
"Ketahuilah bahwa aku rela mati jika itu untukmu." Gio berucap dengan jelas hingga air mata Amara pun tumpah karenanya.
"Tidak... Jangan katakan itu ! Jangan pernah tinggalkan aku. Kamu tak tahu Gio... Aku begitu tersiksa tanpamu. Hanya kamu dan Evan yang setiap harinya aku pikirkan."
"Aku pun..." potong Gio. "Hanya kamu yang menguasai hati dan pikiranku. Mulai sekarang aku tak akan lagi menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya."
"Ya aku juga... Akan aku perlihatkan pada semua bahwa hanya kamu yang aku cinta," sahut Amara seraya membelai pipi Gio dengan jemarinya. "Aku mencintaimu, Gio. Mungkin setelah ini kamu akan sangat bosan mendengar kata-kata cintaku." Amara tersenyum geli karena ucapannya.
Gio balas senyuman itu sama lembutnya. Ia dekatkan wajahnya sekali lagi agar bisa mencium Amara..
Amara mengerti apa yang Gio inginkan, ia pun dekatkan wajahnya hingga bibir mereka bertemu dan menyatu dengan sempurna.
"katakan kata-kata cinta itu padaku setiap hari," ucap Gio diantara ciumannya.
Gio pejamkan mata, begitu juga dengan Amara. Bibir keduanya saling m*lum*t satu sama lain dengan penuh perasaan cinta. Kedua tangan Gio menahan kepala Amara agar istrinya itu tak menjauh darinya.
Jemari Amara yang gemetar beregerak mer*ba dada Gio yang bidang. Rasa rindunya yang tak tertahan membuat Amara memberanikan diri untuk membuka kancing kemeja Gio satu persatu.
Ia ingin menyentuh suaminya tanpa terhalang apapun.
Mendapatkan sentuhan seperti itu, darah Gio berdesir hangat dan tubuhnya meremang. Ia perdalam ciumannya dengan membelit lidah Amara dengan lidahnya. Tangan Gio juga tak tinggal diam, ia berikan sentuhan-sentuhan lembut seringan bulu yang membuat Amara melenguh karenanya.
Hah...hah.. hah... Nafas Gio terengah-engah, begitu juga Amara. Wajahnya bersemu merah dan matanya sudah terlihat sayu.
"Aku... Bolehkah aku mencintaimu?" Tanya Gio penuh damba. Amara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ketika Gio bertanya seperti itu, Amara paham jika Gio menginginkan dirinya secara utuh.
"Cintai aku, Gio. Aku adalah milikmu..," ucap Amara.
Senyuman terukir di bibir Gio. Ia segera bangkit dan mengulurkan tangannya pada Amara agar istrinya itu ikut berdiri. "Tunjukkan aku di mana kamarnya," pinta Gio.
Malu-malu Amara menunjuk kamar dengan jarinya. Sedetik kemudian Amara rasakan tubuhnya melayang di udara karena Gio menggendongnya seperti pengantin baru.
Deg..deg.. deg... Debaran jantung Amara kian menggila. Ia sandarkan kepalanya di dada Gio. Amara tersenyum lega saat ia dengar detak jantung Gio yang juga kencang seperti dirinya. Amara merasa bahagia karena apa yang ia rasakan saat ini bukanlah sebuah mimpi. Gio yang selalu ada dalam pikiran Amara, kini hadir secara nyata.
Gio baringkan tubuh Amara di ranjangnya yang tak terlalu besar itu. Ia mengecup bibir Amara sekilas sebelum kembali berdiri dan melucuti pakaiannya sendiri. Amara amati apa yang Gio lakukan sembari menggigit bibir bawahnya. "Oh my.." nafas des*h lolos dari mulut Amara saat ia melihat bukti gairah Gio telah berdiri dengan gagahnya.
Gio tersenyum dan merangkak naik menyusul Amara. Tangannya dengan terampil melucuti setiap kain yang menutupi tubuh istrinya itu. Amara memasrahkan dirinya dengan senang hati. Ia turuti apapun yang Gio lakukan padanya.
Mata Gio berbinar bahagia saat ia menyentuh perut Amara yang sudah buncit itu. Gio tundukkan kepalanya dan mengecup perut Amara dengan lembut. "Sayang..," bisik Gio lirih, sedangkan Amara melihatnya dengan penuh perasaan haru.
Gio balas tatapan mata Amara sama sayu nya. Ia pun sudah tak sabar untuk melebur menjadi satu dengan wanita yang Gio rindukan dengan sangat. Ia merangkak naik, menyambar bibir Amara dan meng*lumnya rasa-rasa.
Amara balas ciuman itu dengan perasaan yang sama. Ia mencengkram rambut Gio dengan jemarinya karena nikmatnya ciuman itu membuat kepala Amara pening bukan kepalang.
Gio meremas gemas dua benda yang menyembul seeksi itu, membuat tubuh Amara menggeliat. Geli dan nikmat Amara rasakan secara bersamaan. "Gio...," Nama Gio lolos dari bibir Amara, saat suaminya itu menyesap puncaknya dengan penuh perasaan.
Jari kaki Amara mengkerut, meremas kain sprei di bawahnya. Sedangkan Gio semakin memainkan lidahnya di sana. Reaksi hebat tubuh Amara akan sentuhannya membuat Gio semakin terbakar hasr*t.
Merasa tak cukup sampai di sana memanjakan Amara, bibir Gio yang basah dan kenyal merambat turun. Menciumi semua yang dilewatinya. Hingga ia sampai di inti tubuh isterinya itu.
"Gio.." lirih Amara takut-takut. Sudah terbayangkan apa yang akan Gio lakukan di bawah sana.
"Gio.."
"Yes, love ?" Gio tinggikan tubuhnya hingga ia bisa menatap Amara.
"Ja- jangan lakukan itu..."
"But i want to taste you with my tongue," sahut Gio serak. Lalu ia tenggelamkan kepalanya di antara kaki Amara, dan tak lama Amara melenguh panjang sembari menyebutkan nama Gio.
Kepala Amara semakin pening di buatnya. Rasanya begitu menggelitik dan nikmat, hingga Amara memejamkan matanya. Tubuhnya terasa ringan dan juga ia rasakan lega luar biasa saat pelepasannya tiba.
Gio menatap puas, ia senang karena bisa membuat Amara mendapatkan puncaknya. Gio menarik tubuh Amara, dan menukar posisi mereka hingga kini Amara yang berada di atasnya. "Lakukan apapun yang kamu mau," ucap Gio.
Mata Amara semakin sayu dan menatap Gio penuh cinta. Ia akan meluapkan rasa rindunya dengan terang-terangan.
***
"Hah.. hah.. hah.." nafas Gio dan Amara sama-sama memburu. Peluh menghiasi dahi keduanya. Entah berapa kali Amara melenguhkan nama Gio saat pelepasannya datang. Seperti saat ini, tubuh Amara kembali bergerak gelisah dan Gio tentunya paham.
"Aku juga sayang... Aku juga..," ucap Gio. Ia pun akan segera mendapatkan puncaknya. Gio memeluk erat Amara dari belakang dan membenamkan tubuhnya dalam-dalam saat pelepasannya datang. "Aku mencintaimu, Amara. Sangat cinta sama kamu..," bisik Gio tepat di telinga Amara.
Amara tersenyum samar. Sungguh ia merasa sangat bahagia karena bisa bersatu dengan kekasih hatinya. "Dan aku milikmu Gio... Hanya milikmu..," sahut Amara memasrahkan diri.
Gio eratkan pelukannya. Damai Gio rasakan dalam hatinya. Kini cintanya terbalaskan dan Gio merasa kedatangannya ke Boston adalah keputusan yang paling tepat yang pernah Gio buat.
To be continued
Genks... Terimakasih banyak sudah vote yaa..
Terharu aku tuh.ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sehat2 dan banyak rezeki ya semuanya. Aamiin.
Yang belum vote... Yuk vote kwkwkwkkw