Hate You, Love You

Hate You, Love You
Tied The Knot



"Kamu tampan sekali, Nak," ucap Ibu Gio sembari merapikan kerah jas anaknya. Kedua matanya menjadi basah karena rasa haru.


"Terimakasih, Mama," Sahut Gio sambil tersenyum pada pantulan bayangan dirinya sendiri yang ada di dalam cermin. Lelaki jangkung itu sudah selesai bersiap-siap untuk menjadi seorang pengantin pria.


Rambutnya tersisir rapi, setelan jasnya yang berwarna hitam terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Bahkan Gio pun mencukur bulu-bulu halus di wajahnya. Wangi maskulin khas pria dewasa menguar dari tubuhnya. Hari ini ia ingin tampil sempurna di hari pernikahannya.


Gio tetap maju untuk menikah walaupun sebenarnya hatinya meragu. Kenyataan jika Amara mencintai pria lain membuat perasaan Gio menjadi gamang. Karena ia sudah bertekad untuk belajar mencintai Amara dan anak yang dikandungnya. Sedangkan Amara bersikeras dengan perasaan cintanya pada pria lain.


Gio ingat saat sang ayah mendaratkan pukulan di wajahnya. Setelah itu ia bertanya. "Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan Gio ! Jangan mempermalukan nama keluarga kita ! Beruntung gadis tak berdosa itu tak melaporkanmu ke pihak yang berwajib,"


"Gio akan menikahinya, Papa !"


"Tapi kan kalian tidak..,"


"Aku akan belajar mencintainya ! Dan aku juga akan mencintai anak yang dikandungnya !" potong Gio tanpa ragu.


"Aku akan menjalani pernikahan ini dengan sebenar-benarnya. Aku akan belajar menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Aku akan mencintai, melindungi dan menyangi mereka dengan sepenuh hati," lanjut Gio seraya menatap dalam mata sang ayah. Menandakan jika apa yang ia katakan adalah sungguh-sungguh.


"Papa pegang ucapanmu, Gio ! Janganlah menjadi lelaki brengseek yang merusak wanita. Mungkin kamu tak mencintai gadis itu tapi dia sudah ditakdirkan untukmu. Perlakuan mereka dengan baik. Dan cepatlah menikah sebelum perutnya bertambah besar !"


Gio masih menatap dirinya sendiri. Pikirkannya melayang pada gadis yang akan menjadi istrinya itu. Tak ada seorangpun yang tahu bagaimana takutnya Gio kehilangan Amara dan anak mereka saat Amara berusaha untuk menghilangkan nyawanya sendiri.


Tak ada seorangpun yang tahu jika dalam hatinya Gio terus meminta pada Tuhan agar menyelamatkan keduanya. Dan keputusan untuk mempercepat pernikahan pun adalah idenya. Gio ingin menjaga juga mengurus Amara dengan lebih keras lagi.


Tak ada seorangpun juga yang tahu jika hati Gio terasa diremas dengan hebatnya saat Amara mengatakan ia mencintai pria lain. Tapi, Gio pun sadar diri. Ia tahu jika dirinya tak punya hak untuk marah atau cemburu karena Gio lah yang menjadi orang ketiga diantara Amara dan tunangannya.


"Silahkan terus mencintainya, tapi jangan larang aku untuk belajar mencintaimu," ucap Gio dalam hatinya.


"Mobilnya sudah siap. Ayo pergi !" ucap sang ayah yang kini hadir di bingkai pintu, dan ia pun melihat Gio dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


Gio anggukan kepalanya "ayo kita pergi, Ma," ajak Gio seraya menggandeng tangan ibunya itu.


Sang ibu tak langsung melangkahkan kakinya, ia terdiam sebentar sembari mengusap lembut punggung tangan anak lelaki satu-satunya itu. "kamu yakin akan melakukannya, Gio ?" Tanya nya pelan untuk memastikan.


Gio pun tersenyum "aku sangat yakin, Ma," jawab Gio sembari mengajak ibunya itu untuk pergi. Sedangkan sang ayah menepuk bahu Gio sebagai tanda dukungannya.


Gio menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia pergi ke rumah Amara dan menikahinya.


***


Amara duduk di hadapan sebuah cermin dan menatap kosong pada bayangannya sendiri. Seorang make up artist profesional tengah bersusah payah merias wajahnya yang sembab, karena terlalu banyak menangis semalam. Bahkan sang perias itu pun berulang kali mengingatkan Amara untuk tak menangis lagi.


"Mbak, bisa minum dan menenangkan diri dulu," ucapnya memberikan saran. "Pastinya Mbak sangat gugup ya," lanjutnya lagi berusaha untuk memahami. Ia tak tahu jika si pengantin wanita menikah dengan terpaksa. Tubuh Amara yang kurus pun tak memperlihatkan jika dirinya tengah berbadan dua.


"Sepupu saya ini menikah karena dijodohkan," sahut Dea, dan si make up artist pun mengangguk-angguk paham. Kini ia mengerti mengapa sang pengantin wanita tak terlihat bahagia di hari pernikahannya.


Amara hanya terdiam. Tak menyanggah dan juga tidak membenarkan. Sungguh ia tak peduli dengan pendapat orang tentangnya saat ini.


Setelah berjuang keras akhirnya Amara telah selesai didandani. Riasan natural membuat Amara terlihat sangat cantik dan pangling. Kebaya putih dengan leher sabrina membuatnya terlihat begitu berbeda.


"Kamu cantik banget, Ara," puji Dea tulus. Amara hanya melengkungkan senyumnya dengan terpaksa.


"Rombongan pengantin pria sudah datang," ucap salah satu kerabat dekat Amara. Membuat debaran jantung Amara semakin menggila, dan tubuhnya gemetar tanpa diminta. Amara menelan ludahnya sendiri yang terasa kelat. Ia bernafas melalui mulut karena sesak Amara rasakan secara tiba-tiba.


"Minum dulu Ara." Dea memberinya segelas air putih. Dan sepupunya itu merasa prihatin juga bersalah karena dirinya lah yang waktu itu menawarkan pekerjaan sebagai tenaga lepas catering.


"Bukan salahmu," sahut Amara sambil memaksakan senyumnya agar sepupunya itu tak tenggelam dalam rasa bersalah.


Dalam hatinya, Amara masih menyalahkan diri sendiri yang tak bisa melawan Gio di malam naas itu.


***


Di lantai bawah Gio baru saja memasuki rumah Amara dan menatap penuh rasa khawatir saat melihat kursi untuk dirinya melakukan akad nikah tidak diduduki oleh Amara, calon istrinya.


"Amara masih di kamarnya," ucap Ibu Amara. Seolah-olah tahu kegelisahan yang Gio rasakan.


Gio pun tersenyum lega saat mendengarnya. "Ah ya..," sahut Gio.


Setelah acara penyambutan pengantin pria selesai dilakukan, semua tamu yang mengantarkan Gio duduk di kursi yang telah disediakan. Sedangkan Gio kini mendudukkan tubuhnya di hadapan ayah Amara.


Ayat-ayat suci pun terdengar mengalun syahdu. Berharap berkahnya dapat membuat pernikahan Gio berjalan lancar dan bahagia. Debaran hati Gio kian kencang saat acara ijab qobul pun tiba.


Telapak tangan Gio yang terasa dingin berjabatan erat dengan ayah Amara. "Saya terima nikah dan kawinnya Amara Mahreen binti Rustandi Mahreen dengan maskawin uang sebesar seratus tujuh puluh satu ribu dollar dibayar tunai," ucap Gio secara lancar dan lantang.


Banyak orang yang tercengang saat mendengar mas kawin yang Gio berikan. Termasuk kedua orangtua Amara. Karena jika dirupiahkan besarnya mencapai 2,5 milyar. Belum lagi perhiasan dan juga beberapa barang mewah lainnya yang Gio bawa sebagai seserahan. Padahal Amara dan keluarganya tak pernah meminta itu semua.


"Sah !!!" Para saksi berucap lantang dan kata syukur pun terucap dari mulut orang-orang yang hadir di sana. Semuanya terlihat bahagia dan juga lega.


***


"Sah !!!" Kata itu membuat tubuh Amara gemetar hebat. Lagi-lagi Amara mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. Dea memberikan gadis itu selembar tisu untuk mengusap ujung matanya yang basah. Saat ini Amara masih duduk di dalam kamarnya bersama Dea dan beberapa orang yang telah merias wajahnya tadi.


Amara merasa kian sesak saja saat ibunya datang untuk menjemputnya dan mempertemukannya dengan Gio yang kini sudah sah menjadi suaminya.


"Ayo Amara, temui suamimu," ucap ibunya lembut. Ia menarik tangan Amara untuk menggandeng lengannya. Bahkan Dea pun ikut menggandeng tangan Amara yang lain karena pengantin itu terlihat lemas dan tak bersemangat.


Susah payah Amara menahan laju air matanya. Ia menangis dan menjerit dalam hatinya. Seandainya saja bisa, Amara ingin menghilang pergi dari tempat itu dan berhambur pada pelukan Danis sang kekasih yang sesungguhnya.


Gio tolehkan kepalanya ke arah tangga. Matanya memburam karena air bening yang menggenang di pelupuk matanya. Gio terpesona oleh kecantikan gadis yang telah sah menjadi istrinya.


Bahkan tanpa sadar Gio pun berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin menyambut kedatangan Amara di sisinya. "Sabar Mas Giovanni, nanti Mbak Amara nya juga datang kesini," ucap penghulu membuat para tamu tertawa geli. Dan Gio pun dudukkan kembali tubuhnya di kursi dengan wajah tertunduk malu.


Benar saja, Amara duduk tepat di sebelahnya. Gadis itu tak sekalipun melihat pada Gio. Amara sibuk mendengarkan wejangan tentang pernikahan dan menandatangani beberapa berkas pernikahannya.


Tibalah saat untuk saling menyematkan cincin pernikahan. Gio yang sedari tadi menatap Amara penuh perasaan haru harus menelan rasa kecewa saat melihat cincin tunangan Amara masih tersemat di jari manis istrinya itu. Rupanya Amara tak main-main dengan perkataannya bahwa ia masih mencintai tunangannya dan akan selalu seperti itu selamanya.


Bahkan Amara tak menyentuhkan bibir, hidung atau dahinya saat ia pertama kali bersalaman dengan lelaki yang kini menjadi suaminya. Amara hanya menyentuh tangan Gio sebentar saja.


Walaupun sedih dan kecewa, Gio tak memperlihatkannya pada orang-orang. Ia mengangkat dagu Amara agar gadis itu melihat padanya. Mata mereka pun bertemu dan terkunci untuk beberapa saat.


Mata Gio meredup sayu saat menatap istrinya itu. Perlahan Gio tundukkan kepalanya dan mencium dahi Amara dengan dalam dan penuh perasaan.


Ada gelenyar aneh yang merambat masuk ke dalam hati Gio, sampai-sampai ia memejamkan matanya. Menikmati perasaan aneh dan menyenangkan yang sedang Gio rasakan. Entah apa itu namanya, tapi Gio merasakan getaran saat dirinya bisa menyentuh Amara.


To be continued


Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa


Like dan komen banyak2