
"oh please... Not again," keluh Amara saat ia merasakan perutnya bergejolak di pagi hari. Padahal perutnya sudah membuncit dan waktu kelahiran pun tinggal beberapa Minggu lagi tapi mual di pagi hari masih saja menyiksanya. Dan ia benci hal itu.
Benci pada kenyataan bahwa pijatan lembut tangan Gio ditengkuknya, membuat Amara jauh lebih baik.
'Ceklek'
Terdengar suara pintu yang dibuka dan Amara tahu siapa yang datang. Lelaki jangkung itu langsung jongkok kan tubuhnya di sebelah Amara dan memijit lembut tengkuk Amara.
Tapi kali ini Amara menepisnya. "Tak usah, aku gak apa-apa," tolak Amara sambil merebut beberapa lembar tisu dari tangan Gio. Kali ini Amara tak membiarkan suaminya itu untuk melakukan itu semua.
Gara-gara semalam, Amara terbangun dengan suasana hati yang sangat buruk. Bahkan ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Ada rasa kesal, marah, kecewa, takut yang bercampur aduk dalam hatinya.
Padahal Amara mengatakan tak masalah jika Dea sang sepupu mau melakukan riset di perusahaan Gio. Tapi kenyataan bahwa Gio yang menawarkan diri membuat Amara merasa Amara tak nyaman.
Dan Amara juga yakin jika Dea bertemu Gio bukan tanpa sengaja. Gadis itu datang ke daerah perkantoran Gio memang bertujuan untuk bertemu dengan suaminya itu.
"Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Gio cemas karena sedari tadi Amara sibuk dengan pikirannya sendiri.
Amara tersenyum samar, "aku gak pa-pa," jawab Amara singkat sembari berdiri bangkit.
Gio melihatnya dengan tatapan mata yang sendu, terlihat rasa sedih yang bercampur kecewa karena penolakan Amara di pagi ini.
Ingin rasanya Gio bertanya apa yang sedang Amara rasakan saat ini hingga suasana hatinya begitu buruk. Tapi, Gio sadar diri jika ia tak bisa lakukan itu semua. Gio yakin Amara akan sangat tak suka.
"Apa yang kamu lakukan ? Mau berdiam diri di situ sampai kapan ? Aku mau mandi !" Ucap Amara, berusaha mengusir Gio dari hadapannya.
"Ah Maaf," kata Gio.
Gio pun bangkit dan berjalan melewati Amara yang membukakan pintu kamar mandi agar dirinya keluar. "Air minum kamu di atas nakas. Tadi, aku bikinin kamu air madu hangat," kata Gio lagi.
"Terimakasih," lagi-lagi Amara hanya berucap singkat. Ia segera menutup pintu kamar mandinya begitu Gio keluar.
Ia sandarkan tubuhnya di balik pintu. Suasana hatinya yang buruk tak juga hilang dan melihat wajah Gio di pagi ini memperburuk semuanya.
"Ini bukan rasa cemburu. Tak mungkin aku cemburu pada Gio ! Aku hanya tak suka ayah dari bayi yang ku kandung bersikap berlebihan pada gadis lain," gumam Amara pelan.
***
Gio duduk di meja makan sendirian, ia belum juga menikmati sarapannya. Selera makannya mendadak hilang karena sikap ketus yang Amara berikan. Padahal tadi malam Gio makan lahap sekali karena Amara juga.
Melihat kedatangan Amara, secara refleks Gio pun berdiri. Pandangan mata mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat, bahkan Amara menghentikan langkahnya sejenak.
"Kenapa belum makan ?" Tanya Amara saat ia dudukkan tubuhnya tepat di sebelah Gio.
"Aku nunggu kamu," jawab Gio sejujurnya.
Deg !
Amara merasakan debaran jantungnya lebih cepat saat Gio mengatakan hal itu. Sejak semalam perasaannya pada Gio menjadi tak karuan.
"Padahal kamu tak usah menungguku, kamu bisa makan..,"
"Maaf," potong Gio cepat, membuat Amara diam tak berkata-kata lagi.
"Maafkan jika ada sesuatu yang aku lakukan dan membuatmu marah. Aku benar-benar minta maaf, karena tak ada maksud sedikit pun untuk membuat mu merasa marah atau kecewa," lanjut Gio.
Debaran jantung Amara kian kencang saja saat Gio mengatakan kata-kata maaf untuknya. Amara menatap tak percaya pada suaminya itu. Amara bertanya-tanya dalam hatinya,"apa Gio tahu jika aku merasa tak senang dengan kedekatannya pada Dea ? Apa Gio pikir aku sedang merasa cemburu ?" Tiba-tiba saja Amara merasa cemas. Takut jika Gio berpikiran bahwa Amara mempunyai perasaan lain padanya. Dan itu tak boleh terjadi !
"A- aku gak pa-pa. Kamu jangan khawatir," Amara memaksakan senyumnya dengan suara terbata-bata. Amara tak akan biarkan Gio untuk mengetahui apa yang sedang dirasakannya saat ini.
"Kamu tak melakukan kesalahan apapun, Gio. Aku tak merasa marah atau kecewa seperti yang kamu katakan tadi. Aku hanya merasa lelah saja," lanjut Amara beralasan.
to be continued
thanks for reading
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa