
"Selamat Gio ! Papa sangat bangga padamu," ucap ayah Gio sembari menjabat erat tangan anak lelakinya itu. Lelaki yang masih terlihat tampan walaupun tak lagi muda itu mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tersenyum lebar dan matanya berbinar. Ini kali pertama Gio melihat sang ayah seperti itu.
Setelah beberapa tahun ini sang ayah selalu melihatnya dengan tatapan mata suram dan tak bersahabat. Kini Gio bisa melihat sang ayah kembali bangga padanya seperti dulu.
"Terimakasih Pa," sahut Gio.
Tanpa aba-aba, ayah Gio menarik anaknya itu pada pelukan dan menepuk-nepuk punggungnya. "Great job ! Kamu sungguh hebat," ucapnya lagi. Membuat Gio merasakan hangat di dalam dadanya.
Ah... Seandainya sang ayah tahu jika Gio berusaha keras itu untuk bisa memenuhi perjanjian nya dengan Amara tentang sejumlah uang yang harus dibayarnya.
Tapi tanpa Amara, tentunya Gio tak akan bisa seperti ini. Walaupun jalannya menyakitkan tapi ternyata membuahkan hasil yang luar biasa.
"Terimakasih juga untukmu, Dea," ucap ayah Gio pada gadis yang sedari tadi memperhatikan keduanya.
Dea yang mendapatkan ucapan terimakasih secara langsung dari bos besarnya menjadi salah tingkah. "Mmhh sama-sama, Pak," sahutnya sembari sedikit bungkukkan tubuhnya sebagai tanda penghormatan.
"Kita harus merayakannya," celetuk ibu Gio.
"Ya, setuju," sahut ayah Gio menimpali.
"Bagaimana jika makan malam di rumah?" Tanya ibu Gio dan suaminya mengangguk menyetujui.
"Kamu juga harus datang, Dea !" ucap Ibu Gio membuat gadis itu terperanjat.
"Baiklah, besok malam di rumah tepat pukul delapan," lanjut ibu Gio tak ingin dibantah.
"Baiklah, Bu. Terimakasih atas undangannya," ucap Dea sembari tersenyum manis.
"Ingat Gio, besok ajak Dea !" ucap ibu Gio pada anaknya yang kini sibuk dengan ponselnya.
Gio yang sedang fokus pada layar ponselnya hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tanpa ia tahu apa yang ibunya minta darinya. "Iya, Ma," jawab Gio. "Mmmhhh Gio harus kembali ke ruangan sebentar," pamitnya.
Melihat Gio yang tengah sibuk, ayah dan ibunya pun mengizinkan. Sedangkan Dea hanya bisa menatap punggung Gio yang bergerak menjauhinya.
Tak ada yang tahu jika yang menyita perhatian Gio saat ini adalah sebuah pesan yang dikirimkan oleh seseorang. Pesan yang baru pertama kali Gio terima tanpa harus menghubunginya lebih dulu.
Pesan singkat yang mampu membuat dunia Gio langsung berubah cerah.
"Bagaimana dengan presentasinya ?" Tulis kontak yang bernama Amara. Hanya karena pesan singkat itu saja, jantung Gio bekerja dengan extra. Bahkan ia harus masuk ke ruangannya sendiri untuk meyakinkan diri jika yang terjadi bukanlah sebuah mimpi.
Gio membacanya berulang kali, dan memastikan jika yang mengirimkan pesan singkat itu adalah Amara. Ia menarik nafas dalam dan duduk di atas kursinya dengan mata yang terus tertuju pada layar ponselnya.
"Calmdown... Tenang Gio.. tenanglah..," ucap Gio pada dirinya sendiri. Dengan perlahan, Gio pun mengetikkan balasan.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar dan aku berhasil mendapatkan kerjasama itu. Terimakasih atas do'a dan dukungan mu. Itu sangat berarti bagiku," tulis Gio sembari mengeja pelan setiap kata yang ia tulis. Gio tak mau membuat kesalahan walau sedikitpun. Masih dengan dada berdebar kencang, Gio mengirimkan pesan pada istrinya itu.
Mata Gio terus tertuju pada layar, menanti yang terjadi selanjutnya. Ia sandarkan tubuhnya di kursi, agar bisa lebih tenang. Perasaannya tak karuan saat melihat Amara tengah mengetikkan balasan.
"Selamat Gio, aku ikut bahagia mendengarnya," balas Amara, membuat Gio senyum-senyum sendiri saat membacanya.
Gio mengigit bibir bawahnya pelan. Berpikir tentang sebuah ide yang tiba-tiba muncul dari dalam kepalanya. Tapi ia begitu takut Amara akan menolaknya.
Dengan perasaan cemas dan juga bercampur harap, Gio pun memberanikan diri untuk menulisnya. "Bagaimana jika kita merayakannya dengan makan malam bertiga bersama Evan ?" Tulis Gio dan segera ia mengirimkannya.
Amara tak langsung membacanya, membuat rasa cemas Gio menjadi bertambah-tambah. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya. Gio biarkan benda pipih miliknya itu di atas meja dan berharap untuk segera mendengar bunyinya.
Tak lama apa yang Gio harapkan, akhirnya terkabul juga. Benda pipih itu bergetar juga berbuny, dan tertera nama Amara di sana. Takut-takut Gio mengambil dan langsung membacanya.
Rasa bahagia Gio karena Amara menerima ajakannya, sama dengan saat dirinya mendapatkan perjanjian kerjasama tadi.
"Baiklah... Malam ini kita akan makan malam di hotel YYY," balas Gio sembari menyebutkan nama sebuah hotel mewah dan ternama di kota Jakarta.
"Iya," balas Amara lagi.
"Sampai ketemu nanti ya," tulis Gio mengakhiri percakapan singkat mereka melalui pesan. Setelah itu, Gio langsung menghubungi hotel yang dimaksud. Untunglah Gio yang menghubunginya sendiri hingga pihak hotel pun segera menyetujui reservasi tempat yang Gio ajukan. Padahal biasanya butuh Waktu menunggu yang cukup lama agar bisa makan di sana.
***
Hari ini suasana hati Gio sungguh sedang baik. Ia banyak memperlihatkan senyuman. Dan itu membuat jantung seorang gadis berdebar dengan tak aman. Ia tak bisa mengalihkan perhatiannya dari lelaki yang begitu sempurna di matanya.
Gio pun bukan seorang yang tak tahu diri, ia juga mengucapkan kata-kata terimakasih pada Dea yang telah membantunya. "Terimakasih doang ?" Tanya Dea sambil mencebikkan bibirnya merajuk.
"Gak hanya itu saja, besok kan kita akan makan malam bersama di rumahku," jawab Gio. Ia tahu itu karena sang ibu mengirimkan pesan untuk mengingatkan.
"Ya.. itu sih ibumu yang ngajak !" Protes Dea, dan Gio paham apa yang sebenarnya diinginkan oleh gadis itu.
Gio terdiam untuk beberapa saat sambil berpikir apakah tak masalah jika ia mengajak Dea untuk makan malam berdua lagi ?
"Ku kira kita ini best friend," lanjut Dea merajuk.
"Best friend?" Tanya Gio dalam hati. Ia tersenyum lega saat Dea berpikir jika mereka ini hanyalah sahabat.
"Oke aku traktir makan malam lagi di tempat kemarin," ucap Gio tanpa beban.
"Malam ini" tanya Dea antusias.
Gio gelengkan kepala. "nggak malam ini, aku udah ada janji yang gak bisa aku batalin," jawab Gio.
"Oh oke, lusa ?"
"Hu'um... Boleh," jawab Gio menyetujui.
***
Gio pulang lebih awal, ia sungguh bersemangat karena akan makan malam dengan Amara. Dan hatinya semakin bahagia saja saat mendapati Amara dan Evan sudah menunggunya di rumah.
"Pukul 7 kita pergi ya," ucap Gio dan Amara pun menyetujuinya.
Gio bersiap di dalam kamarnya. Ia mencoba beberapa jas terbaiknya. Gio ingin terlihat sempurna di mata Amara malam ini.
Begitu pun Amara, setelah selesai memilih baju terbaik Evan, ia pun segera bersiap-siap. Amara membuka lemari dan mengeluarkan hampir semua isinya. Mencari sesuatu yang paling pantas untuk dipakainya malam ini. Sebenarnya tadi Amara berniat untuk membeli sebuah gaun yang khusus untuk dikenakannya malam ini. Tapi kesibukannya di kampus membuat Amara tak bisa melakukannya.
Pilihan Amara jatuh pada sebuah dress berwarna merah maroon yang tak pernah dikenakannya dari pertama kali membelinya. Dress itu Amara simpan untuk digunakan pada saat-saat istimewa. "Bukankah malam ini juga istimewa?" Tanya Amara sembari bercermin. Ia juga ingin tampil menarik malam ini, karena ini adalah momen spesial untuk Gio.
Amara putuskan untuk mengenakannya dan memberikan sentuhan riasan natural di wajahnya. Tak lupa juga Amara menyemprotkan parfum favoritnya di setiap titik nadi. Agar hanya Gio saja yang bisa menikmati wangi tubuhnya.
Setelah selesai bersiap Amara pun keluar dari kamarnya dan ia mendapatkan Gio sudah menunggunya di ruang tamu bersama Evan.
Gio langsung berdiri saat melihat Amara datang. Hampir saja ia menjatuhkan rahangnya karena terlalu terpesona oleh kecantikan istrinya itu.
"Kamu sangat cantik, Amara," puji Gio dengan tatapan matanya yang lembut dan penuh damba.
To be continued ♥️