
Hari sudah malam, Gio duduk sendirian sembari menatap Evan yang sudah tertidur pulas di ranjangnya. Pikiran Gio melayang pada seseorang yang selalu dirindukannya, siapa lagi jika bukan Amara.
Satu bulan berlalu sejak Gio mendapatkan berita bahwa Amara masuk rumah sakit entah untuk yang ke berapa kalinya. Setelah itu Amara sudah jarang terlihat lagi oleh orang suruhan Gio. Wanita yang masih berstatus istrinya itu hampir tak pernah meninggalkan apartemennya.
Pikiran Gio semakin kalut dibuatnya. Rasa khawatir bercampur rindu yang Gio rasakan pada Amara, semakin menyesak dan menyiksa dirinya.
Dan semua itu diperburuk oleh laporan orang suruhan Gio yang mengatakan jika Danis terlihat mesra dengan gadis lain. Bahkan lelaki itu mengirimkan foto Danis yang sedang bergandengan tangan dengan seorang gadis. Membuat Gio berpikiran jika Amara sakit karena Danis memperlakukannya dengan buruk.
Gio berpikir jika Danis sengaja menyakiti Amara untuk melampiaskan rasa kecewanya. Dan itu benar-benar membuat Gio gusar. Ia tak terima Amara diperlakukan seperti itu. Amara tak bersalah, ia adalah wanita baik yang terhormat. Gio merasa harus melindungi Amara dari perbuatan jahat Danis.
Tak ada yang lebih penting dari Amara, maka Gio pun memutuskan untuk pergi ke Boston dan menyelamatkan harga diri istrinya itu. Tak peduli jika ia harus meninggalkan banyak pekerjaan penting.
"Baik-baik ya Sayang... Papa akan menjemput Mama pulang. Kita akan kembali bersama," ucap Gio pelan sembari mengusap puncak kepala Evan dengan lembut.
***
"Semua keperluan Bapak sudah kami siapkan," ucap seorang lelaki yang merupakan asisten Gio. Ia diberi tugas untuk menyiapkan kepergian Gio ke Boston.
"Terimakasih," sahut Gio singkat. Saat ini ia tengah berada di kantornya untuk membereskan beberapa masalah. Gio ingin pergi dengan hati yang tenang.
"Baiklah jika begitu, saya undur diri," ucap lelaki itu lagi.
Gio anggukan kepalanya sebagai tanda memberi izin. Setelah itu ia berdiri sembari merapikan jasnya. Gio hendak pergi untuk membereskan masalah terbesarnya di sini.
"Hai... Sudah siap ?" Tanya Dea yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Ia datang untuk memenuhi undangan makan siang dari Gio. Wajahnya terlihat sedikit sendu, tak bersemangat seperti biasanya.
"Ya... Ayo kita pergi," sahut Gio seraya berjalan menuju Dea.
***
Disinilah keduanya berada, duduk saling berhadapan di sudut ruangan sebuah restoran. Gio sengaja memilih tempat itu agar ia bisa bicara dengan leluasa pada Dea.
Sedari tadi, Dea memperlihatkan raut wajah sendu. Dan ia pun tak banyak bicara. Dea tak merasa senang, padahal ajakan makan siang dari Gio adalah sesuatu yang selalu diimpikannya.
"Mmhhh Dea..,"
"Aku tahu... Sepertinya aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan denganku," potong Dea sembari memaksakan senyumnya. Gadis itu mengatur nafasnya sebelum ia kembali berbicara.
"Kamu ingin membatalkan rencana pertunangan kita kan ?" lanjutnya lagi dengan matanya yang berkaca-kaca, padahal Dea belum tahu tentang rencana kepergian Gio ke Boston.
Gio terdiam untuk beberapa saat. Ia pun menatap lurus pada Dea. "Aku mencintai Amara.. sangat mencintainya, hingga dirinya tak kan bisa tergantikan oleh siapapun," ucap Gio dengan jelas. Mengisyaratkan bahwa apa yang dirinya katakan adalah benar adanya.
Dea tak bisa berkata-kata, yang dirinya lakukan adalah mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan.
"Aku tak ingin menyakitimu, Dea. Kamu adalah gadis yang sangat baik hati... Seharusnya kamu dengan seorang lelaki yang mencintaimu dan lelaki itu bukan aku," lanjut Gio.
"Setiap bersama mu, hanya bayangan Amara yang aku lihat dan itu akan membuat kita berdua tersiksa. Maaf... Tapi aku tak bisa melanjutkannya-"
"Tapi Amara sudah dengan Danis. Kamu pun tak bisa memilikinya," potong Dea.
"Maafkan aku Dea..,"
"Tak usah meminta maaf," potong Dea lagi. Susah payah Dea menelan ludahnya sendiri.
"Aku mengerti dengan perasaanmu.. akulah yang bersalah karena memaksakan diri untuk masuk ke dalam kehidupan kalian, padahal aku tahu jika kalian sebenarnya saling mencintai," lanjut Dea kemudian. "Maafkan aku, Gio..."
Gio tersenyum sembari anggukan kepalanya. "terimakasih atas pengertian mu," sahut Gio lega.
"Tapi bagaimana dengan ibumu ?" tanya Dea.
"Tentang ibuku, kamu jangan khawatir. Aku sendiri yang akan bicara padanya, dan aku yakin beliau akan mengerti," jawab Gio.
"Ah baiklah jika begitu." Dea pun tersenyum lega mendengarnya.
"Apakah ada yang ingin kamu bicarakan lagi denganku, Gio?"
"Tak ada.. aku sudah mengatakan semuanya," jawab Gio.
"Baiklah jika begitu, aku izin untuk pulang lebih dulu ke kantor karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," pamit Dea.
"Pulang ke kantor ? Sekarang ? Tapi makan siangnya belum datang."
"Tidak apa-apa, karena sebenarnya aku juga belum lapar. Kamu bisa membungkusnya nanti untukku," jawab Dea. Ia pun tersenyum ceria pada Gio. Walaupun sebenarnya senyuman itu Dea paksakan untuk melakukannya.
"Baiklah... Nanti aku minta pelayan untuk membungkusnya."
"Oke.. thanks ya, Gio," Dea pun berdiri sembari meraih tasnya. Tak lama, ia tinggalkan Gio sendirian di restoran itu.
Gio biarkan Dea untuk pergi. Kini Gio merasakan lega dengan luar biasa karena bebannya telah berkurang satu. Ia bersyukur karena Dea langsung menyetujui pembatalan pertunangan itu tanpa banyak drama.
Sedangkan Dea, ia berjalan dengan tergesa. Kedua pipinya kembali basah karena air bening yang tak mau berhenti jatuh dari kedua matanya.
Tak tahan lagi, Dea pun segera memasuki toilet khusus wanita dan mengunci diri di salah satu biliknya.
"Kamulah yang bodoh, Dea ! Kamu tak seharusnya menaruh hati pada lelaki yang jelas-jelas mencintai wanita lain ! Dan wanita itu sepupumu sendiri ! Kamu bodoh, Dea ! Sungguh bodoh !!!"
Dea merutuki dirinya sendiri dengan air mata yang berhamburan. Dea sadar jika apa yang dilakukannya selama ini adalah salah. Sakit hati yang ia rasakan adalah buah dari kesalahan yang telah dibuatnya.
To be continued...
Jangan lupa like dan komen ya.
Terimakasih banyak yang sudah vote.
Kalian luar biasa ♥️