
"Aku hanya kelelahan," jawab Amara. Tapi, sayangnya Gio tak percaya. Semalam, Amara masih baik-baik saja sampai datangnya Dea.
Semalam Gio pun tak bisa tidur karena memikirkan Amara. Perasaan cintanya yang kian dalam membuat Gio berpikiran jika istri yang sangat membencinya itu merasa cemburu padanya. Dan Gio berharap itu benar-benar terjadi.
Beberapa kali Gio menertawakan dirinya sendiri yang merasa bodoh karena mengira Amara mempunyai perasaan itu padanya. Entah apa yang membuat Amara berubah sikap. Tapi Gio yakin itu bukan karena Amara kelelahan.
"Kalau begitu, gak usah kuliah aja. Beristirahatlah di rumah," kata Gio.
Amara menghentikan pergerakannya yang sedang memotong rotinya dengan garpu, lalu ia mengangkat wajahnya dan melihat pada Gio. "Mmm.. ngapain juga di rumah ?" Tanya Amara.
"Bukannya kamu merasa lelah ?"
"Eh ?" Amara terjebak dengan perkataannya sendiri.
"Aku akan menemani kamu di rumah. Kita bisa melakukan olahraga kecil seperti senam kehamilan,"
"Ka- kamu gak pergi ke kantor ? Bagaimana dengan pekerjaanmu ? Papamu pasti marah" Tanya Amara beruntun. Dan ia tahu jika Gio masih dalam pengawasan ketat ayahnya.
"Tak masalah jika aku tak masuk satu hari saja-" Gio menjeda ucapannya karena ia melihat keterkejutan di wajah Amara.
"Atau aku bisa mengajukan cuti untuk beberapa hari jika kamu mau. Kita akan melakukan beberapa latihan kecil bersama. Dan aku yakin Papa dan juga om ku akan mengerti," tawar Gio.
"Ta-tapi bukankah kamu harus membantu Dea dalam melakukan risetnya?"
"Di kantor, banyak orang yang dapat membantu sepupu mu itu. Sedangkan kamu, hanya aku saja yang boleh menemani mu," jawab Gio. Ia menatap Amara lekat-lekat saat mengatakan hal itu. Menunjukkan rasa posesifnya yang begitu kentara.
Dan apa yang Gio ucapkan sebagai jawaban membuat Amara merasakan gejolak dalam dirinya. Sampai-sampai ia harus menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah.
Cemas Gio rasakan saat melihat Amara menatapnya tanpa berkedip. Gio yakin Amara terlalu syok dengan perkataannya. "Mak- maksudku menemani kamu melakukan latihan kecil," ralat Gio.
"Bagaimana jika aku tak mau melakukan latihan kecil?"
"Tak masalah, aku akan menemanimu melakukan apa saja yang kamu sukai," jawab Gio.
"Bagaimana jika yang aku lakukan itu membuatmu bosan?"
Gio tersenyum lembut mendengarnya, "Aku tak pernah merasa bosan jika itu denganmu," jawab Gio lagi.
Amara pun tersenyum samar, ia kehabisan kata-kata untuk membuat Gio menyerah.
"Kita coba satu hari ini saja, bagaimana ? Seandainya kamu suka, aku akan mengambil cuti besok. Jika kamu tak menyukainya, kamu bisa kuliah dan aku kembali bekerja," bujuk Gio.
"Kamu akan menemani aku melakukan apa saja ?" Tanya Amara, dan ia tak bisa menyembunyikan binar bahagia dari matanya.
"Hu'um, sebutkan saja ! dan aku akan menemani mu," jawab Gio tanpa ragu.
"Kamu Lebih memilih aku daripada Dea ?"
Gio berkerut alis tak paham, "Kamu selalu jadi yang utama, tak ada pilihan lain yang bersanding denganmu," jawab Gio.
Amara menggigit bibir bawahnya, ia merasa apa yang Gio katakan memberinya efek kupu-kupu di dalam perutnya.
"Jadi... Mau ?" Tanya Gio takut-takut. Ia takut Amara berubah pikiran.
Tanpa Gio sangka, Amara anggukan kepalanya menyetujui. Dan lelaki itu tersenyum karenanya.
Sedangkan Amara, ia merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Amara mengambil dan memeriksa nya di bawah meja. Tepat seperti dugaannya, Danis lah yang menghubunginya.
"Maaf, semalam aku ketiduran setelah mengerjakan banyak tugas," jawab Amara pada pesan Danis yang menayangkan mengapa Amara tak menerima panggilan teleponnya tadi malam.
Beberapa detik kemudian Danis pun kembali membalas pesan Amara, dan ia masih membacanya di bawah meja. Entah mengapa Amara sangat tak ingin Gio melihatnya berkirim pesan. "Hari ini pun aku akan sangat sibuk, ku harap kamu mengerti dan tak menghubungi aku dulu. Aku yang akan menghubungi kamu lebih dulu jika semua tugasku sudah selesai," balas Amara.
"Iya Sayang.. aku juga sangat mencintaimu," Amara menuliskan balasan terakhirnya dan segera memasukkan benda pipih itu ke dalam tasnya sebelum Gio datang menghampirinya.
"Oke jadi hari ini kita mau pergi ke mana ?" Tanya Gio yang tak bisa bisa menyurutkan senyumnya.
"Mm.. mall ?" Tanya Amara sedikit ragu. Ia membuat ekspresi lucu di wajahnya dan membuat Gio gemas.
Gio pun semakin tersenyum lebar, "ayo kita jalan-jalan, tapi aku ganti baju dulu ya sebentar." Amara pun anggukan kepalanya menyetujui.
***
Gio mengganti pakaiannya di hadapan cermin, sedari tadi ia tak bisa menghentikan senyumnya. Gio memilih pakaian terbaiknya seolah akan pergi berkencan.
"Kencan ?" Tanya Gio pada dirinya sendiri. Wajahnya menjadi panas hanya karena memikirkan itu semua.
Sedangkan Amara, ia menunggu dengan cemas di ruang makan. Belum pernah ia merasakan se- gugup itu hanya karena akan pergi dengan Gio.
Ada perasaan aneh yang menghampiri dirinya.
Antusias, cemas, bahagia, takut, semua bercampur aduk hingga Amara merasakan debaran jantungnya kian menggila.
***
Dea datang pagi-pagi sekali ke kantor Gio. Ia sudah berdandan dengan sangat maksimal. Bahkan gadis itu sengaja membeli baju baru untuk hari pentingnya ini.
"Mbak Dea Natasha ya ?" Tanya seorang gadis yang datang dari dalam kantor. Ia berjalan menghampiri Dea yang duduk di ruang tunggu.
"Iya !" Sahut Dea penuh semangat.
"Saya, Riska. Asisten Pak Gio," sahut gadis itu ramah.
Dea tersenyum, ia begitu antusias dan penuh semangat. Dea berpikir jika gadis bernama Riska itu akan segera membawanya untuk bertemu dengan Gio.
"Saya yang akan membantu Anda selama melakukan riset di perusahaan ini,"
Dea terperangah, ia tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terlihat kecewa. "Memangnya Gio kemana ? Eh maksud saya Pak Giovanni," ucapnya salah tingkah.
"Pak Gio sedang ada urusan yang sangat penting dan tak bisa diganggu," jawab gadis bernama Riska itu.
Dea mengangguk paham, dan ia pun tersenyum. Padahal dalam hatinya, Dea merasa kecewa karena bukan Gio yang ditemuinya.
To be continued ♥️
Thanks for reading...
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 🥰