
"Lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan terima dan hargai semua keputusanmu,"
"Apa ?" Amara bergumam pelan. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tiba-tiba saja dadanya berdegup kencang karena mendapati Gio telah mengetahui semuanya.
"Maaf," kata Gio dengan wajahnya yang menunjukkan rasa sesal. "Maafkan aku karena tak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan dia. Aku tak bermaksud untuk menguping. Percayalah... Aku mendengarnya karena pintu kamarmu terbuka," jelas Gio.
Amara tak menanggapi, ia hanya berdiri dengan mulut terkatup rapat dan tatapan mata lurus pada Gio. Kedua tangannya memegang erat botol minumnya seolah untuk berpegangan.
"Syukurlah kalian bisa tetap bersama," ucap Gio lagi tanpa bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat sedih. "Tolong katakan padanya bahwa aku benar-benar minta maaf atas segala yang pernah terjadi. Mengenai Evan... Ia akan tetap bersamaku. Kamu pasti tahu bahwa aku sangat mencintainya. Tapi jika suatu saat nanti kamu ingin bertemu dengannya, aku tak akan pernah menghalangi. Aku dan Evan akan tetap mencintaimu. Berbahagialah...,"
Deg !!
Mata Amara mendadak basah dan jantungnya terasa seperti diremas saat ia mendengar kata-kata cinta yang terlontar dari mulut Gio. "A- apa maksudmu?" Tanya Amara takut-takut.
Tapi...
Amara tak bisa mendapatkan jawaban dari suaminya itu. Karena Gio langsung memutar tubuhnya untuk pergi, sesaat setelah ia mengatakan kata "berbahagialah.." untuk Amara.
Bukan tanpa alasan Gio pergi meninggalkan Amara. Hatinya sudah tak sanggup lagi untuk mengucapkan kata-kata perpisahan. Mati-matian Gio menahan diri untuk tak berlari pada Amara dan memeluknya erat.
Sekuat tenaga Gio melawan keinginannya untuk membawa Amara dalam dekapannya dan menciumnya penuh tuntutan. Gio tak ingin menyakiti wanita yang sangat dicintainya itu.
Gio mendudukkan tubuhnya di dalam kegelapan malam. Nafasnya memburu, karena dadanya yang terasa sesak. Ini adalah patah hati terbesar dalam hidupnya.
Sedangkan Amara, ia pun kembali ke dalam kamarnya. Air bening masih saja turun membasahi Kedua pipinya padahal Amara sudah mengusapnya berulang kali. Ada gelenyar aneh dalam hatinya saat Gio mengucapkan kata-kata perpisahan.
Bukankah seharusnya Amara merasa senang karena Gio mau melepasnya dengan mudah ? Bahkan lelaki itu mau berbesar hati dengan masih mengizinkan Amara untuk bertemu Evan. Tapi mengapa Amara malah merasakan yang sebaliknya. Entah mengapa Amara merasa sedih, kecewa dan juga tak percaya saat Gio merelakan dirinya untuk pergi.
"Harusnya kamu bersyukur karena Gio tak mempersulit semuanya," ucap Amara pada dirinya sendiri.
"Sekarang tinggal fokus belajar dan kemudian bersiap pergi untuk bertemu Danis," ucap Amara lagi. Walaupun ia sadar apa yang keluar dari bibirnya tak sesuai dengan apa yang dirasakannya dalam hati.
***
Pagi pun menyapa, matahari mulai menampakkan diri dari peraduannya. Dua manusia sama-sama menyaksikan itu semua karena mereka tak bisa memejamkan mata untuk tidur walaupun hanya sekejap saja.
Dia adalah Gio dan Amara yang terjaga semalaman karena pembicaraan mereka. Keduanya mengalami pergulatan batin yang hebat melawan perasaan mereka sendiri.
Amara merasa benci pada Gio karena telah membuat perasaan nya menjadi kacau tak karuan. Sedangkan Gio, begitu tersiksa karena tak bisa mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada Amara. Gio tak ingin menghalangi Amara untuk menggapai kebahagiaannya. Sungguh Gio benci dengan situasi yang harus dihadapinya.
'ceklek'
Pandangan mata Amara dan Gio beradu saat keduanya keluar dari kamar mereka secara bersallmaan. Ada rasa tak kasat mata yang berkecamuk di dalam dada keduanya. Segalanya terasa berubah karena pembicaraan semalam.
Gio sudah terlihat rapi, begitu juga Amara. Keduanya bersiap-siap lebih pagi untuk saling menghindari pertemuan canggung seperti ini. Tapi nyatanya Tuhan berkehendak lain dengan mempertemukan mereka.
"Ada kuliah pagi ?" Tanya Gio. Susah payah ia bersikap biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.
"Hu'um," jawab Amara sambil anggukan kepala. Debaran jantungnya menggila hanya karena ditanya seperti itu.
"Makan dulu sebelum pergi," ajak Gio dan mau tak mau Amara pun menurutinya.
Hanya ada mereka di meja makan. Duduk saling berhadapan dalam diam. Semuanya terasa canggung dan tak menyenangkan. Hanya bunyi dentingan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar.
Sialnya, Evan pun belum bangun jadi tak ada alasan bagi mereka untuk membagi perhatian pada Evan.
"Ayo aku antar," ucap Gio. Meskipun dia tahu sepanjang perjalanan akan terasa menyiksa tapi dirinya pun tak tega membiarkan Amara pergi sendiri.
"Apa tak mengganggu ? Kamu sepertinya sedang sibuk,"
"Tidak sama sekali. Ayo aku antar,"
***
Gio fokus pada jalanan, mulutnya terkatup rapat dengan pandangan lurus ke depan. Tanpa Amara ketahui, Gio tengah berperang dengan kepalanya sendiri.
Gio merasa benci juga cinta di saat yang bersamaan. Benci pada dirinya sendiri karena sangat mencintai Amara tapi tak mampu mengatakannya.
Benci karena hasratnya kian menggebu untuk menarik Amara dalam dekapannya. Benci pada Amara yang tak juga mengerti akan perasaan cintanya yang dalam.
Begitu pun Amara yang tanpa Gio ketahui tengah merasakan pergulatan batin dalam hatinya. Ia benci pada Gio yang kini membuat perasaannya menjadi kacau tak karuan. Benci karena terperangkap dalam pikirannya sendiri tentang Gio yang mengatakan kata cinta semalam.
Amara ingin bertanya tentang hal itu. Tapi ia takut hanya salah dengar saja, karena setelah itu Gio tak mengatakan apa-apa lagi. Lelaki itu malah pergi meninggalkannya sendirian. Terjebak dalam perasaan yang tak bisa Amara lukiskan. Sungguh ia benci karena kata cinta Gio semalam.
"Mmhh... Berapa lama lagi kamu harus kuliah ?" Tanya Gio, memecahkan keheningan diantara mereka.
"Aku yakin, kamu pasti bisa cepat menyelesaikannya. Aku akan meminta pihak kampus untuk memberikan kemudahan,"
Amara mendengus kesal. "Kamu tak usah meminta pada pihak kampus !! aku akan bekerja keras agar cepat selesai," sahut Amara ketus. Entah mengapa Amara tak suka dengan ucapan Gio yang seolah ingin dirinya segera pergi.
Gio tersenyum samar, patah hati kembali ia rasakan. "Tentu saja kamu akan bekerja keras, karena kamu sudah tak sabar untuk bertemu dengannya !" sahut Gio pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya.
"Turunkan aku di depan saja !" Titah Amara saat ia melihat sebuah halte bis di depannya.
"Kenapa ?" Tanya Gio sembari berkerut alis tak paham.
Amara terdiam, ia tak bisa mengatakan pada Gio hal yang sebenarnya. Bahwa dirinya tak suka dengan topik pembicara mereka. "Karena kamu menyebalkan !!" Jawab Amara sambil tolehkan kepalanya ke samping karena tiba-tiba saja matanya memburam.
Gio melihat pada Amara sambil tersenyum, "maaf," ucap Gio tulus. "Maaf jika aku salah bicara," lanjut Gio lagi. Ia merasa benci pada dirinya sendiri karena telah membuat kekasih hatinya menjadi bermuram durja. Setelah itu hening diantara keduanya hingga Amara tiba di kampusnya.
***
'tok tok' terdengar ketukan di pintu, membuat Gio mengangkat wajahnya dan melihat ke arah pintu ruangannya yang tak tertutup sempurna.
Berdirilah seorang wanita yang sangat Gio cintai. "Mama datang untuk melihat keadaanmu," tanya wanita itu sambil tersenyum. Lalu ia berjalan dan duduk di kursi kosong yang berada di hadapan anaknya itu.
"Gio baik-baik saja, Mama jangan khawatir," jawab Gio.
Ya... Semalam Gio pergi menemui sang ibu setelah tahu tentang rencana kepergian Amara. Ia tak mau berbuat bodoh seperti dulu dengan melarikan diri ke dalam jeratan minuman memabukkan.
"Apa yang kamu katakan pada Amara?"
"Gio bilang, akan mendukung apapun yang menjadi pilihannya,"
Sang ibu tersenyum samar, ia tahu jika anak kesayangannya itu tengah merasakan patah hati dengan hebatnya. "Seseorang pernah berkata bahwa tingkat mencintai yang paling tinggi itu adalah saat kita merelakan orang yang sangat kita cinta untuk bahagia. Mama rasa yang kamu lakukan itu benar, Gio. Mama yakin, kamu akan mendapatkan seseorang yang mencintaimu dan juga Evan dengan tulus,"
"Gio malam ini jadi kan ?" Tiba-tiba seorang gadis memotong pembicaraan mereka. Ia tak sadar jika Gio sedang menerima tamu.
"Ya Tuhan.. maaf," ucap Dea penuh sesal saat ia melihat ibu Gio berada di sana.
"Tak apa, Dea," sahut Ibu Gio yang memang sudah mengenal gadis itu dengan baik. "Tolong temani Gio ya. Dia sedang patah hati,"
"Mama !" Protes Gio.
"Tak apa, kamu memang sedang butuh teman dan Mama rasa Dea adalah seseorang yang tepat untuk menemani kamu. Kamu mau kan, De ?"
Dea tersenyum dan mengangguk pelan. "Tentu saja saya mau menjadi teman bicara Gio," jawabnya tanpa ragu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan Gio belum juga menampakkan batang hidungnya di rumah. Lelaki itu pulang terlambat, tak seperti biasanya.
Amara bertanya-tanya kemana Gio pergi bukan karena kini waktunya lelaki itu menjaga Evan. Tapi karena Gio pergi tanpa memberinya kabar terlebih dahulu. Dan ada sesuatu yang ingin Amara beritahukan pada suaminya itu.
Tak lama Gio pun datang. Wajahnya terlihat sangat lelah dengan kemeja yang tangannya sudah digulung sampai lengan.
Lelaki itu langsung menghampiri Evan dan memangkunya. Ia berikan Evan banyak ciuman sebagai wujud rasa rindunya.
Sedangkan Amara, ia segera menghampiri lelaki jangkung itu dengan antusias. "Gio, tadi Evan mengatakan "mama" untuk yang pertama kalinya," ucap Amara penuh kebanggaan.
"No waaaayyy... Tak mungkin !!! Aku sudah mengajarkannya untuk mengucapkan kata "Papa" berulang kali," sahut Gio tak terima. Sampai-sampai ia memelototkan matanya.
Amara terkekeh geli. Sungguh ia merasa senang karena telah mengalahkan Gio. "Tapi kata Mama lah yang pertama kali Evan ucapkan," kata Amara jumawa.
"Pak, makan malamnya mau saya hangatkan sekarang?" Tanya asisten rumah tangganya dengan tiba-tiba.
"Tak usah, saya sudah makan di luar," jawab Gio.
"Kamu udah makan ?" Tanya Amara.
"Hu'um... Aku makan malam dengan Dea. Aku banyak berhutang budi dengannya, jadi aku ajak dia makan malam berdua."
Jawaban Gio mampu menyurutkan senyuman di wajah Amara yang sedang bahagia karena Evan.
"Saya hangatkan untuk ibu saja ya ? Ibu kan belum makan karena menunggu Bapak. Bagaimana?" kini assiten rumah tangganya itu bertanya pada Amara.
"Tak usah, Bi. Saya sudah tak merasa lapar lagi," jawab Amara, membuat Gio terdiam saat mendengarnya.
bersambung ♥️