Hate You, Love You

Hate You, Love You
Ayo Makan !



"Tak usah, Bi. Saya sudah tak merasa lapar lagi," jawab Amara, membuat Gio terdiam saat mendengarnya.


"Ka- mu menungguku ?" tanya Gio setengah tak percaya. Ia rasakan dadanya bergemuruh karena debaran jantungnya yang tiba-tiba menjadi kencang.


Amara terlihat serba salah. bola matanya matanya bergerak liar Seolah-olah mencari alasan. "A- aku menunggumu hanya untuk memberitahukan tentang Evan. Hanya karena itu !" jawab Amara beralasan.


"Tapi katanya belum makan ?" tanya Gio lagi.


"Itu karena aku belum lapar ! Ya aku memang merasa tidak lapar makanya gak mau makan. Bukan karena aku menunggumu," jawab Amara dengan matanya yang tak berani menatap Gio.


"Aku akan meneruskan belajar. Kini ada kamu yang bisa menjaga Evan, jadi jangan ganggu aku !" ucap Amara lagi. Lalu ia pergi meninggalkan Gio yang masih terus memperhatikannya.


***


"Ck ! Apaan sih ?" Decak sebal lolos dari mulut Amara. Entah mengapa suasana hatinya tiba-tiba saja menjadi muram. "Aku gak nungguin dia buat makan bareng kok. Terserah dia mau makan dengan siapa juga. Itu semua bukan urusanku !" Masih Amara menggerutu kesal sendirian.


Masih dengan wajah yang ditekuk marah, Amara duduk dan membuka buku kuliahnya. Ia membuka setiap lembaran kertas dengan kasar, menyalurkan rasa kesalnya pada sebuah buku yang tak bersalah.


Amara berhenti pada lembaran yang akan dibacanya. Ia berdehem untuk sesaat sebelum membaca. Berusaha untuk fokus dan berkonsentrasi.


Cukup lama Amara membaca dengan intens. Kedua bola matanya bergerak searah dengan tulisan yang dibacanya. Tapi tak satupun yang menempel di kepalanya. "Aargghhh !!" Kesal Amara seraya menutup kasar buku itu dan meletakkannya di atas meja.


Lalu Amara berdiri dan memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Amara pikir tidur cepat akan sedikit menenangkannya. Amara sendiri pun tak paham kenapa dirinya semarah itu karena dituduh menunggu Gio pulang hanya agar bisa makan bersama.


Sebenarnya Amara sadar bukan itu yang membuatnya merasa kesal. Ada hal lain yang mengganjal dalam hatinya. Tapi Amara tak mau mengakuinya.


Cukup lama Amara membaringkan tubuhnya di ranjang. Walaupun kedua matanya terpejam, tapi ia masih bisa mendengar segala suara yang berasal dari luar kamar. Amara bisa mendengar tawa Evan yang tengah digoda oleh Gio. Bahkan Amara bisa mendengar suara nyanyian di TV.


Lama-lama suara itu menghilang dengan sendirinya. Amara yakin jika Evan sudah tidur dan mungkin Gio juga begitu karena suara lelaki itu juga tak lagi terdengar.


Amara gulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Mencari posisi ternyaman agar dirinya bisa segera tidur. Amara tak sabar agar hari segera menjadi pagi. Ia ingin segera melalui suasana hatinya yang buruk itu.


"Aaarrrgggghhhh !!!" Erang Amara sembari bangkit dan duduk di tepian ranjang. Beberapa kali mencari posisi nyaman tapi ia tak juga mendapatkannya.


Lalu tak lama terdengar ketukan halus di pintu kamarnya. 'tok.. tok...' hening untuk beberapa saat. "Amara... Ayo makan dulu. Aku buatin mie goreng khusus buat kamu," ucap Gio dari balik pintu.


Deg !!


Jantung Amara hampir saja melompat dari tempatnya karena ia begitu terkejut saat mendengar suara Gio. Lelaki yang saat ini tak ingin Amara temui. Entah mengapa Amara masih saja merasa kesal padanya. Dan jangan tanyakan alasannya mengapa karena Amara tak akan mampu untuk menjelaskannya.


"Amara ?" Lagi-lagi Gio memanggil namanya dengan pelan. "Ayo makan dulu. Aku tak ingin kamu sakit. Bukannya kamu lagi banyak ujian ?"


"Aku udah tidur !!!" sahut Amara kesal. Lalu ia menutup mulutnya saat mendengar Gio yang terkekeh geli di luar kamarnya.


"Mana ada orang tidur bisa jawab. Ayo keluar dan makan dulu,"


"Gak mau !!" sahut Amara ketus.


"Baiklah... Aku akan duduk di depan pintu kamarmu sampai kamu mau keluar," kata Gio yang sepertinya tak ingin menyerah walaupun Amara dalam setelan mode judes seperti dulu.


"Masa bodoh !! Pokonya aku gak mau keluar ! Aku mau tidur !!"


"Its oke, tak apa," jawab Gio lagi. Lalu terdengar suara nampan yang diletakan di atas lantai. Dan tak hanya itu saja, Amara bisa lihat bayangan seseorang yang menghalangi pintu kamarnya dari sela-sela pintu bagian bawah.


Amara mencoba untuk mengabaikannya dengan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tapi perhatiannya terus saja menuju ke arah pintu dan ia yakin jika Gio masih duduk di sana.


Walaupun Amara sudah bersusah payah untuk mencoba tak peduli. Tapi nyatanya tubuhnya berkata lain. Ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.


"Ya Tuhan !" Gio yang tengah duduk sambil menyandarkan punggungnya di pintu menjadi kaget dan hampir saja terjengkang ke belakang karena Amara membuka pintu dengan tiba-tiba.


"Lagian ngapain duduk di depan pintu ?" Tanya Amara dengan ketus.


"Pengen aja, emang gak boleh?" Tanya Gio sambil berdiri dan mengambil nampan yang tadi ia letakkan di atas lantai. Nampan itu berisikan sepiring mie goreng dengan beberapa udang di atasnya. Belum lagi telur mata sapi yang terlihat begitu menggugah selera. Sontak membuat cacing dalan perut Amara meronta-ronta menginginkannya.


"Aku gak lapar," ucap Amara yang masih telap dengan pendiriannya bahwa ia tak menunggu Gio pulang untuk makan malam bersama. Tapi perutnya yang berbunyi, mengatakan yang sebaliknya.


Gio tersenyum sedangkan Amara membuang muka karena malu. "Mungkin kamu tidak lapar


, tapi kasihan cacing dalam perutmu," ucap Gio.


"Tapi aku beneran gak lapar !" Amara masih bersikukuh.


"Kalau begitu, temani aku makan aja. Aku masih sangat lapar karena tadi makan malam cuma sedikit saja," bujuk Gio.


"Kenapa sedikit ? Bukannya tadi makan di restoran? Enak lagi ada yang nemenin," sahut Amara. Namun kemudian ia diam saat sadar jika dirinya bertingkah seperti seorang istri yang sedang dilanda rasa cemburu.


"Cemburu ? Tak mungkin !!" Sangkal Amara sembari menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan berulang kali.


"Tak mungkin aku merasa cemburu !! Gio bukan apa-apa ku. Kamu hanya kesal karena banyak tugas dan ujian!!" Masih Amara mencari alasan untuk dirinya sendiri.


"Hei... Ayo temani aku makan. Sambil nonton film mau ? Katanya ada film baru di N*tflix," bujuk Gio lagi. Ia tak mau membahas makan malamnya bersama Dea.


Malas-malas Amara ikuti ajakan Gio. Ia dudukkan tubuhnya tepat di sebelah Gio yang sibuk memilih film yang akan ditontonnya.


"Itu aja !" Tunjuk Amara pada sebuah film yang menarik minatnya. Dan Gio pun menyetujuinya.


Keduanya duduk bersebelahan dengan sepiring mie goreng yang memisahkan jarak mereka. "Cobain deh ! Aku sendiri yang buat," ucap Gio.


"Kamu aja dulu katanya masih lapar," sahut Amara.


Gio pun menuruti perkataan Amara. Ia menggulung mie dengan garpu lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Mmmhh enak banget," ucap Gio dengan mulutnya yang penuh.


Merasa tergoda, Amara pun mengikuti apa yang Gio lakukan. Ia menggulung mie dengan garpu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Matanya membelalak karena rasanya memang seenak itu.


"Enak kan ?" Tanya Gio.


"Hu'um lumayanlah...," Amara tak mau memberikan pujian karena itu akan membuat Gio besar kepala.


"Enak tahu," sahut Gio seraya kembali memakan mie goreng itu. Gio memakan hanya sedikit saja karena sebenarnya ia sudah sangat kenyang setelah makan malam bersama Dea tadi. Gio terpaksa berbohong agar Amara mau makan. Gio tak ingin wanita yang sangat dicintainya itu jatuh sakit karena melewatkan makan malamnya.


Setelah Gio, Amara pun kembali memakan mie goreng buatan suaminya itu dengan penuh semangat. Rasanya yang enak membuat ia lebih sering memakannya daripada Gio.


Sedangkan Gio, dengan melihat Amara seperti itu saja sudah membuatnya bahagia luar biasa. "Makan yang banyak Sayang, aku gak mau kamu sakit," ucap Gio dalam hati. Ia katakan itu sembari menatap Amara dengan dalam.


Bersambung ♥️


jangan lupa tinggalkan jejak ya


terimakasih ♥️