
Amara tundukkan kepala. Rasa bersalah membuat Amara tak sanggup untuk melihat pada kedua orang tua Gio. Ketegangan dan rasa canggung memenuhi atmosfer diantara mereka.
Gio sadar jika Amara tengah dalam keadaan lemah, maka ia pun eratkan genggam tangannya. Mengisyaratkan jika Amara tak perlu takut akan apapun karena Gio akan berdiri paling depan untuk membelanya.
"Ma, Pa," sapa Gio pada keduanya.
"Bagaikan penerbangan kalian ?" tanya ayah Gio dengan nada suara yang datar. Tak ada intonasi marah di sana. Tapi meskipun demikian, Amara masih tak sanggup untuk menatap wajahnya.
"Semua berjalan lancar," jawab Gio singkat.
"Apa kabarmu, Amara ?" Kali ini ibu Gio yang bertanya. Dan seperti sang ayah tak ada tekanan kata dalam ucapannya, menandakan jika ia tak marah.
Takut-takut Amara mengangkat wajahnya dan menatap ibu Gio dengan mata yang sedikit basah. "A-aku baik, Ma," jawab Amara terbata.
"Syukurlah jika begitu," sahut ibu Gio seraya tersenyum tipis. "Gio, ajak Amara untuk beristirahat. Mama yakin jika dia pasti kelelahan. Apalagi dengan kondisi hamil seperti itu," lanjutnya lagi.
Amara melihat pada Gio, ada yang ingin ia ucapkan tapi Amara tak sanggup untuk mengatakannya.
"Evan sudah tidur. Kamu bisa bertemu dengannya besok," ucap ibu Gio seolah bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya.
Pandangan mata Amara pun kembali pada kedua mertuanya. Lalu ia anggukan kepalanya sembari tersenyum tersenyum samar sebagai tanda mengerti.
"Ayo kita bersihkan diri dulu. Baru kita melihat Evan yang sudah tidur," ucap Gio dengan lembut. Membuat Amara menjadi tenang karenanya. Amara senang karena Gio mengerti apa yang dirinya sangat inginkan. Amara sudah tak tahan ingin segera bertemu Evan.
"Ya, kalian berganti baju dulu. Nanti Mama siapkan makanan," ucap ibu Gio lagi. Sedangkan sang suami irit bicara seperti biasa.
"Yuk, Sayang," Gio menarik tangan Amara agar berjalan mengikutinya.
"Ma, Pa.. Amara istirahat dulu sebentar," pamit Amara pada keduanya.
Ayah dan ibu Gio hanya anggukan kepala mereka menanggapinya.
"Kamu tunggu di kamar tamu. Nanti aku minta pelayan untuk menyediakan apapun yang kamu perlukan."
"Kamu mau kemana, Gio?" tanya Amara takut-takut. Ia tak mau ditinggal sendirian.
"Aku mau ke kamarku dulu. Hanya sebentar saja. Aku mau mengambil baju untuk ganti, lalu kembali lagi ke sini," jawab Gio.
"Aku ikut ! Aku ikut ke kamarmu, Gio,"
Gio tercengang, ia menatap Amara untuk beberapa saat. "Apa kamu yakin ?" tanya Gio meyakinkan Amara. Pasalnya Gio akan pergi ke kamar di mana malam terkutuk itu terjadi. Dan selama ini Amara sangat tak mau masuk ke dalamnya.
"Aku yakin, Gio. Aku juga ingin melepaskan masa laluku dan menerima semua kenyataan yang terjadi."
"Baiklah... Tapi jika kamu merasa tak nyaman, katakan padaku," sahut Gio dan Amara pun anggukkan kepalanya menyetujui.
Lagi-lagi Gio menggenggam jemari Amara saat berjalan, seolah tak ingin kehilangan. Jantung Amara berdebar kencang saat ia menaiki tangga. Ia ingin menaklukkan rasa takutnya sendiri.
Pelan namun pasti, Gio membawa Amara menuju kamarnya. Ia berhenti sejenak tepat di depan pintu kamarnya itu. "Kamu yakin ?" tanya Gio sekali lagi.
"Ya !" jawab Amara mantap. Dirinya tak pernah merasa se-yakin ini sebelumnya.
Perlahan Gio putar gagang pintu kamarnya itu hingga terbuka. Membuat Amara bisa melihat ke dalamnya.
Tak banyak yang berubah di dalam kamar itu. Hingga Amara merasakan dejavu, ingatannya kembali ke masa lalu.
"Jangan memaksakan diri," ucap Gio. Keduanya masih sama-sama berdiri di ambang pintu.
"Aku tak apa-apa," sahut Amara seraya melangkahkan kakinya lebih dulu. Ia pun memasuki kamar itu.
Bohong jika perasaan Amara tak bergejolak. Disinilah kejadian naas itu terjadi dan merubah seluruh jalan hidup Amara setelahnya. Amara edarkan pandangannya, menelisik isi kamar Gio.
Gio melangkah maju, mengikuti Amara yang telah lebih dulu masuk. "Kamu gak pa-pa ?" tanya Gio cemas.
"Jujur, sebenarnya aku merasa takut. Tapi kini tidak lagi. Kamar ini memang memberikan trauma, tapi anehnya kamu sendiri yang menjadi penyembuhnya. Jika aku tak datang ke kamar ini, maka kita tak akan pernah bersatu Gio. Walaupun awal pertemuan kita begitu menyakitkan tapi kini aku bersyukur karena telah bertemu denganmu," jawab Amara sembari tersenyum tipis.
"Aku yang minta maaf, seharusnya aku tak marah pada takdir yang telah Tuhan tetapkan untukku. Dan terimakasih karena sudah begitu sabar untukku," sahut Amara seraya menyentuh tangan Gio yang sedang ada di wajahnya. Lalu Amara menciumnya dengan lembut.
"Itu karena aku sangat mencintaimu, Amara," ucap Gio sembari tersenyum. Lalu ia angkat dagu Amara dengan jempolnya dan melabuhkan bibirnya di bibir istrinya itu.
Amara pejamkan matanya. Menikmati sesapan bibir Gio di bibirnya, dan membalas ciuman itu sama inginnya.
"Ya Tuhan ! Sebaiknya kalian menutup pintu jika ingin melakukan itu !" ucap ibu Gio yang datang dengan membawa handuk dan benda lain.yang sekiranya Amara perlukan.
Gio dan Amara lepaskan tautan bibir mereka dengan tiba-tiba. Wajah Amara memerah karena rasa malu. Ia rasakan panas di kedua pipinya.
Sedangkan Gio malah berdecak kesal. "Mama ganggu aja !" kesal Gio.
"Emangnya kalian belum puas melepas rindu?" tanya ibu Gio seraya berjalan masuk ke dalam kamar anaknya itu.
"Jika tentang Amara, tak ada puasnya," jawab Gio yang di tanggapi dengan tamparan halus di lengannya oleh sang ibu.
"Kamu itu ! Amara sedang hamil jadi harus bisa menahan diri. Ayo cepat ganti baju ! Mama udah bikinin kalian nasi goreng."
Gio menuruti perintah ibunya itu. Ia pergi ke kamar mandi untuk berganti baju. Meningkatkan Amara dan ibunya.
"ini untukmu," ucap ibu Gio seraya menyerahkan barang-barang yang dibawanya. "Mama tunggu di bawah," ucapnya lagi, lalu ia memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar itu.
"Maafin Amara ya, Ma." Perkataan Amara membuat ibu Gio menghentikan langkahnya.
"Amara bersalah karena meninggalkan Gio dan Evan. Amara sangat menyesalinya. Dan bayi yang Amara kandung, dia adalah...,"
"Anak Gio," potong ibu Amara seraya memutar tubuhnya kembali hingga kini ia berhadapan dengan Amara.
"Ya, dia anak Gio. Amara berani bersumpah atas nama Tuhan untuk kebenarannya," sahut Amara membenarkan.
"Gio bercerita apa yang kalian lakukan, tepat sebelum kamu pergi ke Amerika. Kalian sungguh tak bisa berpikir jernih. Dulu saja, kamu langsung hamil padahal Gio hanya sekali menyentuhmu,"
"Itu karena kecebongku premium," potong Gio tanpa malu. Ia telah selesai berganti baju.
"Dasar anak nakal !!" ucap sang ibu pada Gio, sedangkan Amara tertunduk malu mendengarnya.
"Mama senang kalian kembali bersama. Walau bagaimanapun Evan membutuhkan orang tua yang utuh. Semoga setelah ini pernikahan kalian berjalan dengan lancar."
"Gio jamin pernikahan ini akan berlangsung dengan bahagia karena Gio dan Amara saling mencintai. Bukan begitu, Sayang ?"
Mendengar ucapan Gio, Amara pun mengangkat wajahnya. "Ya, kami sangat saling mencintai," jawab Amara tanpa ragu. Ia mengatakan hal itu sambil menatap Gio dengan penuh rasa cinta.
"Syukurlah... Itu lah yang kami inginkan. Ayo sekarang makan dulu !" sahut ibu Gio.
Berulangkali Amara berucap syukur dalam hatinya. Yang dirinya takutkan tak terjadi. Orang tua Gio menerimanya dengan baik dan Amara sangat bahagia karenanya.
***
Pagi ini Amara terbangun dengan perasaan lega dan bahagia yang luar biasa. Gio dan Evan adalah yang Amara lihat pertama kali saat ia membuka mata. Mereka adalah dua orang yang sangat Amara cintai.
Semalam, Amara diizinkan untuk tidur di sebelah Evan. Dan tak bosan-bosannya Amara memandangi wajah Evan yang sedang tertidur lelap. Banyak kata cinta yang Amara bisikan di telinga putranya itu.
Evan membuka mata saat Amara tengah memperhatikannya. "Sayang," ucap Amara tapi Evan malah menjerit dan menangis karenanya. Membuat Gio terbangun dari tidurnya.
"Sayang ini, Mama," ucap Amara tapi tangisan Evan malah semakin keras.
"Sayang, jangan menangis. Ada Papa." Gio segera memangku Evan dan memeluknya erat. "Papa," lirih Gio seraya membalas pelukan ayahnya.
"Evan sayang..." Amara mencoba untuk menyentuh Evan, tapi bocah lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya pada Gio. Ia tak ingin disentuh oleh Amara. Membuat hati Amara menjadi ngilu karenanya.
Amara tak lebih dari seseorang yang asing di mata Evan.
To be continued ♥️