Hate You, Love You

Hate You, Love You
Aku Mengerti



Sudah berlalu satu bulan lamanya sejak kepergian Amara, dan tak terlewat sehari pun bagi Gio untuk tak memikirkannya. Bahkan surat perpisahan dari Amara selalu Gio bawa dalam saku jasnya.


Bukannya Gio tak ingin menyusul Amara dan memintanya kembali. Tapi Gio berusaha menghormati keputusan istrinya itu. Walaupun sakit Gio terpaksa melepaskan Amara karena Gio pikir itulah yang akan membuat Amara bahagia.


Bukankah tingkatan cinta yang paling tinggi itu adalah rela melepaskan orang yang kita cintai agar dia bahagia ? Dan itulah yang Gio lakukan meskipun hatinya begitu tersiksa.


"Ya, hanya itulah yang bisa saya laporkan," ucap seorang lelaki yang mengenakan setelan jas itu. Saat ini ia sedang duduk saling berhadapan dengan Gio di ruangannya dan mereka terlibat dalam pembicaraan yang sangat serius.


Ya... Setelah mencapai keberhasilannya beberapa waktu lalu, kini Gio sudah kembali ke posisinya yang awal sebagai CEO perusahaan. Gio sudah menempati ruangannya sendiri.


Pembicaraan keduanya harus terganggu karena ketukan di pintu, dan muncul lah Dea di sana. "Gio sudah waktunya makan siang," ucapnya sambil melangkah kaki ke dalam.


Sang tamu pun berdiri sambil merapihkan jas yang dikenakannya. "Baiklah Pak Gio, saya undur diri," ucapnya dengan sopan. Bahkan ia sedikit bungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan.


Gio pun berdiri dan menyalami tangan lelaki itu. "Saya tunggu kabar berikutnya, dan tolong awasi dengan benar," pinta Gio.


"Tentu saja, saya dan tim akan melakukan yang terbaik untuk anda," sahut lelaki itu.


"Terimakasih," ucap Gio.


Dan selama itu terjadi Dea hanya bisa melihatnya tanpa mampu bertanya banyak. Meskipun ia dan Gio akan bertunangan tapi nyatanya Gio sangat membatasi diri padanya. Jadi sebisa mungkin Dea yang mendekati Gio. Seperti saat ini dirinya mengajak Gio untuk makan siang bersama, agar hubungannya dengan Gio semakin dekat.


"Ada apa ?" Tanya Gio pada Dea yang berdiri sambil melihat tamu Gio pergi. Lelaki itu tak pernah Dea lihat sebelumnya. Dea yakin jika ia bukanlah klien Gio ataupun salah satu pegawainya.


"Aku ingin mengajakmu makan siang," jawab Dea.


"Lain kali jangan masuk dengan tiba-tiba, jika aku sedang menerima tamu."


Dea yang mendengar itu pun langsung tundukkan kepala. "Maaf," ucapnya dengan perasaan sesal.


"Aku hanya ingin makan siang bersama. Sudah lama kita tak melakukannya. Hari Minggu lalu aku ke rumahmu untuk bertemu Evan pun kamu tak ada di rumah."


"Ah ya maaf... Aku sibuk sekali," jawab Gio.


"Jadi... Mau kan makan siang denganku ?" Dea bertanya lagi. Wajahnya terlihat begitu sendu. Gio yakin gadis itu akan menumpahkan air matanya jika ia menolak.


"Baiklah," kata Gio. "Tapi aku tak bisa lama. Setelah ini ada janji temu dengan calon klien."


"Ya sebentar saja tak apa-apa. Kita makan siang di cafe yang ada di lantai bawah." Wajah Dea yang tadi sendu berangsur ceria karena Gio mau makan siang dengannya.


Dan disinilah keduanya berada. Di sebuah cafe yang berada di lantai dasar di gedung yang sama dengan kantor Gio berada.


Gio dan Dea duduk dengan saling berhadapan. Sedari tiba tadi, Gio sibuk dengan menu yang ada di tangannya. Dea tahu jika Gio tengah menghindari tatapan matanya.


Bukan tanpa alasan Gio berlaku seperti itu. Ketika ia berada dekat dengan Dea, maka bayangan wajah Amara semakin terbayang di kepalanya dan itu membuat Gio tersiksa.


Dea begitu perhatian, cantik, dan sayang pada Evan. Semua yang Dea miliki nyaris membuatnya menjadi seorang gadis sempurna.


Tapi se- sempurnanya Dea, tetap yang Gio inginkan hanya Amara seorang. Dea yang merupakan 'duplikat' Amara tak bisa membuat Gio jatuh cinta.


Dan setiap Gio menatap mata Dea, maka bayangan masa lalunya bersama Amara yang terlihat di sana. Gio pernah berusaha menyukai Dea, tapi bayangan Amara selalu menghantuinya.


"Gio..." ucap Dea, membuat Gio melihat ke arahnya.


"Mmhhh.. apa kamu sudah mulai melakukan proses cerai itu?"


Mendapat pertanyaan seperti itu, Gio pun menatap tajam pada Dea. Rasa tak suka terlihat begitu kentara di wajahnya, membuat Dea menjadi gelagapan.


"Mmhh maksudku... Amara juga pasti memerlukan status yang pasti darimu agar ia bisa menikahi Danis secepatnya. Tak mungkin Amara tinggal dengan Danis jika ia masih terikat dalam sebuah pernikahan denganmu."


"Tentang hal itu, adalah urusanku," sahut Gio sembari tundukkan kepalanya lagi dan melihat pada menu.


Gio tak perlu merasa cemas Amara akan tinggal dengan Danis tanpa sebuah ikatan. Gio yakin istrinya itu adalah wanita baik-baik dan itu terbukti dari laporan orang suruhannya tadi yang mengatakan jika Amara memang tinggal di gedung yang sama dengan Danis tapi mereka menempati unit yang berbeda.


Setelah Gio kembali memimpin perusahaan, ia pun mempunyai kuasa lagi untuk melakukan hal itu. Semua fasilitas yang dulu diambil sang ayah, kini sudah Gio miliki lagi.


"Aku sangat sibuk dengan urusan pekerjaan. Dan jika kamu tak kuat lagi, sebaiknya kita batalkan kesepakatan konyol ini. Kamu bebas Dea, dan jangan takut. Biar aku yang bicara pada ibuku tentang hal ini. Beliau pasti mengerti."


"Ti- tidak usah ! Aku akan bersabar selama apapun itu. Karena aku sangat menyayangi Evan dan aku sudah berjanji pada Amara untuk menjaganya," ucap Dea. Setelah itu ia tak berani bertanya apapun lagi pada Gio. Keduanya makan siang dalam diam, tak banyak bicara lagi.


***


Sedangkan di Boston, waktu menunjukkan pukul dua belas malam lebih beberapa belas menit. Telah beberapa hari ini Amara tak bisa tidur nyenyak karena kondisi kesehatannya yang menurun. Ia sering merasa pening dan juga lemas.


Danis bilang itu adalah hal yang wajar karena tubuh Amara masih beradaptasi dengan cuaca Boston yang sangat berbeda dengan Jakarta. Bahkan kekasihnya itu memberikan Amara suplemen makanan sebagai penunjang kesehatannya.


Meskipun Amara mengkonsumsinya dengan teratur, tapi n banyakyatanya ia tak kunjung membaik. Malah sering terbangun di malam hari, seperti sekarang ini.


Amara terbangun dengan kepalanya yang terasa berat. Ia pun menyalakan lampu tidurnya, dan dengan tubuh yang lemas Amara berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Jika dulu Amara terbangun di malam hari, maka Gio pun akan ikut terbangun dan bertanya apa Amara baik-baik saja. Tak hanya itu saja, Gio juga akan bertanya apa yang Amara inginkan. Lelaki itu memang sangat pengertian.


Sudah satu bulan berlalu, dan tak sekalipun keduanya saling berhubungan. Amara akan menanyakan kabar Evan pada ibunya. Ia lakukan itu untuk menjaga jarak dengan Gio, karena bagaimanapun lelaki itu akan segera menikahi sepupunya. Rasanya tak bijak bagi Amara jika terus berhubungan dengan Gio, apalagi keduanya telah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.


***


"Masih merasa pusing?" Tanya Danis. Lelaki itu datang ke apartemen Amara sebelum ia pergi bekerja.


"Hu'um... Entahlah mungkin aku masih belum terbiasa dengan musim dingin seperti ini."


"Ya sudah.. beristirahatlah... Aku akan pergi bekerja. Hubungi aku jika kamu membutuhkan sesuatu," ucap Danis seraya berpamitan.


Satu bulan di Boston, Amara belum melakukan apapun. Beberapa interview pekerjaan Amara lewati karena kondisi kesehatannya yang menurun. Beruntung bagi Amara karena ia memiliki uang yang Gio berikan dulu. Hingga ia bisa bertahan hidup, malah berkecukupan. Padahal biaya hidup di Boston jauh lebih besar jika dibandingkan dengan di jakarta.


Sore harinya Danis datang dengan membawakan Amara makan malam. Tak seperti tadi pagi, sore ini wajah Danis terlihat sendu, seolah-olah tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat. Bahkan ia tak fokus saat Amara bicara padanya.


"Ada apa ?" Tanya Amara.


"Hmm ? Apa maksudmu ? Tak ada apa-apa," jawab Danis.


"Jangan bohong... Aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku tahu jika ada yang sedang kamu pikirkan."


"Tak ada, Ara. Ayo aku suapi makan malam," kilah Danis.


Tapi Amara tak menurutinya. Ia yakin jika Danis sedang dalam keadaan tak baik-baik saja. "Danis... Katakan padaku ada apa?" Tanya Amara lagi.


Danis sadar ia tak bisa menyembunyikan apapun dari kekasihnya itu. Dengan berat hati Danis pun mengatakan hal yang sebenarnya. "Karina sakit, dia dirawat di rumah sakit," jawab Danis pada akhirnya.


"Dan kamu sangat mengkhawatirkannya ?"


"Di- dia tak punya siapa-siapa di sini, Amara. Dia pasti sendirian di rumah sakit," jawab Danis. Wajahnya menegang saat mengatakan hal itu, ia tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


Amara tersenyum samar. Ia mengerti perasaan Danis. "Jika begitu pergilah... Temani Karina di rumah sakit," ucap Amara dengan tenang. Tak ada nada marah ataupun cemburu dalam suaranya.


"Ta- tapi bagaimana denganmu ? Kamu juga sedang sakit," sahut Danis serba salah.


"Kamu sangat mengkhawatirkannya kan ?" Tanya Amara lagi, dan Danis pun mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Jika begitu..... Pergilah ke rumah sakit dan temani Karina... Aku... Aku mengerti perasaanmu, Danis."


***


Bersambung..


like dan komen yang banyak ya biar aku semangat up-nya wkkwkwkkw.