
Amara duduk dihadapan sebuah cermin, menatap pada bayangan dirinya sendiri. Kini ia hanya sendirian di dalam kamarnya, berpikir tentang apa yang tadi ia tak berani lakukan. Pada akhirnya, Amara tak mengatakan apapun pada Gio. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Amara tak bisa melakukannya.
"Masih ada banyak waktu untuk mengatakannya pada Gio. Kamu hanya butuh waktu yang tepat untuk melakukan itu," ucap Amara pada dirinya sendiri. Mencari pembenaran atas apa yang Amara lakukan tadi. Yaitu belum juga mengatakan pada Gio perihal rencana kepergiannya nanti.
***
Waktu bagai berlari, berlalu dengan cepat sekali. Hingga tak terasa bayi Evan pun sudah berusia 6 bulan. Waktu yang Amara lalui dalam mengurus anaknya tak terasa berat karena Gio benar-benar membantunya dalam merawat Evan.
Dan selama itu, Gio juga masih mengirimkan uang pada rekening Amara. Jumlahnya sesuai dengan syarat yang istrinya itu minta. Padahal Gio tahu tak sekalipun Amara menggunakan uangnya.
Karena mereka merawat Evan bersama, hubungan Amara dan Gio pun membaik walaupun hanya sebatas mengasuh anak bersama. Bahkan Amara mulai memperlihatkan sisi keibuannya. Terbukti dengan Amara yang ikut begadang saat Evan terserang demam beberapa malam lalu. Padahal telah menjadi perjanjian tak tertulis jika malam hari adalah waktunya Gio yang menjaga anak mereka.
Waktu itu Amara terbangun dari tidurnya karena ia mendengar suara tangisan bayi dari sebrang kamarnya. Amara pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Evan yang letaknya tepat di sebelah kamar Gio. Bahkan ada pintu terhubung di kamar mereka.
Saat Amara membuka pintu, ia melihat Gio tengah menimang-nimang bayi Evan agar berhenti menangis. Gio tak sendirian, ada juga suster Rani yang membantunya. Suster itu baru saja menghangatkan stok ASI milik Evan.
"Heeemmm.. hemmm hemmm." Gio bersenandung, untuk menenangkan. Namun ia berhenti saat melihat ke arah pintu dan ternyata Amara di sana.
"Amara ? Maaf tangisan Evan membuatmu terbangun," kata Gio dengan wajahnya yang terlihat bersalah.
"Mmmhh gak pa-pa. Evan kenapa?" tanya Amara, karena biasanya Evan akan tidur lelap di malam hari dan terbangun jika ingin minum susu saja. Setelah kenyang, ia akan kembali tidur. Evan sudah memiliki pola tidur seperti orang-orang pada umumnya. Tak lagi begadang seperti dulu.
"Entahlah, tubuhnya sedikit hangat," jawab Gio dengan lrasa cemas yang begitu kentara dalam nada suaranya. Gio memang sangat menyayangi anaknya itu.
"Mau gantian menimangnya ?" tawar Amara.
Gio tercengang untuk beberapa saat. Ia sungguh tak menyangka jika Amara menawarkan hal itu karena setahu Gio, istrinya itu akan mengahadapi sebuah tes di kampusnya besok pagi.l
"Bukannya kamu besok ada ujian ?"
"Hu'um... Tapi tak apa-apa, biar aku coba untuk menenangkannya," jawab Amara.
"Ya saya rasa itu sebuah ide yang baik," kata suster Rani menimpali.
"Baiklah, kita bisa mencobanya." Dengan perlahan, Gio pun memberikannya pada Amara.
Bayi Evan masih menangis saat Gio mengalihkannya pada pangkuan Amara. Namun beberapa saat kemudian ia menjadi tenang. Sungguh dekapan Amara bagaikan sebuah mantra yang sakti mandraguna.
"Ssstt.. ssttt... Sayang.. sayang..," gumam Amara sambil menimang-nimang.
"Tuh kan apa saya bilang ? Dekapan ibu itu adalah yang terbaik," ucap suster Rani.
Gio mengangguk pelan membenarkan. Ia perhatikan Amara sambil tersenyum tipis. Gio tahu di balik sikap Amara yang keras dan judes, tersimpan sifat lembut yang penuh kasih sayang. Hingga membuat perasaan Gio semakin dalam saja pada istrinya itu.
"Ku rasa aku harus duduk," kata Amara.
Gio pun tersentak, dan kembali ke alam sadarnya. "Ten- tentu," sahut Gio menimpali. Ia tahu jika Amara akan menyusui anaknya itu.
Dengan sigap, Gio menuntun Amara menuju sofa yang berada di sana. Lalu Gio pun mengambil beberapa bantal untuk menahan lengan Amara agar tak terasa pegal. Ia membantu Amara agar duduk nyaman.
Pada akhirnya bayi Evan mau tidur tapi dengan Amara yang memangkunya sembari duduk. "Evan sudah tidur, suster bisa istirahat," kata Amara dengan suaranya yang pelan agar Evan tak terbangun.
"Ya, biar kami yang menjaganya," tambah Gio.
"Kamu juga, Amara. Coba letakkan Evan dalam boxnya. Mungkin dia mau tidur jika kamu yang melakukannya. Setelah itu biar aku yang menjaganya," lanjut Gio kemudian.
Amara menggeleng pelan sebagai penolakkan, "biar seperti ini untuk sementara. Sebaiknya kamu lah yang beristirahat, Gio. Aku yakin kamu belum tidur sama sekali,"
Mendengar hal itu, Gio pun merasa senang dalam hatinya. Dengan begitu, malam ini Gio bisa berdekatan dengan Amara. "Tak apa, aku akan di sini menemani kamu,"
"Jika begitu saya istirahat dulu ya,Bu." Rani pun undur diri karena ia merasa akan lebih baik jika meninggalkan Amara dan Gio berdua saja.
Amara amati wajah Gio yang tertidur di sebelahnya. Lelaki itu memang sudah merusak hidup Amara, tapi kini ia tahu jika sebenarnya Gio adalah lelaki yang sangat baik. Terlihat dari wajah lelahnya yang tertidur pulas. Lelaki itu tak pernah marah walaupun Amara begitu menyebalkan. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas dalam kepala Amara. "Wanita yang kamu cintai pastilah sangat beruntung karena mendapatkan lelaki sebaik kamu," ucapnya dalam hati. Amara tak tahu jika wanita itu adalah dirinya.
Sejak malam itu, pandangan Amara pada Gio kian berubah. Hingga ia masih saja merahasiakan rencana kepergiannya nanti.
***
Hari ini adalah hari Minggu, Amara libur kuliah begitu juga dengan Gio yang libur bekerja. Lelaki itu sudah disibukkan dengan menjaga Evan yang kian aktif berceloteh dan tertawa karena Gio menggodanya. Sedangkan Amara tengah membuat MPASI di dapur yang dibantu oleh asisten rumah tangganya.
"Aku datang...," Tiba-tiba saja seorang gadis datang dengan membawa dua paper bag di tangannya. Siapa lagi jika bukan Dea, sepupu Amara.
"Hai," sapa Amara sambil tersenyum menyambut kedatangan sepupunya itu.
"Aku bawain alpukat dan jeruk bayi buat ponakan aku yang tercinta," ucap Dea.
"Makasih Aunty Dea," sahut Amara sambil menirukan suara anak kecil.
Ini bukan pertama kalinya Dea datang. Gadis itu seringkali datang untuk melihat keadaan Amara juga Evan. Ia menyayangi Evan bagai anaknya sendiri. Sejak Amara masih gadis hubungannya dengan Dea memang sangat dekat, tak heran jika kini mereka pun menimba ilmu di kampus yang sama.
Dulu, Amara pernah merasa jengah saat Dea bekerja dengan Gio. Dirinya tak suka Dea dekat dengan lelaki yang telah berbuat jahat dengannya tapi kini Amara bisa menerima kenyataan itu.
Dan Amara pun tak keberatan dengannya karena Dea cukup tahu diri. Dea akan bercengkrama dengan Evan jika ada Amara di sana. Dea tak akan berani jika hanya ada Gio saja. Gadis itu juga masih bekerja di kantor Gio. Jadi, terkadang ia datang sekalian untuk urusan pekerjaan.
Hanya saja Amara tak tahu jika sepupunya itu menaruh rasa simpati pada Gio. Ia mengagumi lelaki itu dalam diam. Ya, Dea menyimpan perasaannya sendirian.
"Makanan Evan udah siap ?" Tanya Gio yang tiba-tiba datang ke dapur. "Loh kamu, De ?" Tanya Gio kemudian.
"Iya bos, biasa mau nengok ponakan aku," jawab Dea yang langsung menggoda Evan.
"Sebentar lagi siap," jawab sang asisten rumah tangga.
"Biar aku yang suapin ya," ucap Dea yang memang sangat menyukai Evan.
"Evan akan kami suapi, kamu bisa mandi atau lakukan apapun yang kamu mau," ucap Amara pada Gio.
Gio pun tersenyum dan mengangguk menyetujui. "Baiklah, aku akan mandi. Tolong jaga Evan sebentar," ucapnya sembari menyerahkan Evan pada Amara, padahal Dea sudah siap untuk menerimany
.
Dea pun menundukkan kepala, menyembunyikan senyum kecewanya. Bahkan sampai hari ini Gio belum juga menepati janjinya untuk mengajak Dea makan bersama. Meskipun kecewa tapi Dea tahan. Ia pun sadar diri jika Gio tak mungkin tercapai.
Bukannya Dea tak tahu diri. Sebagai sepupu Amara, mati-matian Dea menyembunyikan perasaannya selama berbulan-bulan sendirian. Ia tahu jika hubungan Amara dan Gio kian membaik hingga Dea kira Amara sudah menerima Gio sebagai suaminya.
"Ara, biar aku yang suapi Evan," pinta Dea sambil tersenyum lebar. Menyembunyikan rasa patah hatinya.
"Baiklah...," Amara menyetujui.
Ketiganya duduk bersama di taman belakang. Menyuapi Evan sembari menikmati pemandangan kolam ikan koi. Evan tiba-tiba bersin hingga makanan yang berada dalam mulutnya menyembur, mengotori pakaian Dea.
"Sebentar aku ambilkan tisu basah," ucap Amara sambil berlalu ke dalam rumah.
Saat Amara pergi, ponselnya yang terletak di atas meja bergetar dan masuk lah sebuah pesan di sana. Tanpa sengaja Dea membaca pesan yang muncul di sana. Pesan itu berasal dari Danis. Ia menanyakan kabar Amara dengan kata-kata yang begitu mesra.
Mata Dea membola karena terkejut, ia semakin kaget lagi saat mendengar ucapan Amara yang tiba-tiba hadir di hadapannya. " please... Jangan katakan apapun pada Mama atau Gio. A- aku hanya butuh waktu untuk mengatakan lada mereka," ucap Amara dengan wajahnya yang terlihat tegang karena baru saja ketahuan.
to be continued ♥️
jangan lupa tinggalkan jejak ya