
Perjalanan udara itu berlangsung hampir selama 24 jam. Meksipun begitu Amara tak merasa tersiksa. Rasa mual hilang begitu saja, bahkan Amara bisa tidur dengan nyenyak. Batinnya tak lagi menderita karena Gio kini berada di sampingnya.
Sedangkan Gio, ia selalu bertanya apakah Amara merasakan nyaman. Ia takut istrinya itu kelelahan karena perjalanan mereka yang lama. Amara akan menjawab semua pertanyaan Gio sambil tersenyum, menandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Aku tak apa-apa, Gio. Jangan khawatir," ucap Amara saat Gio kembali bertanya.
"Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Gio.
"Kamu... Aku hanya mau kamu," jawab Amara dan ia sungguh-sungguh saat mengatakannya. Kedua mata Amara menatap dalam dan jemarinya menyentuh lembut lengan suaminya itu.
Gio meng*lum senyum. Ia tatap mata Amara sama dalamnya.
"Kamu pasti bosan mendengarkan kata-kata cintaku ya, Gio?" Amara tundukkan kepalanya, ia mengira Gio mentertawakan dirinya yang kini selalu mengungkapkan perasaannya dengan gamblang.
"Hei... Kenapa begini?" Gio mengangkat dagu Amara dengan jempolnya hingga bertemulah pandangan mata mereka.
Amara mencebikkan bibirnya, masih merasa kesal dengan senyuman yang Gio berikan tadi.
"Aku sangat menyukainya dan tak akan pernah bosan. Tahukah kamu, Ara ?" tanya Gio, dan Amara menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku selalu memimpikan ini semua. Memimpikan kamu yang mengucapkan kata-kata cinta untukku. Setengah mati aku menantikannya," jelas Gio.
"Entah bagaimana aku harus mengatakannya. Tapi aku selalu memikirkan mu sejak kejadian terkutuk itu terjadi. Namamu telah menetap di hatiku sejak saat itu. Lalu, setelah kita bertemu.. aku langsung jatuh cinta padamu, walaupun kamu terus menolak ku. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu Amara. Jadi... Ucapkan kata-kata cinta itu untukku, karena aku tak akan pernah bosan mendengarnya," lanjut Gio dengan tatapan matanya yang sayu penuh damba
"Benarkah ?" tanya Amara malu-malu.
"Hu'um.. tentu saja," jawab Gio. Ia dekatkan wajahnya pada Amara dan menarik dagu istrinya itu hingga menyatu sempurna kedua bibir mereka. Gio meng*lumnya dengan lembut dan penuh penghayatan. Sedangkan Amara pejamkan matanya dan membalas ciuman Gio sama inginnya.
"Katakan lagi kata-kata cintamu itu, aku sangat ingin mendengarnya," ucap Gio tepat di atas bibir Amara yang basah karena ulahnya.
Amara menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Dadanya berdebar kencang karena jarak Gio yang terlalu dekat dengannya.
"Katakan, Sayang. Ku mohon..," lirih Gio penuh tuntutan.
"A- aku sangat mencintaimu, Gio," ucap Amara.
Gio tersenyum, bisa ia rasakan getaran bibir Amara di bibirnya membuat lelaki itu ingin menciumnya lagi. Namun Gio yakin jika hal itu ia lakukan, akan membangkitkan hasratnya sebagai lelaki dewasa.
"Dan aku lebih mencintaimu lagi," balas Gio dan ia pun mengecup bibir Amara sekali lagi.
"Sekarang beristirahatlah.." Amara menuruti perkataan Gio dengan menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu.
***
"Ibu-ibu dan Bapak-bapak, sembari kita mulai mendarat, mohon pastikan punggung kursi dan meja Anda berada dalam posisi tegak. Pastikan juga sabuk pengaman Anda terkait dengan baik dan seluruh barang bawaan tersimpan di bawah kursi di depan Anda, atau di penyimpanan atas. Terima kasih."
Ketegangan kembali merasuki Amara. Bahkan ia harus bernafas melalui mulutnya untuk menenangkan diri. 6 bulan meninggalkan Evan membuatnya khawatir jika anak sulungnya itu tak mau dengannya. Belum lagi keadaannya yang saat ini tengah berbadan dua, membuat Amara takut jika kedua mertuanya berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
"Sayang... Tenanglah... Aku janji semuanya akan baik-baik saja," ucap Gio seraya menggenggam erat jemari Amara.
Amara tersenyum samar, namun jantungnya serasa diremas saat ia rasakan pesawat telah menyentuh landasan. Pertanda jika ia benar-benar sudah sampai. "Ya Tuhan... Berikan pertolonganMu padaku," ucap Amara dalam hatinya. Lalu Amara lihat genggaman tangan Gio di jemarinya, rasa hangat memenuhi dada Amara saat ini. "Ada Gio, maka aku akan baik-baik saja," ucapnya pelan.
***
Hari sudah gelap saat Amara sampai di rumah orang tua Gio. Mereka tak pulang ke rumah, karena Evan dititipkan di sana. Melihat rumah megah bercat putih itu bagaikan sebuah mimpi bagi Amara. Ia tak pernah menyangka akan kembali ke sana.
"Sepertinya Evan sudah tidur," ucap Gio seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tak apa-apa kan ?" tanya Gio, dan Amara anggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban.
"Mmhhh Gi- Gio... Apakah orangtuamu tahu tentang keadaanku ?" tanya Amara takut-takut.
"Maksudmu ?" Gio berkerut alis tak paham.
"A- apakah Mami tahu jika aku sedang hamil ?"
"Ohh.. ya tentu saja dia tahu," jawab Gio enteng.
"Te- terus bagaimana ?"
"Bagaimana apanya ?" Gio balas bertanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Kita sudah sampai." Belum juga pertanyaan Amara terjawab, sang supir telah mengatakan jika mereka telah tiba di tempat tujuan.
"Ayo Sayang," Gio mengajak Amara untuk turun. Takut-takut Amara menuruti suaminya itu. Ia genggam tangan Gio agar dirinya menjadi lebih tenang, dan itu memang berhasil.
Gio genggam erat jemari Amara seolah tak ingin kehilangan. Perasaannya begitu lega luar biasa karena telah berhasil membawa pulang wanita yang sangat dicintainya. Dengan langkah mantap Gio memasuki rumahnya dan ternyata kedua orangtuanya berada di ruang tamu, menunggu kedatangannya.
tbc..