
"Kamu sangat cantik, Amara."
Pujian Gio membuat Amara tersipu malu. Ia tundukkan kepala untuk menghindari tatapan mata Gio yang membuat hatinya bergetar secara tiba-tiba. Ada gelenyar aneh yang merambat masuk ke dalamnya.
Spontan Gio berjalan mendekati. Mengikis jarak diantara keduanya agar ia bisa melihat wajah Amara dengan lebih leluasa. Tanpa Amara ketahui, dada Gio juga berdebar hebat hanya karena terpesona dengan kecantikannya.
"Udah siap ?" tanya Gio, membuat Amara kembali mengangkat wajahnya dan melihat pada Gio. Lelaki itu kini menatap sayu padanya.
"Su- sudah," jawab Amara susah payah. Mendadak perkataannya tercekat di tenggorokan.
"Ayo kita pergi," ajak Gio dan Amara pun menurutinya. Ini kali pertama bagi ketiganya pergi bersama. Bagai keluarga kecil bahagia.
Amara duduk tepat di sebelah Gio sambil memangku Evan. Gio segera berlari ke pintunya sendiri setelah memastikan Amara dan Evan duduk nyaman di kursinya.
Wajah Gio terlihat sumringah. "Ayo kita pergi !" ucapnya penuh semangat. Bibirnya terus melengkungkan senyuman.
"Ayo, let's go !" sambut Amara sembari mengangkat tangan Evan, seolah anaknya itu lah yang menjawabnya.
Gio laju kan mobilnya dengan hati-hati. Ia lakukan itu karena penumpangnya begitu istimewa. Mereka adalah dua orang yang sangat Gio cintai dengan dalam.
Sesekali Gio menolehkan kepalanya ke samping. Hanya untuk melihat Amara dan juga Evan. Dadanya terasa hangat karena dipenuhi bunga-bunga cinta yang bermekaran.
Amara pun menjadi salah tingkah karena Gio terus memperhatikannya. Dan tatapan sayu lelaki itu membuat jantung Amara harus bekerja keras. Debarannya kian kencang saja setiap Gio melihat ke arahnya. "Ada apa ?" Amara memberanikan diri untuk bertanya.
Geo gelengkan kepala sambil meng*lum senyumnya. "Tak ada apa- apa," jawab Gio tapi sepertinya Amara tak percaya. Ia masih melihat pada Gio penuh tanda tanya.
"Aku seneng banget karena kita bisa pergi bertiga seperti sekarang ini," jawab Gio dengan sejujurnya.
Lagi-lagi Amara tak bisa berkata-kata. Yang ia lakukan hanyalah angguk kan kepalanya menyetujui. Hanya dengan begitu saja, Gio sudah merasa senang sekali. Di tambah celotehan Evan yang menggemaskan, maka semakin sempurna lah rasa bahagianya di malam ini. "Ya Tuhan... Jadikan momen ini bukan yang pertama juga terkahir bagi kami," do'a Gio dalam hati.
***
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka tiba di hotel yang dimaksud. Setelah Gio mematikan mesin mobilnya, ia pun segera keluar dan cepat-cepat menghampiri pintu Amara untuk membukanya. Lalu Gio meraih Evan dalam pangkuannya. "Biar sama aku aja," ucap Gio. Sengaja ia tak membawa susternya karena Gio ingin menikmati waktu bertiga saja.
Amara menyerahkan Evan pada Gio. Lalu ia pun keluar dari mobil dan merapikan bajunya. Untuk beberapa saat Gio terus memperhatikannya. Lelaki itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari Amara.
Gio dan Amara berjalan berdampingan. Mati-matian Gio menahan diri untuk tak meraih jemari Amara dalam genggamannya. Ia tak ingin membuat Amara menjadi takut dengan sikapnya. Gio memperlakukan Amara dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu adalah sesuatu yang rapuh dan mudah hancur. Gio tak ingin memberikan kesan buruk pada Amara.
Mereka terus berjalan hingga sebuah panggilan mengehentikan langkahnya. "Gio..," sapa seorang wanita yang sangat cantik sekali. Tubuhnya pun sangat sempurna di mata Amara. Dari cara berpakaiannya sudah bisa Amara tebak jika wanita itu berasal dari kalangan atas.
Wanita bergaun hitam itu melihat tak percaya pada Gio. Matanya membola dan kedua tangannya menutupi mulutnya yang terbuka. "Aku tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, Gio," ucapnya lagi. "Apakah ini anakmu ?" Tanya nya sambil berkerut dahi.
Dibandingkan si wanita itu, Gio terlihat jauh lebih tenang. Ia tersenyum dan mengiyakan pertanyaannya dengan sebuah anggukan kepala. "Iya ini Evan anakku," jawab Gio.
"Dan ini isteri aku, Amara," ucap Gio seraya melingkarkan tangannya di pinggang Amara. Memperlihatkan rasa kepemilikannya yang begitu kentara. Bisa Amara lihat rasa bangga juga bahagia di mata Gio, membuat si wanita tersenyum masam.
"A- aku tak percaya jika kamu sudah menikah dan punya anak segala. A- aku tak mendengar kabarmu lagi setelah kita berpisah," ucapnya terbata-bata.
Amara tercengang, mendengar ucap wanita itu membuat Amara tahu jika ia adalah mantan tunangan Gio yang telah berkhianat. Wanita cantik itu ternyata seseorang yang telah membuat Gio hancur. Saat ini Gio pasti sakit hati karena bertemu lagi dengannya.
"Ku rasa tak penting lagi untuk memberikan kabar padamu, apalagi mencarimu. Duniaku sudah dipenuhi oleh mereka," sahut Gio seraya menatap mata Amara dan lembut dan dalam. Membuat Amara semakin terkesiap dibuatnya, karena ia tak bisa melihat kebohongan atau sandiwara di mata Gio.
Si wanita semakin malu, wajahnya yang sudah berpoles makeup semakin merah saja. "Selamat kalau begitu... Aku tak percaya jika kamu begitu cepat melupakan aku," ucapnya tanpa malu.
Amara alihkan pandangannya pada si wanita. Ada sesuatu yang membuatnya tak suka saat wanita itu mengungkit masa lalunya dengan Gio. Seolah-olah mengajak Gio untuk ikut bersamanya ke masa-masa bersama mereka di waktu dulu. Amara pun memberikan tatapan mata sinis padanya.
"Bagaimana kabarmu sekarang ?" Tanya Gio mengalihkan pembicaraan.
"Kini aku sendiri... Tak lagi dengan Arman," jawabnya dengan nada suara ingin dikasihani.
"Waah sayang sekali," Gio berdecak seolah kecewa. "Padahal kalian cocok bersama."
"Gio... A- aku-"
"Kami harus segera pergi," potong Gio cepat.
"Oh iya," sahut wanita yang tak Gio sebutkan namanya itu.
"Mmhhh." Gio meninggalkannya padahal si wanita belum selesai bicara. Ia uraikan belitan tangannya dari pinggang Amara walaupun sebenarnya Gio merasa sangat enggan untuk melakukannya.
Ketiganya memasuki lift bersama, dan tak ada siapapun di dalamnya kecuali mereka. Sedari tadi Amara sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga ia tak bisa lagi menahannya. "Gio..," ucap Amara, membuat Gio melihat ke arahnya.
"Ya ?" Tanya Gio sembari menautkan kedua alisnya.
"Wanita yang tadi... Mmhh... Dia kah mantan tunanganmu itu ?" Tanya Amara takut-takut.
"Ya, itu dia," jawab Gio membenarkan.
"Mmmhhh apa kamu baik-baik saja karena bertemu dengannya lagi ? Pasti membawamu ke kenangan masa lalu bukan ?"
Gio tersenyum mendengar pertanyaan Amara. "Tidak," jawab Gio tanpa ragu.
"Kenapa ?" Amara berkerut alis tak paham.
"Karena... Setelah bertemu denganmu, aku tak pernah lagi memikirkannya."