
"Aku memang telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku yaitu padamu, Amara. Dan aku sangat- sangat menyesal karena telah menyakitimu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, lebih baik aku tak sadarkan diri di jalanan daripada harus pulang ke rumah dan memperk*samu. Aku sangat menyesal karena telah merusak gadis sebaik kamu. Sebanyak apapun yang kuberikan tak kan bisa membuatmu kembali seperti semula. Oleh karena itulah kamu sangat berharga dimataku," jelas Gio dengan penuh rasa penyesalan. Ia menggeser duduknya ke tepian ranjang agar bisa menatap Amara lebih dekat lagi.
"Aku berharga di matamu karena aku hamil anakmu, Gio," lirih Amara dengan tatapan mata sinis dan dinginnya. Ia merasa apa yang Gio ucapkan hanya untuk menghibur dirinya saja.
Gio menghela nafasnya dalam, "seandainya kamu tak hamil pun, aku akan tetap menikahimu Amara. Dan jika kamu inginkan, kamu bisa jebloskan aku ke penjara. Aku akan lebih tenang jika kamu melakukan itu karena aku memang layak mendapatkannya,"
Amara terdiam, yang ia lakukan hanyalah melihat pada Gio dengan emosi yang belum juga mereda. Nafasnya memburu dan pendek-pendek. Sungguh Amara ingin meledak marah pada lelaki yang kini menjadi suaminya. Tapi, ia tak bisa lakukan itu karena tak ingin membuat keributan yang bisa membuat panik banyak orang.
Gio paham dengan tatapan mata yang istrinya itu berikan. Amara masih melihat padanya dengan rasa marah yang tertahan. "Jika kamu mau, kamu bisa laporkan aku ke polisi sekarang juga. Aku tak akan lari ataupun mengelak. Aku akan akui semua perbuatan jahat ku padamu. Aku juga berjanji tak akan menggunakan kekuasaan keluargaku agar bisa lolos dari perkara ini," ucap Gio pasrah.
"Hu'um dan itu akan semakin memojokkan aku ! Aku yang akan disalahkan karena telah membuat kamu yang baik di mata mereka ini mendekam di dalam penjara. Aku akan dicam sebagai perempuan yang tak punya perasaan," sahut Amara sengit.
"Semua orang mengatakan padaku, bahwa aku harus memaafkan mu dan menerima takdirku. Semua orang mengatakan jika kamu lelaki baik yang menyesali perbuatannya. Tapi apakah mereka pernah bertanya tentang apa yang aku rasakan ? Apa mereka mau mengerti sedikit saja, bagaimana hancurnya aku ? Tidak !! Tidak, Gio, tidak !!! Mereka hanya bersimpati padamu yang begitu hebat menyesali semua !!" Amara pun berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi dan mengunci diri di dalamnya. Ia menangis tersedu-sedu karena pada akhirnya Amara bisa mengeluarkan apa yang selama ini dipendamnya.
Ia ingat bagaimana ayah, ibu, om juga tantenya membujuk Amara untuk menerima pinangan Gio dan belajar menerima takdirnya. Tapi tak ada seorangpun yang bertanya padanya, apa yang Amara rasakan atau apa yang sebenarnya Amara mau. Mereka hanya terpesona oleh kegigihan Gio yang tak mengenal lelah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan itu membuat Amara semakin membencinya.
Gio duduk dengan kepala tertunduk lesu. Tak pernah sekalipun ia bermaksud untuk memojokkan Amara. Dan niatnya untuk bertanggung jawab memang datang dari hatinya.
Seandainya saja Amara tahu bagaimana Gio memikirkan Amara meskipun lewat namanya saja. Nama yang Gio temukan di atas karpet kamarnya, karena semenjak hari itu Amara telah masuk ke dalam pikiran Gio dan tak pernah mau pergi.
Dan sejak pertama bertemu Amara untuk pertama kalinya, Gio merasakan pergolakan batin yang semakin menjadi-jadi. Gio ingin bertanggung jawab pada Amara selama hidupnya. Apakah Amara akan mencapnya gila, jika Gio mengakui bahwa dirinya mempunyai perasaan 'lebih' pada istrinya itu semenjak kejadian naas itu ?
Terlalu larut dalam pikirannya membuat Gio tak sadar jika Amara sudah kembali dari kamar mandi. Ranjang yang Gio duduki terasa bergelombang karena Amara naik ke atasnya dan membaringkan tubuhnya sembari memunggungi suaminya itu.
Gio tatapi tubuh kurus dan ringkih itu dengan rasa yang tak karuan. Lagi-lagi Gio menarik nafas dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Dengan perlahan, Gio pun ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Amara. Ranjang gadis itu tiba-tiba terasa penuh karena Gio berada di sana.
"Amara... Maafkan aku... Maafkan segala kesalahanku," ucap Gio lirih dan penuh rasa penyesalan.
Amara tak bergeming. Ia tak menerima permintaan maaf Gio ataupun mendebat perkataannya. Amara juga tak berani untuk memutar tubuhnya dan melihat pada Gio. Karena walaupun ini adalah malam pengantin mereka, tak mungkin Amara mau melakukan 'hal itu' dengan Gio. Traumanya belum juga hilang dan ia tak mencintai Gio.
Merasa tak ditanggapi, Gio pun menyerah. "Tidurlah, kamu pasti merasa lelah," ucap Gio lagi dengan pelan.
"Dan kamu jangan takut, karena aku tak akan meminta hak ku sebagai suami," lanjut Gio sebelum ia memutar tubuhnya dan memunggungi Amara.
Malam pertama keduanya dilewati dengan perdebatan sengit dan tidur yang saling memunggungi. Ini adalah malam pengantin terburuk yang pernah ada.
***
"Hoek.. hoek..," Gio terbangun saat mendengar suara-suara dari dalam kamar mandi. Ia pun dengan perlahan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Dirinya sedikit terkejut karena terbangun di tempat yang asing, dan beberapa detik kemudian, Gio ingat jika dirinya kemarin baru saja menikah dengan gadis yang selalu ada dalam pikirannya yaitu Amara. Gio mengusik mata, untuk menghilangkan kantuk dari matanya. Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah suara.
Gio terkejut saat melihat Amara tengah berjongkok dengan kepala tertunduk menghadap dudukan toilet. Rambut panjangnya menjuntai yak beraturan.
Amara yang terkejut tolehkan kepalanya dan melihat pada Gio. "Pergilah ! Ini sangat menjijikkan," titahnya pada Gio.
Gio gelengkan kepala, menolak perintah istrinya itu. "Aku akan tetap di sini dan menemanimu," jawab Gio seraya memberikan beberapa lembar tisu pada Amara. Ingin rasanya ia melap ujung bibir Amara yang sedikit basah. Tapi, Gio tak berani lakukan itu karena takut Amara menjadi marah padanya.
Ingin Amara mengusir Gio, tapi perutnya kembali bergejolak dan ingin mengeluarkan isinya yang hanya berupa air itu. Dan selama itu terjadi Gio terus menemaninya dengan memberikan pijatan lembut di tengkuk Amara.
Setelah Amara merasa puas memuntahkan cairan dari mulutnya. Ia pun bangkit dan dipapah oleh Gio, kembali ke dalam kamar mereka.
"Tunggu ya," ucap Gio seraya berjalan keluar kamar dan kembali lagi dalam waktu singkat dengan segelas air hangat di tangannya. "Minum dulu," titah Gio dan Amara pun menurutinya.
"Mau aku ambilkan balsem atau apapun yang bisa membuatmu merasa lebih hangat ?" Tanya Gio, tapi Amara gelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Minum air hangat sudah membuatnya jauh lebih baik.
Gio menatap iba pada istrinya itu. Amara pasti menderita seperti ini di setiap pagi, dan tak ada seorangpun yang membantunya karena gadi itu menyembunyikan kehamilan nya. Tak heran jika Amara merasa sangat benci pada dirinya karena Gio memang sudah membuatnya sangat kesusahan.
"Ayo baringkan lagi tubuhmu dan beristirahatlah," ucap Gio tapi lagi-lagi Amara gelengkan kepalanya.
"Aku mau mandi dan berangkat pergi," jawab Amara sembari memberikan gelas yang sudah kosong pada suaminya itu.
Gio berkerut alis tak paham. Pergi ? Amara mau pergi ke mana ? Ini adalah hari ke-dua pernikahan mereka. Bahkan Gio saja mengambil cuti dari tempatnya bekerja. "Mau kemana ? Aku temani ya?" Tanya Gio.
"Aku mau ke kampus. Aku sudah banyak ketinggalan dan kamu tak boleh ikut ! Apa kata teman-temanku nanti ? Mereka pasti terheran karena melihatmu denganku,"
"Katakan saja pada mereka jika kita sudah menikah," jawab Gio.
" Apa ? Apa kamu tak merasa malu mengakui pernikahan ini ?" Tanya Amara dengan mengerutkan keningnya.
"Tidak... Aku tidak malu dengan pernikahan kita,"
"Tapi aku iya !" Jawab Amara sembari berdiri dan meraih handuknya yang tersampir di atas rak. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sabar lagi...
Mohon sabar yaa semuanya...
Dari judul aja udah kebaca yang satu benci, yang satunya cinta 😁
Like dan komen yang banyak yaaa biar aku semangat nulisnya.
Love you genks
bersambung...