Hate You, Love You

Hate You, Love You
Selanjutnya



"Benarkah ? Lalu ini noda apa"


Gio mengikuti arah mata ibunya itu, dan ia pun menelan ludahnya sendiri dengan sangat susah payah. Jakunnya naik turun, dan wajahnya berubah pias. "Mung- mungkin hanya kotor biasa saja. Karpet ini memang sudah harus diganti. Gio gak apa-apa kok, Mama jangan khawatir," jawab Gio tergagap.


Ibunya itu tak langsung pergi, ia tatap lekat wajah anak kesayangannya itu. "Mama sangat sayang kamu, Gio. Dan kamu tahu itu," ucap sang ibu, dan itu membuat Gio terpaku saat mendengarnya.


"Berhentilah menyakiti dirimu sendiri dengan cara seperti ini. Apa yang kamu lakukan bisa saja membuat orang lain terluka," lanjutnya lagi dengan nada bicaranya yang lembut namun tegas.


Deg !


Apa yang Ibunya ucapkan, membuat Gio tertampar dengan kerasnya. "Aku sudah melukai orang lain, Ma," batin Gio dalam hatinya. Walaupun Gio tahu jika yang dimaksud ibunya itu adalah melukai hati Papanya karena hubungan mereka yang sangat buruk akhir-akhir ini.


"Kamu adalah anak yang baik, jangan biarkan perempuan itu menghancurkan hidupmu," perkataan itu mengakhiri pembicaraan antara Gio dan ibunya. Karena sang ibu segera pergi meninggalkan Gio sendirian di dalam kamarnya.


Gio dudukkan tubuhnya yang masih terasa lemas di tepian ranjang. Ia merogoh saku dan membaca tanda pengenal itu sekali lagi. "A- ma- ra Mah- reen," bacanya perlahan. Rasa bersalah menyelimuti hati Gio saat ini.


Dan benar apa yang dikatakan oleh ibunya itu, Gio adalah seorang anak yang baik. Bahkan ia menjaga mantan kekasihnya itu dengan sungguh-sungguh. Tak sekalipun Gio menyentuhnya karena ia ingin melakukannya setelah menikah agar terasa istimewanya.


Semalam, itu pun yang pertama bagi Gio dan sialnya dirinya tak ingat apapun. "Ah siaalll !" Maki Gio. Yang dirinya ingat adalah duduk di bar dengan beberapa botol minuman. Dan memang beberapa hari terakhir ini, Gio selalu dihantui perasaan ingin membalas perlakuan kekasihnya itu dengan tidur bersama wanita lain. Tapi bukan seperti ini juga caranya.


"Selamat pagi, Tuan," beberapa orang pelayan datang untuk mengganti karpet kotor Gio.


"Kami datang untuk mengganti karpet,"


"Oh ya, saya juga minta beberapa kantung plastik sampah yang ukurannya besar. Bawakan dua atau tiga kantung sekalian," sahut Gio.


"Plastik sampah ?" Tanya salah satu pelayan dengan berkerut alis tak paham.


"Saya ingin membuang sprei dan selimutnya. Sudah tak nyaman untuk digunakan," jawab Gio.


"Mmmm ba- baiklah,"


Gio merogoh dompetnya dan mengeluarkan banyak uang pecahan seratus ribuan. Mungkin ada sekitar 30 lembar jumlahnya. Ia segera memberikannya pada salah satu pelayan. "Buanglah dan jangan bertanya apa-apa lagi," titah Gio dan mereka pun menurutinya.


Gio sendiri yang menarik sprei itu dan menggulungnya agar noda merah itu tak terlihat oleh para pelayan. Beruntung bagi Gio karena kain kasurnya berwarna biru gelap hampir hitam, membuat noda yang tembus itu tak terlihat.


Segera Gio meminta sprei pengganti dan ia sendiri yang memasangnya. Apa yang Gio lakukan membuat para pelayan itu melihatnya dengan terheran karena ini kali pertama bagi mereka melihat Gio bekerja. Biasanya para pelayan lah yang melakukan hal-hal seperti itu. Sejak dulu Gio selalu dimanjakan oleh mamanya.


Bukan tanpa alasan ibunya itu sangat memanjakan Gio. Karena butuh perjuangan berat agar bisa mengandung anaknya itu. Dibutuhkan kesabaran dan biaya yang sangat besar agar dirinya bisa mendapatkan anak, yaitu Gio.


Oleh karena itulah, ibu Gio memberikan pendidikan terbaik bagi anak semata wayangnya itu. Hingga Gio tumbuh menjadi lelaki yang berperangai baik. Gio tak pernah bermain wanita apalagi mabuk-mabukan, tapi pengkhianatan yang dilakukan tunangannya itu membuat Gio berubah.


"Terimakasih," ucap Gio pada para pelayan yang telah membantunya.


Ia pun segera melesat pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Gio berdiri di depan cermin, menatapi bayangannya sendiri. Ia sungguh terlihat kacau saat ini.


Tiba-tiba Gio terhenyak saat sebuah bayangan melintas di kepalanya. Bayangan seorang gadis yang menangis lirih dan menghindari ciumannya. Rasa bersalah kembali menjalar masuk ke dalam hatinya. "Gue harus cari cewek itu dan mempertanggungjawabkan semuanya," ucap Gio pada dirinya sendiri dan ia tak main-main dengan apa yang dikatakannya.


***


"Hah.. hah...," Nafas Amara memburu terengah-engah. Dirinya terbangun dengan keadaan setengah telanjang dan terbaring di atas lantai kamar mandinya. Amara hanya mengenakan selembar handuk saja. Kulit jemarinya sudah keriput karena kedinginan. Sepertinya Amara jatuh tak sadarkan diri di sana sejak semalam.


Tapi ia tersadar saat bayangan wajah seorang lelaki dengan tatapan mata kosong menindihnya dan juga menghentak tubuhnya tanpa henti. Membuat nafas Amara memburu karena ketakutan.


"Tidaakkkk... Tidaakkkk...," Amara menangis dalam diam karena suaranya tak bisa keluar dari mulutnya. Nafasnya yang memburu terasa panas, Amara mengalami demam tinggi saat ini.


"Ara... Kamu sudah bangun, Nak ?" Terdengar suara ibunya dibarengi dengan ketukan di pintu.


"Ara ?" Panggilnya lagi. Dan Amara pun segera bangkit dengan susah payah. Kepalanya berdenyut sakit, begitu juga dengan inti tubuhnya.


"Amara ?"


"A- aku sudah bangun. Tunggu !," jawab Amara dengan suaranya yang sangat serak. Segera ia melemparkan handuk yang dikenakannya dan berganti baju dengan celana tidur dan sweater hoodie. Rambutnya yang setengah kering Amara kuncir tinggi.


Ia juga segera memasukkan bajunya yang semalam ke dalam tong sampah yang ada di dalam kamarnya.


"Amara, kamu sakit ?" Tanya sang ibu saat Amara membuka pintunya.


Wajah gadis itu terlihat pucat dan matanya merah. Nafasnya memburu dan pendek-pendek. Bibirnya yang merah muda terlihat kering. Bagaimana Amara tidak sakit ? Ia baru saja mengalami tindak kekerasan dan semalaman tak sadarkan diri di lantai kamar mandi yang lembab hanya dengan selembar handuk yang menutupi tubuhnya.


"Aku gak apa-apa," jawab Amara bohong.


"Tubuhmu panas sekali, Ara!" Ucap sang ibu saat ia menyentuh dahi anak gadisnya itu.


"Ayo kita pergi ke dokter !"


"Tidak !! Ara gak mau, Ma !!" Teriak Amara histeris. Membuat ibunya itu terheran.


"Ara ?"


"Ara mohon, Ma. Jangan bawa Amara ke dokter. Ara hanya perlu istirahat saja," jawab Amara lirih. Ia merasa bersalah karena telah berteriak pada ibunya itu.


Tapi Amara memang benar-benar tak ingin pergi menemui dokter. Ia takut dokter akan mengetahui apa yang dialaminya semalam. Pasti itu akan membuat hati ayah dan ibunya hancur.


"Ara cuma perlu obat flu dan tidur," ucap Amara lagi, dan akhirnya ibunya pun menyerah.


"Baiklah... Mama buatkan sup ayam dulu, dan nanti mama bawakan obat flu untukmu. Hari ini tak usah masuk kuliah. Katakan saja kamu sedang sakit," ucap ibunya itu.


"Iya Ma," sahut Amara menyetujui.


***


Amara duduk di atas lantai dan menyandarkan tubuhnya ke ranjang. Kamarnya terlihat gelap karena Amara tak mau membuka tirainya. Amara ingin menyembunyikan diri dari dunia.


Saat ini Amara hanya ingin sendirian saja sembari menjilati lukanya agar bisa sembuh dengan sendirinya. Pandangan matanya kosong. Amara berharap semuanya segera berlalu agar ia bisa melanjutkan hidupnya kembali.


Ponsel dalam genggamannya bergetar entah untuk yang ke berapa kalinya, dan tertera nama Danis di sana. Amara tak berani menjawab panggilan dari lelaki itu, dan ia juga tak punya nyali untuk membalas pesannya. Amara tak tahu harus mengatakan apa pada lelaki yang sangat dicintainya itu. Satu yang pasti, Amara tak ingin kehilangan Danis apapun yang terjadi.


Amara tundukkan kepalanya dan menangis dalam diam. "Maafkan aku, Sayang...," lirihnya hampir tak terdengar.


To be continued


Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa