sambil memejamkan mata, sedangkan satu tangannya yang mungil menggenggam erat jemari Amara. Membuat perasaan Amara begitu tak karuan. Ada gelenyar aneh yang merasuki jiwa Amara dan rasanya begitu luar biasa saat itu terjadi.
Amara tolehkan kepalanya saat gagang pintu depan bergerak. Ia tahu jika Gio lah yang datang. Amara benar-benar tak sabar menunggu kedatangannya dan ingin segera memberi tahu lelaki itu apa yang sedang terjadi.
"Assalamualaikum," ucap Gio pelan dan ia langsung tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya. Wanita yang ia cintai dan anak kesayangannya ada dalam jangkauan mata.
"Gio ! Gio ! Sini !!" Mata Amara berbinar dan ia memanggil nama Gio dengan setengah berbisik.
"Ada apa ?"
"Sssttttt," Amara memotong ucapan Gio, mengisyaratkan suaminya itu untuk tak membuat kegaduhan agar bayi Evan tak terbangun. Gio pun paham. Bahkan ia langkahkan kakinya pelan, seperti mengendap-endap. Gio letakkan dulu dua paper bag yang ia bawa di atas meja. Lalu kemudian berjalan mendekati Amara.
"Kenapa ?" tanya Gio penasaran. Matanya menatap Amara kemudian pada Evan. Tapi cepat-cepat Gio palingkan wajahnya saat melihat Evan tengah tertidur pulas. Bagaimanapun Gio adalah lelaki dewasa yang normal. Melihat benda kenyal yang menyembul seksii milik Amara, membuat Gio gugup bukan kepalang.
"Ini..," kata Amara sembari menunjukkan jarinya yang tengah Evan genggam dengan kuat seolah tak ingin kehilangan. Mata Amara kembali memburam karena air mata saat mengatakan hal itu.
"Oh my...," Mata Gio pun meredup sendu saat melihatnya. Ia menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Rasa haru tengah meliputi dirinya. "Kok bisa ?" tanya Gio seraya merendahkan dirinya dengan cara berlutut agar ia bisa melihatnya dengan lebih dekat.
"Oohh Tuhan.. akupun ingin seperti itu," ucap Gio dengan raut wajah yang begitu menginginkan. Rasa cemburu begitu terlihat di wajahnya dan entah mengapa itu membuat Amara senang karena Evan lebih dulu melakukan itu padanya.
"Tapi sayangnya, aku yang lebih dulu mendapatkannya," sahut Amara. Terdengar nada bangga dalam ucapannya dan membuat Gio tersenyum karenanya.
"Sekarang bagian aku yang menjaganya. Kamu beristirahatlah," kata Gio.
"Ya.. tapi sebaiknya kamu membersihkan diri dulu,"
"Baiklah," Gio pun bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Tapi langkah Gio terhenti saat Amara mengucapkan sesuatu padanya.
"Ok, tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu ya," sahut Gio menyetujui.
***
Amara menanti dan tunggu dengan dada berdebar cemas. Mendadak ia merasa gugup hanya karena akan mengatakan keputusannya. Gio begitu baik dalam memperlakukannya. Sejahat apapun Amara bersikap, Gio tak membalasnya dengan kasar. Lelaki itu begitu sabar hingga membuat hati Amara yang keras pun mulai melunak. Dan kini ia sedikit kesulitan untuk mengatakan bahwa dirinya akan tetap menyusul sang tunangan.
Gio kembali dari kamarnya dengan pakaian yang begitu santai. Kaos oblong hitam dan celana pendek abu-abu yang kini Gio kenakan. Dari tubuhnya menguar wangi sabun mandi. Gio terlihat begitu segar.
"Maaf karena telah membuatmu menunggu,"
"Eh gak apa-apa kok, Evan nya juga masih bobo," sahut Amara yang masih saja memangku anaknya itu padahal Evan sudah tak menyusuu.
"Bolehkah aku menggendongnya ? Aku sangat merindukannya,"
"Tentu saja, tapi pelan-pelan ya. Jangan sampai Evan terbangun,"
"Baiklah..," sahut Gio menyetujui. Ia pun bungkuk kan tubuhnya untuk meraih Evan. "Dan aku pun sangat merindukanmu, Ara," batin Gio dalam hati saat tubuhnya mendekat pada Amara.
"Sstttt sayang.. sayang." Gio menimang-nimang bayi Evan dengan pelan. Ia lakukan itu agar Evan tak terbangun.
"Aku bawakan kamu sesuatu," kata Gio lagi pada Amara.
"Oh ya apa ?" tanya Amara penasaran.
"Itu, lihatlah sendiri di atas meja,"
Amara pun bangkit dari duduknya dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Lalu berjalan menuju meja yang tadi Gio tunjuk.
Setibanya di sana, yang pertama Amara buka adalah paper bag yang berisikan topi rajut milik Evan. "Lucu banget," kata Amara.
Tapi ternyata tak hanya milik Evan saja, di dalamnya ada sebuah syal berwarna biru dan abu-abu. Warna yang sama dengan topi milik Evan. Dan syal itu bertuliskan nama Amara di salah satu ujungnya. Amara pun mengeluarkannya dan melihatnya.
"Aku gak tahu kamu sukanya apa, jadi aku pesan itu saja. Maaf jika kamu tak suka," jelas Gio tanpa di minta.
Amara pun tersenyum samar. "Aku menyukainya, terimakasih banyak," sahutnya pelan. Lagi-lagi perasaan Amara menjadi kacau tak karuan karenanya.
Lalu Amara pun meletakkan syal itu di atas meja dan beralih ke paper bag yang berikutnya. Dari wanginya saja Amara sudah tahu, itu adalah cheese cake blueberry kesukaannya. Dengan penuh semangat Amara pun membukanya.
"Untukmu.. semoga bisa menjadi obat lelahmu di hari ini. Terimakasih sudah mau menjaga bayi Evan selama aku bekerja,"
Padahal Amara tahu jika Gio jauh lebih lelah dari dirinya. Tapi lihatlah, lelaki itu selalu saja menomorsatukan dirinya. Mendapatkan perhatian seperti itu membuat perasaan Amara semakin kacau tak karuan.
"Oh ya.. kamu mau membicarakan apa ?" tanya Gio.
"Hah ?" Amara tersentak dengan pertanyaan Gio.
"Tadi katanya ingin mengatakan sesuatu padaku,"
Amara tak langsung menjawabnya, yang ia lakukan adalah melihat pada Gio dengan tatapan mata yang begitu sulit Gio artikan.
"Amara ?"
"Mmhhh... Tak ada apa-apa kok,tak begitu penting," jawab Amara yang tiba-tiba saja tak bisa mengatakan keputusannya untuk menyusul Danis karena lidahnya menjadi kelu dan tak sanggup untuk menjelaskan semuanya.
bersambung...
novel ini saya lanjutkan karena telah diperiksa oleh dua editor dari Noveltoon yaa. Dan tuduhan plagiat yang beberapa lalu ramai membanjiri novel ini TIDAK TERBUKTI sama sekali. Jadi berhentilah menuduh karena saya memang tak melakukannya.
jika masih ada yang menuduh saya merubah alur, baca pengumuman sebelumnya ya. novel ini sudah saya buat outlinenya sampai selesai sebelum tuduhan plagiat merajalela. ada buktinya juga berupa screenshot percakapan saya dan teman yang membicarakan tentang novel ini.
sekian dan terimakasih.
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa.
Minal aidzin yaa semuanya..
maafin semua salah dan khilaf aku. 🙏🏻