Hate You, Love You

Hate You, Love You
Sadar



Amara amati tetes demi tetes cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya. Ini bukan kali pertama ia masuk dan dirawat di rumah sakit. Sudah memasuki bulan ke empat di masa hamilnya tapi Amara masih saja mengalami masa ngidam yang tak seperti sebelumnya. Padahal kehamilan ke dua ini Amara jalani dengan penuh kehati-hatian.


"Maafkan Mama, Sayang..," ucap Amara sembari mengelus gundukan kecil di perutnya. Seperti sang kakak, Evan, si calon adik yang dikandung Amara pun bertahan dengan kuat di dalam kandungannya. Hanya saja Amara yang lemah. Nafsu makannya tak kunjung membaik karena rasa mual yang terus menderanya.


Tapi diantara itu semua, yang memperburuk keadaan Amara adalah rasa rindunya pada Gio dan Evan yang semakin menjadi-jadi. Amara sering terbangun dan menangis sendirian di tengah malam. Hanya karena teringat pada keduanya. Bahkan foto Gio dan Evan, Amara simpan di sebelah ranjangnya.


Amara sudah mewanti-wanti, bahkan ia juga memohon pada Danis dan Karina agar tak menghubungi Gio karena Amara tak ingin merusak rencana pertunangan Gio dan sepupunya.


Amara selalu berpikir jika apa yang ia rasakan saat ini, cinta yang menggebu pada Gio adalah karma yang memang harus ia terima. Dulu, Amara telah memperlakukan Gio dan Evan dengan tidak baik.


"Sampai kapan mau seperti ini ? Aku rasa sebaiknya Gio pun berhak tahu keadaanmu. Mungkin ini adalah jalan untuk kalian agar tetap bersama," ucap Karina sembari mengusap lembut kepala Amara. Ia berkata seperti itu karena sampai detik ini pun Amara belum juga mendapatkan kata cerai dari Gio.


Tapi lagi-lagi Amara gelengkan kepalanya. Menolak ide yang diberikan oleh Karina. "Cukup kalian saja berada di sisiku, maka aku akan baik-baik saja," sahut Amara dengan lemah.


Amara benar-benar menyembunyikan keadaannya. Bahkan pada kedua orangtuanya sendiri. Amara akan berpura-pura ceria jika ada dari keluarganya yang mengajak Amara untuk melakukan panggilan Video. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Walaupun yang terjadi adalah sebaliknya. Dan tubuhnya yang tak juga berubah karena kehamilannya membuat keluarga Amara tak curiga.


"Baiklah... Katakan padaku jika kamu berubah pikiran..," ucap Karina lagi. Ia tahu keadaan Amara begitu rapuh hingga Karina tak berani untuk menekan ataupun memaksanya.


"Mau sesuatu ?" Tanya Karina lagi.


Amara menggelengkan kepalanya pelan. Tak ada yang ia inginkan saat ini. Karena apapun yang Amara mau, tak akan pernah sama seperti yang Gio berikan atau lakukan. Bahkan es krim yang Amara suka pun rasanya berubah, jika itu bukan Gio yang belikan.


"Aku mau tidur..," lirih Amara pelan. Hanya dengan tidur, Amara bisa melupakan Gio dan Evan walaupun itu hanya sebentar saja.


"Baiklah...,"


"Karina... Terimakasih banyak..," ucap Amara sembari menahan lengan Karina. Membuat gadis itu urung berdiri.


"Sama-sama... Ayo semangat sehat... Aku akan pulang dulu sebentar, nanti Danis yang akan menemani mu di sini," sahut Karina seraya menggenggam tangan Amara yang menyentuh lengannya. Sebisa mungkin Danis dan Karina bergantian untuk menemani Amara di rumah sakit.


***


"Masuk rumah sakit lagi ?" Gio bertanya sembari menggebrak meja, membuat si lawan bicara melonjakkan tubuhnya karena terlalu terkejut.


"Sakit apa ?" Tanya Gio, rasa cemas masih terlihat kentara dari wajahnya yang menegang. Rahang Gio menegas dan kedua tangannya terkepal kuat.


"Pihak rumah sakit tak bisa sembarangan memberikan informasi tentang pasien mereka."


"Apa lelaki itu menemaninya ?" Tanya Gio.


"Mmhh... Beberapa kali anggota saya melihat lelaki itu masuk ke dalam rumah sakit dan keluar sekitar satu atau dua jam kemudian."


Gio mengatur nafasnya dengan susah payah. Rasa khawatir bercampur cemburu bergemuruh di dalam dadanya. Mati-matian Gio menahan diri untuk tak meluapkan emosinya.


"Awasi terus ! Dan jika ada sesuatu yang sangat penting, kamu sendiri yang harus datang dan jelaskan semuanya padaku!"


"Baik, Pak. Jika begitu saya undur diri," ucap lelaki yang usianya tak jauh lebih tua dari Gio itu. Ia berdiri dan sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan. Lalu berlalu pergi setelah Gio menganggukkan kepala sebagai tanggapan.


Si lelaki itu pun tersenyum dan mengangguk hormat pada Dea yang baru saja masuk ke dalam ruangan Gio. Keduanya berpapasan saat tamu Gio itu hendak pergi keluar.


Dea membalas senyumannya dengan tipis. Bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa kah dia, karena beberapa bulan terakhir ini Dea sering kali melihatnya datang menemui Gio. Tapi, Dea tahu jika lelaki itu bukanlah klien bisnis Gio.


"Maaf menganggu, aku hanya ingin memberikan berkas ini," ucap Dea sembari meletakkan beberapa tumpukkan map di atas meja Gio. Dea merasa tak enak hati karena sebelumnya ia telah diperingatkan oleh Gio untuk tak masuk ke dalam ruangannya jika ia sedang menerima tamu, terutama si lelaki asing tadi.


"Its ok," sahut Gio memaklumi, ia tersenyum samar pada Dea dan langsung memeriksa berkas yang Dea bawa.


"Gio... Apa kamu lupa ?" Tanya Dea takut-takut.


Gio yang tengah fokus pada berkas itu menengadahkan kepalanya, melihat pada Dea dengan mengerutkan keningnya.


"Hari ini kita ada janji makan siang dengan Mama mu. Beliau akan tiba dalam beberapa menit lagi," jelas Dea.


Gio menarik nafas dalam. Terlalu banyak beban pikiran membuat ia lupa. "Oh ya.. maaf aku lupa. Ayo kita pergi." Gio pun berdiri sembari mengancingkan jasnya. Ia berjalan lebih dulu, meninggalkan Dea yang menatap punggung lebarnya.


Dea yang melihat itu tersenyum tipis. Ia merasa senang karena Gio mau ikut makan siang. Biasanya lelaki itu punya seribu satu alasan untuk menolaknya.


***


Disinilah ketiganya berada, di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota Jakarta. Gio duduk sendirian, sedangkan Dea dan ibunya duduk bersebelahan di hadapan Gio.


Gio tak banyak bicara, ia fokus pada makanannya yang terasa hambar. Bukan karena rasanya yang tak enak, hanya saja berita sakit Amara membuat Gio kehilangan selera.


"Gio... Ini sudah lama sekali sejak Amara pergi... Apa kalian tak berencana untuk segera melangsungkan pertunangan?"


"Ibu !" lirih Dea sembari melirik Gio dengan takut-takut. Suasana hati Gio akan berubah buruk jika membahas hal yang satu itu.


"Wajar kan Ibu bertanya, Dea. Sudah 4 bulan atau bahkan mungkin lebih sejak kepergian Amara. Evan semakin besar, ia membutuhkan kasih sayang-"


"Evan tak kekurangan apapun, dia tumbuh dengan bahagia," potong Gio dengan tatapan matanya yang berubah dingin.


"Ya, Mama tahu ! Maksud Mama tuh, Evan membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari ayah dan juga ibu."


"Ta- tapi saya tak bisa bertunangan ji- jika Gio masih terikat dalam sebuah pernikahan. Sa- saya tak mau menjadi orang ketiga," ucap Dea.


"Kapan kamu mengurusi perceraian mu, Gio ? Sampai kapan kamu menggantung status Amara? Kasihan juga dia, jauh-jauh ke Boston tapi tak bisa bersatu dengan kekasihnya karena mu."


Gio hentikan makannya, dan melihat datar pada ibunya. "Gio benar-benar sibuk di kantor. Gak sempat uruskan itu semua," ucap Gio bohong. Yang sebenarnya terjadi, hati Gio masih tak rela untuk melepaskan Amara.


"Kamu bisa meminta pengacara untuk-"


"Tidak ! Tentang Amara, akan Gio urus sendiri," potong Gio. Pembicaraan seperti ini membuat Gio semakin tersiksa. Karena setiap membicarakan Amara, maka hati Gio kian merindukannya.


"sebaiknya kita makan siang saja. Bukannya itu tujuan kita bertemu sekarang ini?" lanjut Gio yang tak ingin lagi membicarakan perceraiannya dengan Amara.


Dea yang melihat itu hanya bisa menghela nafas dalam. Semakin hari semakin Dea menjadi sadar jika tak ada setitik pun celah untuk dirinya masuk ke dalam hati Gio.


Hai genks...


mohon maaf yaaa lama gak update.


kedua mata aku kena iritasi seminggu ini. Merah dan sepet gitu. Minta doanya aja biar cepat sembuh yaa.


Terimakasih


yang suka ceritanya jangan lupa vote ya...