
Amara terkesiap, susah payah ia menelan ludahnya sendiri. Mendadak jantungnya berdebar hebat. Keringat dingin mulai nenyeruak ke permukaan kulit. Amara merasa takut luar biasa.
"Maaf... Tapi miminya sudah dulu ya," ucap Amara dengan suaranya yang lembut pada Evan. Dengan perlahan ia melepaskan tautan bibir Evan dari dirinya. "Mbak Rani, bisa jaga Evan sebentar ? Ada yang harus aku lakukan,"
Sang baby sitter yang tengah membereskan baju Evan ke dalam lanci pun, sontak berdiri. "Tentu, Bu," jawabnya ramah. Lalu ia berjalan menuju Amara yang tengah duduk di atas sofa. Pelan-pelan Rani meraih Evan yang sudah tertidur pulas dalam pangkuan Amara.
Amara pun bangkit dari tempat duduknya, ia tak langsung pergi. Amara tatapi wajah damai Evan yang sedang tertidur itu. Perasaannya begitu tak karuan. Terbesit rasa takut jika Danis memintanya untuk meninggalkan Evan dalam waktu cepat, sedangkan bayi mungil itu masih memerlukan dirinya.
Deg !!
Amara terhenyak, matanya menjadi buram seketika. Tanpa ia sadari, rasa sayang pada anaknya itu ternyata mulai tumbuh. Ia pun geleng-gelengkan kepalanya. Berusaha untuk mengusir pikirannya sendiri tentang Evan. "Tidak, Ara ! Kamu hanya merasa berkewajiban untuk menyusuinya ! Hanya itu !" batin Amara dalam hati. Tapi nyatanya, di sudut hatinya yang paling dalam, Amara menolak pikirannya sendiri.
Ponsel Amara kembali bergetar. Pertanda sebuah pesan, kembali masuk ke dalam benda pipih itu. Ia melirik sekilas, dan lagi-lagi nama 'Danis my fiancé' tertera di sana. "Aku hanya sebentar," ucap Amara pada baby sitternya itu.
"Ibu tak usah khawatir, baby Evan sudah tidur. Akan saya letakkan di dalam boxnya," sahut Rani yang masih menimang bayi Evan dalam pangkuannya.
Amara mengangguk pelan. Padahal ia hanya akan pergi ke seberang, ke dalam kamarnya sendiri. Tapi ia rasakan tubuhnya masih ingin berada di sana, di kamar Evan. Mungkin bukan hanya tubuhnya saja, tapi hatinya yang ingin berada di dekat anaknya itu.
Tak banyak bicara lagi. Amara pun langkahkan kakinya ke luar, lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia dudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Dengan tangan gemetar, Amara pun menggulir layar ponselnya dan membaca pesan yang Danis kirimkan padanya.
"Dear Ara..," tulis Danis di baris berikutnya.
"Beberapa Minggu terakhir ini adalah waktu terberat dalam hidupku. Hatiku hancur saat aku tahu apa yang terjadi padamu. Dan asal kamu tahu, butuh keberanian besar untuk menulis pesan ini untukmu," tulis Danis lagi.
"Aku paham alasan dirimu tak ingin menceritakan semua, walaupun sebenarnya aku kecewa karena kamu tak pernah sekalipun mengatakan yang sebenarnya padahal kita selalu berkomunikasi,"
Amara membaca pesan itu sambil bercucuran air mata, bahkan ia tak sanggup untuk membalas banyak pesan yang Danis kirimkan. Kedua tangannya yang gemetar mencengkram erat benda pipih itu agar tak terlepas jatuh ke atas lantai.
"Aku sangat mencintaimu, Ara. Apa.yang terjadi padamu, tak mengurangi rasa cintaku meski hanya sedikit saja. Aku akan tetap menunggumu seperti dulu. Tak ada sesuatu pun yang berubah di antara kita. Semua yang kamu lakukan padaku... Membohongi aku tentang Gio yang ternyata adalah suami sementara mu, sudah aku maafkan tanpa kamu minta. Aku lakukan itu karena sangat mencintaimu, dan ku harap perasaan mu padaku juga masih sama." Air mata Amara turun semakin deras saat ia membaca pernyataan cinta dari tunangannya itu.
"Aku tahu kamu sedang membaca pesan ini. Aku sangat mencintaimu, Ara. Bahkan lebih dari sebelumnya. Apakah kamu akan tetap menyusulku ke Boston ? Kumohon datanglah... karena aku tak akan pernah berhenti untuk menunggu mu,"
Amara terisak, perasaannya begitu campur aduk saat ia mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang tunangan yang ternyata masih menerima diri Amara apa adanya. Bahkan Danis mengatakan jika ia telah memaafkan Amara yang selama ini membohonginya. Besarnya cinta Danis, membuat Amara semakin merasa bersalah pada tunangannya itu.
Amara menarik nafas dalam. Bayangan wajah Evan dan Gio melintas di kepalanya saat Amara akan mengetikkan balasan pesan. "Mungkin ini jawaban Tuhan, tentang semua do'a ku," batin Amara dalam hatinya. Apa yang ia minta, Tuhan kabulkan. Danis masih menerima dirinya dan dengan begitu Amara bisa menyusulnya ke sana. Dan Evan akan diurus oleh Gio.
Wajah Gio dengan tatapan mata lembutnya, terbayang di kepala Amara. "Gio pasti akan menjaga Evan dengan baik. Ia sangat menyayangi anaknya," l Amara membatin dalam hat. Air matanya kembali turun saat Amara memikirkan itu semua. Padahal ini yang Amara inginkan, tapi saat semuanya terjadi terbersit rasa ragu dalam hatinya.
"Sayang... Apa kamu akan menyusulku ? Ataukah aku yang harus pulang untuk menjemput mu ? Tentang anakmu... Aku tak akan membatasi mu, jika kalian ingin bertemu,"
Lagi-lagi kebaikan Danis membuat Amara semakin terpuruk dalam rasa bersalah yang begitu dalam. Bagaimana bisa Amara tak menuruti keinginan Danis yang sudah berbesar hati mau memaafkan dan menerima dirinya. Dengan tangan gemetar, Amara pun menuliskan balasan. "Aku akan datang untukmu. Jadi tunggu aku...,"
To be continued
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak yaaa