Hate You, Love You

Hate You, Love You
Ketahuilah



"Sayang... Aku datang untuk menjemputmu pulang..."


Tubuh Amara gemetar, perkataannya tercekat di tenggorokan. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa rindu, bahagia dan juga tak percaya bercampur aduk di dalam hatinya. "Gio.." gumamnya pelan.


Bruk !


Amara berhambur pada pelukan Gio dan menangis hebat di sana. "Gio... Gio... Aku merindukanmu... Demi Tuhan, aku sangat merindukanmu..," ucapnya lirih, tapi Gio masih bisa mendengarnya dengan jelas. Lega yang Gio rasakan saat ini.


Amara membelitkan kedua tangannya dengan erat pada tubuh Gio seolah tak ingin lagi kehilangannya. Kali ini Amara tak lagi menutupi perasaannya.


Gio balas pelukan itu sama rindunya. Bahkan ia mencium puncak kepala Amara dengan lama. "Aku pun Sayang... Aku merindukanmu hingga rasanya mau gila," balas Gio.


Untuk beberapa saat keduanya saling berpelukan dalam sunyi, seolah meluapkan rasa rindu yang tak ada duanya. Hingga Gio rasakan perut buncit Amara mengganjal di antara mereka. Gio uraikan pelukannya dan kemudian berlutut di hadapan istrinya itu. Gio menengadahkan kepalanya dan menatap Amara dengan dalam. "ini anakmu... ini anak kedua kita, Gio," ucap Amara. Ia tersenyum dan juga menangis di saat yang bersamaan. Terbersit rasa takut jika Gio tak akan percaya pada ucapannya.


"Tentu saja dia anakku," kata Gio. Seperti halnya Amara, Gio pun tersenyum dan menangis di saat yang sama. "Maaf.. Maaf karena Papa datang terlambat. Tapi asal kamu tahu, Papa sangat mencintaimu," bisik Gio tepat di atas perut Amara yang buncit dan ia memberikan beberapa ciuman di sana.


Lagi-lagi Amara menumpahkan air matanya, namun kali ini karena rasa bahagia yang tak terhingga. Amara tak menyangka jika Gio langsung mengakuinya.


"Dia bergerak, Gio," ucap Amara sembari menutup mulutnya karena tak percaya. Sepertinya tak hanya dirinya saja yang merasa bahagia, tapi juga sang bayi yang dikandungnya.


Mata Gio semakin berbinar bahagia, ia kecup perut buncit Amara sekali lagi. Sungguh Gio tengah diliputi rasa bahagia yang luar biasa.


"Ayo masuk, jangan di atas lantai seperti ini." Amara ulurkan tangannya pada Gio dan suaminya itu dan menyambut uluran tangan Amara dengan suka hati.


Gio masuk ke dalam apartemen itu. Ia edarkan pandangan, menelisik isinya. Desah nafas lega lolos dari mulut Gio karena ternyata Amara dan anaknya hidup dalam kondisi yang sangat baik.


Amara sadari hal itu. "Berkat uang darimu, aku dan bayiku bisa hidup dengan layak. Terimakasih, Gio," ucap Amara tulus.


Dulu Gio pernah merasakan kecewa saat Amara berlaku seperti itu. Meminta bayaran hanya karena diminta menyusui Evan. Tapi ia tak menyangka jika uang itulah yang kini menyelamatkan Amara dan juga anaknya. Gio tersenyum samar. Ia sadar jika dirinya tak boleh berburuk sangka pada Tuhan, karena apa yang mengecewakan belum tentu tak baik untukmu. Dan Gio merasakan hal itu sekarang.


"Seandainya aku tahu kamu hamil, Ara. Aku akan langsung datang padamu."


"Maafkan aku tak mengabarimu. Aku tak ingin-"


"Ssttt.. jangan bicarakan hal itu... Kita sudah bertemu sekarang, dan aku tak akan pernah melepaskanmu lagi. Kamu akan menjadi milikku, Ara. Satu-satunya milikku," potong Gio.


Amara anggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Ia sangat ingin menjadi milik Gio apapun yang terjadi. Amara sudah tak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya. Bahkan ia tak protes saat Gio memanggilnya "Ara". Sungguh Amara akan memasrahkan dirinya pada Gio seorang. "Aku milikmu Gio... Hanya milikmu," ucap Amara.


Gio menarik tubuh Amara dalam pelukannya. Ia tundukkan kepala, sedangkan Amara menengadah sehingga bertemu lah pandangan mata mereka.


"Aku mencintaimu, Amara. Sangat cinta sama kamu, tak pernah ada yang lainnya. Jadi... Ku mohon... Kembali lah padaku dan Evan."


"Aku mencintaimu Gio... Entah sejak kapan.. tapi kini yang ku tahu adalah... Aku tak mampu hidup tanpamu dan juga Evan. Rasanya ingin mati saja, saat kamu tak ada di sisiku," ucap Amara dengan sebenarnya. Ia mengatakan apa yang selama ini dirasakannya.


Gio semakin tundukkan kepalanya, ia tak sabaran untuk melabuhkan bibirnya di atas bibir Amara. Tapi pertanyaan Amara membuat Gio mengurungkan niatnya. "Kenapa wajahmu seperti ini Gio ? Ayo duduk, biar aku obati dulu," ucap Amara seraya menyentuh luka di wajah Gio dengan lembut.


"Oh ini.." Gio tersenyum samar, ia teringat kebodohannya beberapa waktu lalu. Dibandingkan bicara baik-baik dengan Danis, Gio memilih untuk langsung bertindak. Gio lakukan itu karena mengira Danis telah menyakiti hati Amara dengan sengaja.


"Ayo duduk. Akan aku ambilkan obat." Amara pun menuntun tangan Gio menuju sofa.


Gio duduk dengan tatapan mata yang terus tertuju pada Amara. Ia perhatian pergerakan istrinya itu yang sedang mencari kotak obat. Gio sangat menyukai jika Amara berada dalam jangkauan matanya.


Gio menceritakan semuanya. Tak ada satupun yang ia tutupi. Gio ingin hubungannya yang baru dengan Amara terjalin dengan penuh keterbukaan, tak ada lagi yang ditutupi.


Gio akan mencintai Amara dengan terang-terangan. Jika perlu secara ugal-ugalan, agar istrinya itu tahu bahwa ia sangat mencintainya. Gio tak akan lagi diam-diam menyembunyikan perasaannya.


"Apa ini sakit?" tanya Amara seraya menyentuhkan kain kasa itu pada lebam di pelipis Gio. Jarak mereka begitu dekat, dan Gio tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia tatapi wajah Amara dengan lekat. Tak sekalipun matanya teralihkan.


"Ya," jawab Gio.


Cup ! Amara mengecup luka itu dengan bibirnya. Membuat dada Gio tiba-tiba berdebar dengan menggila.


"Apa yang ini juga sakit ?" Tanya Amara lagi saat ia sentuhkan kain itu tepat di hidung Gio yang terlihat sedikit lecet.


Gio menelan ludahnya sendiri dengan susah payah sebelum ia menjawab pertanyaan Amara. "Sa- sakit," jawab Gio terbata-bata.


Cup ! Amara kembali mengecup luka itu dengan bibirnya.


Pandangan mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat. Jakun Gio bergerak naik-turun, pertanda ia kembali menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Darahnya berdesir hangat saat Amara memperlakukannya seperti itu.


Kini Amara beralih pada sudut bibir Gio yang pecah. Tangan Amara gemetar saat menyentuhnya. "Yang ini juga sakit," ucap Gio tanpa Amara tanya. Gio sudah tak sabaran agar Amara menciumnya di sana.


Mata keduanya masih saling bersitatap. Gio dekatkan wajahnya, begitu juga Amara. Hingga bertemulah bibir keduanya dengan sempurna.


Gio pejamkan matanya, ia mengul*m bibir Amara dengan lembut dan penuh perasaan cinta. Meskipun sakit, tapi Gio tahan. Ia tak ingin cepat-cepat menyudahi ciuman itu.


Begitu juga Amara, ia pejamkan kedua matanya. Menikmati setiap ******n yang Gio berikan. Dadanya berdebar kencang dan sungguh dirinya merasa melayang karena rasa nikmat yang bukan kepalang.


Cukup lama keduanya saling berpag*t bibir dengan penuh perasaan cinta hingga Gio mengerang tanpa sengaja. Rasa sakit di bibirnya yang membuat Gio seperti itu.


"Sakit ?" Tanya Amara tepat di atas bibir Gio yang basah. Dahi mereka saling bersentuhan pelan dan nafas keduanya sama-sama terengah.


"Ya," jawab Gio sejujurnya.


"Jangan berkelahi seperti ini lagi... Jangan membuatku takut."


"Aku kira dia telah menyakitimu, Sayang. Hingga hatiku dipenuhi rasa marah. Tak ada seorangpun yang boleh menyakitimu.." sahut Gio.


"Tapi itu bisa membuatmu celaka seperti ini," ucap Amara lagi dengan dahi keduanya yang masih saling menempel satu sama lain.


"Akan aku lakukan apapun untukmu, Amara. Karena hanya kamu yang aku cinta dan kamu begitu berharga. Ketahuilah Sayang... aku rela mati jika itu untukmu."


to be continued


Jangan lupa like dan komen yaaa


Vote juga boleh banget


Terimakasih ♥️