Hate You, Love You

Hate You, Love You
Yang Selanjutnya Terjadi



"Lepaskan aku, Karina ! Biarkan aku mati !!" Ucapnya nelangsa. Danis mengerang, menahan rasa sakit dalam hatinya.


Sekuat tenaga Karina menahan tubuh Danis agar tak bangkit dan berlari ke tengah jalan. Bahkan Karina pun menjadi terluka karenanya. Pergumul*n itu menjadi pusat perhatian, dan beruntung bagi Karina karena beberapa temannya datang menyusul, kemudian membantu gadis itu untuk menahan Danis.


"Lepaskan !! Ku mohon lepaskan ! biarkan aku mati !!" Raung Danis sambil terus berontak ingin dilepaskan. Dengan tak malu, lelaki itu menumpahkan air matanya di depan banyak orang.


"Sadarlah Danis ! Jangan lukai dirimu sendiri !" Ucap teman Danis seraya menyeret paksa tubuh Danis untuk menjauh dari jalan raya. Sedangkan yang lainnya membantu Karina untuk bangkit. Gadis itu terpincang-pincang karena Danis sempat menindih kakinya tadi. "Kamu bisa jalan Karin ?" Tanya salah satu temannya.


"Hu'um, bisa ! Ini hanya sedikit sakit saja," sahut Karina sambil berjalan dengan dipapah teman nya itu. Daripada dirinya sendiri, Karina lebih mengkhawatirkan Danis yang saat ini masih tertunduk lesu.


Danis didudukkan di sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari jalan raya. Ia tak sendirian, teman-temannya berjaga agar Danis tak melakukan hal yang nekat lagi.


"Seharusnya kalian biarkan aku mati saja !" Lirih Danis dengan kepala tertunduk, air matanya tak mau berhenti jatuh dari kedua mata.


"Kamu ini ngomong apa sih, Dan ?" Tanya salah satu temannya. Sedangkan Karina hanya berdiri dengan hati yang terasa ngilu karena lelaki yang ia sukai diam-diam itu tengah dalam keadaan hancur.


"Sudah tak ada gunanya lagi untukku mengejar semua mimpi ini ! Amara ku... Amara ku... Sudah menjadi milik orang lain," Jawab Danis terdengar pilu.


Karina terhenyak, begitu juga yang lainnya. Semuanya menolehkan kepala pada Karina. Seolah-olah bertanya "ada apa ?" Pada gadis itu, karena Karina lah yang paling dekat dengan Danis.


Karina gelengkan kepalanya sebagai jawaban, bahwa ia tak tahu sedikitpun tentang masalah yang Danis lalui saat ini.


"Kamu seorang yang hebat Danis. Tak ada satupun di dunia ini yang menjadi sia-sia," ucap Karina. Ia pun mendudukkan tubuhnya di sebelah Danis untuk menenangkan lelaki itu.


"Semua sudah tak berarti lagi, Karina. Aku sudah kehilangan wanita yang paling aku cintai. Hidupku tak lagi berarti," sahut Danis sambil terisak-isak, dan perkataannya itu menikam hati Karina dengan dalam.


"Apa Amara yang mengatakan itu padamu ? Apa dia yang mengatakan untuk pergi dari hidupmu ?" Tanya Karina lagi dengan hatinya yang begitu perih.


Danis mengangkat wajahnya dan menatap pada Karina. Lalu ia menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


Karina tersenyum lembut, "jika begitu, sebaiknya kamu bicara langsung dengan Amara. Agar tahu yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan berputus asa dulu," ucapnya lagi. Ingin rasanya Karina mengatakan "lupakan Amara dan lihatlah aku yang selalu menyukaimu," tapi ia tak sanggup untuk mengatakannya.


Danis terdiam tak menjawab. Yang dirinya tahu adalah Amara baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki karena hasil perkos*an lelaki bernama Gio. Tetapi lelaki itu tak lari, ia menikahi Amara dan bertanggung jawab atas segala perbuatannya.


Danis tahu siapa itu Gio. Beberapa kali ia melihat kehadiran lelaki itu saat dirinya melakukan panggilan video pada Amara. Dan sebenarnya Danis sadar jika Gio selalu menunjukkan wajah tak suka jika mereka terpaksa saling sapa lewat layar ponsel.


Tapi Amara selalu mengatakan jika lelaki itu adalah kekasih Dea, sepupunya. Bahkan beberapa waktu lalu Amara pun sempat bercerita jika Dea kini bekerja di kantor yang sama dengan Gio.


Danis ingat bagaimana Gio memaksakan diri untuk tersenyum saat mereka bertemu lewat panggilan video. Kini Danis mengerti mengapa Gio seperti itu, pasti karena ia marah Danis menghubungi istrinya. Jika Gio marah, berarti lelaki itu mencintai Amara ? "Lalu bagaimana denganmu, Ara ?" Gumam Danis cemas.


"Danis, sebaiknya kamu pulang. Ayo malam ini akan kami temani," ucap lelaki bernama Adam dan Andi yang merupakan teman Danis.


"Ya, jangan biarkan Danis sendirian," sahut Karina menyetujui.


Walaupun Danis sempat menolaknya, tapi beberapa temannya itu bersikeras untuk tetap menemaninya. Mereka takut jika Danis melakukan hal yang bodoh lagi. Bahkan mereka mengancam akan melaporkan lelaki itu ke pihak yang berwajib jika Danis terus bersikukuh tak ingin ditemani.


***


Setelah satu jam berlalu, Amara pun telah keluar dari ruang operasi dan kini menempati kamar pemulihan seorang diri. Di dalam kamar itu terdapat banyak hadiah dan juga balon-balon yang bernuansa warna biru. Ada juga tulisan "welcome baby boy" yang tertera di dinding kamar.


Aura kamar itu mengisyaratkan rasa bahagia yang begitu kentara karena kelahiran bayi Amara. Tapi semua itu berbanding terbalik dengan perasaan Amara sendiri. Ada rasa cemas dan takut yang berkecamuk dalam hatinya.


Ada rasa tak suka saat itu terjadi.


"Fokus Amara ! Fokus agar kamu bisa melanjutkan mimpimu yang lalu," lanjutnya lagi. Ia tak tahu jika Danis sudah tahu tentang kebenaran yang terjadi.


"Menyerahkan bayi itu pada Gio dan keluarganya, lalu pergi. Semoga setelah ini aku tak bertemu denganmu lagi, Gio," ucap Amara dalam hatinya.


Tak lama, lelaki yang sedari tadi ada dalam pikirannya itu datang dari balik pintu. Ia tersenyum lembut pada Amara. "Sebentar lagi bayinya akan dibawa suster ke sini," ucap Gio.


Wajahnya yang tampan terus melengkungkan senyum, pertanda lelaki itu tengah merasakan bahagia yang luar biasa. "Ia sehat dan sempurna. Terimakasih," ucap Gio seraya dudukkan tubuhnya di sebelah Amara.


Hampir saja Amara mengeluarkan kata-kata ketus, tapi semuanya tertahan di bibirnya karena kedatangan kedua orang tuannya dan juga mertuanya.


"Ara sayang, selamat ya, Nak" ucap ibunya sembari membelai lembut rambut Amara yang masih terbaring lemah itu.


"Amara kamu hebat, Nak," kini sang ibu mertua yang berucap. Dan ia megenggam erat tangan menantunya itu dengan penuh kasih sayang.


Kata-kata selamat dan pujian banyak diucapkan untuk Amara. Tapi tak ada seorangpun yang tahu apa yang ada dalam pikiran Amara sebenarnya. Yang Amara lakukan hanya tersenyum samar, menyembunyikan segala pikiran buruknya dari semua.


Tak lama, seorang perawat datang dengan sebuah ranjang dorong mungil yang berisikan bayi milik Amara dan Gio. Bayi yang memejamkan matanya itu tengah tertidur pulas di dalamnya, berselimutkan kain biru bergambar banyak kapal laut. Amara menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah. Perasaannya begitu kacau tak karuan melihat bayinya sendiri yang terlihat begitu tampan.


"Hidungnya mancung mirip Gio, tapi bentuk wajahnya mirip Amara. Dia akan menjadi seorang anak lelaki yang sangat tampan," puji ibu mertuanya.


"Dia akan menjadi cucu kebanggaan, Papa," kali ini ayah Gio yang berbicara. Padahal dulu beliau lah yang paling marah pada Gio hingga lelaki itu harus merasakan bogem mentah dari ayahnya sendiri. Tapi kini, ayah Gio lah yang paling antusias diantara semuanya.


Kedua orangtua Amara juga menyambut dengan penuh sukacita. Begitu juga Gio yang sedari tadi tak henti-hentinya menatap sang bayi yang tertidur pulas di dalam boxnya. Tatapan mata Gio begitu lembut dan penuh cinta. Ia terlihat bahagia karena telah menjadi seorang ayah.


"Jika bayinya bangun, Bu Amara bisa belajar untuk menyusuinya," ucap sang perawat membuat Amara terkesiap. Ia ingat dengan tekadnya dulu yaitu untuk tak menyusui anaknya itu agar ia tak jatuh cinta padanya.


"Ta-tapi aku, a- asi ku..," jawab Amara terbata-bata.


"Tak apa-apa jangan takut jika masih sedikit, nanti juga akan bertambah banyak seiring waktu. Itu adalah hal yang wajar," jelas sang perawat.


"Ba- bagaimana jika tak mau keluar ?" Tanya Amara lagi.


Gio sadar tentang cemas yang sedang Amara rasakan saat ini. "Jika ASI istri saya tak bisa membantu banyak, saya tak keberatan jika harus dibantu dengan susu formula untuk sementara waktu," ucap Gio menengahi. Ia tak mau Amara merasa tertekan karena hal ini. Gio ingin Amara tenang dan tidak stress agar produksi ASI-nya melimpah. Sedikit banyak, Gio sudah membaca buku-buku tentang kehamilan.


"Ya Papa setuju ! Berikan yang terbaik bagi si bayi. Pastikan itu adalah rekomendasi dari dokter anak dan ahli gizi," timpal ayah Gio menyetujui.


Bagi Gio, Amara sungguh berarti dan ia tak ingin istrinya itu meras terbebani. Rasa cinta Gio tumbuh dua kali lipat setelah Amara melahirkan anak mereka. Hingga Amara kini menjadi prioritasnya.


"Te- terimakasih," ucap Amara yang kali ini merasa terselamatkan oleh ucapan Gio. Karena tak mungkin bagi dirinya untuk menolak menyusui dengan mentah-mentah apalagi di sana ada ayah dan ibunya.


Amara tolehkan kepalanya, menatap bayinya yang masih tertidur pulas. "Jangan jatuh cinta padanya, Ara," ucapnya dalam hati. Amara masih berharap dapat melanjutkan mimpinya yang dulu


to be continued


jangan lupa untuk tinggalkan jejak yaaa