
'tring' pintu lift terbuka di lantai 5 sebuah rumah sakit. Seorang gadis langkahkan kakinya keluar dari benda berbentuk balok itu. Ditangannya, ia membawa seikat bunga dan sebuah buku motivasi yang berisikan kata-kata positif, yang bisa memberikan semangat pada orang yang membacanya nanti.
Gadis berkacamata itu mengintip sebentar melalui kaca pintu sebelum ia masuk ke dalam ruang perawatan. Gadis itu tak mau menganggu jika lelaki yang terbaring di atas ranjang itu sedang tidur. Ia akan kembali lagi nanti setelah lelaki itu bangun. Saking sayangnya si gadis pada lelaki itu, hingga ia tak mau menganggunya.
Tapi ternyata lelaki yang terbaring lemah di atas ranjang itu tak tidur, saat ini ia tengah menatap kosong langit-langit diatasnya. Cekungan di matanya terlihat jelas, menandakan ia kurang beristirahat. Pipinya pun menjadi tirus karena ia kehilangan selera makan. Sungguh pemandangan yang menyedihkan bagi si gadis.
"Hai, aku datang lagi," ucap Karina sambil tersenyum lembut. Ia katakan itu saat membuka pintu kamar rawat inap Danis.
Sudah berlalu hampir 2 Minggu sejak lelaki itu tahu tentang kabar kekasihnya, Amara. Dan selama itu juga Danis tenggelam dalam rasa sedih yang tak berkesudahan hingga mempengaruhi kesehatannya. Tiga hari lalu, Danis dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan saat bekerja. Dan disinilah ia sekarang, terbaring lemah di sebuah rumah sakit yang berada di kota Boston.
Danis yang tengah melamun tolehkan kepalanya ke arah pintu, dan ia pun membalas senyuman si gadis berkacamata itu. "Maaf selalu merepotkan mu," ucap Danis sungkan.
Bagaimana tidak ? Karina selalu datang untuk menjenguknya. Bahkan gadis itu yang menjadi 'pihak keluarga' Danis di rumah sakit. Ia akan datang dua kali dalam sehari, memastikan lelaki itu baik-baik saja. Membawakan apa-apa saja yang Danis sukai. Berharap Danis agar cepat sehat dan beraktivitas seperti biasanya.
"Gak repot sama sekali," jawab Karina sambil tersenyum dan meletakkan bunga yang ia bawa ke dalam vas. Sebenarnya ia mengganti bunga yang ia bawa sebelumnya dengan yang baru agar ruangan itu terlihat jauh lebih segar.
"Lihat apa yang aku bawa," lanjut Karina sambil tertawa. Rupanya ia membawa sebatang coklat yang disembunyikannya dalam buku. Ia lakukan itu sebagai bentuk kejutan untuk Danis.
Wajah danis yang pucat dan tak ada semangat itu tersenyum melihatnya. "Terimakasih," ucapnya pelan.
"Apapun untuk sahabatku," sahut Karina. Padahal dalam hatinya ia pun merasakan patah hati. Dirinya sadar jika hati Danis telah dipenuhi oleh Amara seorang, tapi Karina tak bisa berhenti untuk menyukainya. Sudah hampir satu tahun ini Karina memendam rasa.
"Aku adalah orang paling beruntung karena memiliki sahabat sebaik kamu, Rin. Lelaki yang menjadi kekasihmu akan sangat bahagia nantinya. Kamu sungguh gadis yang baik hati,"
Lagi-lagi Karina tersenyum, tapi dalam hatinya yang dalam ia merasakan ngilu dengan hebatnya. "Aku lakukan itu karena jarak tinggal kita yang dekat. Kalau jauhan aku juga ogah," sahut Karina.
Danis tertawa mendengarnya, dan yang Karina katakan memang benar adanya. Jarak apartemen mereka berdekatan begitu juga dengan kantor tempat mereka bekerja. Hingga Karina bisa datang menemui Danis di jam makan siang dan setelah pulang bekerja.
"Kata dokter, kamu boleh pulang jika hasil pemeriksaan sore ini hasilnya baik,"
"Oh ya ? Semoga saja... Aku sudah bosan berada di sini," sahut Danis.
"Tapi aku juga bosan berada di apartemen... Rasanya aku ingin menghilang saja dari dunia ini,"
"Jangan berkata seperti itu, Danis ! Mungkin bagimu, kehadiranmu sudah tak berarti lagi. Tapi tidak bagi orang lain. Adanya dirimu sangat berarti baginya,"
"Bagi Amara ?" Tanya Danis, memotong ucapan Karina.
Karina anggukan kepalanya membenarkan, walaupun maksud perkataannya adalah dirinya sendiri. Danis begitu berarti untuknya.
"Entahlah apa aku ini untuk Amara," jawab Danis seraya menghela nafasnya dalam. Ia kembali menatap kosong langit-langit di atasnya. Tanpa Amara, jiwanya begitu hampa dan Danis kehilangan arah. Ia rasa semua perjuangannya sia-sia. Karena apa yang danis kerjakan saat ini segalanya adalah untuk Amara. Tapi nyatanya, semua yang ia impikan tak sesuai dengan kenyataan.
"Bicaralah dengan Amara ! Katakan apa yang kamu inginkan padanya," ucap Karina pelan. Apa yang ia katakan sangat bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan. Karina ingin sekali mengatakan "Lupakan Amara, dan belajarlah menerima kehadiran ku," tapi gadis itu tak mampu menyuarakan kata hatinya.
"Apakah aku harus berbicara padanya ? Aku takut Amara mengatakan 'jangan tunggu aku lagi'. Jika Amara katakan itu padaku, maka hidupku sudah benar-benar tak ada artinya lagi. Ya Tuhan... Aku begitu mencintainya !!" Erang Danis seraya mengusap ujung matanya yang basah.
"Hadapi semuanya, Danis. Agar kamu tak berlarut-larut dalam rasa sedih ini. Apapun yang terjadi jangan pernah patah semangat," titah Karina.
"Ah sebaiknya aku segera kembali ke kantor, jam makan siangku sudah habis. Aku akan datang lagi nanti sore ya," ucap Karina sambil berdiri. Ia ingin pergi bukan karena jam istirahatnya yang hampir habis. Tapi karena hatinya sudah tak tahan berada di sana. Mendengarkan Danis yang begitu memuja Amara membuatnya sangat tersiksa.
"Baiklah.. terimakasih ya,Rin,"
"Hu'um," sahut Karina sambil tersenyum. Lalu ia pun meninggalkan Danis di dalam kamar itu sendirian.
Sesampainya di luar kamar, Karina tak langsung pergi. Ia luruhkan tubuhnya di atas lantai, ia berjongkok dengan kepala tertunduk. Sungguh ia benci pada dirinya sendiri yang masih saja memberikan segala perhatiannya pada Danis padahal lelaki itu tak bisa melihat rasa cinta di dalamnya.
Sedangkan di Indonesia, waktu menunjukkan pukul setengah satu malam. Sudah satu Minggu ini Amara pulang ke rumah yang ia tempati dengan Gio.
Setelah melahirkan perasaan Amara begitu kacau tak karuan. Ada rasa cemas, takut, dan juga lelah karena bayinya selalu terjaga di setiap malam. Membuat emosi Amara semakin meledak-ledak. Seringkali ia merasakan sedih dengan tiba-tiba dan menangis sendirian.
Kini Gio menambahkan seorang baby sitter yang khusus ditugaskan untuk membantu Amara. Belum lagi asisten rumah tangga yang juga Gio tambah personilnya agar Amara tak perlu mengerjakan apapun selain menyusui anaknya saja.
Tapi sayangnya wanita itu begitu keras kepala. Amara menjalankan rencananya. Ia tak mau menyusui anaknya itu karena ia takut menjadi jatuh hati padanya. Ia akan memompa ASI nya yang melimpah itu dan menyimpannya dalam banyak botol plastik yang Amara beli melalui online. Bahkan bayi itu ia tempatkan di kamar khusus bersama baby sitter dan satu assisten rumah tangga lainnya agar Amara tak usah mengurusnya.
Belum juga dua Minggu berlalu dari masa melahirkan, Amara sudah menyibukkan diri dengan diktat dan tugas-tugas kuliahnya.
Tak ada yang tahu tentang kondisi ini. Karena Amara akan bersandiwara mengurus anaknya jika ada kedua orangtuanya atau kedua mertuanya.
Mengenai Danis, Amara belum berbicara dengan lelaki itu lagi karena tiba-tiba saja Danis menghilang tanpa kabar. Amara kira Danis tengah merajuk marah hingga ia tak mau bicara. Menghilangnya Danis membuat Amara sedikit lega karena dengan itu ia tak usah bersusah payah untuk memberikan penjelasan padanya.
Sejak sore hari bayi yang baru berusia beberapa hari itu nampak tak tenang. Ia lebih sering menangis dan tak mau diletakkan di dalam boxnya. Hal itu berlangsung hingga dini hari.
Jika biasanya Gio selalu mengalah dengan segala tindakan Amara yang selalu menyalahkan dirinya. Tapi kini ia tak bisa tinggal diam. Gio datangi kamar istrinya itu dengan perasaan kesal.
"Ada apa ?" Tanya Amara yang ternyata belum tidur. Ia sedang membaca sebuah buku teks kuliah.
"Apa kamu ini tak punya perasaan sama sekali ? Apa kamu tak dengar suara bayi yang terus-terusan menangis ?" Tanya Gio dengan suara meninggi. Sungguh ia tak bisa menyembunyikan rasa marahnya saat ini.
"Ya aku mendengarnya. Bukannya kamu sudah memperkerjakan orang untuk merawatnya ?" Amara malah balik bertanya tanpa dosa.
"Tapi mereka itu bukan ibunya, Amara !"
"Lalu ?" Tanya Amara lagi.
"bayi kita menangis Ara, susui dia !!" Kata Gio dengan suara yang menggelegar marah.
Amara yang mendengar itu langsung bangkit dari duduknya dan menengadahkan kepala, membalas tatapan mata Gio dengan sengit.
"jangan panggil aku, Ara ! dan dia bukan bayi kita, dia anakmu !" balas Amara dengan suara yang tak kalah tinggi.
Nafas Gio memburu, ia kepalkan kedua tangannya, menahan rasa marah yang membuncah. Perkataan Amara sungguh membuat hatinya tergores parah.
"Aku sudah mengaku salah, bahkan meminta maaf kepadamu jutaan kali. Tapi bayi itu tak berdosa, Amara. Sebagai seorang manusia, aku meminta belas kasihmu sekali ini saja. Bayi Evan sepertinya sakit karena ia tak mau tenang. Padahal aku sendiri yang terus menggendongnya. Ku mohon sekali ini saja, susui dia. Apa aku harus berlutut padamu agar kamu mau menyusui nya ?" Tanya Gio, kini ucapannya tak lagi dengan nada tinggi.
Amara terdiam, sungguh ia takut menjadi jatuh hati pada bayi Evan dan juga ayahnya yaitu Gio. Amara ingat bagaimana ia dan Gio yang pernah hampir berciuman. Oleh karena itulah Amara selalu mencari alasan agar tetap membenci Gio.
"Atau.. buat Gio agar membenci aku," gumam Amara pelan. sekelebat ide gila muncul di kepalanya.
"kecuali... kecuali kamu bisa membayar ku dengan harga tinggi, mungkin aku mau untuk melakukannya," Kata Amara dengan tatapan penuh rasa benci pada lelaki yang saat ini menjadi suaminya.
To be continued
Yang sabar ya bacanya...
Orang sabar biasanya suka kesel...
Kabooooor...