Hate You, Love You

Hate You, Love You
Cara Berpisah Yang Sempurna



Kedua mata Gio membola dengan sempurna. Untuk beberapa saat ia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi padanya. Tapi, bibir kenyal Amara yang menempel pada bibirnya membuat Gio sadar jika yang terjadi adalah nyata.


Gio pejamkan mata dan membalas ciuman Amara sama inginnya. Ia mengul*m bibir istrinya itu dengan lembut dan penuh perasaan cinta. Gio melangkah maju, mendesak Amara agar masuk kembali ke dalam rumahnya. Lalu ia mendorong pintu dengan kakinya dan langsung menguncinya dengan sebelah tangan.


Masih dengan bibir mereka yang saling bertautan, Gio memangku Amara bagai koala. Ia membawa istrinya itu menuju kamarnya sendiri. Bibir keduanya masih saling ******* satu sama lain, bahkan Amara membuka mulutnya karena lidah Gio yang terus mendesak masuk dan membelai kehangatan lidah Amara dengan lembut.


Amara pun membalas ciuman Gio dengan cara yang sama. Ia kalungkan kedua tangannya di leher Gio agar kepala suaminya itu tak menjauh darinya. Amara tak ingin tautan bibir mereka terpisahkan.


Sesampainya di kamar, Gio baringkan tubuh Amara di tengah-tengah ranjang dan kemudian ia menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas, tepat di sebelah ranjang. Gio lakukan itu agar ia bisa melihat wajah Amara dengan jelas dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang sedang ia lakukan saat ini bukanlah sebuah mimpi.


Wajah Amara terlihat memerah di naungan cahaya remang. Nafasnya memburu dan matanya terus tertuju pada Gio.


Gio kembali tundukkan kepalanya dan menyesap bibir Amara untuk yang kedua kalinya, dan Amara pun membalas ciuman Gio dengan sama inginnya. Keduanya melakukan hal itu dengan penuh perasaan. Seolah-olah meluapkan rasa cinta yang sama-sama sudah terpendam sejak lama.


Ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Gio uraikan ciumannya dan memandang wajah Amara dengan tatapan mata penuh puja. Cukup lama Gio lakukan itu, ia pun membelai lembut pipi Amara dengan jemarinya. Dan ia tersenyum saat melihat bibir Amara bengkak karena ulahnya.


Lalu Gio tundukkan kepala dan menenggelamkannya di ceruk leher Amara. Menghirup aroma tubuh istrinya itu dengan rakus, aroma yang membuat Gio candu padanya.


Amara tak menolak, bahkan ia menengadahkan kepalanya. Amara memberikan jalan agar Gio lebih leluasa meluapkan perasaannya.


"Aku mencintaimu Amara... Demi Tuhan.. aku sangat mencintaimu..," bisik Gio lirih. Gio sentuhkan bibirnya yang gemetar di atas kulit Amara yang sudah meremang karena ciumannya.


Tubuh Gio terasa panas membara. Celananya sudah terasa sesak karena inti tubuhnya yang sudah menggeliat hidup dan ingin segera dibebaskan.


Begitupun Amara yang menggeliatkan tubuhnya tak karuan karena sentuhan yang Gio berikan membuatnya mabuk kepayang. Kepalanya pening dan tubuhnya terasa melayang di awang-awang.


Masih dengan tubuhnya yang menindih Amara, Gio angkat wajahnya dan menatap Amara dengan penuh rasa cinta. "Amara... Bolehkah aku mencintaimu malam ini ?" Tanya Gio dengan suaranya yang sudah terdengar serak. Sungguh ia sudah tak bisa menahan diri untuk memiliki Amara seutuhnya.


Amara balas tatapan mata Gio sama dalamnya. Ia anggukan kepalanya dengan pasti. Tak ada rasa ragu sama sekali. "Miliki aku, Gio... Aku pun mencintaimu," jawab Amara.


Beban perasaan yang selama ini menyesakkan dadanya terbebas begitu saja. Amara merasa lega luar biasa saat ia bisa mengatakan kata-kata cinta yang selama ini dipendamnya pada Gio.


Mendengar kata cinta yang keluar dari mulut Amara membuat mata Gio langsung berbinar bahagia dan bibirnya melengkungkan sebuah senyuman. Tanpa banyak bicara lagi, Gio pun tundukkan kepalanya dan kembali membenamkan bibirnya di atas bibir Amara dan mengul*mnya rasa-rasa.


Tangan Gio merambat turun dan memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu pada istrinya itu, membuat tubuh Amara gemetar dan juga berdesir hangat di waktu yang bersamaan.


Tak ada penolakan dari Amara. Ia memasrahkan jiwa dan juga raganya pada Gio. Amara pejamkan matanya, menikmatinya setiap sentuhan yang Gio berikan. Dan saat Gio hendak menyatukan diri pun, Amara menerima lelaki itu seutuhnya secara sadar dan tanpa paksaan.


"Aku mencintaimu Amara... Sangat-sangat cinta kamu," ucap Gio saat ia rasakan hangatnya tubuh Amara dalam dekapannya.


"Aku pun mencintaimu, Gio. Sangat cinta sama kamu," balas Amara dan ia membalas pelukan Gio sama eratnya.


Malam itu keduanya lewati dengan sentuhan- sentuhan lembut penuh cinta. Meluapkan perasaan mereka yang telah lama terpendam.


Bagai tak ada puasnya, Gio satukan dirinya dengan Amara berulang kali. Dan keduanya sama-sama menikmatinya. Entah berapa kali Amara meneriakkan nama Gio saat pelepasannya tiba. Sungguh malam yang tak kan pernah terlupakan oleh keduanya.


***


"Para penumpang pesawat yang terhormat, selamat datang di Penerbangan QZ137 dengan destinasi dari Indonesia ke Boston. Saat ini kami berada di urutan ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar delapan menit,"


"Harap matikan semua perangkat elektronik pribadi, termasuk laptop dan ponsel. Merokok dilarang selama penerbangan. Terima kasih telah memilih Mountain Airlines. Nikmati penerbangan Anda."


Amara mematikan ponselnya dan mengeratkan blazer yang dikenakannya. Saat ini dirinya telah berada di dalam sebuah pesawat yang akan membawanya ke Boston.


Gio masih tertidur lelap saat Amara tinggalkan. Perasaan Amara begitu remuk redam saat ia melangkah pergi bersama kopernya. Namun seluruh rasa cintanya ia tinggalkan pada Gio seorang. Bahkan air matanya tak mau berhenti turun sejak Amara menaiki taksi yang membawanya pergi ke bandara.


Dan kini Amara duduk di dalam pesawat, tepat di dekat jendela. Ia melihat ke arah luar, dengan air mata bercucuran. "Selamat tinggal, Gio. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku. Setelah ini aku tak akan mencintai lelaki lain, selain dirimu," gumam Amara pelan.


Amara sadar setelah ini hidupnya tak akan sama lagi, ia akan hidup dalam rasa hampa yang tak berkesudahan karena seluruh cintanya sudah menjadi milik Gio seorang.


"Jaga Evan untukku... Dan semoga bahagia bersama Dea..," gumamnya lagi dan Amara dengan tulus mendoakan Gio walaupun itu sangat menyakitkan baginya.


***


Gio terbangun karena tangannya tak bisa menemukan keberadaan Amara di sisinya. Gio membuka matanya dengan penuh rasa takut. Ia segera bangkit dengan melilitkan selimut putih di tubuhnya yang polos. Hampir semalaman Gio berc*nta dengan Amara, dan kini ia terbangun sendirian.


"Ara... Sayang..," ucap Gio dengan rasa cemas yang luar biasa. Ia membuka pintu kamar mandi dan melihat ke dalamnya tapi tak ada Amara di sana.


Cepat-cepat Gio pergi ke kamar Amara dan perasannya begitu hancur saat melihat kamar itu telah kosong dan dua koper Amara pun sudah tak ada di sana.


"No... No... No.. jangan tinggalin aku..," ucap Gio seraya mendudukkan tubuhnya lemas di atas ranjang Amara yang dingin.


Kepala Gio tertunduk lesu, dan kedua matanya telah basah karena rasa sedih yan tak terkira.


"Don't leave me, Ara... I love you so much..," lirih Gio diantara isakan tangisnya.


"Ya Tuhan, Ara... Jangan tinggalkan aku..," masih Gio berkata lirih dan pilu. Ia pun meraup wajahnya frustasi.


Tanpa sengaja Gio melihat secarik kertas di atas meja belajar Amara. Ia pun berjalan untuk meraihnya. Gio membaca kertas itu yang ternyata adalah sebuah surat yang ditinggalkan Amara untuknya.


" Dear Gio...


Aku sudah pergi jauh saat kamu membaca surat ini. Maafkan aku yang harus pergi walaupun itu sangat berat untukku. Berat karena harus meninggalkan kamu yang sangat aku cinta.


Ya benar Gio, kamu tak salah baca. Aku sangat mencintaimu... Dan aku sangat bahagia karena ternyata kamu pun merasakan hal yang sama :)


Walaupun kita saling mencintai, tapi nyatanya takdir tak berpihak pada kita. Sudah ada seseorang yang menungguku, dan aku harus datang padanya untuk menebus kesalahanku.


Dan kamu pun telah ditunggu oleh seorang gadis baik yang menyayangimu dan juga Evan dengan tulus.


Tapi meskipun begitu, walaupun kita dipisahkan oleh jarak dan waktu dan harus hidup dengan yang lain... Aku akan tetap mencintaimu.


Percayalah Gio...


Hanya kamu seorang yang menguasai hati dan pikiranku.


Tentang semalam...


Semalam begitu indah dan aku tak akan pernah melupakannya. Aku tak akan pernah menyesalinya karena kita melakukannya dengan penuh rasa cinta. Mungkin ini adalah cara berpisah yang paling sempurna bagi kita berdua


Terimakasih karena sudah menjadi suami dan juga ayah yang hebat bagiku dan juga Evan. Semoga kalian bahagia.


Selamat tinggal cinta dalam hidupku...


-Amara-